Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 18


__ADS_3

Aku kembali duduk dengan cemas di depan ruang operasi setelah selesai makan malam dengan suamiku.


Ada gelenyar aneh dalam hatiku saat menyebutnya suami, tapi memang benar kan?


Suasana yang tadi agak ramai sudah berganti hening, disini hanya tinggal, Aku, Mas Panji, Mama dan Awan, semua kerabat yang tadi datang sudah pulang.


Sebenarnya Mama dan Papa mertuaku juga ingin ikut menunggu tapi Mas Panji dengan tegas meminta mereka agar beristirahat di rumah, Mama juga di minta hal yang sama oleh Mas Panji, tapi Mama menolak, alasannya karena ingin dekat dengan Ayah.


Mas Panji tidak berkutik, aku yang sebagai anak juga tidak mampu berbuat apa-apa, jika berada di posisi Mama, aku juga tidak akan tenang saat suamiku berjuang melawan penyakit sementara aku berdiam diri di rumah.


Ayah, kini sedang berjuang antara hidup dan mati disana sendirian, keluarga tidak dijinkan untuk masuk, alhasil kami hanya bisa menunggu diluar ruangan.


“Minum dulu Nay, muka kamu pucat” ucap mas suami yang berada di sebelahku lengkap dengan sebotol air putih yang disodorkannya padaku.


Aku menerimanya, enggan berdebat, aku akan meminumnya nanti.


“Jangan cuman di pegang, sini saya bukakan” ucapnya yang sudah mengambil alih botol air minum tersebut, dibukanya tutup botol itu lalu kembali di berikan kepadaku.


Aku menatapnya jengah, dia ini pemaksa sekali.


“Mau saya minumkan juga Nay?” sindirnya, aku menggeleng, ku minum sedikit lalu ku kembalikan lagi padanya.


Kemudian aku kembali termenung memandangi pintu ruangan operasi yang sudah beberapa jam lalu tertutup.


Ku lihat Mama dan Awan yang masih duduk terjaga, begitu juga denganku dan Mas Panji, kami duduk bersandar, menunggu kabar baik tentang Ayah.


Perlahan mataku memberat, membenarkan posisi yang nyaman agar aku bisa tertidur dengan tenang, hingga rasa hangat yang membuatku semakin mengantuk.


***


“AYAH!!!” jeritan itu terdengar jelas di runguku bersama tangis yang bersaut-sautan, mataku perlahan terbuka.


Mamaku menangis histeris bersama Awan yang memeluknya, aku masih belum bisa mencerna keadaan ini, apa yang mereka tangisi?


“Naya?” aku sedikit mendongak untuk melihat yang menyapaku.


Aku terperanjat saat jarak mukaku dan Mas Panji yang teramat sangat dekat, apalagi saat menyadari bahwa aku kini berada dalam pelukannya.


Ku dorong pelan tubuhnya agar sedikit menjauh.


Tiba-tiba terlintas potongan-potongan kejadian kemarin, aku sudah menikah, Ayah?!


“Ma, Mama kok nangis, ada apa?” tanyaku yang tak di respon oleh Mamaku yang terus saja menangis dalam pelukan Awan.

__ADS_1


“Mbak, Maaf kami harus menyampaikan ini, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi tuhan berkehendak lain, pukul 05.00 WIB bapak Aditya dinyatakan meninggal dunia”


Duniaku runtuh seketika, aku terduduk di samping Mama, padahal aku sudah melakukan apa yang Ayah mau, kenapa seperti ini jadinya, kenapa Ayah tetap memilih pergi ketika bebannya sudah ku ringankan?


“Naya?” sapanya menyadarkanku.


“Mas ini gak benerankan? Ayah gak mungkin meninggal kan? Ayah bahkan belum ketemu kamu, belum kasih restu buat kita, kenapa jadi kayak gini Mas?!” elakku, tak ada jawaban dari Mas Panji, ia justru mendekat dan memelukku, kali ini aku membalasnya, separuh jiwaku yang rapuh sudah hancur karena kehilangan alasan untuk tegar.


Ayahku, penguatku, motivasi yang selalu aku gunakan untuk selalu kuat mengahadapi segala cobaan, kali ini sudah tidak ada lagi.


“Mas aku belum bahagiain Ayah, Ayah gak boleh pergi seperti ini Mas, tolong buat Ayah bangun lagi” racauku berbaur dengan tangisan.


Ruangan operasi kembali terbuka, beberapa suster mendorong ranjang pasien membuatku berdiri menghentikan mereka, dapat kulihat dengan jelas tubuh seseorang yang tertutup kain putih.


Perlahan ku buka pelan kain itu, aku yakin itu bukan Ayahku!


Tanganku bergetar hebat saat mengenali wajah itu, jadi benar? Ini bukan mimpi?!


Tidak! Pasti Ayah hanya tidur, iya, beliau hanya lelah dan tertidur.


“Ayah! Ayo bangun?! Naya sudah menikah, Ayah belum kenalan kan sama suami Naya, bangun Ayah?!” kataku yang tak ada respon, Ayah pasti sedang mengerjai kami, ya, aku yakin itu.


Ku guncang pelan tubuh itu, dingin, itu yang kurasakan saat kulit kami bersentuhan.


Hingga kurasakan seseorang memelukku, dan menjauhkan ku dari brankar membuat para perawat itu kembali mendorong brankar tadi dan berjalan menjauh.


Aku ingin mengejarnya, tapi tubuhku yang masih direngkuh membuatku tidak bisa kemanapun, tubuhku melemah, harapanku pupus, tujuan hidupku hilang sejak dokter mengatakan apa yang tidak ingin ku dengar.


Aku hanya ingin Ayah sembuh!


Aku luruh dengan Mas Panji yang setia memelukku.


“Sudah Naya, Ikhlaskan beliau” aku menggeleng, air mataku bercucuran tanpa diperintah.


“Aku gak percaya ini, Ayah gak mungkin meninggal Mas, ini pasti Cuma mimpi”


Pelukannya semakin erat, membuatku sedikit merasa hangat.


“Ini kenyataannya Naya, ini yang terbaik buat Ayah, setidaknya beliau sudah tidak kesakitan lagi” katanya mencoba mengembalikan kesadaranku, benar, Ayah sudah tidak kesakitan lagi, tapi aku tidak ingin ditinggalkan Ayah!


Kenangan-kenangan manis maupun buruk antara aku dan Ayah berputar di memoriku, aku bisa mengingat dengan jelas, selama Ayah hidup aku selalu mengecewakan beliau, terlalu banyak kenangan buruk yang selalu ku torehkan.


Aku merasa belum bisa membahagiakan Ayah, lalu beliau sudah pergi meninggalkanku.

__ADS_1


Aku menyesal.


Setidaknya biarkan aku memberikan kabar bahagia yang selama ini Ayah tunggu, hal yang aku upayakan demi kembali melihat binar di mata Ayah.


Semuanya sudah terlambat!


***


Aku menatap batu nisan dan gundukan tanah di hadapanku dengan sendu. Sekuat mungkin aku mengelak nyatanya beberapa jam lalu tubuh yang selama ini selalu melindungi dan menyayangiku sudah hilang tertimbun tanah, peristirahatan terakhir bagi semua manusia.


Ku hapus kasar air mata yang sejak tadi menghiasi wajah, Mama dan Awan sudah pulang, hanya aku sendiri yang berada di sini setelah prosesi pemakaman dilaksanakan.


“Naya sudah jadi istri orang tapi Ayah gak bisa lihat itu, Ayah gak ada di sini untuk sekedar memeluk Naya dan memberikan restu serta petuah pernikahan yang sangat Naya butuhkan” keluhku, aku menunduk sedih saat tidak ada balasan dari ayah.


“Kalau akhirnya akan seperti ini, apa lebih baik Naya tidak meneruskan pernikahan ini Yah? Ayah pergi karena tidak menyukai pilihan Naya, begitukah?” aku rasanya hampir gila berbicara dengan gundukan tanah.


Aku memeluk batu nisan Ayah, seperti dulu saat aku sedang sedih dan bingung, aku akan pergi memeluk Ayah dan meminta saran.


“Naya harus apa Yah?” lirihku.


“Bersyukur” aku kembali dalam posisi duduk dan menoleh ke sumber suara.


Mas Panji berdiri tak jauh dariku. Aku kembali menatap pusara Ayah, menatap Mas Panji hanya akan membuatku semakin kebingungan tentang apa yang harus ku lakukan.


Pola pikirnya memang luar biasa. Apa dia sudah gila?! Aku baru saja kehilangan dan dia memintaku untuk bersyukur?!


Mas Panji berjongkok di sebelahku, “Hati tidak akan terasa berat saat kamu mensyukuri apa yang ada, sekalipun itu menurutmu buruk, ikhlas memang bukan hal yang mudah, tapi bukan berarti sulit Naya” aku menoleh sekilas, tanpa mau menyahutinya.


“Kepergian Ayah memang bagaikan mimpi buruk untukmu, tapi tidakkah kamu berfikir, apa jadinya jika Ayah masih hidup dengan penyakitnya yang parah, beliau akan kesakitan Naya, itu yang kamu mau?” aku kembali memandang Mas Panji yang ternyata juga memandangku.


Aku menggeleng, aku juga tidak ingin Ayah kesakitan, tapi ada opsi lain, misalnya operasinya berjalan lancar dan ayah bisa sembuh, kenapa harus meninggal?


“Apa yang terbaik menurut kamu belum tentu baik menurut Allah, Nay” kalimatnya kali ini membungkam semua spekulasi dan protesku.


Aku memutus pandangan kami, kembali menatap gundukan tanah tempat peristirahatan terakhir Ayah, Mas Panji benar.


“Mari pulang, semuanya sudah menunggu kita” ajaknya sembari membantuku berdiri, bagai kerbau yang di cocok hidungnya, aku hanya pasrah saat ia menggiringku pulang.


Sebelum terlalu jauh aku kembali menatap puasara Ayah yang masih basah.


Meski berat aku akan mencobanya, mengikhlaskan kepergian Ayah.


Tenang selalu ya Yah, Naya sayang Ayah.

__ADS_1


TBC


__ADS_2