Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 36


__ADS_3

Tit tit tit


Kupingku terasa ngilu mendengar mesin menyebalkan itu lagi, pendarahan, eklampsia, entah ada berapa banyak penyakit yang kini mengerubungi sahabatku, Dewi.


Sepertinya dia terlihat nyaman tidur dengan beberapa alat yang beberapa waktu lalu terpasang di badan Ayah.


“Naya”


Aku berhambur ke pelukan Mama Susi “Yang sabar ya Ma, Dewi cuman tidur bentar aja kok” ucapku menguatkan Mama, meski aku sendiri tidak yakin usahaku berhasil, karena akupun takut sesuatu yang menakutkan akan terjadi pada Dewi.


“Iya sayang, doakan Dewi ya?”


“Iya Ma”


“Kamu sudah lihat Sean?”


“Sean?” tanyaku meyakinkan.


Mama Susi mengangguk “Anak pertama Dewi dan Alan”


“Nanti Naya lihat Ma, Mama sudah makan?” tanyaku dihadiahi gelengan pelan, aku menghela nafas pelan, aku juga tidak akan nafsu makan, tapi kami bisa sakit jika terlambat makan, ditambah lagi harus menjaga orang sakit di rumah sarang penyakit.


“Gimana mama bisa makan Nay, anak mama belum sadar, cucu mama terbaring lemah di inkubator, orang tua ini hanya menunggu kematian sementara mereka yang perjalanannya masih panjang saja belum tau nasibnya bagaimana” derai air mata itu turut mengundang tangisku, rintihan Mama Susi terlihat pilu harus menyaksikan dua orang kesayangannya bertaruh nyawa disaat yang bersamaan.


“Tapi Mama tetap harus makan, siapa yang akan menyambut Dewi dan Baby Sean kalau Mama lemas karena kelelahan?” hiburku menyebut dua nama yang sedang kami doakan keselamatannya tiap waktu.


“Naya mau temenin kan?” dengan senang aku mengangguk.


Kami berjalan bersisian sembari menceritakan hal yang masih berkaitan dengan Dewi dan Bayi Sean, hingga satu siluet tubuh manusia yang ku kenal membuatku memperlambat langkahnya.


“Loh Nay, kamu kok masih disitu, katanya mau makan?” tegur Mama padaku, benar saja jarak kami sudah jauh, saat ingin kembali memastikan, sudah tidak ada apapun disana, mungkin halusinasi saja.


“Iya Ma sebentar”


Kami kembali melanjutkan jalan ke arah kantin, aku terus terpikir sosok itu, yang kembali merujuk pada satu nama yang sangat menyakitkan bagiku.


Kenapa harus sekarang?!


***

__ADS_1


Hari sudah berganti, aku sudah pamit untuk pulang pada Alan dan Mama Susi, tapi rasanya berat sekali harus meninggalkan Dewi dengan keadaan seperti itu dan harus pulang bertemu Mas Panji yang sudah menyakitiku secara langsung.


Mengingat kejadian malam itu membuat dadaku kembali penuh sesak, dia, suamiku lebih memilih meninggalkanku, bahkan Mas Panji tidak sama sekali mencariku yang terpaksa menginap di rumah sakit karena khawatir dengan kondisi Dewi.


Posisiku sudah tergantikan.


Dengan kasar aku mengusap air mata yang tanpa seizinku jatuh menangisi pria brengsek seperti Panji!


Aku memilih menenangkan diri dengan duduk di taman menunggu matahari yang masih malu-malu menyapa dunia.


Sepatu ber-hak tinggi itu ku lepas, kaki telanjangku menyentuh dinginnya embun di rerumputan, udara segar memenuhi rongga dadaku menggantikan sesak yang sejak tadi mengganjal.


Aku lelah, tidak bisakah aku menggantikan Dewi terbaring bersama alat-alat membosankan itu? Aku sangat ingin hidup dengan tenang, sama seperti saat sebelum ayah pergi, dan sebelum Mas Panji datang bak pahlwan yang akhirnya menyakiti.


“Aku rindu ayah” aku menangis sesenggukan, suasana yang sepi membuatku berani menangis di tempat umum, hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya.


Andai saja aku tidak pernah berfikir menikahi Mas Panji, pasti saat ini aku masih bisa tertawa meski pada akhirnya aku tetap kehilangan Ayah.


Dinginnya pagi ini tak serta merta mendinginkan hatiku yang membara karena kembali terluka.


Hingga aku merasa ada sesatu yang melingkupiku.


Dia datang!


Tangisku semakin pecah, aku membuang jaket yang ia sampirkan di bahuku dan memilih menjauh darinya, kenapa duka seperti senang sekali datang padaku akhir-akhir ini?!


“Nay, tunggu!” aku yang tidak peduli mempercepat langkahku, aku tau ini tidak seberapa dengan ia yang aku tebak sedang berlari ke arahku.


Grep!


Cekalan tangannya membuatku berbalik menatapnya geram.


“Apa sih maumu?!” bentakku, dia menatapku sendu, aku sudah tidak peduli dengan tatapan itu, tatapan yang membuatku jatuh padanya dan berakhir dicampakkan oleh orang yang sama, Galang.


“Aku hanya ingin minta maaf” aku tersenyum mengejeknya, minta maaf dia bilang?!


“Sampai kapanpun aku gak akan mau maafin kamu” jawabku bengis.


“Kalau begitu aku akan terus menerus mengejarmu sampai kamu maafin aku” ucapnya dengan nada datar seperti tidak terpancing dengan emosiku.

__ADS_1


“Terserah kamu!”


Gampang sekali mengucap maaf setelah ia seenaknya mempermainkan perasaanku, bayangan yang ku lihat beberapa waktu lalu benar, Galang sudah kembali.


Tanpa pulang ke rumah, aku berangkat untuk menyepi sejenak. Setelah bertemu dengan Galang, aku tidak ingin membuat hariku semakin suram dengan bertemu satu pria lagi yang bisa mengancurkan moodku.


Aku tidak mau menyebutkan namanya.


Pantai kenjeran surabaya menjadi pilihanku, aku ingin menghabiskan waktu di sini sejenak sebelum kembali pada kenyataan yang mungkin akan kembali menyakitiku.


Saat matahari mulai mengucapkan salam perpisahannya, ada sesuatu yang mendorongku untuk pulang, meski rasanya enggan tapi aku teringat kewajibanku sebagai seorang istri, sebelum pulang aku menyempatkan untuk berbelanja kebutuhan rumah yang mulai habis.


“Ayah kita beliin Ibun coklat yu!” seru seorang anak kecil dengan suara menggemaskan mengalihkan atensiku yang sedang berburu camilan ringan.


Anak itu terlihat nyaman berada dalam gendongan sang Ayah yang berlalu di hadapanku dengan riang.


Seorang anak.


Tanpa sadar aku mengelus perut datarku, apa suatu saat nanti akan ada seorang bayi yang dititipkan di sini? Apa suamiku akan menyayanginya seperti pria itu meski anak ini lahir dari rahimku?


Bayangan malam itu saat ia meninggalkanku kembali terputar dengan jelas di memoriku, dia bahkan tanpa repot-repot menjelaskan apa yang terjadi dan meninggalkanku seperti orang bodoh.


Dengan senyum kecut aku berharap tidak ada anak diantara kami, bukan tidak menyukai anak-anak, tapi tidak ingin suatu saat anakku akan terluka karena pertengkaran atau bahkan perpisahan kami.


Setelah menyelesaikan acara belanjaku, aku beranjak pulang, tidak ada mobil yang terparkir di halaman depan, itu artinya Mas Panji tidak ada di rumah.


Aku memasuki rumah yang hampir seharian tidak ku kunjungi.


Dingin.


Pandanganku jatuh pada bungkus snack yang dimakan Mas Panji saat menungguku berdandan, kini penuh dengan semut.


Langkahku menaiki tangga menuju kamar kami, handuk yang kata Mas Panji akan ia gantung sehabis makan malam kami masih berada di tempatnya meski kini sudah tidak basah lagi.


Aku kembali turun dan mengecek meja makan, bahkan kue yang ia jadikan kejutan awal malam itu masih utuh dengan buah yang mulai berjamur.


Aku duduk termangu menatap nanar kue basi di hadapanku, semua yang kulihat merujuk pada satu kesimpulan pahit yang harus ku terima.


Mas panji tidak pulang setelah mengejar wanita itu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2