
Galang duduk bersila diatas sofa empuk yang ada di balkon kamar hotelnya, dia sudah berada di Bali, memang awalnya dia sendiri yang akan mencari Kanaya di Bali tapi mengingat pulau ini yang tidak sempit membuatnya kembali mengutus seseorang untuk mencari wanita itu.
Bibir manisnya sibuk menyesap sebatang rokok, sudah lama ia berhenti tapi hari ini ia kembali menghisap batangan nikotin itu.
Bukan lagi pikirannya yang penuh sesak, tapi hatinya juga.
Penjelasan Dito sesaat sebelum ia lepas landas ke Bali membuatnya gusar, Panji, suami Kanaya sudah sahabat laknatnya itu ceritakan tentangnya yang pernah dan masih menyukai Kanaya.
Galang tidak takut sedikitpun, melihat Panji yang berjalan dengan seorang wanita sedang Kanaya yang menghawatirkan kondisinya dibohongi begitu saja membuatnya tidak rela.
Sudah cukup ia yang menyakiti wanita itu, ia tidak terima jika Panji yang merupakan suami Kanaya juga menyakiti Naya.
Rasa bersalah dan ingin melindungi itu muncul begitu saja.
Naya pantas mendapatkan yang lebih baik dari Panji.
Galang rasa ia begitu pantas untuk itu.
Tapi lagi-lagi perkataan Dito membuatnya ragu untuk melangkah.
‘Kamu yakin bisa jadi yang terbaik buat Kanaya? Kalau kamu lupa, kamu juga pernah menyakitinya Lang, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan’
‘Dalam hidup ini, ada hukum sebab akibat Lang, apa yang kamu tanam itu yang kamu tuai, jangan sampai kamu memanen hasil dari perlakuan buruk’
‘Gak ada yang bisa dibanggakan dari seseorang yang ingin merebut milik orang lain Lang, jangan lihat orang lain, cukup lihat aku, bahagiakah kamu saat melihatku dan anakku kehilangan sososk ibu dan istri dalam waktu yang bersamaan?’
Galang membanting rokok yang sudah tinggal sedikit, ia paham, ini salah, tapi Galang tidak ingin Panji kembali menyakiti Naya, Galang hanya ingin membantu keduanya, agar Panji bisa hidup bahagia dengan wanita itu, dan Kanaya bisa bahagia bersamanya, adil bukan?
***
“Mas Panji bohongin aku lagi? Katanya bakal temenin aku kemoterapi tapi kenapa aku ditinggal?”
“Maaf” Ucap Panji dengan santai sembari masih asik memainkan ponselnya, sebenarnya ia lelah, tujuannya datang kesini hanya untuk menepati janjinya.
__ADS_1
“Mas Adi” panggil Winanti lagi, Panji menatapnya tidak suka, membuat wanita itu menunduk di atas brankarnya.
“Jangan panggil aku seperti itu lagi Win” tegurnya, Winanti semakin menunduk, bahkan isakan kecil lolos dari bibir mungilnya, bahunya bergetar.
Panji mengusap wajahnya kasar, itu panggilan khusus dari Kinanti, sebelum ini Panji memperbolehkan Winanti untuk memanggilnya dengan panggilan itu, ia juga akan memanggil wanita itu Anti, panggilan yang biasanya ia gunakan untuk Kinanti.
Tapi semenjak Naya datang, ia tidak lagi suka dipanggil seperti itu.
“Sudah Win, aku minta maaf ya”
“Mas jangan tinggalin aku, umurku gak lama, temani aku sampai aku tutup usia” pinta Winanti dengan air mata yang berderai, Panji menatap wanita itu datar, dia diam selama ini hanya untuk menjaga perasaan wanita dihadapannya ini.
Tapi sepertinya Winanti tidak akan mengerti jika hanya diam dan berharap perempuan ini mengerti.
“Aku tidak bisa Win, aku sudah beristri, dan istri ku pergi karena kebersamaan kita” Winanti menangis, ia tidak tau lagi harus melakukan apa untuk membuat Panji berada di sampingnya.
Beberapa bulan lalu Winanti sudah berhasil mengikat Panji dengan berbagai ancamannya, bodohnya ia setuju saja saat Panji mengajukan tenggat waktu, 3 bulan, dan itu akan berakhir beberapa hari lagi.
“Aku tidak akan memperpanjang ini Win, sekalipun kamu kembali mengancamku aku tidak akan lagi menuruti kemauanmu, ada istri dan anak yang harus aku bahagiakan, kisah kita sudah selesai” bukan itu yang Winanti harapkan, bukan.
Saat membuka pintu, ada wajah Dito yang sudah terpampang di depan kamar rawat Winanti.
“Mau visit dok?” Dito tersenyum dan menggeleng pelan.
“Jangan kaku gitu lah, panggil dito saja” Panji mengangguk paham, selama semua orang memusuhinya karena hubungannya dengan Kanaya, hanya Dito temannya bertukar cerita.
“Mau ngopi bro?”
“Tidak buruk” keduanya tersenyum dan berjalan beriringan menuju kafeteria rumah sakit.
“Sikap yang bagus untuk bersikap tegas bro” ucap Dito membuka percakapan diantara keduanya, Panji menatap lawan bicaranya sembari menyesap kopinya perlahan.
“Maaf aku tadi gak sengaja dengar” aku Dito saat Panji menatapnya tidak suka.
__ADS_1
“Tidak masalah, itu bukan aib, dan saya percaya kamu bukan orang yang tidak dapat dipercaya”
“Thanks, wanita itu memang manusia rapuh, bahkan ada yang mengumpamakannya bagaikan tulang rusuk yang tipis dan bengkok, kalau kita salah memperlakukannya dia akan patah, tapi dalam kondisimu aku lebih menyarankan Winanti untuk patah dari pada dia terus berbuat salah” Panji hanya menatap lawan bicaranya dengan seksama.
Berbulan-bulan berteman dengan Dito membuat Panji senang, selain bijak, Dito bisa menempatkan diri kapan harus serius dan bercanda, hal itu yang membuatnya bersyukur telah dipertemukan dengan teman barunya ini.
Lebih tepatnya bersyukur karena Kanaya ia jadi punya teman baru sebaik Dito.
Pikirannya kembali menerawang, sedang apa ya wanita hamilnya itu? Tidakkah dia merindukan Panji barang sedikit saja?
“Kangen istri ya?” tebak Dito membuat Panji tersenyum getir, ia mengangguk.
Rindunya ini sudah membumbung tinggi tapi ia masih ingin memberikan Naya waktu untuk menenangkan diri.
“Kenapa gak dicari aja istrinya? Sewa detektif” saran Dito, Panji menatap pria dihadapannya nanar.
“Apa dia bakal mau ketemu aku lagi? Aku sudah banyak bikin dia nangis, aku sudah kecewain dia” ujar Panji mengeluarkan semua unek-uneknya, dia hanya takut, takut jika Naya akan semakin menjauh jika ia temui sekarang.
Dito menatap iba pada lawan bicaranya, trauma Panji yang takut ditinggalkan kembali menjadi-jadi, rupanya pria dihadapannya ini lebih rapuh dari yang ia perkirakan.
“Kalau gak dicoba mana bisa tau? Kamu tau Galang sudah berangkat ke Bali kan?” Panji mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, rahangnya mengeras hingga bergemeletuk, ia marah, tapi tidak tau pada siapa.
Dito yang melihat respon Panji, mendadak memiliki ide briliant.
“Dulu Galang itu hampir saja bersanding dengan Naya, mereka dekat sekali, tapi karena satu dan lain hal Galang harus pergi, mereka putus kontak, dan nahasnya saat kembali Galang harus menelan pil pahit bahwa Nayanya sudah jadi milik orang lain” Panji menatap Dito dengan wajah memerah marah.
“Jangan sampai menjadi Galang kedua kawan! Jangan menyesal jika Naya kembali pada Galang sedangkan kamu sendiri masih diam dan menunggu waktu yang tepat” Dito kembali memancing emosi Panji, meski semuanya tidak sepenuhnya salah.
“Bisa bantu aku Dit?” Dito tertawa riang dalam hati, respon Panji ini sesuai dengan prediksinya.
“Aku akan suruh orang cari keberadaan Naya di Bali, nanti hasilnya akan aku kirim via ponsel”
“Terimakasih Dit, aku akan siap-siap dan berpamitan dengan Winanti” Dito hanya mengacungkan jempolnya, hatinya gembira bukan main saat melihat Panji bergegas pergi.
__ADS_1
Sesekali seseorang memang perlu diingatkan, Panji yang harus diserukan untuk maju dan berjuang, Galang yang harusnya mundur dan diam.
TBC