
“Nay, kamu betah kan di rumah Mama?”
Aku menatapnya yang memenuhi layar handphone-ku dengan jengah, “Betah kok Mas” dia mengangguk samar.
“Kamu jangan sungkan ya, kalau butuh apa-apa minta tolong sama orang rumah dulu” pesannya yang entah sudah berapa kali ia ucapkan, sama seperti pertanyaan sebelumnya, dua hal itu selalu menjadi kalimat pembuka video call kami semenjak kepergiannya meninjau proyek ke luar kota seminggu lalu.
“Kamu gak bosen Mas ngomong gitu mulu, udah kayak di-template aja kalimat kamu” kesalku, aku yang disini rindu harus mengoceh karena kebiasaan uniknya itu.
“Ya kan Mas tuh takut kamu gak betah karena sungkan mau ngapa-ngapain” belanya dengan cengengesan seketika melunturkan amarahku.
“Tapikan gak harus setiap hari kamu nanya gitu, bilang kangen kek, apa kek” ucapku setengah merajuk, sudah seminggu kami terpisah jarak, namun hal itu tak membuatku kesepian karena Mas Panji selalu menghubungiku di waktu senggangnya.
“Emang kamu kangen sama Mas?” godanya menciptakan sensasi hangat di pipiku, aku menunduk malu.
Kenapa harus bertanya sih?! Tentu saja iya!
“Kalau diem gini pasti kangen nih” celetuknya membuatku semakin malu.
“Udah dulu ah, aku mau bantuin mama masak” alibiku untuk menghindarinya, dia tertawa melihatku yang salah tingkah dan hendak kabur seperti ini.
“Yah kok kabur sih”
“Siapa yang kabur, sekarang emang waktunya aku masak sama Mama kok” sewotku kembali mengundang tawanya.
“Ya sudah sana, masak yang enak ya cantik”
Blushh
Aku tidak tau akan semerah apa pipi ini setelah digoda habis-habisan oleh Mas Panji.
“Halo?” aku memberanikan diri menatapnya, wajah tampannya kembali mengukir senyum yang menurutku sangat indah.
“I-iya Mas?”
“Katanya mau masak?” aku menepuk dahiku sendiri, padahal aku tadi sudah pamit tapi malah asik malu-malu kucing dihadapannya seperti ini.
“Ya sudah aku pergi dulu ya Mas, jangan lupa istirahat sama makannya, Assalamu’alaikum”
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam”
Sambungan video call kami terputus, bukannya pergi ke bawah sesuai pamitku pada Mas Panji aku merebahkan tubuhku mendekap handphone yang beberapa waktu yang lalu ku pandangi.
Jarak ini, membuatku menyadari sesuatu, aku takut kehilangan Mas Panji, akan jadi apa jika hubungan ini turut berakhir seperti hubunganku yang lalu, aku tidak bisa membayangkannya.
Meski tidak tau apa yang akan terjadi di masa depan, ketakutan itu selalu muncul di benakku.
Langit-langit kamar Mas Panji semenjak bujang menjadi objekku, aku yang awalnya berpikir akan diantar ke rumah Mama kandungku harus menerima keputusannya yang justru mengantarku ke rumah Mama mertua, dan berakhir di sini, kamarnya.
Ting!
Aku berjingkat saat mendengar tanda pesan masuk itu.
Mas Suami sending a photo.
Segera aku membukanya dengan senyum merekah, pasti itu foto dirinya yang sengaja dikirim untukku.
Aku menggeram pelan setelah melihat apa yang ia kirim.
Screen picture videocall kami beberapa waktu yang lalu, saat aku sedang menatapnya malu-malu.
Mas suka produk blush on kamu, bisa tahan lama dan bikin kamu jadi tambah imut, kasih tau dong apa merknya, nanti Mas belikan.
Blush on gundulmu!
Jangan lupakan emot cium di akhir pesannya, Ya tuhan aku malu pada suamiku sendiri, setelah sedikit berubah aku jadi kewalahan menghadapinya, aku kangen Mas Panji yang dulu, tapi juga ingin Mas Panji seperti sekarang.
Banyak maunya memang?!
Aku menggeleng dan tertawa pada waktu yang bersamaan mengingat tingkah absurd kami akhir-akhir ini.
Setelah kondisi hatiku sudah normal, aku memutuskan untuk turun dan memasak bersama Mama tanpa membalas pesan Mas Panji, biar saja aku kesal dengannya yang kini senang sekali menggodaku.
Sore ini adik-adik Mas Panji beserta keluarga kecilnya akan berkunjung, sepertinya hari ini akan masak banyak, benar saja, saat aku sampai di dapur, Mama dan Mbak Asih- ART Mama sedang sibuk berkutat dengan berbagai bumbu dapur dan bahan masak.
“Sore Ma” Mama Naura tersenyum saat menatapku.
__ADS_1
“Sore Nay, sini duduk, Mama mau masak banyak hari ini” aku mengangguk patuh dan duduk di sebelah Mama.
“Naya bisa bantu apa nih Ma?” Mama mengernyit heran membuatku jadi salah tingkah.
“Kamu nemenin Mama aja Nay, bisa ngamuk nanti Panji kalau tau istrinya pegang bahan masak” ucap Mama sembari tertawa, berbeda denganku yang sedikit tersentil dengan ucapan Mama, tapi mungkin ada sesuatu yang harus dibenahi di sini.
“Mas Panji gak bakal marah kok Ma, malah tadi Naya di suruh masak yang enak” jawabku santai.
“Iya kah? Soalnya waktu ngantar kamu dia pesen ke Mama buat jangan kasih kamu tugas rumah apapun, biar kamu bisa istirahat katanya” ucap Mama masih dengan nada lembut, aku kembali merutuki sikap Mas Panji yang berlebihan ini, dari ujung mataku Mbak Asih terlihat menahan senyumnya, aahh aku malu.
“Nggak papa Ma, Mas Panji emang agak berlebihan kok sekarang, jadi Mama jangan sungkan minta tolong sama Naya ya Ma”
Mama meletakkan pisau dan sayuran yang tadi sedang dikupas, kemudian tangan itu menggenggam tanganku, “Mama gak masalah kok Nay kalau memang kenyataannya seperti itu, justru di sini Mama yang mau berterimakasih sama kamu”
Terimakasih untuk apa?
“Naya ngerasa gak berbuat apa-apa buat Mama, kenapa harus berterimakasih sama Naya Ma, Naya jadi gak enak ini” canggungku.
Aku yang sejak datang tidak melakukan apapun, hendak membantu memasakpun terancam ditolak dan sekarang Mama mertuaku malah berterimakasih padaku, huh kepalaku serasa penuh dengan semua pertanyaan di benakku.
“Mbak Asih, boleh minta tolong bersihkan kamar Maura dan Irwan? Cucu saya nanti juga ikut menginap takut kamarnya berdebu, gak baik buat anak-anak” Mbak Asih mengangguk patuh dan meninggalkan kami berdua disini, feelingku mengatakan bahwa mama sengaja melakukan itu agar membuat kamu bisa berdua saja saat ini.
Aku memandang kepergian Mbak Asih sembari kebingungan, belum selesai dengan itu, aku terkejut saat Mama mengusap rambutku dengan lembut, “Terimakasih karena kamu sudah mengembalikan Panji yang dulu pada kami Nay” aku membatu mendengar itu.
Sembari tetap menggenggam tanganku Mama mengalihkan pandangannya pada taman di hadapan kami yang hanya dibatasi sebuah kaca besar.
“Sebelum ada kamu Panji gak pernah terlihat sehidup itu, dia udah kayak tanaman Mama yang layu, gak punya semangat hidup, tapi semenjak menikah sama kamu dia kembali punya alasan untuk hidup dengan baik, Mama tau betul itu”
“Naya juga terimakasih sama Mama karena sudah melahirkan dan merawat suami Naya sebelum akhirnya Mas Panji memutuskan berumah tangga sama Naya” Mama kembali menatapku hangat, dia mengangguk membuatku sangat bersyukur di terima keluarga ini.
“Naya bantuin masak ya Ma, jangan dengerin Mas Panji, please” rengekku, mama tertawa.
“Iya, boleh istrinya Panji menantu kesayangan Mama” kami tertawa bersama setelahnya.
Sembari memasak, Mama menceritakan aib dan kejadian konyol suamiku yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya, tak kusangka, menginap di rumah mertua akan menjadi semenyenangkan ini.
TBC
__ADS_1