
Aku berdiri di depan pagar rumah, memandang mobil yang kian menjauh membawa Mas Panji pergi bersamanya.
Ku raba pipiku yang memanas, lalu dadaku yang berdegub kencang, mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu saat aku terbangun di pelukan Mas Panji setelah semalam merajuk karena akan di tinggalkan beberapa waktu.
Aku yakin tangannya kebas karena aku tidur lengannya, meski ia bilang tidak apa-apa, tapi tanpa sengaja aku melihatnya meringis kesakitan sembari mengibaskan lengannya.
Sederhana, tapi berkesan bagiku.
Saat mobil itu sudah tidak terlihat lagi, aku memutuskan untuk masuk, namun kedatangan mobil yang tak asing membuatku tetap tinggal.
“Nayaa!” aku merentangkan tangan saat Dewi berjalan cepat ke arah ku, aku sudah menceritakan semua, termasuk status baruku itulah alasan bumil ini segera datang menemuiku.
Kami berpelukan sembari menangis.
“Dew, Ayah sudah gak ada” aduku, tangisku kembali pecah, jika ada Mas Panji, dia pasti akan memelukku mengusap punggungku dengan lembut hingga aku tenang dan berhenti menangis, namun kini aku yang harus melakukan itu untuk Dewi.
Dia menangis kencang hingga sesenggukan, perlahan aku sedikit menyesal memberitahunya di tengah suasana hormon kehamilan yang membuat moodnya berubah-ubah dalam sesaat.
“Maaf Nay, aku gak ada waktu kamu lagi down karena kepergian Ayah, Aku juga kaget, pantes aja akhir-akhir ini aku sering kepikiran kamu” ucapnya sembari mengusap kasar bekas tangisnya sendiri.
Namun setelahnya dia memukulku dengan kesal.
“Akhh, Dew sakit!” keluhku, tapi bumil satu ini nampak tidak peduli justru semakin menampakkan kekesalannya padaku.
“Kalau aku kemarin gak telfon kamu, sampe 100 hari ayah aku gak bakal tau kan?! kamu nyebelin tau gak!” sewotnya, hilang sudah rona sedihnya berganti dengan muka garang yang siap memakan siapa saja.
Aku bergidik ngeri, “Maaf” cicitku, selain kalut dan beradaptasi dengan status baruku, aku juga bingung bagaimana menyampaikan kabar buruk ditengah kabar bahagia ini padanya.
“Loh bumil cantik, kok gak diajak masuk sih nduk” sapa mamaku sembari membawa semua tentengannya dari pasar.
Sedangkan Dewi, dia sudah berhambur dalam pelukan mamaku, dia kembali menangis, aku mengambil alih semua belanjaan Mama agar ia bisa dengan leluasa menenangkan bumil satu itu.
“Ma, Ayah ninggalin kita ya? Dewi bahkan belum sempat kasih kabar tentang kehamilan Dewi, kok Ayah udah pergi aja, hiks, Dew-Dewi sedih Ma” cerocosnya, aku geleng-geleng kepala dibuatnya, sebentar menangis, sebentar lagi marah.
Namun aku senang melihat Mama yang sudah tidak terpuruk seperti saat awal-awal, ia malah tersenyum dan mengelus punggung Dewi lembut, sama seperti saat menenangkanku yang sedang menangis.
“Ayah udah tau kok kalau Dewi hamil, Ayah seneng banget waktu denger itu dari Naya, Ayah pergi biar gak kesakitan lagi, Dewi yang ikhlas ya, biar Ayah tenang disana” ucap mama dengan lembut juga, sedekat itu Dewi dengan keluargaku, terutama Ayah, dia menemukan sosok Ayah pada Ayahku yang tidak ia dapatkan dari Ayah kandungnya sendiri.
__ADS_1
“Iya tapi anak Mama yang satu ini keterlaluan, masa Naya baru dikasih tau sekarang, mana nikah gak bilang-bilang” sungutnya sembari menunjukku kesal.
Kena lagi?!
“Ini gak mudah bagi Naya, bagi kami, maaf ya kalau terlambat kasih tau Dewi” bela Mama padaku, aku tersenyum senang, apalagi saat Dewi semakin kesal.
“Pokoknya kamu harus ceritain tentang suami kamu, DETAIL!” sungutnya lagi padaku.
“Iya Dew, iya”
“Yaudah yuk masuk, nanti mama bikinin puding kesukaan Dewi ya” bagaikan anak kecil Dewi langsung mengangguk lucu.
***
“Jadi kalian ketemu karena sebuah gelang?” tanyanya saat aku sudah memulai sesi curhat kami di kamar, lengkap dengan cemilan yang ada di kulkas.
Aku mengangguk, “Iya saat itu Mama Mas Panji udah kayak tandain aku, kami selalu ketemu setelah hari itu”
Bumil di hadapanku terdiam sembari menatap foto pernikahan siri ku dengan Mas Panji.
Bug
Tubuhku sempat oleng namun tidak sampai jatuh meski bumil ini kembali memukulku dengan sekuat tenaga.
“Apasih Dew?! Dari tadi mukul mulu!” kesalku, bukannya takut Dewi malah meninggikan wajahnya seolah menantangku.
“Kamu ngeselin banget tau gak, aku baru tau kalau kamu di ghosting sama Galang, aku baru tau kalau Ayah meninggal, dan AKU BARU TAU KALAU KAMU SUDAH MENIKAH!” teriaknya, aku sampai menutup telinga agar gendang telingaku aman dari jeritannya.
“Ampun deh Dew, kamu kenapa sih dari tadi teriak-teriak sama mukul aku mulu, pengar kuping aku nih!” balasku, mau tak mau aku juga ikut meneriakinya dengan kesal.
Tidak seperti tadi, kini Dewi sudah menunduk dengan wajah sayu, matanya berkaca-kaca, aku menghela nafas dalam-dalam, aku terpancing emosi!
“Sorry Dew, aku kelepasan” sesalku, namun terlambat, Dewi sudah menumpahkan air matanya.
“Nggak, aku yang salah, aku keterlaluan, hiks, maaf ya Nay” aku mendekat dan memeluknya, harusnya aku tidak terpancing dan mengerti bahwa Dewi seperti ini karena hormon kehamilannya.
“Aku ngerasa gak berguna jadi sahabat kamu Nay, hiks, aku gak ada waktu kamu butuh aku” aku menggeleng sembari terus memeluk Dewi yang masih saja menangis karena teriakanku tadi.
__ADS_1
“Bukan kamu, tapi aku emang gak mau nambah beban pikiran kamu Dew, aku sayang sama kamu dan debay, aku gak mau debay ikutan sedih kalau aku cerita tentang masalahku tadi”
“Aku juga sayang sama kamu Nay, lain kali jangan sembunyiin masalahmu sendirian ya, aku pengen ada di saat suka dukamu, meski dalam hati aku selalu berdoa semoga gak pernah gak ada duka buat sahabatku Naya” kini aku ikut menangis haru, aku beruntung memiliki orang-orang yang sangat menyayangiku.
“Iya aku janji Dew makasih ya sahabatku yang baik hati dan tidak sombong” selorohku untuk mencairkan suasana yang sudah tidak karuan ini.
“Puding bikinan Mama sudah siap nih, spesial buat putri-putri Mama” seru mama sembari membawa nampan berisi puding kesukaan kami berdua membuat pelukan kami terurai.
Detik-detik berikutnya kami lalui dengan saling cerita tentang segala hal yang kami lewati akhir akhir ini sembari memakan puding.
“Jadi, dia orang yang bagaimana Nay?” aku memandang Dewi dengan tatapan bingung.
Pertanyaan seperti itu mampu membuatku diam, aku tidak tau banyak tentangnya, meski statusnya sudah menjadi suamiku. Pikiranku melayang pada hari-hari dimana kami mengahbiskan waktu bersama.
“Dia baik, sangat baik” aku kembali menatap Dewi yang menanti jawabanku, itu yang ada dalam benakku saat memikirkannya, hatiku mendadak mendung saat dia yang selalu ada di sampingku kini harus pergi.
Barangkali Dewi menyadari perubahan mukaku, dia menggenggam tanganku, “Dia pasti kembali kok” Aku memandangnya tak percaya karena dia seakan tau isi hatiku.
Dalam hati aku juga berharap seperti itu, berkali-kali gagal dalam hubungan dan kehilangan membuatku merasa cukup, untuk saat ini aku tidak ingin mengalaminya lagi.
“Emmh, Nay, kamu udah tanyain daftar pertanyaan konyol kamu ke Mas Panji?” tanyanya hati-hati, membuyarkan lamunanku.
Aku menengang, sontak menatap buku pink kecil di deretan buku dan novel-novelku dalam rak.
Daftar pertanyaan untuk calon suamiku, bahkan saat Mas Panji sudah menjadi suamipun aku belum bertanya. Aku mengingat dengan jelas tiga poin pertanyaan yang ku catat dan berniat akan ku tanyakan pada pria yang melamarku, terutama poin pertama.
‘Sudahkah benar-benar selesai dengan sosok di masa lalu?’
Pertanyaan yang teramat penting bagiku karena sering membaca novel romance yang inti konfliknya sesosok dari masa lalu.
“Belum kan?” aku mengangguk, Dewi tersenyum dan menggenggam tanganku, lebih tepatnya meremas membuatku memusatkan atensiku padanya.
“Seperti yang ku bilang saat itu, yang seperti itu tak perlu ditanya, biarkan semuanya mengalir, jangan takut dengan konflik Nay, kadang dengan adanya masalah bisa membuat hubungan semakin erat, kuncinya percaya” aku menatap ibu hamil ini dengan seksama sembari meresapi kata-katanya, dia kembali tersenyum dan mengangguk samar seakan menegaskan bahwa yang dikatakannya itu benar.
Harus percaya ya?
TBC
__ADS_1