
Bahu ringkih itu bergetar berusaha meredam isakan, tapi Dito tidak buta, ia tau Winanti sedang menangis dalam diam, ia juga tau penyebabnya.
Tatapan tajam Naya seolah menghakiminya, Dito diam karena tidak memiliki wewenang apapun terhadap gadis disampingnya, posisi Winanti yang tidak tepat juga membungkam mulutnya yang sudah akan berucap membela lebih jauh.
Dito ingin Winanti sadar apa yang ia lakukan adalah salah.
Sesekali Dito menengok Dio yang masih tertidur di carseatnya.
Mobil berhenti di bahu jalan membuat Winanti menatap Dito yang masih memandang lurus ke depan.
“Kenapa berhenti Dok?”
“Dito, just call me Dito, Win” ucap Dito yang mulai uring-uringan hanya karena sebuah panggilan.
Winanti menunduk dalam diam.
“Menangislah” satu kata ambigu yang mampu membuat Winanti kembali tegap menatap heran pria di sampingnya.
“Iya, jika ingin menangis maka menangislah, tapi setelah itu sudah, jangan terus-menerus meratapi kesedihan, selesaikan apa yang dimulai, perbaiki apa yang rusak” jelas Dito, rasanya Winanti pernah mendengar kalimat panjang itu, ia tidak asing dengan ucapan itu.
‘Stop! waktu menangis sudah habis’
‘Berhenti meratap’
‘Selesaikan apa yang dimulai’
‘Perbaiki apa yang rusak’
“Win! Are you okay?” Winanti menatap Dito yang kini ada dua.
‘You okay?’
‘Na, you okay?’
‘NANA!’
“Aaarrrghh, diam!” jerit Winanti saat suara itu terus berulang di telinganya, sedang kepalanya tidak berhenti berdenyut kencang.
Dito segera mengendarai mobilnya kembali, ia harus membawa Winanti kembali ke rumah sakit.
__ADS_1
Sekilas menengok Dio yang masih anteng dalam tidurnya setelah jeritan tadi, jantungnya berdegub kencang saat Winanti tak sadarkan diri.
Tangannya menjadi sibuk menelpon sembari menyetir, semoga saja Galang masih berada di sekitaran rumah sakit.
“Ya Dit?”
“Lang please help me..” setelah menceritakan situasinya yang rumit dan Galang setuju membantunya Dito kembali fokus dengan kemudinya.
Saat memasuki UGD satu brankar sudah setia menunggu, dengan paramedis dan Galang disana, Dito mendampingi Winanti yang dibawa masuk untuk mendapat perawatan, Dio sudah aman dengan Galang disana, ia percaya pada sahabatnya itu.
“Pasien dengan riwayat amnesia retrograde dan limfoma” ucap Dito pada salah satu dokter yang akan merawat Winanti.
“Ardito?” atensi penuhnya pada Winanti harus terjeda saat seseorang menyebut namanya, rahangnya mengetat saat tau siapa yang menyapanya.
“Tidak adakah dokter lain?!” ketus Dito, sedangkan pria sebaya di hadapannya hanya bisa diam mematung, pertemuan yang tiba-tiba.
“Jika kamu tidak mempercayaiku, kamu bisa ambil tindakan disini, aku akan backup kamu” lagi-lagi Rian mencoba bersikap tenang, pertemuan mereka setelah sekian lama membuat keduanya canggung hebat.
Dito menghela nafas, ia tidak boleh egois bukan? Winanti butuh penanganan secepat mungkin, sadar akan kesalahannya Dito mepersilahkan Rian kembali mengambil alih perawatan Winanti, meski mereka berprofesi sama, tapi mengambil kerjaan seseorang karena alasan pribadi itu tidak etis.
Rian segera melakukan tindakan.
Dito duduk dalam cemas, sekali lagi ia merasa hanya sebagai pembawa sial untuk seseorang yang berarti padanya.
‘Mas Pras, selamat ulang tahun ya!’ Dito tersenyum senang saat gadis itu bergerak maju malu-malu kearahnya.
‘Ini, ada hadiah kecil untuk Mas yang masih kecil’ ucapnya lagi setengah mengejek, bukannya marah Dito malah mengacak pelan puncak kepala gadis itu.
Kado ulang tahun ke 17.
Masa-masa yang indah bersama candunya.
“Tenanglah Ar, Cannabis-mu baik-baik saja, hanya sedikit syok karena tekanan yang tiba-tiba, apa ia perlahan mengingatmu?” tanya Rian yang bersikap seolah akrab dengannya, jika tidak ingat ini rumah sakit tangan Dito tentunya sudah gatal untuk menonjok pria di hadapannya.
Berani-beraninya ia menyebut Winanti seperti itu, Cannabis sativa, nama latin dari ganja, secandu itu Winanti untuknya.
“Dit, Dio mencarimu” ucap Galang dengan Dio dengan mata berair dalam gendongannya, sahabatnya ini belum menyadari seseorang lain dihadapannya.
“Galang?!” kepalanya menoleh perlahan, mendadak wajah Galang menajam.
__ADS_1
“Eh ada penghianat disini, masih bisa hidup dengan tenang?” tanya Galang sarkas sembari memberikan Dio pada sahabatnya.
Rian tertawa, meski sebenarnya ia tidak menyukai panggilan itu. Pandangannya beralih pada pria kecil foto kopi-an Dito yang mengerjab pelan menatapnya.
“Dia??” tanyanya menggantung sembari mencoba meraih Dio yang segera Dito jauhkan dari jangkauannya.
Rian menghela nafas pelan, kesalahannya belum termaafkan dan sepertinya tidak pernah akan mendapatkan maaf dari teman baiknya ini.
“Dia anak Sarah juga kan Ar?”
“Bukan urusanmu!”
“Tapi jika memang benar maka itu akan menjadi urusanku Dit!” bukan Rian yang menjawab, seorang wanita dengan mata yang berkaca-kaca mencoba mendekat, ia merindukan darah dagingnya, tapi Dito selalu mencoba menjauhkan mereka.
Niatnya yang akan mengajak Rian makan siang bersama membuat ia kembali bertemu dengan masa lalunya, juga anak yang selama ini ia rindukan.
Langkah wanita cantik itu perlahan mendekat, menatap buah hatinya dengan rindu yang membara.
Putranya sudah besar, Dito merawatnya dengan baik.
“Kamu tidak berhak atasnya lagi, ingat?! Hak asuh jatuh padaku” ucap Dito dengan sengit dan kembali memberikan Dio pada Galang dan memintanya untuk menjauh, ia merasa harus memberi peringatan pada dua manusia menjijikkan ini agar tidak lagi mengusiknya.
Sarah menangis, ia kembali dijauhkan dari buah hatinya.
Tidak lagi ingin adu otot dengan mantan suaminya, Sarah memilih berlutut di hadapan Dito, membuat dua pria di sampingnya sempat terkejut sesaat.
“Tolong Dit, aku hanya ingin menemui anakku, aku ingin memeluknya, aku mohon ampun padamu, jangan maafkan aku, aku memang bukan istri yang baik, tapi walau bagaimanapun aku seorang ibu, tidak cukupkah hukumanmu selama ini? Hatiku sakit Dit, aku tersiksa, dendammu terbalaskan, tolong biarkan aku bertemu dengan anakku” ungkap Sarah dengan tersedu.
Hati Dito tidak sekeras itu, tapi mengingat apa yang keduanya lakukan pada Dito dan anaknya Dio, ini belum ada apa-apanya.
Rian yang melihat istrinya mengemis pada mantan suami sekaligus teman yang pernah ia khianati tidak bisa berbuat apa-apa, mereka salah, wajar jika Dito berkeras tidak ingin memaafkan keduanya.
“Ibu? Kamu seorang ibu? Kalau kamu lupa, aku pernah mengemis padamu, demi anakku aku rela memohon padamu untuk tetap tinggal bersama kami meski kamu sudah berselingkuh di belakangku, kamu ingat apa yang kamu katakan waktu itu?” ungkap Dito mengulik kembali luka lamanya.
“Kamu lebih memilih laki-laki ini dibanding kami, bahkan saat Dio intoleran dengan susu formula, kamu menolak untuk menyusuinya, itu yang kamu sebut dengan seorang ibu?!” Dito menggeram marah mengingat betapa susahnya ia mencari ibu susu yang cocok dengan anaknya, sedangkan wanita yang menyebut dirinya sebagai seorang ibu ini malah memilih pergi dengan selingkuhannya yang merupakan teman Dito sendiri.
Sarah memejamkan matanya menahan pedih, ia tau ia sudah keterlaluan, tapi semua yang ia lakukan memiliki alasan, Dito tidak bisa selalu menyalahkannya.
“Kamu bertingkah seolah hanya kamu yang terluka disini Dit!” amarah Sarah memuncak, selama ini ia sudah mencoba untuk mengalah dan merendah hanya untuk membuat pria masa lalunya ini sadar alasan ia melakukan semuanya.
__ADS_1
Tapi Dito hanya akan menjadi Dito yang egois!
TBC