
Hari ini aku ada janji temu dengan rekan kantorku, Siska dan Rina, dua manusia yang sudah selalu ada untukku jika aku kesulitan dalam pekerjaan. Setelah kepergian Ayah, aku sering ijin dan cuti, alhasil kami belum bercerita apapun hingga saat ini aku sudah bersuami dan mengundurkan diri dari kantor.
Mereka hadir dalam pernikahanku, namun kali ini mereka ingin dengar cerita lengkap langsung dari mulutku, bagiku mereka sama dengan Dewi, sahabat baikku.
“Nayaaa?!!” sapa mereka berdua heboh, aku berdiri dan berpelukan singkat dengan mereka.
“Kangen banget Nay” keluh Siska, saudara kembar beda rahimku, kami dekat sekali karena kubikel kami yang bersebelahan.
“Aku juga kangen sama kalian” ucapku yang kembali mengharu-biru.
“Eh duduk-duduk, pesan makanan dulu kalian” tambahku, mereka menurutiku.
“Kantor sempat heboh waktu kamu menikah tak lama setelah kepergian Ayah Nay, kita sampai jadi buron yang mereka tanya-tanyai tentang kamu” adu Rina yang diangguki Siska, aku tertawa, seperti itulah pergosipan di dunia kerja, padahal aku sempat masuk setelah menikah, tapi mereka enggan bertanya langsung padaku dan memilih dua sahabatku ini untuk dimintai keterangan.
“Iya, Pak Andrew mendadak jadi sad boy waktu tau kamusudah menikah” kali Siska ikut berkomentar, tidak seperti tadi senyumku tiba-tiba hilang saat mengingat lelaki itu, dari semua rekan kantorku, dia satu-satunya orang yang tidak aku undang.
“Eh gak usah dipikirin Nay, biar tau rasa dia karena pernah mainin kamu” tambah Siska setelah mengetahui perubahan moodku.
Aku tersenyum dan menggeleng pelan, aku tidak lagi sakit hati karena perbuatannya yang menjadikanku objek taruhan setahun lalu, hanya tiba-tiba teringat saja dengan kejadian menyebalkan itu, “Aku udah berdamai kok”
Mereka mengangguk paham.
Kegiatan klarifikasi ini terhenti saat makanan pesanan kami datang, sebelum memulai sesi curhat ada baiknya mengisi amunisi agar nanti bisa bercerita hingga puas.
“Jadi, kami menikah saat Ayah sedang dalam kondisi kritis, menikah siri” ucapku membuka cerita menyedihkan itu setelah makanan kami tandas.
Mereka terkejut, namun tidak bisa berbuat apa-apa, dan cerita itu mengalir dengan sendirinya.
“Tapi kamu bahagia kan sama pernikahan kamu?” tanya Rina hati-hati, aku mengangguk mantap.
Perubahan Mas Panji satu bulan yang lalu membuat rumah tangga kami terasa utuh.
“Kami ikut senang mendengarnya Nay, meski kamu kehilangan Ayah, tapi Allah segera mengirimkan lelaki baik yang kini menjadi suami kamu” ujar Siska dengan tulus.
Kami berpelukan lagi, bertemu mereka membuatku kembali rindu suasana kerja, namun kali ini aku sudah ikhlas untuk lebih memilih menuruti perintah Mas Panji, dan sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan baru itu.
“Hai!” sapanya saat aku sudah berada dalam mobil, dia menjemputku setelah aku selesai bertemu dengan dua sahabatku itu. Kami memutuskan untuk pulang setelah langit mulai menggelap.
__ADS_1
“Hai Mas!” balasku, aku memeluknya dari samping membuatnya terkejut namun setelahnya terkekeh melihat tingkahku yang agak absurd sore ini.
“You look so happy right now” aku mengangguk dalam pelukannya, tak pernah ku sangka menikah dengan Mas Panji akan semenyenangkan ini.
“Karena apa?” tanyanya sembari menghidupkan mesin mobil dan melaju setelah aku melepas pelukanku.
“Bertemu dengan dua sahabatku” dia mengusap puncak kepalaku dengan tangan kirinya, aku menggenggam tangan itu kemudian mengecup punggung tangannya dia tersenyum hangat padaku.
“Bahagiamu sederhana sekali ya”
“Tidak sederhana, ini hanya permulaan Mas, keinginanku banyak, semoga kamu tahan ya melihat pribadiku yang asli setelah ini” peringatku, dia malah tertawa.
“Baiklah, Mas gak sabar untuk melihat dirimu yang asli, bisakah ditunjukkan sekarang saja?” tawarnya, aku menggeleng manja menggodanya, enak saja dia main tawar menawar denganku.
“Kenapa kamu lucu sekali hari ini Nay, mau beli es krim?” selorohnya, aku kembali mengangguk dengan puppy eyesku, dia tertawa dan melajukan mobilnya, membawa kami ke mini market terdekat.
Mas Panji berjalan di belakangku yang sedang mencari freezer, aku terdiam saat melihat berbagai macam es krim yang ada di sana.
“Bingung mau pilih yang mana?” aku mengangguk tanpa menatapnya.
“Iya” lagi-lagi aku menjawab tanpa melihatnya, es krim ini mampu menghipnotisku.
Sampai sebuah tarikan tangan mengejutkanku, “Sedang kebingungan sweetie?” tanyanya dengan seringai yang mengerikan.
Aku berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari pria ini, Andrew, pria brengsek yang pernah ku kenal, dan bodohnya aku pernah memiliki rasa suka padanya meski tidak sampai memiliki hubungan khusus.
“Lepas! Kamu menyakitiku Andrew?!” pekikku, bukannya takut dia malah semakin mendekatkan wajahnya membuatku bergerak mundur meski masih berada dekat dengannya.
“Lalu bagaimana denganku, pernikahanmu juga menyakiti perasaanku, kita impas kan?”
“Tidak! Aku tidak perlu ijinmu untuk menikah dengan siapapun, shh aww” sungutku membuatnya semakin menguatkan cengkramannya di pergelangan tanganku.
Mas Panji, tolong aku...
“Sakit kan? itu tidak seberapa dengan sakit di hatiku Nay”
“Kita tidak sedang dalam hubungan kan? lalu apa masalahnya? Lepaskan aku Andrew?!”
__ADS_1
“Tidak aku tidak akan melepaskanmu, suamimu itu harus tau kalau kamu hanya milikku”
Bug
Aku sempat terpelanting saat seseorang memukul Andrew hingga tersungkur, kami jadi pusat tontonan sekarang.
“Kamu tidak apa-apa sayang?” belum selesai dengan serangan Andrew aku kembali terkejut dengan panggilan barunya untukku, itu terdengar romantis sekali bagiku.
“Mas aku takut” rengekku, dia segera memelukku, sedangkan Andrew yang aku tau dia digiring petugas keamanan atas perintah Mas Panji.
“Tenang, Mas ada di sini, kamu aman” bagaikan sebuah mantra aku merasa tenang seketika, bahkan ketika dia menggendongku ala bridal style aku hanya diam dan menyembunyikan wajahku di dadanya.
Dalam perjalanan pulang hingga sampai rumah tidak ada percakapan lagi diantara kami, aku sungguh takut ia berpikir yang macam-macam, kediaman-nya kali ini memiliki sebab, aku tidak tau sampai mana Mas Panji mendengarkan pembicaraan kami.
Kini aku duduk sendiri di tepi ranjang kami setelah Mas Panji kembali menggendongku dalam diam dan meninggalkanku begitu saja. Tak terasa air mataku menetes, baru saja aku merasakan bahagia bersama Suamiku, kenapa harus rusak karena ulah pria brengsek itu.
Hingga sebuah tangan mengusap pipiku dengan lembut, mataku otomatis menangkap sosok itu, Mas Panji berjongkok di hadapanku, “Ada yang sakit Nay?”
Aku menggeleng, tangisku semakin pecah saat persepsiku tentangnya salah, ia masih saja mengahwatirkanku.
“Mas di-dia..”
“Sssst, jangan bahas dia, sekarang hanya ada Mas dan kamu saja, lupakan kejadian tadi, okey?”
“Tapi Aku harus menjelaskannya agar tidak ada salah paham”
“Tidak ada salah paham Nay, Mas sudah tau semuanya, maaf datang terlambat” sesalnya, tanpa memikirkan darimana Mas Panji mengetahui semuanya, aku beringsut dalam pelukannya dan menumpahkan semua tangisku disana, aku takut, marah, sekaligus terharu dengan responnya.
“Kita memiliki masalah yang lebih besar dari itu sekarang Nay”
“Apa?”
“Mas harus pergi keluar kota, tapi Mas tidak bisa meninggalkanmu sendiri setelah semua yang terjadi, maukah kamu tinggal di rumah Mama selama aku tidak ada di rumah?”
Dengan berat hati aku mengangguk, bukan karena harus menginap di rumah orangtua, tapi karena aku akan jauh darinya, dan itu membuatku sesak seketika, aku sudah ketergantungan dengannya.
TBC
__ADS_1