Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 59


__ADS_3

“Dengar ya Ardito Prasetya! Tidak ada asap kalau tidak ada api, kamu pikir aku meninggalkan kalian karena apa?! Hah?!!” jerit Sarah yang sudah berdiri marah pada Dito.


Dito diam, belum pernah ia melihat Sarah semarah itu.


Dengan air mata berderai Sarah menunjuk Dito dengan marah, “Kamu! Kamulah alasan semua ini terjadi! Semua ini karena kamu!!!!”


Rian mendekat ke Sarah mengusap bahunya yang naik turun beraturan karena emosi, hal itu semakin membuat Dito muak, jadi? Wanita ini sedang mencari kambing hitam atas kesalahannya?


“Aku yang ada di samping kamu, aku yang selalu ada buat kamu, tapi kamu gak pernah anggap aku ada! Bahkan saat berada di bawah kungkunganmu yang sedang menikmatiku nama wanita lain yang kamu sebut!!” ungkap Sarah meluapkan semua unek-unek yang selama ini ia pendam.


Sarah sudah ikhlas, mungkin memang dia tidak berjodoh dengan Dito, dia menerima semua kemarahan Dito dengan memisahkannya dari anaknya sendiri, tapi saat melihat anaknya di depan mata dan dipisahkan begitu saja, Sarah ingin memperjuangkan haknya.


“Dalam apapun yang kamu ingat hanya Winanti!”


“Aku melakukan semua itu karena marah padamu Dit, aku menyesal sudah melakukan itu pada darah dagingku sendiri” akunya dengan suara melemah, Rian semakin mengeratkan pelukannya, menahan tubuh Sarah yang sudah akan jatuh terduduk, ia tidak ingin wanitanya kembali mengemis pada laki-laki dihadapan mereka.


Sementara Dito terpaku di tempatnya, ia tidak pernah menyadari hal itu.


Untung saja Rian sudah menempatkan Winanti pada tempat yang jauh dari pasien lain saat mendengar nama Galang dan Dito, jika tidak masalah rumah tangga mereka sudah menjadi konsumsi publik.


Orang terdekat Dito sudah sangat mengenal siapa Winanti, termasuk Sarah, selama pernikahan mereka tidak pernah Dito menganggapnya ada, luka pernikahan yang sangat kentara.


“Aku terima kamu marah karena perselingkuhanku, aku terima kamu sudutkan di depan keluarga kita, bahkan aku mencoba bertahan saat kamu menjauhkanku dari anakku, tapi kamu juga menyakitiku Dit, kamu juga berselingkuh meski tidak secara fisik”


Dito menatap mantan istrinya nanar, ternyata ia sudah sekejam itu pada Sarah.


Sementara itu wanita lain yang sedang mereka bicarakan berdiri dengan tiang infus di sampingnya terpaku ketika namanya disebut.


Ardito Prasetya.


Dan nama itu, kenapa tidak asing bagi Winanti?


‘Mas Pras!’


‘Kenapa memanggilku seperti itu Na?’


‘Biar saja, Mas juga memanggilku Nana, aku ingin beda’


‘Jadi panggilan istimewa itu Mas Pras?’


‘Iya!’


Winanti mengenal sosok itu meski samar, sebenarnya apa yang pernah terjadi padanya?

__ADS_1


Semakin berusaha diingat semakin membuatnya pusing.


Winanti ingin tau siapa bayangan itu hingga membuat kepalanya semakin terasa berat.


‘Na, jadi pacarku ya? Kemudian jadi istriku, kamu mau kan?’


‘Aku mau!’


Suara itu lagi-lagi muncul, siapa pria itu?


Belum sampai mengingat, pandangannya menggelap, suara pertengkarang dihadapannya semakin membuatnya pusing, hingga..


Brak


“Na!” Dito berlari saat tubuh Winanti sudah tergolek di lantai, ia tidak lagi memperdulikan dua orang dihadapannya, Rian segera mengikuti Dito untuk kembali memberikan perawatan, semoga ada kabar baik.


Sarah terdiam dengan air mata yang masih mengalir, setelah selama ini menunggu akhirnya ia bertemu juga dengan wanita yang menjadikannya bayang-bayang dalam pernikahannya sendiri.


Bukan lagi amarah yang Sarah rasakan namun rasa iba yang menguasai dirinya.


Mereka semuanya sibuk.


Setelah mengganti infus yang terlepas dan memastikan kondisi Winanti sudah aman, Rian memboyong istri dan temannya untuk memasuki ruangannya.


“Maaf” Rian dan Sarah menatap Dito yang mengucapkan satu kata bermakna itu.


Sarah menangis haru, bukan karena puas karena Dito meminta maaf padanya, ia hanya ingin hidup dengan damai.


“Tidak apa-apa Dit, tapi ku mohon, pertemukan aku dengan anakku” Dito mengangguk sebagai jawaban, rasanya beban yang selama ini ia rasakan hilang begitu saja saat sudah mau menerima kesalahan di masa lalu.


“Namanya Dio, kamu boleh menemuinya kapanpun” Sarah mengangguk dalam pelukan Rian, tidak ada lagi rasa cemburu ataupun kesal pada keduanya.


***


Tristan berdiri kaku melihat pemandangan dihadapannya, bibirnya tersenyum getir saat Naya-nya tertidur nyenyak dalam pelukan suaminya.


Memangnya ia siapa? Ia tidak memiliki tempat di hati Naya, baik dulu maupun sekarang.


Pintu itu ditutup kembali dengan pelan, Tristan sadar diri dan ia tidak akan lagi melibatkan Naya, meski ibunya memiliki perkembangan positif selama wanita itu ada bersama mereka.


Naya akan kembali pada keluarganya, cepat atau lambat akan seperti itu.


Tristan melangkah pergi menjauhi ruangan itu, ia pikir bertemu dengan Naya adalah jawaban dari doanya.

__ADS_1


Kanaya, wanita yang selama ini menghiasi hari-harinya meski tidak ada disisinya.


Flashback


Bug


Semua yang ada di lapangan ternganga saat bola yang mereka lempar malah mengenai seorang gadis.


Tristan menghampiri gadis yang kini terduduk sembari memegang kepalanya, Tristan yakin itu pasti sakit sekali, bola basket itu berat, matanya berubah panik saat ada darah yang keluar dari hidung gadis itu.


“Maaf ya”


Gadis itu hanya mengangguk, perlahan ia mencoba berdiri, Tristan membantunya.


“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya lagi dengan khawatir.


Bukannya marah gadis itu malah tersenyum, “Tidak apa-apa kak” bagaikan sihir Tristan terpaku di tempatnya, selama hidup ia tidak pernah melihat senyuman semanis itu.


“Hei bodoh, dia pingsan!” umpat salah satu temannya menyadarkan Tristan bahwa gadis itu sudah tergeletak dihadapannya.


Sebelum temannya bergerak menggendong gadis yang sudah memikatnya Tristan segera mengambil alih.


Dalam diam ia menunggu gadis itu siuman, ia akan meminta maaf dan mendekati gadis itu nantinya.


Tapi yang terjadi malah Arsha yang datang, dan mengatakan bahwa gadis itu adalah kekasihnya, dia Kanaya.


Bahkan ia pernah bertengkar dengan mendiang Arsha karena sudah menaruh hati pada seseorang yang saat itu sudah menjadi kekasih Arsha.


Kisah itu harus kembali ditutup dengan sendirinya karena Naya sudah berkeluarga, jika dulu ia bisa saja merebut kekasih Arsha, tapi tidak dengan istri seseorang yang sebentar lagi akan menjadi ibu dari anak mereka.


Tristan tidak sejahat itu.


Sementara dalam ruangan, Panji membuka matanya, ia tahu bahwa salah satu musuhnya akan menemui Naya, maka ia mengambil kesempatan ini untuk mempertegas posisinya.


Tidak sulit menyingkirkan Tristan, laki-laki itu terlihat lebih realistis dibanding Galang yang masih hidup dalam obsesinya.


“Eeenngghh” Panji menatap Naya yang bergerak tak nyaman dalam pelukannya, kasur ini sebenarnya hanya muat untuk satu orang, tapi saat Naya tidak menolak saat ia ingin tidur bersamanya hatinya bersorak riang, ia sungguh merindukan wanitanya ini.


Diusapnya punggung Naya dengan lembut agar wanita itu kembali tertidur, saat Naya sudah tenang, tangan Panji tergerak untuk mengusap calon bayinya.


Hampir saja Panji kehilangan mereka, jika saja bayi ini tidak selamat, maka tidak ada lagi sesuatu yang mengikat Naya padanya.


Panji akan kehilangan keduanya.

__ADS_1


Tapi Allah masih berbaik hati padanya, Panji masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.


TBC


__ADS_2