
“Ma Panji titip Naya dan Calon bayi kami ya” ucapnya saat mengantarkanku pulang ke rumah Mama.
“Tenang aja Nji, kamu kayak sama siapa aja, ini kan juga anak dan cucu Mama, kamu gak sekalian nginep disini?” tanya Mama yang membuatku menatap Mas Panji seketika, dia pun menatapku dalam.
Kami sudah membicarakan ini, aku setuju untuk mempertahankan kehamilan ini asalkan ia tidak serumah denganku selama masalahnya belum selesai.
“Nggak Ma, Panji ada urusan ke luar kota” jawabnya sedikit gugup sembari curi curi pandang ke arahku.
“Oh oke, kalau begitu hati-hati di jalan ya”
“Ya ma”
Untuk menghindari kecurigaan Mama, aku ikut keluar mengantarnya, meski enggan, seperti kebiasaanku setelah menjadi istrinya.
“Mas pergi ya Nay, tolong jaga dia seperti janjimu”
“Tolong juga untuk segera menyelesaikan masalah menyebalkan itu, atau kamu akan menyesal jika aku sudah membulatkan keputusanku”
“Boleh Mas menciumnya Nay?” tanyanya menghiraukan ancamanku.
“Siapa?”
Dia terkekeh ringan membuatku sedikit sebal, “Calon bayi kita Nay, boleh Mas mencium perutmu?”
“O-oh y-ya silahkan”
Dia berjongkok dan mengusap perutku dengan lembut kemudian mengecupnya perlahan, aku memalingkan muka melihat adegan mengharukan itu, harusnya kami tidak sedingin ini hingga ia perlu ijin untuk mencium calon anak kami.
“Kalau kamu pengen sesuatu kabarin Mas ya, jangan sungkan” ucapnya saat telah selesai melaksanakan misinya.
“Iya”
“Kamu mau Mas cium juga gak?” godanya mengundang pelototan tajam dariku, bisa-bisanya dia menggodaku.
“Oke baiklah, sepertinya kamu belum butuh, kalau begitu Mas pamit ya”
Aku mengangguk sebagai jawaban, dia masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkanku yang masih belum bisa menerima keadaan ini.
Aku hamil, kami bertengkar dan dia harus menyelesaikan masalah dengan mantan kekasihnya, rumit sekali.
***
Sudah tiga hari sejak Mas Panji pergi, semenjak itulah aku mengalami morning sickness parah, judulnya saja yang morning, tapi aku tetap mual di siang, sore bahkan malam harinya.
__ADS_1
Dia tidak pernah absen mengabariku dan menanyai kabarku, tapi tidak ku balas, rasa kesalku padanya belum memudar bahkan masih utuh, apalagi saat aku membayangkan bahwa ia kini bersama Winanti, yang mirip dengan Kinanti masa lalunya.
Huhhh jengkel sekali rasanya, meski Winanti hanyalah pelampiasan, tidak ada yang menjamin seorang wanita dan pria tidak melakukan apa-apa jika selalu bertemu, setidaknya rasa nyaman pasti akan muncul dengan sendirinya.
Membayangkan itu membuatku mual, aku berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan apa yang bayi ini ingin muntahkan dari perutku, tapi lagi-lagi hanya cairan bening yang keluar.
Aku meringkuk di depan kloset, rasanya lelah sekali, ingin muntah tapi tidak bisa, makanpun tidak selera sementara pikiranku selalu berkelana, begini ya rasanya jadi calon ibu?
Kenapa rasanya tidak nyaman sekali, ingin sekali aku menyerah, tapi aku juga tidak ingin membunuh darah dagingku sendiri.
Lagi-lagi aku menangis meratapi nasibku yang malang ini.
Satu lagi yang tidak aku sukai dari kehamilan ini, aku mudah sekali menangis!
“Nak, kamu mau apa sih? Jangan siksa mama seperti ini dong Nak, papa kamu yang salah, kenapa Mama juga yang kamu hukum, tolong kerjasamanya ya Nak” lirihku sembari mengusap lembut perutku yang masih rata, mencoba mencari sekutu dengan janin yang sudah berusia dua belas minggu ini.
Tok tok tok
“Nay? Kamu didalam?” suara Mama membuatku bangkit dan membuka pintu kamar mandi, nampak Mama dengan wajah khawatirnya, hanya Mama yang menemaniku di waktu sulit seperti sekarang, saataku berharap ada orang lain yang melakukan itu.
Hah sudahlah.
“Nak jangan panik ya, Mama sebenernya gak mau bilang, tapi ini amanah dari mertua kamu” aku menegang mendengar kata mertua, ada apa ini?
“Naya pengen kesana Ma”
“Tapi kamu masih lemes gini kok, besok aja ya” aku menggeleng dengan air mata yang mengalir khawatir Mama tidak mengijinkanku pergi.
Aku ingin segera tau keadaannya, aku tidak ingin tau itu dari orang lain.
“Oke sebentar Mama telpon mertua kamu dulu” setelah mengatakan itu Mama meninggalkanku yang masih mematung di depan pintu kamar mandi.
Kenapa tiba-tiba Mas Panji sakit? Perasaan terakhir kali kami bertemu dia baik-baik saja. apa terjadi sesuatu diantara mereka sehingga menyebabkannya kelelahan dan jatuh sakit?
Aku menggeleng cepat agar pikiran menjijikan itu enyah dari pikiranku, aku masih yakin Mas Panji akan setia padaku.
“Ayo siap-siap, lima belas menit lagi sopir keluarga suami kamu bakal jemput” ucap Mama membuyarkan lamunanku.
***
Dalam perjalanan ke rumah sakit pikiranku kembali berkelana, pasti keluarga mertuaku mengetahui masalah rumah tanggaku dengan Mas Panji, aku harus apa?
“Non kita sudah sampai rumah sakit” ucap Pak Adi membuat jantung semakin berdegub kencang.
__ADS_1
“Iya terimakasih ya Pak”
Mau tak mau aku harus turun kan? Apapun yang ada di depan sana harus ku hadapi.
Aku tak langsung berjalan masuk, tanganku terulur mengusap perut datar tempat calon anakku berada.
Kuatin Mama ya nak’
***
“Dia baru saja tidur setelah minum obat Nay” ucap Mama Naura saat aku sudah berada di ruang rawat inap Mas Panji, dan hanya bisa memandangnya yang tertidur dengan nyamannya.
“Gak papa Ma” aku memilih duduk di samping Mama.
Mama Naura menggenggam tanganku dengan tatapan sendu, “Mama tau hubungan kamu dan Panji sedang tidak baik-baik saja”
Kan, benar dugaanku?!
Aku hanya bisa menunduk, jika Mama Naura menyalahkanku aku akan membela diri sebisa mungkin.
“Mama gak akan nyalahin kamu karena Mama tau penyebab hubungan kalian renggang”
Aku menatap Mama tak percaya, tau dari mana?
“Mama cuman minta kamu jangan tinggalin Panji, dia cuman butuh tau kalau kamu dan calon anaknya adalah rumah untuk pulang yang sesungguhnya”
“Naya tau itu Ma” jawabku sedikit parau, hormon kehamilan ini membuatku lebih sensitif dari sebelumnya.
“Menangislah Nak, jangan ditahan, menangis tidak akan membuat kita sebagai perempuan terlihat lemah” mendengar itu semakin membuat air mataku tumpah, aku tidak berani bercerita apapun pada siapapun.
Dan kini aku punya tempat untuk berkeluh kesah.
Mama Naura memelukku, membuat rasa haru ini semakin menjadi.
“Kamu juga anak Mama seperti Maura dan Ajeng, jadi kamu bisa bercerita apapun jika kamu ingin”
“Ma, apa semuanya akan baik-baik saja? apa Mas Panji akan kembali sama Naya dan calon anak kami?”
“Tentu Nay, dia hanya hilang arah, tapi nanti dia juga sadar pada siapa dia akan pulang, dan itu kamu, istri sahnya, Mama yakin itu”
Sesungguhnya aku juga menginginkan itu, tapi entah kenapa masih ada yang mengganjal di hati membuat perasaanku acak adut dan berkata..
..akan ada hal besar yang akan terjadi diantara kami.
__ADS_1
TBC