Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 48


__ADS_3

Hati Panji seakan berpacu, dia tau harusnya pulang sejak menerima panggilan dari Naya, tapi ia dibuat tak berdaya saat Winanti kembali tak sadarkan diri.


Kini ia sedang berada di rumah sakit tapi hanya raga nya saja yang berada disini, jiwanya pergi entah kemana, Winanti sedang mendapatkan penanganan karena kembali tak sadarkan diri.


Saat ini Panji hanya duduk termenung, keputusannya memang selalu gegabah.


Pandangannya terpaku pada wanita yang terbaring disana, Adik Kinanti, wanita yang ia cintai.


Tangannya mengepal keras, ia baru sadar jika sudah menyakiti dua wanita sekaligus, atau bahkan lebih?


...She'd take the world off my shoulders, if it was ever hard to move....


Semuanya terasa indah saat Winanti berada disampingnya.


...She'd turn the rain to a rainbow,when I was living in the blue....


Bohong jika Panji tidak mengakui keberadaan Winanti yang bagaikan pelipur lara pasca kehilangan kekasih hatinya.


...Why then, if she is so perfect, do I still wish that it was you?...


Tapi Panji selalu menganggap Winanti sebagai Kinanti, betapa jahatnya ia sekarang?


...Perfect don't mean that it's working, so what can I do?...


Harusnya ia bisa menjaga jarak dan tetap menganggap Winanti sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai kekasih yang sudah ia bunuh tanpa sengaja karena kecelakaan sialan itu.


...'Cause sometimes I look in her eyes...


...And that's where I find a glimpse of us...


...And I try to fall for her touch...


...But I'm thinking of the way it was...


...Said I'm fine and said I moved on...


...I'm only here passing time in her arms...


...Hoping I'll find...


...A glimpse of us...


Panji tau ia sudah terlalu egois, hanya memanfaatkan dua wanita yang menyayanginya dengan tulus hanya untuk kepuasan batinnya semata.


...A glimpse of us...

__ADS_1


Kenangan yang tak akan terlupakan bersama Kinanti terus memaksanya untuk tetap tinggal dalam kepingan memori itu.


Panji sudah berusaha untuk beralih, tapi pikirannya selalu menyeretnya untuk kembali ke masa itu.


Demi menghukum kelakuan brengseknya, Panji berulang kali menonjok dinding rumah sakit, ia tau betul bagaimana hancurnya sang Mama saat Papanya berkhianat, ia juga sudah berjanji pada Naya untuk tidak menjadi sang Papa.


Tapi, Panji mengingkari janjinya.


Tidak puas hanya tangannya yang terluka, kini kepala menjadi sasaran berikutnya.


Ia marah pada dirinya sendiri.


“Anda butuh bantuan tuan?”


Panji menoleh ke sumber suara, dokter yang merawat Winanti.


“Bagaimana keadaannya Dok?” tanya Panji yang membuat dokter itu mengangguk sopan.


“Mari keruangan saya tuan” panji mengangguk dan mengekor di belakang dokter yang ia kenal dengan nama Dito.


“Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, Nyonya akan sangat rentan dengan tekanan sekecil apapun, mengingat penyakit kanker ganas yang bersarang di otaknya sudah berada dalam staium lanjut” pikiran Panji bercabang hingga tak lagi memperdulikan dokter yang menganggap Winanti sebagai nyonya-nya.


Bagaimana ia bisa tidak memberikan tekanan jika hal itu malah bersumber dari dirinya?


“Anda mendengarkan saya Tuan?” pandangan Panji kembali tertuju pada dokter dihadapannya.


Dokter Dito tersenyum.


“Tentunya do’a tulus dan dukungan moril sangat dibutuhkan oleh Nyonya, Tuan, apalagi dari anda suaminya”


“Winanti bukan istri saya” jelas Panji tanpa sadar membuat dokter Dito tersenyum paham. sebenarnya ia sudah tau.


Tersadar jika Ia sudah membicarakan hal yang tidak perlu pada orang asing membuat Panji berdehem pelan.


“Tidak apa Tuan, anda bisa percaya dengan saya, meski kita baru mengenal, tidak buruk untuk menjadi seorang teman bukan?” ungkap Dito sembari tersenyum hangat.


Jujur saja ucapan sederhana itu mampu membuat Panji tersentuh, selama hidup ia hanya sendiri, tidak memiliki teman, jika ada masalah dia lebih memilih bercerita pada Mama atau adik-adiknya.


Dito tau, pria rapuh dihadapannya ini tidak lagi punya pijakan untuk berdiri tegap, ia sudah tau rasanya sendiri, dan perhatian kecil ini sungguh sangat berarti.


Ia tulus menawarkan pertemanan karena hal yang Panji punya terikat dengan para sahabatnya.


“Terimakasih dokter, saya sangat menghargai tawaran anda, tentu saja berteman dengan anda bisa saya pastikan adalah hal baik yang pernah saya terima selama hidup”


“Sama-sama, jangan sungkan untuk meminta bantuan jika kesulitan”

__ADS_1


Dito dan Panji saling bersalaman ala pria meresmikan pertemanan mereka.


“Winanti masih dalam pengaruh obat, mau ngopi bersama teman?” tawar Dito lagi, Panji mengangguk, sepertinya kafein bisa sedikit melonggarkan saraf kakunya.


Mereka berjalan beriringan, membuat semua orang menatap dua pria tampan yang sedang berjalan dengan gagah, sudah banyak hal yang sudah mereka ceritakan, mulai dari hobi hingga pekerjaan, dan..


“Bukannya kamu sudah menikah?” tanya Dito membuat Panji menghentikan kegiatannya yang membuka buku menu.


‘Darimana dia tau?’


Menyadari ekspresi bingung dari Panji membuat ia menertawai mulutnya yang ember sekali, jelas saja teman barunya ini akan curiga, padahal ia sudah berniat untuk merahasiakan identitasnya yang sesungguhnya.


“Kita pernah saling kenal sebelumnya?” tanya Panji penasaran, Dito menggeleng di sela tawanya, kalau sudah begini ia harus bicara jujur.


“Aku sahabatnya Alan” Panji mengernyit heran, mencari nama Alan dalam daftar orang yang ia kenal dalam otaknya.


“Suaminya Dewi” tambah Dito memberikan satu lagi clue untuk teman barunya ini.


“Ohhh, itu sahabatnya Naya, istri saya”


“Iya, kita berlima, Aku, Alan, Diaz, Riko, dan.. Galang, diantara kami berlima hanya istri dari Alan yang memiliki sahabat yaitu Kanaya, makanya kita semua juga kenal dekat karena selalu bertemu saat Alan dan Dewi membuat acara” jelas Dito, Panji hanya mengangguk saja.


Sepertinya seru juga mempunyai banyak teman dan sahabat.


“Kapan-kapan kalau ada waktu akan aku kenalkan dengan mereka, suami Kanaya juga sahabat kami” tambah Dito lagi, dari yang ia tau, pria dihadapannya ini sangat tertutup, orang selain keluarga yang ia kenal hanya pasien yang ia rawat, Winanti dan kakaknya.


Darimana ia tau?


Tentu saja dari informan yang ia sewa, sebelum memmutuskan untuk berteman, Dito selalu melakukan hal ini, tidak apa kehilangan uang yang tidak seberapa, asal tidak salah dalam pergaulan.


“Terimakasih Dit” pria berjas putih itu hanya mengangguk senang.


“Ingin ku beri satu rahasia tidak?”


“Apa?”


“Kamu boleh tidak cemburu atau khawatir diantara kita berempat mengenai istrimu” Panji mengernyit heran, apa maksudnya?


“Iya, kamu boleh tidak cemburu pada ku, Alan, Diaz dan Riko, tapi tidak dengan Galang” jelas Dito saat Panji hanya diam.


“Karena dia belum menikah sementara kalian sudah?” tebak Panji membuat Dito tertawa, selain kaku dan irit bicara ternyata Panji juga positif thinking sekali.


“Iya itu satu alasannya”


“Lalu alasan lainnya?”

__ADS_1


“Dia.. pernah dekat dengan Kanaya” jawab Dito dengan senyum smirknya.


TBC


__ADS_2