
Aku masih memandangnya lamat-lamat, aku tau dia masih ragu, semua yang dilakukannya saat ini hanya karena aku, atau mungkin bayi ini.
Melihatku yang diam membuatnya kembali merebahkanku di dada bidangnya setelah menonaktifkan ponselnya.
Kami hanyut dalam pikiran masing-masing.
“Menurut kamu, dia laki-laki atau perempuan?” Tanyanya tiba-tiba.
“Ha?”
“Ini, menurutmu dia laki-laki atau perempuan?” tanyanya lagi sembari mengusap perutku.
Oh itu.
“Aku tidak tau” dia mengangguk, kemudian bangkit dan mencondongkan bibirnya ke arah perutku memberikan kecupan kecupan ringan di sana.
Sejurus kemudian kepalanya mendongak ke arahku, “Kamu mau tau feeling Mas tentang anak kita?” rasa geli dan tatapan menghipnotis itu membuat hanya anggukan yang menjadi jawabanku.
“Feeling Mas bilang, dia laki-laki” jawabnya lalu kembali membenamkan wajahnya pada perutku.
Tanganku terulur untuk mengusap rambutnya yang entah kenapa sudah lebih tebal dari sebelumnya.
“Kalau nanti dia perempuan?” tanyaku membuatnya kembali mendongak ke arahku dan tersenyum.
“Tentu kamu harus waspada akan itu” dahiku mengernyit.
“Karena ia akan menggantikan posisimu di hatiku, ku harap kamu bisa menerima itu ya?” tambahnya dengan nada jahil, dan kedipan mata di akhir.
“Tapi itu tidak merubah porsi cinta Mas sama kamu kok Nay, jangan khawatir” godanya lagi, aku bangkit meninggalkannya, membuat ia tertawa melihat kepergianku yang salah tingkah.
Selanjutnya kegiatan kami hanya diisi kegiatan bersama yang akhir-akhir hampir tidak pernah terjadi.
Seperti masak kemudian makan siang bersama, tawa riang kami bersaut-sautan, seakan lupa suasana tidak menyenangkan yang pernah terjadi di antara kami.
“Mari ke kamar Nay” aku menoleh kearahnya yang sudah menarikku ke arah kamar.
“Mau ngapain siang-siang gini ke kamar?” tanyaku menghentikan langkahnya.
“Sungguh kamu tidak tahu?” aku menggeleng.
“Kira-kira apa yang pasangan suami istri lakukan di kamar dalam nuansa mendung seperti ini?” bukannya menjawab aku malah menilik ke luar jendela, benar saja, langit sudah menggelap seperti sudah siap menumpahkan hujan.
Aku tersenyum senang, aku suka sekali dengan hujan.
Tanganku di goyang, Mas Panji pelakunya, “Aku memberitahu bukan untuk membuatmu bermain dengan hujan kali ini Naya” titahnya.
“Yah Mas, kali ini saja, ya ya ya?” dia menggeleng dengan tegas, wajahku tiba-tiba murung.
Suara percikan air di luar sana membuatku kembali menengok dengan sedih, sudah lama aku tidak bermain hujan.
Harapanku kembali pupus saat ia hanya memandangku dengan datar, sedang hujan turun dengan deras disana.
Aku menunduk sedih, saat Mas Panji kembali menarik tanganku.
Dingin.
Rupanya dia menarikku keluar.
__ADS_1
Air hujan yang dingin itu menggelitik kulitku, membuat aku yang awalnya sedih menjadi riang.
“Senang?” tanyanya yang sudah basah dengan tangan yang masih menggenggam tanganku.
“Banget! Terimakasih Mas?!” dia mengangguk.
Dia melepaskan genggaman itu dan berjalan ke ujung kebun, mengambil selang air dan mulai menyemprotkan air itu padaku.
Aku berusaha menghindar, dia semakin gencar mengejarku, hujan kali ini terasa lebih meriah dari hujan-hujan sebelumnya.
Aku memberanikan diri untuk maju ke arahnya, merebut selang air itu, dan mengarahkannya ke atas,
Tubuh yang awalnya sudah basah semakin basah karena guyuran air selang itu, kami tertawa melihat tingkah kami yang sudah seperti bocah yang berebut main air.
Saat dia lengah, aku berhasil merebutnya, dan membalasnya dengan menyemprotkan air itu padanya, dia berlari dan menghindar.
“Hahaha udah Nay, ampun”
“Gak akan! Ini namanya pembalasan” jawabku semakin mengejarnya.
Kami saling kejar di tengah hujan.
Jeddar!
“Aaaaahhhhhhh” aku berjongkok sembari menutup kedua telingaku, satu-satunya yang ku benci saat hujan hanya petir.
“Naya, kamu tidak apa-apa?” suara Mas Panji membuatku merapatkan tubuhku dengannya, aku takut.
Jeddaaarrrrrr!
“Aku takut Mas”
“Tenang, Mas disini Naya, jangan takut ya” dengan tetap memejamkan mata aku mengangguk dalam pelukannya.
Saat tidak lagi merasakan rintik hujan yang menyapa tubuhku, aku membuka mataku perlahan, Mas Panji menggendong ke arah sofa ruang tengah, tubuh kami sama basahnya, dia meletakkanku dengan hati-hati kemudian berjongkok di hadapanku.
“Sekarang kamu tau kan kenapa tidak boleh main hujan?”
“Aku hanya takut dengan petir Mas, tidak lebih”
“Petir itu berbahaya Naya”
Aku tau. Tapi apa hanya karena itu aku selalu tidak boleh bermain hujan? Kan tidak semua hujan berbarengan dengan petir yang menyeramkan seperti tadi.
“Aisssh kamu ini, Mas kan pengen bermanja di kamar sama kamu, kenapa malah bolehin kamu main hujan sih?!” sesalnya, membuatku menatapnya lucu.
Tanganya yang terasa dingin dan bergetar itu menggenggam tanganku lembut, aku langsung menatap wajahnya yang ternyata pucat.
Gawat!
Aku lupa jika dia tidak bisa main hujan dan baru saja sembuh dari sakit.
Dengan langkah seribu aku menuju kamar mandi.
“Hei mau kemana?!” teriaknya.
“Nyiapin air panas buat kamu mandi!” jeritku tak kalah kencang.
__ADS_1
“Jangan lari-lari Naya!” tak kupedulikan peringatannya itu, aku harus cepat atau pria itu akan jatuh sakit lagi karena menemaniku hujan-hujanan.
***
Aku berdiri memandang hujan yang masih saja setia mengguyur bumi, malam ini bertambah dingin karena itu.
Mas Panji sudah tertidur setelah mandi dan makan malam denganku, benar saja, badannya sudah mulai hangat.
Untung saja tidak parah karena si empunya masih bisa berjalan bahkan menggodaku.
Aku berbalik menatap pria yang sedang terlelap itu, suamiku, ayah dari anakku.
Aku bangga mengatakan itu, setidaknya aku sudah berdamai dengan masalah itu.
Masalah yang hampir saja membuatku pergi darinya, dan, menghilangkan sesuatu berharga yang tumbuh dalam rahimku.
Drrrrttt drrrrttt
Getaran itu lagi, ponsel Mas Panji.
Aku tergerak untuk mengangkatnya, sampai akhirnya aku melihat si penelpon, masih sama dengan pagi tadi.
Winanti.
Untuk apa dia menghubungi suamiku malam-malam seperti ini.
Panggilan terputus saat aku tidak juga mengangkatnya.
Mataku terbelalak saat melihat jumlah missed call dari Winanti di layar benda pipih itu.
53 panggilan tak terjawab, Winanti.
Apa dia tidak punya pekerjaan lain selain menganggu suamiku?!
“Tolong” jeritan lirih itu mengalihkan atensiku, Mas Panji, dia mengigau.
Aku berangsur mendekat dan mengusap wajahnya, berharap ia bisa bangun dari mimpi yang buruk itu.
Dahinya semakin berkerut, keringatnya bermunculan, padahal hawa malam ini sedang dingin.
“Tolong?! Jangan, jangan tinggalin aku” racaunya sedikit lebih keras dari sebelumnya.
“Mas bangun, kamu kenapa?”
Kepalanya bergerak gelisah ke kanan dan kiri, “Jangan, jangan tinggalin aku”
Aku masih meneruskan usahaku untuk menyadarkannya.
“Jangan, KINANTI!!” jeritnya yang bangun tiba-tiba, dengan mata merah dan nafas yang tersengal-sengal.
Kinanti lagi.
Aku menjauhkan diri sembari menatapnya nanar, rupanya rasa banggaku tadi luntur seketika, bukan hanya Winanti yang menjadi pelariannya.
Tapi aku juga.
TBC
__ADS_1