
28.
"Zadid?" Aku syok Zadid ada di sini, pria tampan ini berdiri dengan wajah tak kalah kaget dengan ku.
"Kamu tadi bilang mau pergi ke rumah Do'i mu? Kok... "
"Gak boleh masuk dulu ini, Gus?"
"Ohh, iya lupa. Ayo masuk"
Kami pun duduk bersama di ruang tamu yang super megah ini.
"Aku tadi mau ke rumah doi, tapi ternyata doi sudah menikah"
"Laah, terus?"
"Ya gak terus, Gus. Makanya aku ke sini"
Aku masih menatap nya, merasa ada yang aneh dengan Zadid.
"Terus kok kamu kok tau aku ada di sini?"
"Yaa Allah, Gus. Semua kan tau, kalau penjenengan itu menantu nya Pak Jamal. Kemarin aku tau dari anak-anak Remaja Masjid"
"Ohhh, kamu udah makan?"
"Udah, Gus. Santai saja"
"Doi mu nikah kok kamu biasa-biasa saja sih? Gak galau"
"Ya mau gimana lagi, Gus. Gak Jodoh"
"Sabar, ya. Kalau mau nanti tak carikan santriwati nya Abah"
"Nantilah itu, Gus. Sekarang masih ingin sendiri, hahaha"
Obrolan kami terhenti, saat mbok Darmi menyajikan minuman. Mbok Darmi ini sudah bekerja di sini sejak Chaca lahir, udah tua sih, namun anak mbok Darmi yang bernama mbak Leha mulai belajar untuk menggantikan nya.
"Kemana Ning Chaca, Gus?"
"Tidur siang, tadi mengeluh kedinginan. Padahal cuaca sangat panas sekali"
"Ohh... "
Suasana hening sejenak, tetapi Zadid tiba-tiba saja berbicara dengan wajah panik.
"Tunggu, Gus. Ngampunten sebelum nya, apa panjenengan tadi habis dari kuburan gak mandi"
"Mandilah, kenapa?"
"Apa sebelum mandi ketemu sama Ning Chaca? Pelukan? Ehh maksud nya atau panjenengan pegangan, ehh.. Ning Chaca pegang baju e sampean?"
__ADS_1
Aku menatap Zadid heran, kenapa dia bertanya hal seperti itu.
"Jangan salah paham, Gus. Ning Chaca itu gak bisa pegang orang dari kuburan kalau belum mandi. Pasti langsung kedinginan dan sakit"
Aku mengkerut kan dahiku.
"Darimana kau tau?"
"Dia pernah kesurupan waktu Tsanawiyah, sejak itu dia gak bisa ketemu orang dari kuburan"
Kenapa Zadid bisa tau hal itu, darimana dia tau hal tersebut yang bersifat pribadi.
"Coba lihat dulu, Gus"
Aku langsung beranjak, memastikan apa yang baru saja Zadid katakan. Saat hendak naik ke tangga, aku berpapasan dengan Bunda. Akupun langsung memastikan hal-hal yang baru saja Zadid sampaikan.
"Iya, Suf. Apa Chaca kedinginan sekarang?"
"Tadi mengeluh kedinginan, Bund. Ini mau Yusuf lihat dulu di kamar"
"Ya sudah, kamu lihat Chaca. Bunda mau bangunin Ayah"
Wajah Bunda langsung panik, jadi benar apa yang di katakan oleh Zadid. Saat aku masuk ke kamar, ku lihat dia sedang memakai sweater bulu-bulu tebal dan membungkus tubuh nya dengan badcover.
"Kedinginan?"
"Iya, mas. Aku udah matikan AC nya"
Tiba-tiba Ayah datang bersama Bunda dan juga Zadid.
Dia mengangguk, aku pun menurunkan sedikit badcover yang menutupi bibir nya. Aku kaget dengan apa yang aku lihat, bibir nya membiru.
Aku tau, Zadid ini bisa ilmu tenaga dalam dari kakek nya. Dulu saat kami kuliah, Dia sering di panggil untuk mengobati orang-orang yang kesurupan.
"Did, dia kesurupan?"
"Enggak, Gus. Udah tak kunci badan nya, jadi begini efek nya, kalau pegang orang dari kuburan langsung kedinginan"
"Sampai kapan begini terus?"
"Penyakit ginian ini biasanya sembuh kalau udah nikah, kalau gak gitu yang setelah punya anak. Karna bukan kiriman seseorang, ini bawaan dari tubuh nya"
Zadid memejamkan mata nya, tangan nya memegang kaki Chaca yang terbalut selimut. Cukup lama dengan bibir komat-kamit, entah apa yang dia baca.
Saat kami semua sedang fokus melihat kaki Chaca, Tiba-tiba saja Chaca hilang kesadaran nya. Bunda langsung nangis, aku juga langsung panik melihat nya. Jujur saja aku baru pertama kali melihat kejadian semacam ini.
"Gak apa-apa, Ning Chaca pingsan saja kok, Gus. Mungkin baru sadar dua jam kemudian, sampean temani sambil terus baca surah An-nas"
"Kenapa sampai pingsan, Did?" Tanya ayah.
"Kemungkinan Ning Chaca pegang Gus Yusuf sangat lama, makanya dia kedinginan hebat"
__ADS_1
"Tadi aku suruh bawa baju ku ke bawah, dan dia mencucinya langsung"
"Nah, itu," Ucap Zadid langsung
Muka semua orang langsung panik, dan aku langsung merasa sangat bersalah.
"Udah gak apa-apa, jangan lupa baca terus sampai ning Chaca sadar ya, Gus"
Aku mengangguk cepat, setelah itu Zadid meminta Bunda dan Ayah meninggalkan aku dan Chaca.
Dan aku yang merasa sangat bersalah, dan aku juga merasa ketakutan dengan keadaan nya sekarang. Bibir ku terus membaca surah An-nas sambil ku pandangi terus wajah cantik nya itu, sesekali ku usap kepala nya, ingin sekali aku mencium kening nya, tapi tidak!
"Ayah," Dia mengigau, kepala nya bercucuran keringat.
"Cha, Chaca"
Aku menangkup kedua pipi nya, sambil terus membacakan surah An-nas.
"Ayah, Bunda.. Chaca takut yah"
Aku panik melihatnya seperti ini, setelah itu aku segera memanggil Ayah dan Bunda. Dan ternyata Zadid masih ada di sana.
Kami semua pun sedikit berlari menuju ke kamar, sesampainya di kamar. Zadid langsung meraih tangan ku dan ia letakkan di kening Chaca. Setelah itu jari telunjuk Zadid ia arahkan ke tangan ku sambil terus ber komat-kamit.
Tak lama, Chaca membuka mata nya. Karena aku yang paling dekat dengan nya, tangkapan mata nya mengarah kepadaku. Lalu ia langsung memelukku ketakutan.
"Dalam ilmu Jawa, kalau kita ke kuburan itu harus segera mandi atau cuci tangan dan kaki sebelum masuk rumah. Percaya gak percaya mahluk halus ngikutin," Penjelasan yang sangat tidak aku percaya. Walaupun Abah juga percaya dengan hal-hal seperti ini, cuma entah mengapa aku belum bisa menerima ilmu-ilmu begini.
"Mas, tadi aku mimpi"
"Mimpi apa?"
"Kamu di gendong orang laki-laki berbadan besar dan hitam, terus aku di makan"
"Did, gimana?"
"Mimpi hanya bunga tidur, Gus. Gak ada hubungan nya sama ini mimpi nya ning Chaca, itu hanya Ilusi"
"Cha, minum dulu"
Chaca pun akhirnya melepaskan pelukan nya, lega sekali. Sungguh aku sejak tadi malu berpelukan di depan banyak orang.
"Udah gak apa-apa kan ini, Did?" Tanya Ayah
"Gak apa-apa pak Jamil, aman"
Melihat wajah Zadid yang mulai cengengesan, berarti keadaan benar-benar sudah baik-baik saja.
"Nanti malam makan di sini ya, Did"
"Waduh, kayak nya saya harus kembali pak. Besok pagi saya ngajar"
__ADS_1
"Besok pagi berangkat sama aku ke malang, udah jangan alesan"
"Baiklah, sungguh aku tak bisa menolak panjenengan, Gus"