Pluviophille Love Story

Pluviophille Love Story
Chapter 40


__ADS_3

Chapter 40


Aku meringkuk di sofa saat jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam, mataku yang membengkak tak membuatku mengantuk, aku sedang menunggunya, ini harus selesai malam ini.


Semakin lama aku semakin tak bisa mengendalikan pikiranku sendiri, aku butuh jawaban darinya yang bisa membuat semua tanya di otakku berhenti.


“Belum tidur Nay?”


Aku menoleh ke sumber suara, dia sudah pulang, wajahnya tampak lelah tapi aku tidak ingin menunda ini lagi.


Dia mendekat dan berjongkok di depanku.


“Kamu nungguin Mas? Maaf tadi ada urusan mendadak” tanyanya dengan nada lembut membuatku tersenyum mengejeknya, bukannya berhasil menyinggungnya ia malah menghapus air mataku yang luruh begitu saja mendengarkan alasannya.


“Urusan mendadak sama Anti? Iya?” tebakku, dia tetap tenang meskipun sedikit terkejut di awal.


“Mas bisa jelaskan Nay”


“Ya kalau gitu jelaskan, jangan cuman bilang bisa jelaskan tapi diem aja?! Apa harus aku pergokin kalian dulu baru kamu mau ngaku, apa kamu mau kita bertengkar hebat dulu baru mau jelasin semuanya”


Dia menggeleng.


“Kamu tau Mas, rumah tangga kita retak dan kembali dingin karena ulah kamu, kalau emang kamu belum selesai sama mantan kamu kenapa kamu mau nikahin aku waktu itu?!” teriakku, aku berdiri meninggalkannya yang masih saja dalam posisi yang sama.


“Aku gak bisa tinggalin dia begitu saja Nay”


Langkahku terhenti, rasanya seperti ada ribuan batu yang menghantam dadaku.


“Lalu kenapa kamu setuju nikahin aku Mas? Kamu mau poligami?” tanyaku bertubi-tubi, air mata yang sempat berhenti kembali mengalir deras, ku beranikan diri menghadapnya yang sudah berdiri dan juga menatapku sendu.


“Kamu punya opsi untuk menolak, kenapa gak kamu lakuin itu?!” cecarku lagi. Dia berjalan mendekat, namun aku mengangkat sebelah tanganku agar ia tidak meneruskan langkahnya.


“Karena aku jatuh cinta sama kamu”


“Kamu cinta aku tapi gak bisa tinggalin dia, gitu mas? Terus kamu mau aku mengalah tiap kali kamu punya waktu khusus sama dia, atau mungkin kamu sudah kepikiran buat menjadikannya maduku?”


“Bukan gitu Nay, cuma kamu istri Mas dan selamanya akan begitu”


“Terus masud kamu gimana?!” bentakku tatkala dia serasa mempermainkanku.


“Winanti sendirian Nay, dalam hidupnya dia hanya punya aku, bisa kamu pahami kondisinya sekarang?”


“Pahami kondisinya?! Lalu gimana denganku, aku harus diam saja saat suamiku menemui perempuan lain begitu?!”


“Tolong kamu tenang Nay, kamu tidak bisa mencerna apapun saat emosi”

__ADS_1


“Kamu yang bikin aku emosi Mas?!”


“Iya Mas minta maaf Nay, Mas juga minta tolong kamu mau mendengarkan penjelasan Mas dulu”


“Jelaskan!”


“Dulu Mas punya kekasih, namanya Kinanti”


Tadi bukannya Winanti ya? Kok?!


“Hubungan kami terjalin hingga lima tahun lamanya, hingga suatu hari Kinanti meninggal karena kecelakaan bersama Mas, waktu itu Mas berhasil selamat meski sempat koma selama satu bulan, dia hanya memiliki adik satu-satunya namanya Winanti, nama mereka memang mirip, bahkan wajah mereka pun sama”


Dia menuntunku untuk duduk dan bersandar di dadanya, aku tidak menolak, dalam lubuk hati yang paling dalam aku juga merindukannya.


“Setelah satu tahun setelah Kinanti meninggal, Winanti datang dan menyatakan cinta pada Mas yang masih belum bisa menghapus Kinanti dari pikiran Mas, saat itu Mas mengiyakan, karena wajah mereka sama, Mas pikir bisa menghapuskan rasa rindu Mas pada Kinanti”


“Terus kalian pacaran lama juga?”


“Tidak, hanya satu tahun, setelahnya Mas dapat kabar Winanti dinyatakan hilang di sungai saat bermain arum jeram bersama teman-temannya”


“Kamu cinta sama Winanti?”


Dia melepaskan pelukannya dan menerawang ke depan.


“Setelah bertemu kamu, Mas sadar perasaan Mas pada Winanti hanya sebatas rasa sayang seorang kakak pada adiknya, selama ini Mas terus memandangnya sebagai Kinanti, bukan sebagai Winanti yang juga memiliki perasaan yang tulus sama Mas”


“Iya Nay kamu benar, Mas jahat banget sama Winanti, tapi yang namanya perasaan tidak bisa dipaksa bukan?”


“Kemarin waktu kamu ngejar dia dan gak balik-balik, kamu sama dia?”


“Iya Nay” jawabnya membuatku menjauhkan diri darinya.


“Aku sendirian tengah malem dan kamu berduaan sama dia?!”


“Bukan gitu Nay, Mas memang sama dia tapi kami tidak berduaan, tolong percaya sama Mas”


“Gimana aku bisa percaya kalau semua yang terjadi membenarkan pradugaku sebelumnya, kamu lebih jahat dari yang aku bayangin, bukan ke winanti aja, kamu juga jahat banget sama aku!” aku berdiri dan menciptakan jarak dengannya, dia tertegun.


“Aku sudah buat keputusan” ucapku sembari berjalan ke kamar, dia membuntutiku.


“Jangan memutuskan apapun dalam keadaan emosi Nay” ucapnya saat kami sudah sama-sama berada dalam kamar.


Aku tidak memperdulikannya dan mengambil koper berisi baju-baju yang sudah aku persiapkan sebelumnya, aku akan pergi dari rumah yang membuatku sesak ini.


“Apa-apaan kamu Nay?!” aku terkesiap mendengar bentakan pertamanya.

__ADS_1


“Aku mau pergi, aku gak mau lihat kamu, aku mau pisah aja, puas kamu Mas!” jeritku, rahangnya mengeras.


“Saya masih suami kamu Nay, kamu tidak bisa kemana-mana tanpa ijin saya” ucapnya dingin kembali membuat buliran air mataku mengalir, bahkan dia sudah tidak berbicara selembut tadi.


“Semenjak kamu kejar perempuan itu, aku tidak lagi menganggap kamu suamiku” jawabku tak kalah dingin, aku berjalan keluar kamar setelah menghapus air mataku kasar.


“Berhenti Nay!”


Aku mendadak tuli dan tetap melanjutkan langkahku, aku tidak peduli dia akan melakukan apa, bahkan jika dia akan melukaiku sekalipun.


Tanganku di tarik dengan keras saat aku sudah hampir mencapai pintu utama, Mas Panji menyeretku masuk.


“Aku gak mau tinggal disini sama kamu Mas, lepasin!” sentakku, entah kekuatan dari mana genggaman tangan Mas Panji terlepas, aku segera meraih koperku dan kembali ke tujuan awalku.


Namun Mas Panji merebut koperku dan membantingnya.


“Mas!” jeritku sembari mendorongnya, sumpah aku kesal sekali dengannya. Kepalaku berdenyut kencang membuatku reflek meremas kepalaku untuk meredam denyutan itu, tapi malah semakin membuat kepalaku seperti akan meledak.


Tiba-tiba saja aku melihat Mas Panji ada dua, “Jangan pergi Nay” kemudian semuanya menggelap.


***


“Dijaga ya pak kandungan istrinya” hanya itu kalimat yang mampu aku tangkap melalui pendengaranku.


Mas Panji menggenggam tanganku saat aku membuka mata.


“Sayang, kamu hamil” satu kalimat yang mempertegas apa yang aku dengar tadi, pandanganku kosong, kenapa harus sekarang?


Aku tidak mau bayi ini hadir saat aku dan Mas Panji sedang dalam konflik seperti saat ini.


“Digugurkan saja ya Mas, kasian dia kalau hadir di keluarga yang brokenhome”


Dan tanpa ku duga-duga, Mas Panji menangis, aku hanya menatapnya tanpa tau harus berbuat apa, kondisi ini membuatku bingung total.


“Yang salah itu Mas, tolong jangan bunuh Bayi Mas Nay, Mas memohon sama kamu” ucapnya di sela tangisnya.


Aku juga tidak ingin membunuh bayiku, lalu aku harus bagaimana?


“Ijinkan Mas untuk menyelesaikan urusanku dengannya Nay” ucapnya kembali menyita perhatianku.


“Mas janji ini tidak akan lama, setelah itu hanya akan ada kamu dan anak-anak kita dalam hidup Mas” tambahnya meyakinkanku.


“Baiklah silahkan kamu selesaikan masalah kamu, tapi aku ingin tinggal dirumah orang tuaku selama urusan kamu itu belum selesai”


“Ya Nay, tapi kamu harus janji untuk tidak melukai diri dan bayi ini”

__ADS_1


Aku mengangguk sebagai jawaban, keinginanku menjadi seorang ibu akan terwujud tapi situasi dan kondisi ini membuatku sedih, harusnya kami bersuka cita menyambut kehadirannya.


TBC


__ADS_2