
Aku menyusuri lorong rumah sakit dengan tergesa-gesa sejak keluar dari mobil Panji setelah ia menyebutkan kamar rawat inap tempat ayahku dirawat, hingga aku sampai di depan kamar yang disebutkan oleh Panji tadi.
Mama langsung berdiri memelukku saat melihat kehadiranku.
Diantara kami bertiga aku yang paling dekat dengan Ayah, jika aku sakit, Ayah pasti akan sakit juga, begitu juga sebaliknya.
“Mbak gak papa Nak? Kata Awan kamu pingsan” aku menggeleng pelan tanpa memandang Mama, tatapanku tertuju pada seorang pria yang selama ini mencurahkan kasih sayangnya padaku.
Ayah, terbaring lemah dibrankar rumah sakit dengan menggunakan alat bantu nafas dan beberapa kabel di dadanya, aku tidak tau pasti fungsinya apa, tapi kabel itu tersambung dengan layar monitor, menggambarkan gelombang-gelombang aneh yang baru pertama kali ku lihat.
Separah itukah?
“Ayah kenapa Ma?” tanyaku dengan suara parau menahan tangis.
“Kata dokter serangan jantung mbak, ayah langsung pingsan setelah mengeluh sesak dada, ini masih menunggu hasil tes lain untuk tau penyebab dan tindakan selanjutnya” jawab mamaku sembari terus membelai lembut punggungku.
Aku berbalik dan memeluk erat tubuh Mamaku, tak sanggup melihat keadaan Ayah yang begitu lemahnya dihadapanku.
“Aku gak mau lihat Ayah kayak gini Ma, gak mau, kapan ayah pulang?” racauku dengan tangisan yang sudah tidak dapat lagi ku bendung.
Mamaku hanya diam, tapi gerakan tangannya masih sama, membelai lembut punggung dan puncak kepalaku, berusaha memberi ketenangan yang saat ini tak akan mudah, karena aku tidak akan tenang sebelum Ayah bangun dan bisa seperti sebelum saat ini.
Dari genangan air mata yang masih terkumpul di pelupuk mataku, aku menangkap siluet seorang pria, setelah air mata itu terjatuh, aku bisa melihat dengan jelas siapa orang itu.
Panji.
Dia belum pulang dan duduk disamping adikku, sembari memegang bahu adikku yang menunduk sedih.
Aku tak mau memperdulikannya, biar saja jika dia masih mau disini.
Setelah mencoba menerima keadaan ini, aku menghampiri brankar Ayah dan duduk di sampingnya, menggapai tangan besarnya yang selama ini menghidupi keluargaku dengan susah payah.
Tangan yang selalu memberikan ketenangan disaat aku sedang gelisah dan sedih, sekarang tangan itu tak sehangat biasanya.
__ADS_1
“Ayah, kenapa bisa begini, katanya ayah orang yang kuat, kenapa ayah sakit? Kenapa yah? Ayah capek ya? Setelah ini ayah gak boleh ngapa-ngapain, biar aku yang kerja, ayah istirahat saja di rumah, tolong jangan seperti ini yah, Aku masih mau bahagiain ayah sama mama, tunggu aku bisa mewujudkan itu semua” ku jatuhkan kepalaku diatas tangan itu setelah puas berkeluh kesah seperti biasa pada ayah, namun kali ini berbeda, tidak ada elusan tangannya yang menenangkan hati.
Aku menangis, aku tidak suka melihat ayah yang hanya diam seperti ini, Ayah tidak pernah tak acuh padaku seperti ini.
“Kita doakan ayah semoga tidak terjadi apa-apa ya Mbak” aku mengangguk, masih dengan posisi yang sama.
“Permisi” pandanganku teralih pada seseorang yang baru saja datang, sepertinya dia dokter yang menangani Ayahku, itu karena ia menggunakan jas putih ala dokter.
Aku langsung berdiri dan menghampirinya, aku ingin tau keadaan ayahku.
“Bagaimana keadaan ayah saya dokter?” dokter pria itu terdiam sejenak, memandangku dan Mama bergantian.
“Mari bicara ke ruangan saya, ada sesuatu yang harus saya jelaskan dan butuh persetujuan keluarga” ucapnya tenang.
Tangisku berderai, yang aku tau, jika sampai memerlukan keputusan keluarga berarti akan ada tindakan besar yang akan dilakukan terhadap ayahku.
“Biar saya saja dok, mari dokter” putus mamaku.
Aku menggeleng tak terima dan memegang tangan mamaku erat saat Mama sudah hendak beranjak, aku juga ingin tau keadaan ayahku, aku ingin ikut.
“Kamu disini sama Awan ya Mbak, temani Ayah, takut Ayah nanti sadar dan butuh sesuatu” mama benar juga, akhirnya aku membiarkan mama pergi ke ruangan dokter seorang diri.
Aku kembali duduk di samping brankar ayahku, kembali menatap wajah pucatnya, aku takut, sungguh takut jika sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Antara sadar dan tidak sadar aku melihat mata Ayah perlahan terbuka, setelah memastikan itu benar hatiku sedikit lega.
“Ayah? Ayah sudah bangun?” tanyaku dengan suara parau.
Ayah menoleh sekilas kepadaku, kemudian tersenyum, tangan besarnya terangkat dan menghapus bekas air mata yang masih ada di pipiku, bukannya berhenti aku malah makin menangis, aku terharu sekaligus sedih, disaat seperti ini Ayah masih saja memikirkan keadaanku.
“Jangan menangis Nay” ucapnya lirih, tapi aku bisa mendengar itu dengan jelas meski suaranya berbaur dengan bunyi alat medis yang berada di sisi ayahku.
“Makanya ayah jangan sakit, Naya sedih lihat ayah seperti ini, ayah pasti sembuh kan? katanya ayah mau lihat aku dan Awan menikah dan memiliki keluarga sendiri-sendiri” protesku, ayah makin tersenyum, tangannya membelai lembut puncak kepalaku.
__ADS_1
“Iya nak, ayah masih ingin menjadi wali nikah kamu dan melihat kamu menikah” aku tersenyum dan mengangguk pasti. Aku akan mewujudkan itu yah, janjiku dalam hati.
Namun senyumku memudar saat ayah memegang dadanya seperti kesakitan, kenapa ini?! Lalu matanya yang beberapa saat lalu terbuka tertutup kembali, bersamaan dengan bunyi nyaring alat yang sejak tadi berada di samping brankar ayah.
“AYAH!!!!!” jeritku.
“Permisi keluarga pasien harap keluar sebentar” ucap suster sembari menghalauku untuk keluar, disana sudah ada mama, adik dan Panji.
Aku berhambur ke pelukan mamaku yang sudah menangis.
“Apa kata dokter ma? Tadi ayah bangun sebentar, lalu seperti itu lagi, ayah gak papa kan Ma?” kurasakan mama memelukku semakin erat, kami menangis bersama.
Mama mengurai pelukan kami, “Ayah harus segera dioperasi mbak, ada banyak penyumbatan di pembuluh Ayah yang menyebabkan jantungnya tidak berfungsi normal”
“Tapi ayah bisa sembuh kan?” mamaku diam.
“Dokter tidak bisa memastikan karena semua kemungkinan itu ada, kita hanya bisa berdoa dan mengusahakan yang terbaik untuk Ayah sekarang” aku menangis.
Bayangan-bayangan buruk langsung terlintas dibenakku.
Tak lama pintu rawat inap Ayah terbuka, muncul dokter yang sama dengan tadi. Aku tidak bisa menangkap semua isi pembicaraannya, yang aku tau dengan jelas, Ayahku terkena serangan jantung lagi dan harus segera di operasi.
Aku terduduk di kursi tunggu bersama panji, karena mama harus menandatangani form persetujuan keluarga pasien, sedangkan Awan masuk ke dalam kamar rawat ayah.
Teringat kalimat terakhir ayah, ayah ingin aku menikah!
Panji ingin menikahiku karena permintaan mamanya kan waktu itu? Sekarang aku juga ingin menikah karena ayahku yang saat ini sedang berjuang melawan rasa sakitnya di dalam, ini terlihat seperti win-win solution bagi kami.
Aku duduk menghadapnya, menyadari gelagatku dia juga memandangku, kami saling pandang.
Kutekan rasa maluku sekuat mungkin karena menjilat ludah sendiri , tekadku yang sudah bulat membuatku mampu mengatakan, “Panji, mari menikah”
Dia menatapku tidak percaya, aku memejamkan mata untuk merangkai kata memperjelas mauku, kalimat tadi juga terasa ambigu di runguku.
__ADS_1
“Mari menikah denganku, sekarang, di hadapan ayahku” ucapku dengan tegas.
TBC