
“Hati-hati Nay” aku mengangguk sembari memegang erat tangannya, setelah pengakuannya di rumah sakit kemarin, Mas Panji tidak lagi sungkan memperlihatkan perhatiannya padaku.
Aku diperbolehkan pulang setelah menginap sehari di rumah sakit, tidak ada yang parah dari kecelakaan yang mengerikan itu, hanya terkilir di bagian kaki, semua orang mengucap syukur mengetahui itu setelah melihat keadaan motor ku yang hancur, mungkin itu yang menjadi kekhawatiran Mas Panji.
Jangan kan dia, akupun sangsi bisa hidup ketika ditunjukkan kondisi motorku, tapi yang namanya keajaiban itu pasti ada, aku masih diberikan kesempatan hidup untuk berbakti dengan suamiku, salah satunya.
Dia kembali membujukku untuk resign, karena takut kembali kualat karena tidak menuruti perintahnya, aku mengiyakan hal tersebut, tidak main-main saat itu juga Mas Panji mengutus seseorang untuk mengantarkan surat resignku.
Aku sampai tidak tau harus marah atau apa, yang jelas hatiku berbunga-bunga saat melihat tingkahnya yang sangat perhatian dan khawatir terjadi sesuatu padaku.
Jadilah aku sekarang jobless, pengangguran! Aku benar-benar belum tau apa yang akan aku kerjakan ke depannya, ini terlalu mendadak buatku.
Setelah sampai di ruang tamu, dia membantuku duduk dengan sangat hati-hati seakan aku akan kembali cedera jika ia salah memperlakukanku. Ia pergi meninggalkanku tanpa mengatakan apapun.
“Mulai besok saya kerja dari rumah” ucapnya yang berjalan ke arahku dan duduk di sebelahku dengan dua gelas air putih dan meneguk miliknya.
“Kalau itu buat nemenin aku yang cuman terkilir gak usah, aku bisa sendirian di rumah Mas, aku bukan lumpuh, please, jangan perlakuin aku kayak orang pesakitan, aku gak suka” dia mengerjap pelan, kemudian membelai rambutku dan tersenyum.
“Kamu bukan pesakitan Nay, kamu istri saya”
Aku mengernyit heran, “Gak nyambung!” dia tertawa.
“Karena kamu istri saya makanya saya harus selalu memastikan bahwa kamu nyaman dan aman” jelasnya, lagi-lagi dia membuatku terenyuh dengan kalimat singkatnya.
“Tapi ini gak perlu Mas”
Dia menggeleng pelan, “Ini perlu bagi saya, lagian kamu tau, di kantor saya hanya menandatangani berkas, tidak ada pertemuan penting, jadi lebih baik saya bekerja di sini sembari menemani kamu” putusnya tak bisa dibantah.
“Ya sudah terserah” melihatku yang kembali pasrah dia memelukku.
“Saya sangat takut saat melihat kamu tidak sadarkan diri dan tergeletak di tengah jalan, merasa bersalah dan menyesal mengapa saya tidak mengantarkan kamu” jelasnya, aku diam mendengarkan ucapannya dan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat.
__ADS_1
Aku menatapnya yang juga menatapku“Tapi Mas yang namanya musibah tidak ada yang tau, jangan menyalahkan diri sendiri lagi, oke?”
“Iya saya tau itu, hanya saja saya tidak ingin melihat itu terjadi lagi” jawabnya sendu.
“Aku mas Aku” koreksiku mengalihkan pembicaraan.
“Dari kemarin aku diem aja kamu mulai ngomong saya-saya, ihh sebel kan aku jadinya” kesalku, ku dorong dada Mas Panji hingga aku terlepas dari pelukannya.
“Maaf Nay, say- eh aku belum biasa”
“Ya makanya biasain, kamu kalau ada yang gak cocok atau lagi kesal sama aku ngomongnya saya-saya-an lagi” dia cengengesan.
Mas Panji menarikku kembali dalam pelukannya, “Gini aja, kalau aku ngomong saya lagi kamu kasih hukuman biar aku inget dan kebiasa” mataku berbinar, menghukum Mas Panji, manusia superior yang sedikit otoriter sepertinya hal yang menyenangkan.
Aku bangkit dan beridiri di hadapannya “Bener ya?” tanyaku memastikan, dia mengangguk mantap, membuatku segera memikirkan hukuman apa yang akan membuat Mas Panji jera dan aku bahagia bisa melampiaskan kekesalanku padanya selama ini.
“Oke aku udah tau hukuman apa yang tepat buat kamu” ucapku dengan ceria, dia mengernyit heran.
“Tiap kamu ngomong saya aku bakal nyuruh kamu beresin semua pekerjaan rumah, biar aku bisa nyantai” ucapku setelah puas tertawa.
“Oke”
Senyumku mendadak hilang saat dia hanya berwajah datar mendengarkan putusanku, padahal aku berharap ia akan memelas dan memohon untuk mengurangi hukumannya, itu akan terlihat lebih menyenangkan bagiku meski aku tidak akan tega membebankan semuanya pada suamiku ini.
“Cuman gitu doang? Kamu gak mau minta keringanan atau apa? Yakin nih pasrah aja, ih kamu gak asik ah”
“Terus aku kudu gimana Nay?” tanyanya pasrah yang semakin membuatku kesal.
Tanpa memperdulikan Mas Panji aku bangkit meninggalkannya, meski tertatih tak masalah asalkan aku bisa menghindar sejenak darinya, dan entah kenapa aku selalu kesal terhadap tingkahnya.
“Nay, tunggu dulu, kali ini say- eh aku salah apa lagi?” aku menatapnya jengah, rasanya percuma memaksanya untuk berubah, mau dihukum seperti usulnya pun tidak tega, aku hanya menjadikan usulannya tadi sebagai candaan saja, meski ingin sekali aku menyiksanya, tapi wajah teduhnya selalu bisa mengalihkan segala kekesalanku.
__ADS_1
“Gak ada” setelah mengatakan itu aku segera pergi dari hadapan Mas Panji.
Akhirnya aku bisa lolos darinya dan pergi ke kamar seorang diri. Namun itu tak berlangsung lama, Mas Panji menyusulku dan duduk di sebelahku, namun kali ini ia diam.
“Maaf Nay” katanya memecah keheningan diantara kami, aku menatapnya heran.
“Maaf kalau kamu harus menghabiskan sisa hidupmu dengan manusia kaku seperti saya, saya juga ingin berubah agar kamu nyaman bersama saya, tapi ternyata ini tidak mudah, pada akhirnya saya kembali mengecewakan kamu” tambahnya dengan wajah sendu, kini aku sadar jika sudah terlalu memaksakan kehendakku.
Dengan rasa bersalah yang mencuat begitu saja aku menggenggam tangan kekarnya membuat ia memandangku, bisa ku lihat guratan sedih itu, “Nggak, jangan minta maaf Mas, aku sadar sekarang, Mas Panji gak perlu jadi orang lain, jadi diri Mas Panji aja, maafin aku ya yang terlalu menuntut ini itu” sesalku.
“Terimakasih sudah mau mengerti”
Aku mengangguk sebagai jawaban, Mas Panji kembali membantuku yang ingin berbaring, lagi-lagi aku bisa melihat wajahnya dari jarak dekat, aroma tubuhnya menyeruak memenuhi pernafasanku, salah satu hal yang mampu membuatku terbuai darinya.
“Mau makan dulu apa langsung tidur?” tanyanya seolah menarikku ke alam nyata.
“Oh ya, kamu kan harus minum obat, makan dulu ya?” tawarnya lagi.
“Iya Mas” aku menghelas nafas saat melihatnya hilang di belokan pintu, bersama Mas Panji rasanya seperti nano-nano, kadang kesal, marah, kadang juga bahagia, aku juga tidak bisa menafsirkan perasaanku, yang aku tau pasti, aku nyaman bersamanya.
“Makan bubur dulu ya? Udah disiapin Mama” ucapnya dengan semnagkuk bubur dan segelas air, dia berjalan mendekatiku dan duduk di sebelahku.
Dia mengambil sendok itu, mengusapnya dengan tisu, dan mulai menyendokkan bubur lalu diarahkan ke mulutku, “Aku bisa sendiri Mas” cegahku, yang benar saja bagian tubuhku yang sakit hanya kaki, namun ia mau menyuapiku?!
“Aku cuman ingin menyuapi kamu Nay, apa itu juga berlebihan” ucapnya dengan tatapan yang mampu membuat siapa saja luluh.
“Nggak”
Dia tersenyum dan kembali menyuapiku, kalau seperti ini, bagaimana aku bisa tahan untuk tidak mencintaimu Mas?
TBC
__ADS_1