Positif

Positif
Bab 11


__ADS_3

11.


Adzan subuh sudah berkumandang, aku harus segera pergi ke masjid. Lalu bagaimana dengan istriku? Dia tanggung jawab ku, bagaimana pun juga aku harus membangunkan nya. Tapi aku...


Tangan ku hampir saja menyentuh bahu nya, tapi tiba-tiba saja aku merasa tidak ingin melakukan nya.


"Gimana ya," Aku melihat di sekeliling kamar, mencari sesuatu yang bisa aku gunakan untuk membangun kan nya.


Aku terus mencari, cukup lama hingga akhirnya aku melihat jam Baker di meja belajar. Akupun meraih benda kecil berwarna merah tersebut, dengan cepat aku mengatur nya agar bisa berbunyi.


Kringg... Kringg... Kringg...


Suara nya sangat nyaring, hingga aku harus menutupi telingaku.


"Kak Ridwan, jangan ganggu aku. Tak do'a in kakak jomblo seumur hidup"


Dia bergumam tanpa membuka mata nya, lalu berbalik membelakangi ku, tak lupa ia juga menutupi kepala nya dengan bantal.


Aku bingung hendak gimana lagi, ku tarik saja batal nya itu, tapi dia tetap tidak mau membuka mata nya.


"Bunda, lima menit lagi ya"


Aku yakin dia sangat susah sekali bangun waktu subuh, atau jangan- jangan dia tidak pernah sholat subuh?


"Sudah subuh, ayo sholat," Ku tarik selimut nya, lalu ia langsung ter jingkrak, keget sambil melotot kepada ku.


"Maaf, mas. Aku lupa.. "


"Bangun," Potong ku "sudah subuh, cepat ambil Wudhu"


"Iya, mas"


Aku pun langsung melangkah kan kaki kun untuk keluar kamar. Namun belum juga keluar, baru saja dua langkah menjauh dari nya ku dengar suara iqomah di masjid sudah berkumandang.


"Telat," Gunam ku kesal.


"Cepat wudhu, kita jama'ah!" Ucapku sedikit kesal kepada dia yang masih duduk di tepi ranjang dengan mata terpejam.


"Ehh, iya mas"


Sungguh sangat lama sekali, aku menyuruhnya untuk wudhu bukan mandi. Membuat ku semakin kesal saja!


"Maaf, mas. Lama ya"


Aku tidak menanggapi nya, aku langsung memposisikan diriku berdiri di atas sajadah. Ku lihat dia juga bersiap-siap dengan cepat, beberapa kali ku lirik dia terus saja menguap.


Untuk pertama kalinya, kami sholat berjamaah. Aku benar-benar menjadi imam sholat buat istriku, bagaimana pun dia tetaplah istriku. Meskipun aku belum bisa menerima nya, sepenuh nya.


Cup..


Setelah sholat dan berdo'a, dia meraih tangan kanan ku lalu mencium punggung tangan ku. Seharusnya aku membalas nya dengan mengecup kening nya, tapi tidak aku lakukan.

__ADS_1


"Hmm.. " Aku langsung berdiri, hanya dengan begitu aku bisa menghindari itu.


"Buat kan aku kopi ya, gula nya sedikit saja"


"Iya mas"


Aku langsung meninggalkan dia yang masih beberes alat-alat sholat kami. Sedangkan aku langsung turun ke lantai dasar, berharap ada sesuatu yang membuatku tidak dekat dengan nya.


"Ehh, adik ipar," Sapa Ridwan yang seperti nya juga baru selesai sholat.


"Ngopi sini," Dia melambaikan tangan nya, agar aku menghampiri nya yang sedang duduk di sebuah kursi halaman belakang rumah.


Baru saja duduk, asisten rumah tangga yang di pekerjakan oleh keluarga mertua ku itu sudah menyajikan kopi.


"Seharusnya Istriku yang membuatkan nya,"


"Haduh, maaf ngge, gus. Udah kebiasaan, jadi.. "


"Ya sudah, gak apa-apa. Terima kasih," Ucapku


"Enggeh, sami-sami,gus"


Tak lama dia baru saja turun dari tangga dengan muka cemberut, mungkin saja dia masih mengantuk. Aku tau itu karena dia terus saja menguap sejak tadi.


Namun aku tak memperhatikan nya lagi, apalagi saat ayah mertua ku ikut bergabung. Kami membahas tentang sekitar usaha, kakak dan ayah mertua ku ingin aku ikut bergabung atau menjalankan sebuah usaha juga.


"Untuk tahun ini seperti nya saya masih belum bisa, rencana dua bulan lagi saya akan kuliah lagi, mengejar gelar doktor"


"Bener kata Ridwan, mantu. Tapi jika memang waktu nya tidak memungkinkan akan ya tidak apa-apa sih, kapan pun mantu siap menjalankan bisnis ini langsung bilang saja ya"


"Ohh, kalau itu bisa di atur, Yah"


Kami terus berbincang, sampai akhir nya kami bubar karena jam sarapan telah tiba. Aku pun tak melihat dia di dapur, padahal ibu mertua dan IRT sedang sangat sibuk sekali di dapur.


"Mantu, Chaca seperti nya belum bangun"


"Tadi bangun, Bunda. Bahkan tadi.. . "


"Iya tau Bunda, tapi tadi dia naik lagi. Katanya capek"


Ibu mertua ku mengatakan hal itu dengan tersenyum, lalu Ridwan juga ikut begitu juga ayah mertua ku dan IRT di sana. Aku tau apa yang sedang mereka semua pikirkan, sungguh membuatku malu saja anak itu!


"Kamu sarapan saja dulu, biarkan Chaca istirahat." Ucap ayah mentua ku yang tau melihat ku kebingungan hendak bagaimana.


Aku pun sebisa mungkin tak mau salah tingkah, aku langsung menyusul ayah dan Ridwan duduk di ruang makan untuk sarapan.


Sebenarnya aku tak mau pusing dengan apa yang dia lakukan, cuma aku harus menjaga sikap ku kepada nya saat di sini. Aku tak mau mertua ku mengetahui apa yang sedang aku rasakan


Di pengujung suasana sarapan, di saat makanan di atas piring semua orang hampir habis. Dia datang dengan keadaan sudah mandi, pagi ini lagi-lagi dia membuatku malu saja. Memakai dress selutut dengan rambut basah yang seperti nya sengaja ia urai.


"Ayo cepat sarapan," Titah ayah mertua ku, pak Jamil

__ADS_1


"Iya, yah."


Aku pun segera menyudahi sarapan ku, karena aku berencana hendak pulang ke rumah.


"Ayah, aku ingin pulang. Ada beberapa yang hendak aku ambil," Pamit ku


"Baiklah," Jawab nya


"Setelah mengambil beberapa barang, aku akan langsung pulang ke sini lagi," Imbuh ku


"Bunda sekalian mau nitip sesuatu untuk Umi kamu ya, Suf"


"Engge, bunda"


"Ya sudah, aku bersiap-siap sebentar"


Hah? Siapa yang mengajak nya, dia tiba-tiba langsung bilang bersiap. Yaa Allah, aku ingin pulang sendiri, kenapa dia malah ikut. Astaghfirullahalazim.


"Sebenarnya aku juga ingin ikut, adik ipar. Cuma satu jam lagi ada meeting. In shaa Allah senin saja atau selasa deh"


"Iya, kakak ipar. Tidak masalah," Aku membalas senyuman Ridwan, setelah itu aku beranjak dari kursi, hendak menyusul dia ke kamar.


"Kita harus cepat," Ucapku saat ku lihat dia masih berdiri memandang lemari nya. "Ku tunggu di bawah," Sambung ku, setelah itu aku turun ke bawah lagi. Sungguh aku tak suka berlama-lama berduaan dengan nya.


"Kita pakai mobil warna putih saja, mas"


Aku hanya mengangguk saja, lalu meninggalkan dia di kamar sendiri.


Tak lupa, sebelum pergi aku berpamitan kepada kedua mertua ku tentu juga sambil mencium punggung tangan nya. Setelah itu aku langsung pergi ke depan, memanaskan mobil.


Di dalam mobil kami hanya diam saja, dia juga sangat sibuk dengan handphone nya.


Aku yakin yang kini aku kemudikan ini adalah mobil nya, jelas terlihat dari pernak-pernik yang ada di dalam nya.


"Ehh, mas kok berhenti di sini?" Tanya nya yang seperti nya kaget saat mobil berhenti di sebuah toko.


"Mau beli baju koko sama sarung,"


"Kenapa beli di sini?"


"Langganan, aku suka beli di sini,"


Ku lihat wajah nya yang seperti nya tidak suka. Tapi aku tidak peduli, kalaupun tak ikut masuk ke dalam juga itu lebih baik.


Aku sangat suka berbelanja di sini, tempat baju untuk laki-laki di layani oleh karyawan nya juga laki-laki juga.


Aku membiarkan nya berjalan di belakang ku, kami menjadi pusat perhatian. Mungkin semua orang di sini mendengar kabar tentang pernikahan ku, untung saja istriku saat ini tidak memalukan jika di bawa ke tempat umum, walaupun aku tidak menyukai nya, ku akui dia sangat cantik sekali.


"Chaca,"


Kami berdua menoleh, ku lihat seorang laki-laki muda memanggil istri ku. Lalu ia berlari menghampiri istriku dan memeluk nya.

__ADS_1


__ADS_2