Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 63


__ADS_3

Galang memeluk Gisha dalam diam, setelah semuanya terungkap, puzzle misteri diantara keduanya sudah terpasang rapi.


Dalam hati ia merutuki kebodohannya yang mempercayai apa yang Yoga saat itu katakan.


“Aku cinta kamu Gish” satu fakta yang membuat Gisha membeku seketika, namun setelahnya Gisha mengurai pelukan mereka, menatap mata Galang mencari kebohongan yang mungkin ada.


Hanya tatapan sayu yang membuat Gisha yakin Galang tidak sedang berbohong hanya agar dia bisa kembali bersama.


Cinta Gisha terbalaskan.


Entah siapa yang memulai, bibir keduanya sudah menyatu.


Semakin lama semakin menuntut, diatas sofa itu Galang sudah menindih Gisha dengan tangan yang masih menopang tubuhnya agar tidak memberatkan wanitanya.


Saat pasokan oksigen keduanya sudah menipis, Galang menghentikan aksinya, mereka terengah dengan nafas bersautan.


“Kita harus berhenti Gish” ucap Galang mengundang sedikit kecewa dalam benak Gisha.


Galang mengusap peluh yang menghiasi dahi wanitanya, bibirnya tersenyum saat menatap guratan kecewa itu.


“Tidak sebelum kita resmi menikah, aku tidak ingin menodaimu dalam hubungan tidak sah ini, biarkan aku memilikimu secara sah, menjadi pemimpin dalam rumah tangga kita kelak” jelas Galang membuat Gisha mendadak malu sekaligus kagum.


Galang tidak ingin mengutamakan nafsunya lagi, ia menghormati Gisha selayaknya seorang wanita terhormat.


“Menikah denganku ya Gish, membangun keluarga bahagia kita, hanya ada kita” ucap Galang setengah berbisik masih dalam posisi yang sama.


Gisha mengangguk, hal ini yang ia inginkan sejak dulu.


Menerima jawaban positif itu membuat Galang tak mampu lagi menahan gejolaknya yang ingin memeluk wanita ini.


“Mama, Papa! Kenapa Dimas gak diajakin pelukan?” manusia beda kelamin itu membeku ditempat saat suara kecil itu menggema.


Gisha yang sadar terlebih dahulus egera mendorong Galang menjauh darinya, mereka terduduk menatap anak kecil yang kini berwajah marah.


Galang meraup wajahnya kasar, sampai mana anaknyamelihat adegan dewasa yang ia buat bersama ibunya? Bisa-bisanya mereka melupakan keberadaan manusia mungil itu dan asik memadu kasih.


Gisha segera beranjak mendekati anaknya, ada sesuatu lagi yangharus ia perbaiki, tidak ada lagi tatapan takut dari anaknya, sepertinya anak itu sudah melupakan kejadian mengerikan baginya beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Wanita itu berlutut untuk menyamakan tingginya dengan sang anak, tanpa kata Gisha memeluk tubuh kecil itu, “Maafin Mama ya Nak” Dimas mengangguk.


“Maafin Dimas juga Ma, Dimas pasti bikin Mama sedih karena sudah bentak Mama, Maaf ya Ma, Dimas cuman gak mau Mama tambah dosa karena berbohong, Allah gak suka sama orang yang bohong Ma, Dimas gak mau Mama di benci Allah nantinya” kalimat panjang itu berhasil membuat Gisha tertegun, sejauh itu anaknya berpikir.


“Mama selalu maafin Dimas” Galang mendekati keduanya, memeluk dua tubuh itu dengan tangan panjangnya.


“Papa juga minta maaf ya, Papa jarang jegukin Dimas” Dimas mengangguk dalam pelukan kedua orang tuanya, keluarganya kini sudah lengkap, tidak ada bagian yang kosong dalam keluarganya.


Hanya ada satu yang kurang.


“Mama, Papa, Dimas minta adik!” pecah, suasana haru itu mendadak menjadi menegangkan, ia yang baru saja bertemu Dimas tentunya tidak tau bagaimana mengatasi keinginan Dimas yang belum bisa ia wujudkan sekarang.


Untuk memiliki adik kan harus ada suatu pertemuan dari dua sel, sedangkan untuk mencapai itu harus ada yang dilakukan bukan?


Galang menggeleng menghilangakan pikiran kotornya, efek kejadian beberapa waktu lalu dan permintaan anaknya membuat hasrat yang berusaha ia tahan kembali muncul.


Tidak! Galang tidak akan menodai Gisha lagi, pasti ada cara lain untuk mengatasi permintaan anaknya kali ini.


Hanyut dalam rangkaian kata yang berusaha ia susun, suara wanita yang sudah mengambil hatinya membuat Galang bernafas lega.


“Allah” benar nak! Galang berteriak dalam hati, untuk saat ini ia akan diam saja, fokusnya hanya ada satu, meredam api yang ia nyalakan bersama Gisha tadi.


“Nah berarti kalau Dimas mau minta sesuatu harus gimana?” pancing Gisha, alis anak kecil itu bertaut, memikirkan jawaban yang tepat dari pertanyaan sang Ibu.


“Berdoa?” jawabnya tak yakin, Galang mengusap puncak kepala Dimas dengan sayang, ia sadar sudah melewatkan beberapa momen dalam hidup anaknya ini, Dimas tumbuh menjadi anak yang pintar, Gisha merawat anaknya dengan baik dan benar.


“Iya, Dimas tolong doakan ya, semoga keinginan Dimas akan segera terkabul” jawab Galang penuh arti, anak kecil itu mengangguk, sementara Gisha wajahnya memerah malu, dia paham kemana arah pembicaraan Galang.


“Pasti Pa, tapi Papa jangan pergi lagi ya?!”


Galang mengangguk dankembali memeluk keduanya.


***


Winanti terbangun di atas brankar, ingatannya dengan lekat menggambarkan kejadian dimana seorang wanita menyebut nama Ardito Prasetya!


“Mas Pras?” monolognya, pikirannya sibuk merangkai beberapa memori yang terlihat berantakan.

__ADS_1


‘Diam disini ya Na’ Winanti mengangguk saat Pras membelikan minuman untuk mereka berdua.


‘Awas, rem blong!!!’ teriakan itu membuat semua orang panik dan berlarian tak tentu arah menyelamatkan mereka.


Winanti yang masih kebingungan hanya bisa berdiri diam dan mengikuti kemana orang berlari.


‘Bunaaaaa!!!’ teriak anak kecil yang berada tepat di tengah jalanan terpisah dari ibunya, sopir yang melihat itu segera banting setir ke kiri.


Winanti yang terpaku mendengar jeritan anak kecil itu tidak menyadari mobil box itu menuju ke arahnya.


‘Na! Awas!’ jerit Pras dari arah berlawanan, tapi itu semua tidak berguna, wajahnya pucat saat Winanti sudah tergeletak berlumuran darah.


Tubuh lemah itu terduduk menatapnya pilu, hal yang terakhir WInanti lihat meski samar.


Air matanya mengalir, “Dokter Dito.. Mas Pras?”


Pintu terbuka saat segala tanyanya tak memiliki jawaban.


Dito datang dengan wajah pucat yang sama, jadi benar, pria itu adalah pria masa lalunya, pria yang samar-samar muncul dalam mimpi dan pikiran acaknya.


“Win ada yang sakit?” Winanti diam, matanya sibuk meneliti wajah dihadapannya, mencocokkan dengan gambaran seorang pria yang muncul dalam memorinya.


Tak mendapat respon membuat Dito duduk di sebelah brankar, tanpa permisi Winanti mengusap wajah tampan itu menyingkap rambut Dito yang menutupi sebagian dahinya, pria ini sudah sedikit berubah, dulu rambutnya tidak pernah sepanjang ini, hal itu yang membuatnya tidak menyadari keberadaan pria yang selalu ia coba cari identitasnya.


“Mas.. Pras” Dito menatap gadis dihadapannya dengan mata berkaca-kaca saat nama panggilan itu disebut oleh si pencetusnya.


“Aku.. Nana Mas” ungkap Winanti lagi, ia sudah ingat semuanya, saat-saat terakhirnya bisa melihat karena di vonis buta, hanya itu yang kakaknya katakan waktu itu.


Setelah kejadian itu, bukan hanya penglihatannya yang direnggut, Winanti merasa ada sesuatu lain yang juga ikut menghilang dalam hidupnya.


Tapi Winanti tidak bisa berbuat apa-apa saat Kinanti memintanya untuk selalu di rumah, kecelakaan itu membuat Kinanti trauma, ia tidak ingin lagi kehilangan anggota keluarganya saat ayah dan ibu mereka sudah lebih dulu berpulang, begitu kata Kakaknya waktu itu.


Tapi malah Winanti yang ditinggalkan sendirian.


“Kamu ingat semuanya?” Winanti mengangguk ragu, Dito yang tidak bisa menahan rasa harunya segera bangkit dan memeluk Gadisnya dengan perasaan bahagia.


TBC

__ADS_1


__ADS_2