Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Extra Chapter or Season 2?


__ADS_3

“Mas, Mas Panji”


Tak ada respon Naya mencoba menggoyangkan lengan sang suami.


“Mas Panji, bangun bentar dong”


Sekuat apapun Naya menggocang tubuh tegap itu, Panji masih setia menutup matanya.


“Hiks, kok gak mau bangun sih, hiks” isak Naya yang lagi-lagi semenjak hamil semakin mudah menangis.


Panji mulai tidak tenang dalam tidurnya, perlahan matanya terbuka saat mendengar istrinya menangis.


Panji mengucek mata membenarkan pandangannya ke arah jam dinding.


01.00


“Nay, itu kamu kan?” tanya Panji sedikit takut, bukannya mendapat jawaban Naya justru melempar bantal.


Bug!


“Aduh!”


“Rasain! Kamu pikir aku setan?! Ha?!” Panji kembali bergidik menerima amukan dari sang istri di tengah malam seperti ini.


“Ya Mas kan cuma tanya” dasarnya Panji seperti suami pada umumnya yang tidak bisa jika tidak membuat kesal sang istri justru malah memperumit suasana, Naya menatap tajam dirinya setelah kalimat menyebalkan itu lolos dari bibirnya.


“Mas salah apa lagi Nay?” tanya Panji pasrah, dia sudah tidak tau lagi apa yang harus dilakukan menghadapi istri hamilnya yang sangat sensitif.


Setelah menghentakkan kaki Kanaya memilih pergi meninggalkan Panji yang belum utuh nyawanya.


Dengan sedikit malas Panji juga beranjak dari tempat tidurnya mengikuti sang istri.


“Nay, Mas minta maaf deh” ucapnya saat sudah duduk di samping Kanaya di sofa ruang keluarga.


“Deh?! Kalau gak ikhlas gak usah minta maaf Mas?!” setelah mengucapkan itu Naya duduk memunggungi suaminya, lagi-lagi Panji menghela nafas panjang.


Banyak bicara hanya untuk menjelaskan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dijelaskan sama sekali bukan style-nya, tapi itu semua berubah jika berhubungan dengan Kanaya.


“Mas minta maaf sayang” Naya bungkam.


“Dimaafin kan?” mulut wanita itu masih setia tertutup.


“Hmmm sayang banget, padahal Mas mau nawarin beli makanan buat Adek dan Mama yang kelaparan tengah malam” sudut bibir Panji berkedut kala Naya sudah mulai meliriknya.


“Ya udah deh, Mas tidur dulu ya, selamat malam Mama dan Adek” Panji seketika bangkit, namun langkahnya terhenti saat tangan mungil istrinya mencegahnya.


Dengan menahan tawa sekuat mungkin Panji kembali menatap Kanaya yang kini menunduk sambil sesekali curi-curi pandang kearahnya.


“Mas, Adek lapar” cicitnya, Panji menipiskan bibir untuk mencegah tawanya yang sudah siap meluncur kapan saja.


“Adek saja nih?” dengan polosnya Kanaya mengangguk.


“Oh, kalau Adek aja Mas bikinin susu ya, kan nutrisi bayi itu kecil” ucap Panji sengaja menggoda istrinya, benar saja Kanaya langsung menatap suaminya dengan tatapan nelangsa.


“Tega banget” tak kuat menahan kegemasan terhadap istrinya Panji mengacak rambut Naya.


“Bercanda sayang, mau makan apa?” mata Naya berbinar seketika.


“Lagi pengen makan mie ayam sama es campur” Panji mengangguk dan mengambil ponselnya di saku, namun Naya merampas benda pipih itu.

__ADS_1


“Kembalikan Nay, Mas mau pesen makanan buat kamu”


Naya menggeleng pelan dan menyembunyikan ponsel suaminya di belakang tubuhnya “Aku maunya Mas yang cari dan beliin buat Aku dan Adek”


Panji menganga seketika, harus kemana ia mencari dua makanan itu tengah malam seperti ini?


“Gak bisa ya?” ucap Naya sedih saat melihat suaminya yang seperti enggan menuruti keinginannya.


“Eh, siapa bilang, bisa kok, ini Mas mau ambil kunci mobil dulu, tunggu ya” baru selangkah Panji kembali berhenti mendengar seruan istrinya.


“Aku ikut!”


“Jangan sayang udara malam gak baik buat kamu sama Adek, Nay dirumah aja ya? Mas janji gak bakalan lama kok” negonya pada sang istri.


Hati Panji kembali pias saat Naya menggeleng tegas.


“Nay, please, Mas juga minta ini demi kebaikan kamu dan Adek”


“Terus kamu pikir aku kayak gini juga gak mikirin Adek?! Kamu pikir aku egois?”


Panji mengurut pelipisnya yang terasa berdenyut mendengar lengkingan sang istri.


“Aku tuh khawatir sama kamu Mas, kalau kamu kenapa-napa di jalan kamu pikir aku gak nyesel? Setidaknya kalau aku ikut kamu ada yang ngingetin kalau tiba-tiba kamu ngantuk di jalan” dada Naya naik turun beraturan, selain menangis, semenjak hamil wanita itu juga kerap marah tanpa alasan pada masalah sepele.


“Kalau kamu sampe kenapa-napa dijalan cuman buat nurutin ngidamku, aku nanti jadi janda Mas, anak kita jadi yatim huuuaaaa” Panji mulai gelagapan saat Naya menangis kencang.


“Ssssttt, Mas gak bakal kenapa-napa, janji sayang” ucap Panji setelah membingkai wajah sang istri.


“Tapi aku takut Mas, semenjak menikah sama kamu, aku gak bisa lagi tidur kalau gak ada kamu” bibir Panji kembali berkedut, entah kenapa, Naya yang manja seperti ini terlihat lucu dan menggemaskan di matanya.


“Ohh gitu?”


“Gak ah, kamu tukang bohong soalnya” goda Panji pura-pura merajuk.


“Iihh kok dikatain bohong sih”


“Itu tadi bilangnya gak bisa tidur kalau gak ada Mas”


“Emang bener kok” sewot Naya.


“Tapi dulu kok bisa ya kabur dari rumah lamaa” ungkit Panji mengingatkan masalah merka yang lalu.


“Gak mungkin dong kamu gak tidur selama itu?” mata Naya mulai berkaca-kaca menatap suaminya.


“Emang kamu pikir aku bisa tidur selama jauhan sama kamu Mas?” Panji yang awalnya hanya berniat menggoda kini justru tertarik dengan respon yang diberikan istrinya.


“Emang enggak?”


“Kalau aku emang segampang itu buat tidur, aku gak akan keluar malam sama Bang Tristan cuman buat beli makanan”


“Dan kejadian itu gak akan terjadi”


Niat mengerjai istrinya pupus sudah terganti dengan rasa bersalah yang teramat dalam.


“Aku sedih lho kamu mikir kayak gitu Mas, hiks” sadar sudah keterlaluan Panji memeluk istrinya.


“Mas minta maaf sayang”


“Dimaafkan, bisa dipercepat tidak belinya aku lapar Mas” Panji menepuk jidatnya pelan saat melupakan hal yang membuatnya dan sang istri berdebat tengah malam.

__ADS_1


“Ayo berangkat”


“Aku boleh ikut kan?”


“Boleh, pake jaket tapi ya, terus nanti yang keluar mobil Mas aja, kamu tunggu di dalem, terus..” kalimat Panji setelahnya bagaikan angin lalu bagi Kanaya yang fokus wanita itu berubah pada cara suaminya begitu perhatian padanya.


Kalau dulu, hal seperti ini menurut Naya tidak akan pernah terjadi mengingat betapa kakunya sang suami, tapi, semua orang akan berubah kan?


Bersyukurnya, perubahan suaminya ini ke arah yang positif, tidak bisa Naya bayangkan jika Panji memilih untuk tetap berkubang dalam masa lalunya.


Tidak terbayangkan jika saat itu ia tidak mau bersabar dan memilih untuk menyerah pada rumah tangga mereka.


Klip!


“Sayang! Kamu denger gak Mas ngomong apa?” tanya Panji setelah menjentikkan jari tengah dan jempolnya ketika sang istri hanya memandanginya dengan senyuman manis.


“Denger Mas ku sayang”


Cup!


Detik berikutnya Panji yang terdiam sembari tersenyum lebar setelah mendapat suplai energi dari sang istri.


“Mulutnya butuh digituin biar berhenti ngomel” ucap Naya malu-malu.


Namun Panji memegang pinggang Naya, membuat tubuh istrinya menmpel padanya, seraya berkata lirih “Kurang sayang, Mas ajarin cara ciuman baru mau?”


Sontak Naya menutup mulutnya sembari menggeleng yang entah mengapa terlihat menggemaskan di mata Panji.


“Ke kamar bentar yuk”


“Hah?! Ngapain Mas?” Panji kembali berbisik, kali ini suaranya lebih rendah dari biasanya hingga mampu membuat Naya bergidik geli.


“Mas aku ini lapar lho, Adek juga lapar” ucap Naya setengah memelas.


“Sebentar doang sayang, janji”


“Iiihh Papa kamu jahat banget ya dek” ucap Naya mengadukan tingkah sang suami pada bayi mereka.


“Sebentar doang kok dek, abis itu Papa janji bakal beliin apapun yang kamu mau, oke?”


“Mas, aaaaaahh” pekik Naya saat sang suami sudah menggendongnya ke arah kamar.


Adegan selanjutnya privat ygy 🤣


Happy weekend guys!!!


Semoga bisa sedikit mengobati rindu kelen semua sama mereka berdua yaa... hihi..


Tujuan dibuatnya chapter ini adalah selain untuk ucapan terimakasih sudah suport aku selama ini juga sekaligus pemberitahuan kalau mereka sudah akur dan tidak ada konflik besar lagi (di imajinasiku saat ini sih begitu 😄)


Sengaja judulnya aku kasih tanda tanya buat sekalian vote, karena jujurly, aku merasa kehilangan interaksi sama kalian semua setelah aku umumkan cerita ini tamat 🙃


Sebenarnya malah cerita ini gak ada kepikiran bakal bisa sepanjang ini meski novel di platform ini kebanyakan chapter nya sampe ratusan, (Maklum, otak authornya gampang ngebul tiap mikir sesuatu yang berat 🤣)


Aku baca semua komentar kalian dan masih sama, semua bikin aku sebagai penulis pemula ini terharu dan semakin bersemangat untuk menjadi penulis novel yang lebih baik lagi..


To be honest, ini bukan novel pertamaku, tapi ini satu-satunya novel ku yang sudah tamat karena segampang itu ide mengalir karena respon positif kalian semua..


Sekali lagi terimakasih,

__ADS_1


Stay healthy wherever you are, guys! 😘


__ADS_2