
Aku memandang langit yang mulai menggelap sore ini, tidak terasa, tujuh hari sudah Ayah pergi meninggalkan kami semua.
Aku yang telah selesai menyiapkan segala keperluan untuk tahlilan, memilih untuk istirahat sejenak di teras belakang rumah, selama tujuh hari ini perasaanku terasa hampa, meski telah mencoba mengikhlaskan tetap masih ada rasa tidak terima.
Tik tik tik
Rintik hujan sudah mulai turun, tanda hujan akan tiba, aku keluar dari teras, ingin merasakan dinginnya air hujan menyentuh tubuh dan pikiranku yang akhir-akhir ini tidak karu-karuan.
Benar saja, begitu aku keluar, langit menumpahkan airnya.
Kini tidak ada lagi yang akan menghalangiku untuk hujan-hujan di sore hari, tidak ada yang akan berkacak pinggang di pintu belakang sembari meneriakiku untuk segera masuk.
Tidak ada lagi.
Entah mengapa aku malah sedih ketika itu tidak akan pernah terjadi lagi, biasanya aku menangis saat dipaksa masuk padahal aku masih ingin bermain hujan, tapi sekarang, aku menangis karena orang yang selalu melakukan itu sudah tiada.
Tangisku tersamarkan, suaraku pun tak terdengar karena riuhnya hujan, tidak ada yang tau jika aku sedang menangis saat ini, aku sudah berjanji tidak akan menangis, tapi apa dayaku, setiap mengingat Ayah, tangisku selalu datang tanpa dikomando.
Aku berbaring di tengah hujan, dari sini aku bisa melihat langit yang masih mendung, aku berharap Ayah tak melihatku seperti ini, ku pejamkan mata ini merasakan setiap tetesan hujan menghujam tubuhku.
Aku bisa merasakan hangat air mata yang berbaur dengan dinginnya air hujan merupakan bagian ter-epic yang ku sukai dari hujan. Seakan memadamkan api dalam diriku yang berkobar hingga padam dan menyisakan asap.
Aku membuka mata saat tak lagi merasakan tetesan air hujan.
Mas Panji berdiri memayungiku.
Dia menunduk, membuat kami saling tatap “Sudah cukup bermainnya Naya, mari masuk” ucapnya datar, aku berdiri, kami berada dalam payung yang sama.
Sekali lagi, ku tatap ia tak percaya, seperti de javu, mengundang tangisku tanpa di komando.
Tapi ini mampu mengulik sisi emosionalku yang belum sepenuhnya padam, aku sangat merindukan Ayah, sosok yang tak mampu tergantikan oleh siapapun.
Aku memeluknya, merebahkan kepalaku pada dada bidangnya, dia membalas pelukanku tanpa peduli bajunya akan basah.
Selama tujuh hari ini, dia tidak pernah absen menemaniku, selalu ada saat aku mulai larut dalam kesedihan, hingga aku lupa bertanya, apakah dia tidak bekerja atau memiliki kesibukan?
__ADS_1
“Sudah malam Nay, nanti kamu sakit, masuk ya?” tegurnya lagi saat aku hanya mematung dalam pelukannya.
Ku urai pelukan kami, dia segera menghapus air mata yang meleleh dari pelupuk mata, aku terpejam saat tangan hangatnya menyentuh kulit wajahku. Mataku kembali terbuka saat sensasi hangat itu menghilang.
“Mas, aku kangen Ayah” lirihku saat bola mata kami bertemu.
Dia mengangguk, “I know, ini gak mudah, dan gak ada yang larang kamu kangen Ayah”
Rasa haru memenuhi rongga dadaku, aku merasa di pahami.
“Loh! Kalian kok malah hujan-hujanan, ayo masuk! Sudah malam?!” aku mendorong tubuh Mas Panji saat mendengar teriakan salah satu bu dheku, membuat tatapan kami terputus menatapnya yang saat ini berdiri dengan wajah garang.
Beberapa hari berada di tengah keluargaku membuatnya sedikit paham dengan tabiat anggota keluargaku, termasuk Bu dhe yang bermulut pedas.
Diam, adalah trik jitu mengahadapi Bu Dheku.
Tidak ada yang menyahuti Bu Dhe membuatnya memutuskan untuk masuk, setelah Bu Dhe tidak ada, Mas Panji kembali menatapku, kami tersenyum geli.
“Kita masuk ya?” aku mengangguk patuh saat dia menggiringku masuk ke dalam rumah.
“Nay, kamu sudah packing barang-barang suami kamu?”
Aku yang sedang mengeringkan rambut menghentikan gerakanku dan menatap Mama yang kini juga menatapku.
Selama ini Mas Panji tinggal di rumah ini, tidur sekamar denganku meski tidak terjadi apa-apa diantara kami, itu sebabnya dia punya beberapa barang yang sudah di bawa ke rumah ku.
Lalu sekarang untuk apa mem-packing barang-barangnya?
“Mas Panji mau kemana memangnya?” tanyaku yang dihadiahi wajah tak percaya Mamaku, barangkali pikirnya, aku istrinya tapi aku tidak tau apa-apa.
“Mungkin dia lupa memberitau kamu, tanyakan langsung padanya ya? Jangan pake emosi” putus Mama kemudian, aku hanya mengangguk, apalagi yang bisa ku ucapkan, meski dalam hatiku bergemuruh, aku merasa tidak dihargai.
Aku bergegas ke kamarku yang berada di lantai dua, baru saja berada di anak tangga pertama, langkahku terhenti, “Naya, bisa bicara sebentar” itu suara Mas Panji, orang yang membuatku terbang lalu aku di hempaskan dengan kencang.
Aku memandangnya yang berada tepat di belakangku dengan tatapan tidak suka, ku amati sekitar sudah tidak ada Mama, mungkin Mama sengaja menghindar untuk memberikan kami ruang bicara.
__ADS_1
Aku melanjutkan langkahku tanpa memperdulikan perkataannya.
Setelah sampai kamar aku memutuskan untuk mengunci kamarku, aku tidak ingin bicara dengan siapapun kali ini.
Tapi pintuku di tahan seseorang, tanpa melihat siapa orang itu, aku tau, itu pasti dia. Aku memilih berjalan menjauh, terserah apa yang akan dia lakukan, aku tidak peduli!
Aku membelakangi pintu dan kembali mengeringkan rambutku, hatiku berdegub kencang saat aku mendengar pintu kamarku di kunci dari dalam, itu artinya aku dan dia berada dalam satu kamar sekarang.
Sebelum ini kami memang tidur dalam satu kamar, tapi dia selalu masuk ke kamar saat aku sudah tertidur.
“Jangan berspekulasi Nay, dengarkan penjelasan saya dulu” aku berdecih jangan berspekulasi katanya, lalu aku harus apa saat suamiku akan pergi tapi aku malah tau dari mulut orang lain?!
“Saya harus pergi karena ada kendala di tempat proyek yang mengharuskan saya sendiri yang datang kesana, tidak bisa diwakilkan, ini diluar prediksi saya” tambahnya, entah kenapa aku tetap merasa tidak di hargai olehnya, salahkah jika aku ingin menjadi orang pertama yang mengetahui semua planning nya?
“Naya” panggilnya yang terasa dekat denganku, bahkan aku bisa merasakan hembusan nafasnya.
“Hmmm?” hanya itu responku, aku tidak marah, hanya sedikit kecewa, kupikir dia akan selalu memprioritaskanku, maksudku paling tidak dia akan berdiskusi denganku dalam mengambil keputusan.
Dan tanpa ku duga, sebuah tangan melingkar di pinggangku, dia memelukku dari belakang, membuat gelenyar aneh itu kembali muncul dalam tubuhku.
Tanpa melepaskan belitannya pada pinggangku, dia membuatku menghadapnya dengan jarak kami yang sangat dekat.
“Saya minta maaf kalau tindakan saya salah, saya hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan ini kepada kamu” ucapnya pelan, aku tau ini berlebihan, tidak seharusnya aku bersikap seperti ini.
“Gak papa, itu penting untuk Mas, pergi saja, saya akan bantu packing setelah ini” jawabku kemudian, rasanya tidak adil jika aku marah hanya karena hal sesepele ini, dia sudah menemaniku selama masa berkabung.
Aku tidak ingin memperpanjang masalah, yang penting dia sudah meminta maaf rasanya sudah cukup membuatnya mengerti jika aku tidak menyukai tindakannya kali ini.
Dia memelukku, tubuh hangatnya melingkupi tubuhku yang terasa dingin setelah mandi, aku membalas pelukannya, hal yang setelah ini akan ku rindukan karena kami akan berjauhan.
Ku rebahkan kepala pada dadanya, entah kenapa, aku sekarang juga takut kehilangannya.
Bolehkah sekarang aku berharap padanya?
TBC
__ADS_1