
“Mas Galang, aku mau beli permen kapas itu” seruku sembari asik menarik-narik tangan Galang menuju penjual permen kapas berbagai warna.
Sejak saat itu aku mulai memanggilnya dengan embel-embel ‘Mas’ sesuai dengan permintaannya, atau dia akan mengusiliku jika tidak memanggilnya seperti yang ia mau.
“Iya pelan-pelan, permen kapasnya gak akan lari kok Nay” tegurnya tapi ia tetap menuruti apa yang ku mau.
Ini malam minggu pertama kami semenjak saling kenal dan dekat seperti sekarang, Galang mengajakku untuk menikmati indahnya pasar malam yang di gelar di taman kota.
Kali ini, aku kembali merasakan berbagai makanan masakan kecilku, dan bermain apapun layaknya anak kecil juga, terakhir kali merasakan sensasi ini sekitar dua puluh tahun yang lalu, saat aku berumur tujuh tahun.
“Senang?” tanyanya saat aku memakan permen kapas itu dengan lahap, aku mengangguk antusias, sementara ia dengan gemas malah mengacak-acak pelan rambutku.
Rasa manis dari permen kapas dan hingar-bingar berbagai wahana serta riuh para pengunjung lain seketika membuat moodku naik dengan drastis tidak peduli seberapa lelahnya badanku sepulang bekerja.
“Ishh, kayak bocah aja makannya belepotan” ucapnya dengan Ibu jari yang mengusap pelan ujung bibirku, aku terpaku, ini terlalu tiba-tiba, hingga mampu menciptakan gelenyar aneh dalam tubuhku.
Belum sampai di situ, nafasku tercekat saat ia mencecap sisa gula pada ibu jari yang sama dengan tadi.
Secara tidak langsung, kami berciuman!
Membayangkan itu membuatku panas dingin di buatnya.
“Hmmm manis” serunya, sedangkan aku segera memalingkan wajahku kemana saja, asal tidak bersitatap dengannya.
Sepersekian detik kemudian aku memilih berjalan meninggalkan Galang, aku malu, jangan tanyakan seberapa merahnya pipiku.
Tapi usahaku di gagalkan oleh Galang yang sudah mencekal pergelangan tanganku.
Aku menoleh tanpa bertanya, seakan paham, dia menunjuk wahana lempar kaleng, mungkin dia mau bermain itu.
Kini kondisinya di balik, Galang lah yang antusias menuju ke stan tersebut. Tanpa memperdulikan perasaanku yang sudah carut marut karena ulahnya.
Saat Galang pergi membayar untuk bermain, aku sibuk melihat-lihat boneka yang berjejer-jejer berbagai ukuran dan semuanya lucu, aku bukan penggemar boneka, meski aku perempuan, aku lebih suka bermain mobil-mobilan saat kecil dari pada bermain boneka.
Tatapanku terpaku pada boneka beruang cokelat susu ukuran medium yang memeluk simbol love merah bertuliskan ‘I love you’ dengan topi koboi hitam.
“Kamu pengen boneka beruang cokelat itu ya?” tebaknya yang langsung ku angguki dengan tetap menatap boneka itu, dalam hatipun aku berdoa semoga Galang bisa memenangkan dan memberikannya padaku.
__ADS_1
“Kalau aku menangin boneka itu untuk kamu, aku bakal dikasih apa?” tanyanya.
“Apapun yang kamu mau” jawabku tanpa berpaling dari boneka incaranku.
Dia diam, membuatku seketika menoleh dan melihat tatapan shocknya.
“Are you sure Nay?”
“Memangnya aku jawab apa?” dia berdecih kesal.
“Kamu bilang aku boleh minta apapun kalau bisa menangin boneka itu untuk kamu” kini aku yang terkejut, sangking sukanya pada boneka itu aku sampai rela sejauh ini.
“Ehh, aku ganti deh, nanti aku kasih..”
“Gak, gak boleh di ganti, salah sendiri ceroboh, lihat aja Naya, aku bakal menangin itu buat kamu” selanya, aku langsung mendesah lesu, bagaimana jika dia meminta yang tidak-tidak? Misal minta berhubungan.. ewhh.. sampai matipun gak bakal aku kasih, eh tapi kalau dia maksa gimana?! Dasar Naya bodoh!
Tuk!
“Aduhh, Mas Galang?!! Sakit tau!!” seruku saat tanpa sepengetahuanku dia menepuk kepalaku dengan kunci mobilnya.
“Gak usah mikir yang aneh-aneh tentang aku kenapa sih? Gak bisa yah” sewotnya, aku langsung manyun sembari mengusap pelan kepala ku.
“Jangan kira aku gak tau ya pikiran kamu, kamu pasti mikir aku bakal minta yang iya-iya kan?” aku melotot saat tebakannya itu benar sekali.
“Engg..”
“Mau aku jabarin pikiran kamu sudah sejauh apa hah? Kamu pasti mikir aku bakal minta berhubungan bad-hmmmppppp” selanya tapi langsung ku bekap mulutnya dengan tanganku, meski harus berjinjit-jinjit aku gak peduli.
“Ishhh, iya iya, gak usah di perjelas sampe sejelas itu, aku malu tau!” aku mengucapkan dengan nada marah, tapi bukannya takut, Galang malah tertawa, namun hanya sebentar karena setelahnya dia mencondongkan badannya yang membuatku memundurkan badanku.
Dia ini maunya apasih, suka banget bikin serangan jantung tiba-tiba.
“Aku gak minta itu kok, tenang aja, aku masih takut dosa, apapun nanti permintaanku aku berani jamin itu gak berhubungan dengan kontak fisik” bisiknya dengan tatapan mata kami dengan jarak yang lumayan dekat.
Aku hanya bisa mengangguk lucu, di tatap sedalam itu, oleh Galang yang mengaku cinta padaku, membuatku percaya saja padanya. Tidak ada pilihan lain kan? halah alasan!
Kini Galang sudah berfokus pada tumpukan kaleng tumpuk sepuluh yang berjarak sekitar lima meter dari kami, dia punya tiga bola tenis yang artinya dia punya tiga kesempatan.
__ADS_1
Aku memperhatikan Galang yang sedang serius menatapi sasarannya, tangannya *******-***** bola yang ada di genggamannya.
Aku semakin tertarik saat Galang seperti sangat memperhitungkan bidikannya, penasaran apa Galang akan berhasil atau tidak.
Galang mengambil posisi, dan krompyang!
Aku melongo, begitupun mas-mas yang jaga stan ini, juga para penonton semuanya terkesima melihat Galang yang menang dalam satu kali bidik.
“Aku menang Naya, aku tagih ya janji kamu tadi” ucapnya senang.
Dengan semangat Galang menunjuk boneka yang aku mau dan memberikan padaku dengan wajah yang sumringah sedangkan aku menerimanya dengan senyum malu-malu, bagaimana tidak, jangan lupakan semua orang yang menonton Galang tadi, mereka semua turut menyoraki kami.
Aku memeluk boneka beruang itu dengan sayang, baru kali ini aku di beri pemberian istimewa seperti ini, kenapa istimewa? Karena mendapatkannya dengan penuh usaha, berbeda dengan yang tinggal beli dan di berikan padaku.
Galang mengacak pelan rambutku.
“Makasih ya Mas, aku suka banget sama bonekanya” dia mengangguk sembari tersenyum manis padaku, hla itu membuatku juga tersenyum padanya.
“Kamu gak lupa sama janji kamu kan?” aku melongo, ternyata dia masih ingat saja dengan janji itu, luntur sudah senyumanku.
“Kok langsung cemberut gitu sih?”
“Harus sekarang banget Mas, gak bisa besok aja gitu?” tawarku, dia menggeleng dengan tegas dan kembali menarikku untuk berjalan mengikutinya.
Dan, kami berhenti di depan sebuah bianglala besar yang harus membuatku mendongak untuk melihat puncak tertingginya yang sudah pasti tinggi sekali, sudah lama aku ingin mencoba menaiki ini, tapi tidak ada yang mau ku ajak menaiki ini, mantan pacarku phobia ketinggian, jangankan naik, mendekati wahana ini saja sudah membuatnya mengeluarkan keringat dingin sebesar jagung.
Sekalinya dapat yang gak phobia sama tinggi dia jarang bisa pulang dan meluangkan waktu untukku. Memangnya mantannya banyak ya? Sssttt rahasia, haha.
“Aku mau naik ini sama kamu Naya, kamu gak takut sama ketinggian kan?” aku langsung menggeleng dengan wajah berbinar.
“Jadi permintaan kamu cuman ini Mas?” dia mengangguk, inimah seperti aku dapat rejeki nomplok, sudahlah dapat boneka incaranku, sekarang ditemani naik wahana yang sejak lama ingin ku naiki.
Kami naik ke salah satu Gondola, kemudian duduk sembari melihat sekitar, suasana malam di tambah lampu yang kerlap-kerlip semakin membuatku excited sekali. Tak disangka, orang pertama yang mengajakku menaiki ini adalah orang yang cinta padaku pada pandangan pertama, yang membuatku merasa di istimewakan olehnya meski baru saling mengenal, berbeda dengan masa laluku, tidak ada yang se-gentle Galang pokoknya.
“Lihat ke sana Nay, ada pesawat lepas landas” aku mengikuti arah pandangnya, benar saja, kelap kelip lampu dari pesawat itu berpadu dengan langit yang sedikit ungu, itu semua terlihat indah di mataku.
“Mas Galang, aku sayang sama kamu” dia melongo, dan kali ini aku sadar mengucapkannya, bukan karena apa yang ia lakukan hari ini aku baru mengatakannya, meski itu tidak sepenuhnya salah, tapi ku rasa, setelah semua yang ia lakukan untukku, aku sudah yakin.
__ADS_1
Yakin untuk membalas perasaan Galang Prambudi, menepukkan tangan kami hingga menjadi melodi cinta yang syahdu.
TBC