Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 35


__ADS_3

“Nayaaaaa”


Aku mendesah lelah, Mas Panji sudah berubah menjadi bayi besar yang menyebalkan, apanya yang tidak segera membaik, setelah sadar dan makan, siang harinya Mas Panji merasa lebih baik.


Saking baiknya ia memaksa berangkat ke kantor mengundang kemarahan semua orang yang semalam sudah ia buat khawatir dengan keadaannya, terutama Mama yang mengancam akan membuatku tetap tinggal disini selamanya kalau ia tetap memaksa berangkat bekerja.


Entah jin apa yang merasukinya, iya menolak dengan keras dipisahkan denganku, dan memilih untuk menuruti kemauan Mama.


“Sabar ya Nay, dia emang begitu kalau lagi sakit, nyebelin!” celetuk mama yang tiba-tiba sudah berada di sampingku sembari menatap sebal kamar Mas Panji, aku sekuat tenaga menahan tawaku.


“Iya Ma”


“Kamu cari apa, biar Mama bantu, pusing kepala Mama denger teriakan dia” ucap Mama masih dengan nada kesal.


“Naya mau bikinin Jus sama kupas buah buat Mas Panji Ma, ini sudah selesai kok, Naya ke atas dulu ya Ma” pamitku, mama mengangguk dan kembali ke kamarnya, sementara aku memperlambat langkahku untuk menyiapkan mental menghadapi Mas Panji yang sangat menguji kesabaran kali ini.


“Kamu kemana aja sih, Mas cariin kamu dari tadi, Mas kan sudah bilang jangan kem..” ucapnya terhenti saat aku membungkam mulutnya dengan apel potong yang sudah kukupas kulitnya.


Dia cemberut sembari mengunyah apel yang ku beri tadi.


“Kamu tuh udah besar, jangan teriak-teriak, kasihan Mama sama Papa dan yang lain, ganggu tau” omelku padanya, tidak lagi membalas kata-kataku Mas Panji justru menunduk, persis seperti anak kecil yang hendak menangis setelah dimarahi orang tuanya.


Huh, gini amat punya laki?!


“Ada yang sakit lagi Mas, atau kamu butuh sesuatu?”


“Gak ada, kamu disini aja” ucapnya manja, aku mendekat dan memeluknya, dia membenamkan wajahnya pada dadaku, nafasnya panas, saat kuraba badannya juga begitu.


Aku meraih termometer yang berada di nakas dekatku, dan menyelipkan benda itu di ketiaknya.


Bip!


38,1°


Mas Panji demam, mungkin karena dia hujan-hujan semalam.


“Pusing ya kepalanya Mas” dia mengangguk.


“Sini rebahan di pahaku, ku pijit kepalanya biar gak sakit lagi” dengan mata terpejam dia menurutiku, dengan perlahan aku sedikit menekan-nekan area kepalanya.


Aku belum berani bertanya tentang yang ku dengar dari mulutnya tadi malam, meski mulut ini gatal sekali ingin bertanya agar semua kegundahanku berkurang, tapi aku tidak tega melihat keadaannya sekarang, biar aku simpan dulu rasa penasaran ini.


“Lagi mikirin apa Nay?” tanyanya dengan tatapan sayu, aku menunduk untuk menatapnya, ku usap rambutnya dengan sayang.

__ADS_1


“Mikirin kamu” entah karena efek demam atau apa, aku bisa melihat semburat merah di pipinya, aku tertawa dalam hati, bisa tersipu juga manusia dingin ini.


Karena salah tingkah dia memelukku menyembunyikan wajahnya di perutku, tawaku meledak begitu saja, tingkahnya saat sedang sakit ajaib sekali.


***


Dua hari sudah kami menginap di rumah Mama saat dia sedang sakit, kondisinya sudah stabil, aku sangat bersyukur sudah bisa lepas dari Mas Panji versi bayi, aku hampir tidak sanggup menghadapinya.


“Nanti malam kita dinner di luar ya Nay” ucapnya yang masih sibuk di balik kemudi, begitu merasa sehat Mas Panji memboyongku kembali ke rumah kami.


“Emang udah sehat?” godaku, dia menatapku sebal.


“Kamu jangan kayak Mama deh Nay, Mas sehat kok, mau ya?”


“Kenapa dinner di luar sih? Dinner di rumah ajalah, kamu juga baru sembuh”


“Mas tau kamu capek ngurus Mas kemarin, cuman mau nyenengin kamu aja, biar kamu bisa istirahat dan gak masak malam ini”


“Gak capek kok, cuman Mas itu nyebelin banget kalau lagi sakit, jangan sakit lagi ya Mas” ucapku setengah meledek.


“Iyaaaa”


“Okedeh malam ini kita dinner di luar tapi aku mau dinner romantis ya” jawabku sembari mengedipkan sebelah mata menggodanya.


“Omongan kamu Mas?!”


“Lagian kamu sendiri ngapain tadi pake kedipin mata segala?” aku gelagapan, aku juga tidak tau mengapa aku melakukan itu, reflek saja.


Aku memilih diam dan tidak menimpali perkataannya kali ini yang bisa menjadi bomerang bagiku.


***


“Kamu suka Nay?” tanyanya padaku yang masih terkesima dengan kejutan yang ia berikan ini, Mas Panji membooking rooftop sebuah cafe membuatnya kosong hanya berisi satu meja bulat dan dua kursi.


“Seneng banget Mas, terimakasih” ucapku tulus, dia merangkul pinggangku mengikis jarak tubuh kami.


“Anything for you” bisiknya, membuatku senyum-senyum seperti orang gila.


Dia menuntunku ke meja kami dan menarik kursi untukku, aku selalu tersentuh dengan segala sikap manisnya malam ini, area rooftop ini sudah di dekorasi serba merah dengan lampu kerlap-kerlip yang menambah kecantikan tempat ini.


Seperti pasangan lainnya kami menghabiskan malam ini dengan romantis, saling melempar cerita dan gombalan receh menghangatkan malam yang harusnya dingin, aku tidak menyangka ia bisa seromantis ini.


Hingga makanan kami habis dan malam semakin larut, mau tak mau kami harus mengakhiri makan malam romantis pertama kami.

__ADS_1


Dengan tetap merangkul pinggangku Mas Panji menuntunku keluar dari cafe ini, dia bahkan tidak sungkan membukakan pintu cafe untukku.


“Mas Adi” sapa seorang wanita menghentikan langkah Mas Panji, dapat ku rasakan tubuhnya membeku.


Wanita itu berdiri tak jauh di hadapan kami, “Jadi kamu beneran sudah menikah dan melupakan janjimu Mas?”


Mas Adi? Dia memanggil Mas Panji dengan nama Adi?!


Aku harus menelan kecewa saat Mas Panji melepas rangkulannya padaku dan mendekati wanita itu, “Iya Anti, aku sudah menikah tapi aku tidak akan pernah melupakan janjiku” ucapnya hati-hati, wanita itu menangis dan berlari menjauhi Mas Panji.


Anti? Kinanti?! Dia masa lalu Mas Panji yang sempat membuatnya drop seperti beberapa hari yang lalu?


Hatiku mencelos saat Mas Panji justru mengejar wanita itu dan meninggalkanku sendiri di sini.


Masa lalunya sudah kembali.


Tanganku meremas ponsel yang ada di genggamanku.


Drrrrttt drrrrtttt


Getaran ponsel menandakan panggilan masuk menyadarkanku, Alan.


“Ya halo Lan?” ucapku parau.


“Nay, Dewi pendarahan, bayi kami lahir pre-mature” hatiku serasa diremas dengan kuat, belum selesai dengan Mas Panji, kini aku harus mendengar kabar yang tidak mengenakkan tentang sahabatku.


“Di rumah sakit mana Lan, aku mau kesana”


Setelah menyebutkan nama rumah sakit tempat Dewi dirawat, aku menghentikan taxi dan memilih menemui Dewi, aku belum mau bertemu dengan Mas Panji yang lebih memilih Si Anti-Anti itu daripada aku.


Anti untuk Kinanti.


Adi untuk...


Oh aku ingat! Nama suamiku ini kan Panji Pribadi.


Aku tersenyum lirih, jadi mereka memiliki panggilan khusus untuk mereka sendiri.


Dalam perjalanan aku meremas rambutku kesal, pulang dalam keadaan seperti ini setelah dinner romantis sama sekali tidak ada dalam pikiranku, ditambah lagi harus mendengar kabar buruk dari sahabatku.


Tangisku kembali tumpah, biasanya Mas Panji bisa menenangkanku, tapi dia tidak ada.


TBC

__ADS_1


__ADS_2