
Kami makan dengan meriah, kali ini lebih seru dari sebelumnya karena aku sudah dekat dengan adik-adik Mas Panji membuatku tidak lagi canggung membalas candaan mereka, tepat saat makananku habis, ponselku berdering, dari Mas Panji.
“Selamat ya Kak Nay, sudah bisa meluluhkan es kutub” celoteh Irwan adik bungsu Mas Panji.
“Es kutub?”
“Maksudnya Irwan tuh si Abang Kak” ucap Maura menjawab kebingunganku.
“Kalian kok gitu banget sama Mas Panji sih”
Mereka diam dan saling pandang kemudian menertawaiku, membuatku semakin cemberut tapi tak mengurangi keharmonisan keluarga ini.
“Ya Mas, Waalaikumsalam” salamku setelah sedikit menjauh karena mereka semua menggodaku yang kini masih berjauhan dengan suamiku.
“Aku ganggu ya?”
“Banget!” sewotku setengah menggodanya.
“Yaaahh kok gitu sih, aku sedih nih” rajuknya membuatku tertawa.
Dia menceritakan harinya dan kesedihannya yang tidak bisa ikut berkumpul bersama kami, kasihan, tapi di saat inilah aku membalaskan dendam padanya yang sering mengusiliku.
“Tiga hari lagi Mas pulang Nay, kamu ada titip sesuatu gak?”
“Cukup Mas pulang dengan selamat aja aku udah seneng kok, yaudah besok hati-hati ya, aku mau turun bantuin Mama sama yang lain beresin peralatan makan malam ini”
“Ya Nay, Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”
Aku tersenyum setelah mengakhiri sambungan telepon kami, benar kata Irwan, es kutub itu sudah mencair. Aku kembali masuk untuk membantu Mama dan yang lain.
“Wanita itu kembali dan mencari Panji?! Setelah semua yang ia lakukan masih berani dia kembali dan mencari Panji! Tidak tahu malu!” langkahku terhenti saat mendengar perkataan Mama yang sarat akan amarah, Mama tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Seorang wanita? Mencari Mas Panji?
“Iya Ma, dia datang ke Maura kemarin sore dan tanya Abang dimana, udah Maura jelasin kalau abang sudah menikah tapi dia mau ketemu langsung sama Abang, gimana ini Ma?”
Apa itu masa lalu Mas Panji? Kalaupun iya, untuk apa ia memaksa untuk bertemu dan keluarga ini seperti ingin menghalangi pertemuan itu?
__ADS_1
“Sudah jangan dibahas lagi, Mama gak mau Naya denger dan jadi mikir macem-macem, biar Mama yang ngomong sama Panji nanti”
Hening.
Saat aku sedikit mengintip, mereka berdua sudah tidak ada, peralatan makan malam juga sudah bersih dan tertata rapi di sebelah sink.
Moodku mendadak mendung, wanita itu seperti datang ingin mengambil Mas Panji dariku, aku takut sekali itu akan terjadi. Dengan langkah gontai aku memilih berlalu ke kamar Mas Panji saja. Aku ingin sendiri.
Aku mengambil salah satu baju Mas Panji, meski sudah dicuci bau tubuhnya terasa masih merekat di serat-serat kain bajunya, aku menghirup aroma itu dengan rakus berharap rasa gelisah ini bisa berangsur hilang.
Namun tidak, rasa tidak nyaman itu semakin membuatku sesak, aku memeluk baju itu seperti Mas Panji yang berada dalam pelukanku saat ini. Kalau ternyata nanti wanita itu berhasil menguasai Mas Panji kembali, lalu aku harus bagaimana?
Ayah, Naya sedih.
Air mata yang sejak tadi bergumul di pelupuk mata akhirnya jatuh juga. aku takut sekali kehilangannya setelah semua perhatian dan kasih sayang yang ia curahkan untukku, aku tidak mau itu terjadi.
***
Aku terbangun saat mendengar suara gemuruh bercampur derasnya hujan, rupanya aku menangis hingga tertidur, baju Mas sudah Panji kusut karena ulahku.
Aku merasa lebih baik, menangis kemudian tertidur memang melegakan, meski ketakutan itu masih ada, tapi tidak apa setidaknya kali ini pikiranku sudah lebih jernih dari sebelumnya.
01.30
Belum kotor memang, tapi aku tak sanggup mengatakan alasanku mengambil baju itu dari tempatnya, Mas Panji pasti akan mengejekku habis-habisan.
Rasanya segar saat air dingin itu membasahi tenggorokanku, tak lupa juga aku membawa sebotol air untuk jaga-jaga kaau aku akan kembali haus.
Bug bug bug
Aku berjengit saat mendengar pintu utama di ketuk dengan sedikit kencang, mau tak mau bulu kudukku meremang, siapa yang malam-malam seperti ini bertamu?
Sebelum aku membuka pintu, Papa Iham terlebih dahulu melakukan itu, di susul lainnya yang juga ikut terbangun karena suara itu.
“Panji?!” pekik Papa membuatku berjalan lebih cepat ke arah pintu utama.
“Mas Panji?!” jeritku saat melihat sosok yang kurindukan basah kuyup, dia menatapku yang berdiri di sebelah Papa dengan tatapan sendu, kemudian memelukku erat tanpa memperdulikan semua penghuni rumah ini melihat apa yang ia lakukan padaku.
“Naya, jangan tinggalin Mas Nay” ucapnya lirih, aku mengusap punggungnya yang dingin, membalas pelukannya dan berusaha menghangatkan tubuhnya dengan tubuhku.
__ADS_1
“Naya gak kemana-mana Mas” setelah mengatakan itu tubuh Mas Panji semakin berat hingga aku tidak bisa menjaga keseimbangan dan hampir limbung jika Papa tidak menahan tubuh Mas Panji.
Hingga Irwan dan Papa mengangkat tubuh Mas Panji ke sofa, aku baru menyadari bahwa Mas Panji pingsan.
Mbak Asih mengambil minyak, Maura merebuskan air hangat, aku hanya diam mematung mencerna apa yang terjadi, Mas Panji mengatakan akan pulang tiga hari lagi, kenapa memutuskan pulang malam ini di tengah hujan deras?
“Naya” sapa Mama menyadarkanku.
“Ma, Mas Panji kenapa?” tanyaku khawatir setelah menyadari ada hal yang tidak beres disini, tadi dia masih baik-baik saja saat menelponku.
“Kamu yang tenang ya, Mama sudah panggilkan dokter keluarga, Naya ambilin Panji baju sama handuk ya, dia harus ganti baju” aku mengangguk dan bergegas ke kamar mengambil yang mama minta.
Saat aku sampai di ruang tamu dokter yang mama panggil sudah datang dan memeriksa Mas Panji, wajahnya pucat sekali.
Aku menggeleng saat teringat wajah pucat Ayahku setelah divonis meninggal dunia oleh dokter, gak mungkin Mas Panji meninggalkanku seperti ini, gak mungkin!
Dengan perlahan aku berjalan menghampiri mereka, dokter sedang memeriksa tekanan darahnya dan melakukan prosedur pemeriksaan yang aku tidak tau apa namanya.
“Tekanan darahnya rendah, kelelahan bisa menjadi salah satu penyebabnya, aku resepkan vitamin dan obat lainnya Na, pastikan Panji mendapatkan asupan segera setelah sadar, jika tidak ada perubahan yang signifikan bawa saja ke rumah sakit” ucap dokter itu pada Mama Naura.
“Makasih ya Silla, maaf membuat kamu malam-malam harus datang kesini” jawab Mama pada dokter yang ku duga salah satu teman lama Mama.
“Santai aja, wanita itu?” tanya dokter yang kuketahui silla sembari menatapku, membuatku menjadi salah tingkah.
“Oh ya, ini Naya, menantuku, istrinya Panji”
“Naya, ini tante Silla, sahabat Mama, dia kemaren gak sempat ke pernikahan kalian, makanya kamu belum kenal” aku mengangguk kikuk sembari berjalan menyalimi sahabat Mama.
“Naya tante” wanita paruh baya itu tersenyum dan mengamatiku dari atas hingga bawah membuatku tidak nyaman.
“Pintar juga Panji cari istri, cantik” pujinya membuatku tersipu dan menunduk malu.
Saat Mama dan yang lainnya mengantar tante Silla keluar aku mengganti baju Mas Panji dan mengusap badannya dengan handuk kering, kamu kenapa Mas? Kenapa pulang seperti ini?
“Kinanti”
Gerakan tanganku terhenti, aku yakin tidak salah dengar, meski lirih aku bisa mendengar dengan jelas ia menyebutkan nama seorang perempuan.
“Jangan tinggalkan aku, Anti” racaunya menciptakan kecamuk dalam batinku muncul kembali.
__ADS_1
Kinanti, diakah wanita masa lalumu Mas?
TBC