
“Sayang, makan yang banyak.. jagain mama selama papa gak di rumah yaa, tunggu papa pulang”
Aku berpura-pura membaca buku baru yang aku beli beberapa waktu lalu saat mendengar bisikan lirih dari pasangan muda di sampingku yang sepertinya akan berpisah sementara waktu.
Ku lirik mereka sekilas, rupanya sang papa sedang berkomunikasi dengan anak yang masih berada dalam kandungan istrinya.
“Mas, kamu jangan lupa makan yaa” ucap wanita itu dengan manja.
“Iya sayang”
“Jangan lupa telpon aku ya kalau sudah sampai”
“Iya”
Ku tutup buku yang ku baca dan berdiri dari dudukku.
Bukan karena aku tidak kuat melihat keromantisan dua manusia yang asik berbagi kasih ini, meski ada sedikit rasa iri.
Aku harus menuju konter check in karena mendengar airport announcement keberangkatanku dari Surabaya ke Jogja.
Pada akhirnya, aku memutuskan untuk berlibur setelah semua yang terjadi padaku akhir-akhir ini, aku merasa butuh healing untuk ketenangan jiwa dan kewarasan pikiranku.
Ku sandarkan tubuhku pada kursi pesawat yang aku pesan, dekat jendela, favoritku.
Bayang-bayang pria dan wanita tadi kembali terbayang dalam benakku, entah kenapa, melihat romantisme seperti itu selalu membuatku juga menginginkan hal yang sama.
Diumurku yang harusnya sudah memiliki pasangan dan berumah tangga, nyatanya aku kembali sendirian.
Jika di ingat-ingat, aku tidak pernah mengakhiri hubungan-hubunganku yang sebelumnya, tapi pasanganku lah yang meninggalkanku.
Kini aku kembali bertanya-tanya dengan diriku sendiri, setidak pantas itukah aku bahagia dengan pasanganku?
Cinta pertamaku, beda keyakinan.
Cinta keduaku, terhalang restu.
Cinta ketigaku? Galang.
Akhirnya mereka semua pergi meninggalkanku dengan semua kenangan manis berujung luka.
Ku hembuskan nafas sembari memejamkan mataku, kilasan-kilasan masa lalu kembali berputar dalam memoriku, kenangan-kenangan indah dengan mereka bertiga.
Hingga deraian air mata dan pilunya hatiku saat mereka pergi tanpa mau memperjuangkanku.
Kembali ku renungkan apa yang salah dari diriku.
Terlalu jual mahal kah?
__ADS_1
Atau terlalu manja kah diri ini?
Jangan-jangan karena look-ku yang kian hari kian membosankan? Hingga membuat mereka semua berlari menjauh.
Bosan menatap atap pesawat, aku menoleh ke arah jendela, tampak daun-daun dari pohon yang kian mengecil pun tanah tempatku selama ini berpijak mulai tak nampak saat pesawat yang ku tumpangi lepas landas berganti dengan pemandangan langit dan awan yang menyapa.
Ini perjalanan pertamaku menggunakan transportasi udara saat ingin pergi ke Jogja, biasanya aku lebih suka menggunakan kereta, kali ini aku ingin mencoba sensasi baru.
Kenapa Jogja? Karena kota itu kota pelajar yang kental akan budaya, aku menyukai apapun yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan Kota Jogja memiliki itu semua, sudah tak terhitung berapa kali aku berkunjung ke Jogja.
Namun aku tak pernah bosan untuk datang lagi dan lagi.
Kota yang selalu menjadi pelarian sementara bagiku untuk istirahat sejenak dari hiruk pikuk rutinitasku yang itu-itu saja.
Seperti inikah rasanya terbang? Aku merasa dekat dengan awan yang selama ini ku pandangi dari bawah sana.
Oh aku jadi tau perasaan Galang saat meninggalkanku waktu itu.
Ah, dia lagi yang aku ingat.
Tapi mungkin saja, dia seakan melupakanku dan hilang bagai angin lalu. Datang menyejukkan, pergi meninggalkan rasa candu akan kesejukan yang pernah ia beri.
Satu hal yang ku sesali adalah tidak menamparnya sekeras mungkin kemudian meninggalkannya tanpa rasa bersalah, tapi tidak, aku tidak melakukan itu, bahkan aku hampir memelas memohonnya untuk kembali, yang nyatanya ia tak kembali.
“Huhhhhh” ku hembuskan nafas kesal, mengeluarkan kekesalan yang kini menumpuk di dadaku.
Aku menyesal karena tidak pernah memberinya kenangan manis seperti yang ia beri padaku.
Benar.
Kini aku menyesali itu.
Mungkin saja, jika aku sedikit luluh dan menerimanya dengan lapang dada kala itu kami masih bisa berhubungan hingga saat ini karena status kami yang ‘mungkin’ saja membuatnya terikat denganku.
Tapikan tak selamanya seperti itu?
Itu hanya ada di pikiranku, belum tentu dia berpikiran hal yang sama.
Terlalu lelah berpikir, membuatku menyandarkan kepalaku pada jendela pesawat. Hingga mataku memberat, rasa kantuk mulai menguasaiku, aku berharap saat bangun nanti semua kegundahanku bisa hilang.
Harus hilang! Setidaknya berkurang.
***
Tanganku masih asik mengaduk secangkir mactha yang masih mengepulkan asap, ku hirup pelan aroma itu, aroma yang bisa membuatku rileks seketika.
Setelah tertidur di pesawat tadi, perasaanku sudah membaik, setidaknya itu lebih baik.
__ADS_1
Hujan yang kembali mengguyur kota Jogja seperti menyambut kedatanganku semakin membuat mood ku meningkat, sembari menunggu taxi pesananku, aku memilih duduk di cafeteria bandara menikmati secangkir matcha dan memandang riuhnya hujan bertemu dengan tanah.
Aku sudah memesan kamar hotel beberapa hari lalu, cutiku yang hanya 3 hari akan aku gunakan dengan sebaik mungkin, karena setelah ini, aku tidak ingin lagi galau karena orang yang jelas-jelas memilih pergi dariku.
“Naya! Eh ini bener Kanaya kan?” sapaan itu membuyarkan lamunanku, aku langsung terkejut saat melihat siapa yang menyapaku kali ini.
“Siapa Mam?” wanita paruh baya itu sekilas menoleh pada perempuan asing yang baru saja datang, kemudian kembali menatapku, menghampiriku dan memelukku.
Awalnya aku terkejut, tapi respon seramah ini membuatku tak bisa untuk tetap bersikap tak acuh pada beliau.
“Apa kabar tante?” basa-basiku.
“Nah kan, manggil tante lagi, ini pasti gara-gara Panji gak bolehin kamu ketemu Mama kan, sampe lupa lagi sama panggilannya” omel Mama Naura cemberut membuatku menggigit bibirku pelan, teringat dalam benakku bagaimana memarahi putranya di hadapanku waktu itu.
“Maaf, Ma” cicitku, wajah murung itu langsung memudar, digantikan senyuman yang membuat paras ayunya kembali menguar.
“Mam, Ini?” tanya perempuan asing itu dengan tatapan bingung, aku juga penasaran siapa dia.
“Oh iya Mama sampe lupa ngenalin kamu sama calon anggota baru di keluarga kita” jelas Mama Naura yang membuat perempuan dihadapan kami ini membulatkan matanya tak percaya.
“Ini? Calonnya Abang Mam?” tanyanya dengan tatapan menelitiku dari atas sampai bawah yang membuatku sedikit risih.
“Iya, cantik kan?!” perempuan di hadapanku hanya mengangguk, tanpa mengucap sepatah kata apapun, bisa ku tebak dia tak menyukaiku, meski aku juga belum mengetahui siapa dia dan hubungannya dengan Mama Naura.
l
“Nay, kenalin, ini adik perempuannya Panji, namanya Maura” aku memandang wanita ini.
Kemudian mengangguk sekilas untuk menyapanya, tingkahnya tadi sukses membuatku ingin membangun tembok besar dengannya.
“Panji punya dua adik, ini adik yang pertama, kebetulan perempuan, adik keduanya laki-laki, ah Panji pasti sudah cerita kan sama kamu?” jelasnya lagi membuatku mengangguk saja, mau berkata apa lagi, jangankan silsilah keluarganya, ditanya nama lengkap Panji pun aku tidak tau!
Ting!
Pesanan taxiku sudah datang!
“Ehm, Tan- eh Ma, Naya pamit dulu ya, Taxi pesanan Naya sudah jemput” pamitku, seperti yang lalu, responnya sama dengan yang waktu itu, tapi berkat bantuan dari adik perempuan Panji yang namanya Maura itu aku berhasil lepas dari belenggu yang secara tak sadar diciptakan olehku dan Panji waktu itu.
Dalam taxi aku hanya bisa menatap jendela yang basah bekas hujan tadi, sudah tidak sederas tadi, tapi dinginnya malam ini membuat otakku kembali membeku.
Setelah ini apa lagi, Tuhan?
Firasatku mengatakan, akan ada lagi pertemuan berikutnya dengan Panji ataupun keluarganya.
Tapi semoga itu tidak terjadi.
TBC
__ADS_1