Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 27


__ADS_3

Semilir angin pantai menerbangkan rambutku yang malam ini tergerai, aku menghirup udara alam yang sangat segar setelah seharian aku dipaksa Mas Panji untuk beristirahat karena kelelahan setelah malam madu kami.


Aku menoleh saat rasa hangat dari kain tebal menyelimuti tubuhku, hidungku mencium bau yang tak asing bagiku akhir-akhir ini, Mas Panji tersenyum dengan segelas susu hangat yang masih mengepulkan asap.


“Susu coklat hangat ini dipercaya bisa mengembalikan energi, kamu sepertinya membutuhkannya” ucapnya penuh makna sembari mengulurkan gelas itu.


Aku menerima gelas susu itu dengan wajah yang memanas saat menyadari arah pembicaraannya, dia duduk di sebelahku.


Setelah perbincangan pagi tadi aku langsung tertidur dan baru terjaga saat sore hari, aku bahkan melewatkan kewajibanku untuk beribadah, saat aku kesal padanya yang tidak membangunkanku, dia bilang bahwa aku sulit dibangunkan, tapi aku tidak mempercayainya.


“Aku gak kelelahan Mas, aku sudah bilang kan” sanggahku mencoba meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja, karena sikapnya yang sejak tadi memperlakukanku seperti orang pesakitan saja.


“Ya ya ya, bukan kamu tapi badan kamu” ucapnya acuh tak acuh.


“Kamu kok jadi perhatian gini sih sama aku? Aku baper tau gak” jawabku berniat menggodanya dengan nada manja, dia melirikku kesal yang membuatku tertawa.


“Alay kamu!” ejeknya, mataku terbelalak saat ia mengucapkan kata yang kukira tidak ada dalam kamus bahasanya.


“Tapi beneran deh, kamu kok jadi berubah tambah perhatian gini sih, ngerasa bersalah apa gimana?” ku tekan rasa malu untuk bertanya hal sefrontal ini, dia kembali memandangku tak suka membuatku menelan ludah kasar, tak siap dengan respon atau bahkan amarahnya.

__ADS_1


“Apa yang salah kalau perhatian sama istri sendiri?” tanyanya dengan nada datar dan muka yang juga datar andalannya.


Meski sempat tersipu aku terdiam sejenak merangkai kata-kata yang tepat untuk memberikan jawaban, “Ya, gak aneh sih, cuman ini bukan kamu banget” ucapku kemudian.


Dia memalingkan wajah dan memandang hamparan pantai yang luas di depan sana, entah apa yang dipikirkan, tapi melihat ia yang tak lagi merespon membuatku juga tidak ingin membuka obrolan lagi.


Aku menyesap susu hangat itu sembari melihat deburan ombak dan gelapnya malam ditambah kerlap kerlip lampu pantai yang menghiasi malam ini.


“Maaf sudah mendiamkan kamu beberapa hari yang lalu” ucapnya memecah keheningan diantara kami, aku menoleh padanya yang juga menatapku.


“Gak papa Mas” jawabku setelah mengendalikan diri agar tidak gugup atau salah tingkah ditatap sedalam itu oleh pria dingin di sebelahku.


Mas Panji tersenyum kemudian menggenggam tanganku, “Topik tentang Mama dan Papa itu seperti topik sensitif buatku, aku tau kamu seperti itu karena Papa juga orangtuamu saat resmi menikah denganku, tapi Nay, luka masa kecilku gak bisa hilang begitu saja meski Mama sudah bahagia dengan Papa” jelasnya dengan tetap menatapku, tatapan itu, tatapan penuh luka yang pernah ku lihat selama menjadi istrinya.


“Waktu aku kecil, Papa selingkuh dengan cinta pertamanya dan meninggalkan kami saat aku bahkan masih dalam kandungan Mama, Mama yang tertekan hingga depresi membuatku harus menanggung semua kekesalan Mama pada Papa hanya karena wajah kami mirip, aku yang saat itu balita dan belum tau wajah Papaku ikut disalahkan” Mas Panji mengalihkan pandangannya menatap pantai yang kini berubah menjadi kelabu saat aku mendengar kisah kelamnya.


“Aku hanya tinggal berdua dengan Mama karena saat itu beliau mengasingkan diri dari keluarga besar, baik Papa maupun keluarga dari Papa dan Mama tidak ada yang tau keberadaan kami” kurasakan genggaman tangannya semakin kuat, dia menunduk dalam, salah satu sisi Mas Panji yang baru saja ku ketahui.


“Mama gak pernah melukai fisikku, tapi semua sumpah serapahnya yang ditujukan untuk Papa dan bentakannya sukses membuatku trauma saat itu, aku juga menjadi korban bully karena tidak pernah membawa sosok ayah seperti teman-temanku saat acara keluarga di sekolah, semua itu sakit Nay, saat dunia luar menyakitimu dan berharap saat pulang bisa sedikit nyaman namun ternyata tidak” dia menataku nanar.

__ADS_1


“Tak lama setelah itu teman-teman Mama menemukan keberadaan kami dan memaksa Mama untuk terapi dengan psikolog demi Mama dan keselamatanku, semuanya berubah sejak itu, Mama berubah menjadi Ibu yang hangat dan mencintaiku sebagai anaknya, membuatku memiliki alasan untuk tetap bertahan dengan Mama di masa sulit kami”


“Gak usah diteruskan Mas kalau kamu belum siap untuk cerita, cukup”


“Kamu harus tau ini Nay”


“Dia datang kembali saat kami sudah terbiasa tanpanya, tanpa rasa malu mengancam merebutku jika Mama tidak mau kembali padanya yang membuat kondisi emosional Mama kembali goyah, bisa kamu bayangkan kan bagaimana bencinya aku padanya Nay? Dia memberikan luka, saat luka itu berangsur sembuh, dia kembali melukai kami” tambahnya yang semakin mengejutkanku.


Aku sama sekali tidak menyangka bahwa kisah keluarganya akan serumit itu, melihat keluarganya yang selalu akur dan kompak selama ini dihadapanku, apa itu hanya ada di hadapanku?


“Mama terpaksa kembali dengannya karena Dia menjadikanku sandranya, bahkan ketika aku sakit dan membutuhkan Mama, pria itu tetap pada misi jahatnya memisahkan kami demi bersatu kembali dengan Mama, setelah mereka rujuk dan tinggal dalam satu rumah, aku selalu melihat Mama menangis saat malam, aku yang saat itu masih sangat kecil harus dipaksa mengerti keadaan rumah tangga orangtuaku yang kacau balau” lagi, aku hanya bisa diam sembari merasakan kesakitannya yang terasa menyesakkan.


“Aku iri pada keluargamu Nay, sungguh” ucapnya, aku tersenyum membuat air mata yang sejak tadi ku redam luruh, dalam suasana mengharu biru ini, aku teringat pada Ayah, mengingat bahwa beliaulah yang menjadi orang yang selalu membuat keluarga kami ceria meski dalam keadaan yang mencekik.


“Selalu ada kekurangan dan kelebihan dalam apapun Mas, mungkin Mas bisa mengatakan seperti itu padaku, tapi juga banyak yang ingin memiliki keluarga seperti keluarga Mas Panji, rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau dan menggiurkan kan Mas?” candaku membuatnya tertawa yang menular padaku.


Aku bahagia bukan main melihat tawanya, setelah mengatakan hal yang bahkan tidak aku sangka terjadi padanya.


Mas Panji menggenggam tanganku dan di bawa ke pangkuannya, hal yang mampu membuatku kehilangan nafas beberapa detik, “Aku gak mau jadi Papa Nay, itu yang selalu ada dalam pikiranku, tegur aku kalau aku salah, bantu aku untuk sembuh dari luka ini ya Nay” pintanya, netranya yang selalu menghipnotisku membuatku hanya bisa mengangguk mengiyakan permintaannya.

__ADS_1


Dia mengobati lukaku saat kehilangan Ayah, maka aku juga akan melakukan hal yang sama untuknya.


TBC


__ADS_2