Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 9


__ADS_3

Hari ini, hari minggu yang berbeda bagiku, sejak Galang pergi semua kebiasaanku hilang entah kemana. Kerjaanku hanya menunggu Handphoneku berdering karena telepon dan pesan singkat darinya.


Aku menghela nafas sembari mengaduk-aduk satu gelas boba yang ku pesan, sudah dua hari Galang tidak menghubungiku, diapun tidak mengatakan padaku tentang tujuannya pergi ke Paris untuk apa.


Dan itu sempat membuat rasa yang sempat ku pupuk dengan subur untuknya menjadi layu kembali, tidakkah dia sadar bahwa aku menuggu kabarnya di sini? Sesibuk itukah dia sampai bisa melupakan aku?


“Makasih Mas” ucapku pada pramusaji yang mengantarkan pesanan steakku, dia hanya mengangguk sopan dan berlalu.


Jika biasanya aku akan berdiam diri di rumah kali ini aku memilih untuk melepas semua beban pikiran dengan ngemall sendirian, kenapa tidak mengajak Dewi? Jawabannya karena kalau hari minggu mereka sibuk ngadon katanya.


Kampret emang, temennya lagi galau, mereka malah asik menebar cinta dengan bercocok tanam bersama.


Setelah steakku habis, aku dengan langkah gontai keluar dari foodcourt, sebenarnya aku juga tidak tau harus kemana yang penting aku tidak berdiam diri dan menatap handphone yang sepi itu.


Brakkk


“Aduhhh” aku mengedarkan pandanganku, ku lihat ada wanita paruh baya yang jatuh terduduk dengan berbagai belanjaannya yang berserakan. Sepertinya habis tertabrak oleh anak kecil yang berlarian berlawanan arah.


Aku langsung teringat pada mamaku di rumah, segera ku hampiri ibu itu, dan membantunya membereskan beberapa belanjaan yang tercecer.


“Terimakasih” ucapnya sembari memegang tanganku. Aku hanya mengangguk sembari tersenyum.


“Sama-sama tante” ku lihat, wanita di hadapanku ini terpaku padaku, bukan, lebih tepatnya pada gelang yang berada di tanganku.


“Tante, butuh sesuatu?” tanyaku.


“Ma?”sapa seorang pria sebayaku. Kemudian dia juga terdiam saat melihat apa yang ia panggil mama tadi lihat.


“Jadi ini calon menantu mama, Bang?” tanya ibu ini pada pria itu. Sontak aku dan pria tadi terkejut.


Namun jawabannya di luar prediksiku.


“Iya, Ma” jawabnya dengan sedikit ragu yang mengundang pelototan tajam dariku. Ku lihat lelaki ini memandangku dengan tatapan sayu.

__ADS_1


“Namanya siapa, Sayang?” aku kikuk, ku lihat lagi lelaki yang berada di hadapanku ini, dia sampai menangkupkan kedua tangannya yang hanya terlihat olehku karena dia di belakang ibunya, seperti memohon pertolongan padaku.


Setan dan malaikat yang ada pada diriku berperang, ada yang menyarankanku untuk menolongnya, ada yang menyuruhku untuk meninggalkannya saja dengan segala prahara yang akan terjadi setelah ini karena berani berbohong pada ibunya.


“Kanaya, tante” kuputuskan untuk menolongnya, sembari mencium tangan ibu dari pria ini. Kulihat ia tampak lega setelah aku memerankan apa yang ia harapkan.


“Namanya cantik kayak orangnya ya, nama Mama, Naura, jangan panggil tante ya, panggil Mama aja” aku hanya tersenyum, tidak mengiyakan tidak juga menolak.


“Anak ini memang kurang ajar sekali. Katanya kamu sibuk makanya belum bisa ketemu secara resmi” tambahnya, aku hanya tersenyum kecil.


“Ayo makan dulu, ya, mama mau ngobrol banyak sama kamu, Kanaya” kini aku yang memohon pertolongan pada pria asing ini. Kami beradu pandang sejenak.


“Ma, Kanaya-nya lagi repot, kapan-kapan aja ya?” bujuknya. Berhasil, ternyata dia paham dengan gestureku. Hal itu disambut wajah muram dari ibu pria ini, tapi mau bagaimana lagi, aku tidak mau hal ini diperpanjang.


“Yahhh, padahal kita baru ketemu loh Nay, beneran nih gak bisa makan dulu sama Mama?” aku kembali meminta tolong padanya yang kini juga memelas padaku.


Apa boleh buat, sebenarnya aku tadi punya opsi untuk bisa keluar dari kondisi awkward ini, tapi aku dengan baik hatinya malah membiarkan diriku terjun dalam sandiwara ini sendiri.


“Tuh, denger sendiri kan Kanaya ngomong apa?! Emang dasarnya kamu aja yang pelit, gak mau ngenalin kami” sewot Mama Naura yang di balas dengkusan pria itu, sedangkan aku kembali terkikik geli melihat dia di marahi ibunya terus menerus di hadapanku.


Mama Naura menggandengku sedangkan anaknya membututi kami di belakang, aku yang sudah makan akhirnya hanya memesan kue dan secangkir matcha latte, sedangkan sepasang ibu anak itu memesan steak daging dan jus jeruk.


Banyak yang kami bicarakan, tidak sekalipun Mama Naura bersikap tak acuh padaku, malah sebaliknya pria itulah yang tidak dipedulikan oleh kami berdua, membuatnya bisa dengan nyaman makan tanpa harus repot-repot menanggapi topik obrolan kami.


Hingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat, Mama Naura yang sudah di telpon oleh suaminya harus mengakhiri acara makan dadakan ini, dalam hati aku bernafas lega, berakting seperti ini sungguh bukan keahlianku.


“Next time kita harus makan bareng lagi ya” mau tak mau aku mengangguk, agar tidak memperpanjang pertemuan ini, meski dalam hati aku berdo’a semoga aku bisa mendapatkan mertua sebaik Mama Naura.


“Mama, ke parkiran dulu ya, Panji mau ngomong sebentar sama Kanaya” oh jadi namanya Panji. Setelah beramah-tamah dengan ibunya hingga lebih dari satu jam, aku baru mengetahui namanya.


Ku lihat Mama Naura setuju untuk meninggalkan kami berdua setelah bercipika-cipiki denganku.


Setelah tidak kulihat tubuh Mama Naura tadi, aku segera memukul pria yang ada di hadapanku ini dengan tas ku. Dia yang juga mengamati kepergian ibuya tidak menyadari aksiku.

__ADS_1


“Aduh, sakit, berhenti!” aku tidak mau mendengarkannya sembari tetap memberikan pukulan yang bertubi-tubi. Hingga kami jadi tontonan para pengunjung Mall ini.


“Rasain! Suruh siapa ngomong gak pake di filter dulu” ucapku setelah puas memukulinya.


“Ya siapa suruh kamu memakai gelang yang mamaku beli untuk menantunya?” sontak aku langsung melihat gelang yang aku pakai.


Pantas saja ibu dan anak itu terdiam saat melihat gelang ini. Ternyata gelang itu milik mereka.


Aku langsung melepas gelang itu dan memberikannya pada Panji. Kemudian memilih berlalu pergi.


Baru satu langkah, tanganku di cekal olehnya. Langkahku terhenti, aku berbalik menghadapnya.


“Tolong bantu saya Kanaya” ucapnya dengan nada memohon dan wajah melas.


“Aku tidak bisa membantumu, Maaf”


“Hanya untuk sementara saja, ku mohon, kamu boleh minta apapun padaku nanti” tawarnya lagi, membuatku penasaran tentang apa yang membuatnya seperti ini padaku yang baru saja ia kenal.


“Kamu terlalu sombong dan percaya diri, aku tau kamu orang berada, tapi tidak semuanya bisa kamu beli dengan uangmu!” sungutku, dia kembali berwajah datar.


“Pikirkan sekali lagi” aku memutar bola mataku dengan jengah, apa dia tiadk mengerti tentang perkataanku?


“Aku tidak bisa”


Harusnya dia pergi atau paling tidak melepaskan tanganku yang masih ia genggam, tapi dia malah merogoh sakunya dengan tangannya yang bebas, mengeluarkan sesuatu dan memberikannya langsung pada tanganku yang masih ia genggam.


Kartu namanya. Segera aku kembalikan karena aku merasa tak membutuhkan itu, namun dia mengelak.


“Simpan saja, siapa tau saya bisa bantu kamu meski kamu tidak mau lagi membantu saya” setelah mengatakan itu dia langsung meninggalkanku yang menatapnya dan kartu nama itu bergantian dengan tak percaya.


Lagi-lagi aku bertemu dengan laki-laki absurd.


TBC

__ADS_1


__ADS_2