
“Merindukanku?” tanyanya lagi, tanpa aba-aba Panji segera memeluk sosok dihadapannya.
Panji tersedu di pelukan wanita yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannnya.
“Hei sudah, kau membuatku sesak tau!” sungutnya sembari mengurai pelukan mereka.
“Kenapa diam? Iya-iya aku tau aku cantik” ucapnya dengan percaya diri.
Panji mengusap wajah ayu yang ada di hadapannya ini, membuat si empu memejamkan mata.
Ketika tangannya menjauh, mata sayu itu perlahan kembali terbuka.
“Kinanti”
“Masih ingat aku ternyata, ku pikir sudah lupa!” sungutnya pura-pura merajuk. Kembali tak mendapatkan respon, Kinanti menatap wajah Panji.
“Sumpah ya kamu memang jahat sekali!” Kinanti memukul dada Panji berulang kali, menumpahkan rasa kesalnya.
“Maaf”
“Hanya itu?” tanya Kinanti membuat Panji kebingungan.
“Hanya kata maaf yang bisa kamu ucapkan, begitukah Panji?”
Panji kembali termangu, Kinanti kembali dibuat kesal olehnya.
“Baiklah dengarkan permintaanku ini baik-baik! Perbaiki semuanya, jangan terus menerus merasa bersalah, kau tau? Aku sudah bahagia disini, aku ingin kau juga merasakan hal yang sama” ucap Kinanti menatap Panji lekat, tangannya terulur mengusap wajah tampan itu.
“Well, kata maafmu aku terima” tambahnya, Panji tersenyum.
“Asal......”
“Asal? Apa?” tanya Panji tidak sabar.
“Kamu harus berjanji satu hal”
“Apa?”
“Berbahagialah” ucap Kinanti dengan senyum indahnya.
“Panji!” jeritan itu membuatnya membuka mata.
Tidak ada Kinanti, hanya wajah marah Mamanya yang ada dihadapannya.
__ADS_1
Hanya mimpi ternyata.
Seakan mengumpulkan nyawa, Panji terdiam dengan pandangan kosong, kembali mengingat mimpinya tadi, Kinanti benar-benar datang dalam mimpinya.
Naura yang melihat anaknya kembali melamun menggoyangkan lengan Panji dengan sedikit kasar.
“Iya ma?”
“Mama mau ngomong sama kamu” ketus Naura.
Melihat ibunya yang masih dingin dengannya membuat Panji beringsut memeluk Naura.
“Panji tau Panji salah Ma, tapi tolong Mama jangan cuekin panji kayak gini” pintanya dengan sendu, mata marah Naura juga berubah sayu, ia juga sedih dengan keadaan putranya.
“Mama sudah bilang Bang, pernikahan itu bukan main-main, Mama tau kamu belum cinta sama Naya, Mama tau Bang, tapi kali ini Mama gak mau ngalah, Mama gak mau diam aja lihat kamu cuman berhenti di tempat” jelas Naura mengeluarkan semua unek-uneknya terhadap anaknya ini.
“Mama pikirnya dengan kamu menikah, kamu bakal tutup buku usang kamu, dan membuka buku baru, lembaran baru dengan Kanaya”
“Tapi kamu malah nyakitin menantu Mama, sakit hati Mama Bang, rasanya Mama sudah gagal didik kamu”
“Kamu sudah lihat sendiri kondisi rumah tangga Mama sama Papa, kamu tau hancurnya Mama, terlebih kamu pasti lebih paham perasaan seorang anak yang Mamanya disakiti Papanya sendiri” Panji semakin mengeratkan pelukannya pada Naura.
“Tapi kamu sudah melakukannya, bahkan Kanaya sedang hamil anak kamu Bang?!”
Naura mengurai pelukan mereka, menghapus air mata Panji, entah sudah berapa lama putranya ini menangis, hati Naura kembali sakit menatap putranya yang berantakan.
“Mama mau kasih tau kamu sesuatu Bang”
“Mama bukan gak suka sama Winanti, dia wanita baik, tapi waktu kamu bilang mau menikahinya Mama menolak, kamu tau alasannya kenapa?” Panji menggeleng, tangan Naura tergerak untuk merapikan rambut Panji.
“Mama tau kamu gak pernah lihat Winanti sebagai dirinya sendiri, wajahnya yang mirip Kinanti membuat kamu selalu berimajinasi bahwa Winanti itu Kinanti, itu pasti menyiksa Winanti Bang, secinta apapun dia sama kamu”
Ungkapan itu membuat semuanya terlihat lebih jelas.
“Jadi?”
“Mama gak pernah benci sama Winanti, justru Mama kasihan sama dia makanya Mama tidak merestui kamu sama dia” jelas Naura menyambung beberapa puzle kesalahpahaman di masa lalu.
Karena penolakan Mamanya Winanti memilih pergi, karena penolakan itu Panji marah dan membuang gelang yang sudah Naura siapkan untuk calon menantunya, karena itu juga yang membuatnya bertemu dengan Kanaya.
“Kalau akhirnya Mama tau bakal seperti ini, Mama gak akan kasih ijin kamu menikah dengan siapapun Bang, Mama gak ingin apa yang terjadi sama Mama terulang kembali pada siapapun, apalagi menantu Mama sendiri” ucap Naura.
“Tapi sudahlah, semua juga sudah terjadi, Mama cuman mau apapun caranya bawa Naya kembali Bang, dia lagi mengandung cucu Mama dari kamu, cucu yang selama ini Mama nanti-nantikan” pinta Naura dengan tulus.
__ADS_1
Berusaha terus marah dan menjauhi anaknya seperti tingkahyang kekanakan, ia memilih bijak menyikapi masalah yang menimpa keluarga kecil putra kesayangannya.
“Pasti Ma, Panji janji sama Mama” Naura kembali memeluk putranya dengan sayang, Naura tau, Panji yang belum sepenuhnya selesai dengan masa lalunya membuat ia bingung dalam melangkah.
Dengan satu dukungan saja dari Mamanya sudah bagaikan energi baru bagi Panji, ditambah lagi dengan mimpinya tentang Kinanti yang bermakna sama dengan keinginan Mamanya, membuat ia sudah sadar yang ia butuhkan sekarang hanya mencari Kanaya dan memperbaiki hubungan mereka.
***
“Kak, aku cinta banget sama Mas Panji, sejak dulu, bahkan sejak Mas Panji sama Kakak” Winanti berusaha menegakkan tubuhnya, perlahan mengusap nisan Kinanti, mencoba mengakui semuanya.
“Tapi aku gak pernah berharap Kakak pergi seperti ini, aku juga sedih waktu kakak pergi” Winanti menghela nafasnya, mengeluarkan sesuatu yang membuatnya sesak.
“Sekarang meski gak ada Kakak, Mas Panji bukan punyaku Kak” akunya dengan sedih.
“Dia kembali milik orang lain” air mata Winanti luruh.
“Aku rela jadi bayangan Kakak, aku rela dia anggap aku sebagai Kakak, aku rela Kak, tapi kenapa Mas Panji tetap tinggalin aku? Setidakpantas itukah aku untuk dicintainya Kak?” ungkap Winanti ditengah tangisannya.
“Aku capek Kak, aku cuman pengen sekali aja Mas Panji melihatku sebagai seorang wanita yang mencintainya, sekali saja” lirih Winanti sembari meletakkan kepalanya diatas pusara Sang Kakak.
“Aku sudah melihatmu sebagai seorang yang mencintaiku Winanti” suara tegas itu membuat Winanti menoleh ke sumber suara, tanpa melihat Winanti sudah tau siapa pemilik suara itu.
“Mas Panji? Kesini?” Panji mengangguk dengan menambah langkah mendekati kakak beradik itu.
“Hai Anti, aku kembali lagi” ucap Panji sembari meletakkan buket bunga diatas pusara mantan kekasihnya.
Setelah memanjatkan do’a, Panji menatap Winanti yang berada tepat di sebelahnya.
“Aku mencintaimu Winanti” Aku panji membuat Winanti tersenyum senang.
“Rasa cinta yang sama seperti cinta seorang kakak pada adiknya, seperti aku mencintai Maura” tambahnya membuat senyuman itu sirna.
Hilangnya Kanaya membuat Panji sadar bahwa sikap tidak tegasnya telah menyakiti banyak orang, termasuk wanita dihadapannya ini.
“Bukan karena kamu tidak pantas untuk Kakakmu ini, tapi you deserve better Win” ucap Panji mencoba memberikan wanita dihadapannya ini pengertian.
“Baiklah Kak, baik, aku paham sekarang, tapi Kakak sudah berjanji akan bersamaku sampai pengobatan ini selesai kan? Kakak sudah janji” desaknya, Panji hanya bisa mendesah lelah.
“Ya dan itu hanya tinggal satu bulan lagi kan? Setelah itu aku tidak akan lagi mau berdekatan denganmu, kau ingat perjanjian kita kan?” Winanti mengangguk.
Baiklah, hanya setelah ini, setelah janjinya gugur, Panji bisa full time bersama keluarga kecilnya.
‘Sedikit lagi Nay, bertahan ya!’
__ADS_1
TBC