
“Wah ini bagus sekali Mas!” seruku sembari wira-wiri mengamati rumah baru kami, Mas Panji tertawa kecil melihat responku.
“Kamu suka?” aku menoleh cepat ke arahnya dan mengangguk antusias.
“Aku senang jika kamu menyukai rumah ini” tambahnya lagi sembari berjalan menghampiriku, merangkul pinggangku dan mengecup puncak kepalaku.
Hubungan kami semakin dekat, Mas Panji tidak segan untuk bicara sedikit banyak dari biasanya padaku, komunikasi, itu hal penting yang ingin kami perbaiki terlebih dahulu, juga kontak fisik yang selalu curi-curi ia lakukan, agar aku terbiasa, katanya.
Saat malam pertama kami di hotel kala itu, Mas Panji bilang akan menjalani semuanya dengan normal, tidak ada pisah kamar atau pernikahan kontrak, ia menginginkanku sebagai istri asli.
Aku menyanggupi, aku juga menginginkan itu, pernikahan sekali seumur hidupku, karena itulah aku memintanya jangan terlalu kaku dan irit bicara, dia janji akan mengusahakannya, dimulai dari tidak memanggil dirinya sendiri ‘saya’ karena menurutku itu formal sekali untuk sepasang suami istri.
Tidak bisa instan memang, kadang-kadang Mas Panji kembali pada setelan pabriknya, tapi tidak apa, setidaknya ia sudah berusaha.
“Mau lihat kamar kita?” tawarnya, aku mengangguk, dia menggiringku ke arah lantai dua, membuka salah satu pintu kamar disana.
Aku kembali tak bisa menahan rasa takjub, kamar luas berdinding putih dengan kaca besar berpintu yang memisahkan area kamar dan balkon, aku berjalan menuju balkon untuk melihat suasana disana.
Beberapa tanaman menghiasi area balkon membuatnya seperti hidup, dari sini aku bisa melihat lahan yang masih kosong, aku mulai merencanakan isi dari taman itu dan berdiskusi dengan Mas Panji tentunya.
“Kamu sedang merencanakan sesuatu dengan lahan kosong itu?” tanyanya dengan penuh selidik, tiga hari kedekatan intens kami membuatnya sedikit paham dengan pemikiranku.
“Kalau Mas tidak keberatan, aku ingin menjadikan lahan itu kebun buah, aku suka bercocok tanam” ucapku.
Dia mengangguk paham dan berdiri di sebelahku, “Aku sebenarnya berencana akan menjadikan itu kolam renang, tapi kebuh buah juga tidak buruk, bagaimana jika kita bagi dua” sarannya, aku kembali memandang lahan kosong itu memang luas, rasanya cukup untuk kolam renang dan kebun buah miniku.
__ADS_1
“Tidak masalah, deal!” ucapku sembari menjabat tangannya bukti kesepakatan, dia menyambut uluran tanganku dengan senyuman lebar.
“Pembuatan kolamnya akan dimulai besok, sekitar sebulan kedepan sudah jadi” aku manggut-manggut saja mendengar penjelasannya, rupanya dia sudah punya rencana terlebih dahulu namun tetap mempertimbangkan keinginanku.
“Tapi rumah ini sudah bisa ditempati kan?” dia tersenyum jahil, aku yang paham maksud ekspresinya membuatku memberengut kesal sekarang.
“Iya sudah bisa, jadi kita bisa menghabiskan waktu berdua saja tanpa ada yang mengganggu” ucapnya setengah berbisik menggodaku.
Sekitar dua hari yang lalu, aku dan Mas Panji hampir saja melakukan ‘itu’, namun gagal karena kami lupa mengunci kamar dan salah satu keponakan masuk tanpa mengetuk pintu, itu memalukan bukan, aku tau dia kesal kegiatannya digangu hingga tanpa sadar aku mengucapkan kata yang kusesali setengah mati ‘Kapan kita pindah ke rumah yang Mas siapkan? Biar tidak ada yang ganggu’
“Pipi kamu merah Nay” godanya lagi, aku memilih untuk meninggalkannya yang sudah tertawa kencang karena berhasil menggodaku.
Dua koper besar sudah ada di kamar ini, menata baju kami rasanya lebih baik dari pada harus berdua dengan Mas Panji yang sekarang berubah menjadi menyebalkan, aku senang dengan perubahannya, dia sudah tidak kaku seperti awal bertemu, tapi kebiasaannya yang suka menggodaku kadang membuatku mensyukuri kekakuannya yang dulu.
“Jangan marah Nay, saya kan cuman bercanda” aku menatapnya jengah.
“Bercandanya gak lucu!” sewotku, tidak menimpali dia langsung pergi meninggalkanku.
Aku mendesah lelah, padahal aku maunya dia membujukku tapi ya sudahlah, cukup latihan tidak kakunya padaku hari ini. Kini gantian aku yang latihan mengerti dirinya, kami menikah bukan untuk memaksakan kehendak masing-masing kan?
Tapi untuk saling mengerti dan mengisi. Masih ada banyak hari, mungkin kedekatan kami hari demi hari bisa membuat kami saling paham.
Semua baju kami sudah tertata rapi, aku ingin mencari Mas Panji, takut-takut dia malah marah karena aku jutek padanya beberapa waktu lalu.
Aku sedikit gusar saat tak melihatnya dimanapun, Mas panji benaran marah?
__ADS_1
Saat akan kearah pintu keluar aku sedikit tenang melihat TV yang sedang menyala, benar saja, Mas Panji disana, tertidur di sofa. Ku amati wajah tampannya, hidung mancung rahang yang tegas, bulu mata lentik serta alis tebal semakin membuatnya terlihat tampan kapanpun apapun kondisinya.
Setelah menyelimutinya aku bergegas ke dapur untuk membuat beberapa makanan untuk kami, aku belum tau makanan kesukaannya, jadi ku putuskan untuk membuat roti bakar selai coklat dan sandwich saja karena belum ada sayur mayur di sini, hanya beberapa bahan pokok seperti telur, roti, beras dan beberapa makanan instan.
Aku memanggang roti, mengoreng telur, dan merebus air hangat untuk membuat teh hijau kesukaanku, mungkin di tambah kopi untuk Mas Panji juga meski aku belum tau dia suka minum kopi atau tidak.
“Saya lapar Naya” katanya dengan suara parau khas orang bangun tidur seperti anak kecil yang meminta susu pada ibunya.
Amarahku sirna, tingkah manjanya ini selalu berhasil membuatku lupa akan kekesalanku, aku berjalan ke arahnya yang sudah duduk bertopang dagu sembari membawa nampan berisi makanan dan minuman yang sudah ku buat dengan sepenuh hati.
“Silahkan tuan” ejekku dengan nada dibuat-buat, dia tertawa namun tetap mencomot salah satu roti itu dan memakannya.
“Sini” katanya dengan menepukkan salah satu tangan ke pahanya.
Dengan malu-malu aku mendekat, namun tidak berani duduk di pangkuannya. Setelah menghabiskan semua roti ditangannya dia menarikku cepat hingga aku sukes duduk di pangkuannya.
Dari jarak sedekat ini aku bisa melihat mata jernihnya, mata yang selalu membuatku takut berhadapan dengannya dulu.
“Maafin say- eh aku, ya” pintanya, lagi-lagi aku terenyuh dia kembali meralat kata-katanya demi permintaanku.
“Aku juga minta maaf Mas” dia mengangguk kemudian membawaku ke pelukannya.
Hangat.
Rasa ini selalu bisa membuatku nyaman di pelukannya.
__ADS_1
Mulai hari ini dan seterusnya, aku akan menghabiskan waktuku dengan pria ini, pria yang perlahan mulai ku cintai.
TBC