Positif

Positif
Bab 68


__ADS_3

Bab 68


Saat aku sampai di sebuah ruangan, ku lihat Chaca terbaring lemas dengan tangan di pasang infus.


"Bunda, gimana Chaca?"


"Gak apa-apa, kamu tenang ya"


Aku menghela nafas lega, walaupun saat ini Chaca tidak sadarkan diri. Aku tetap tenang karena Dokter sudah menjelaskan semua nya.


"Tidak, bukan karena berhubungan kok gus. Memang Chaca kan sering seperti ini"


"Gak ada yang bahaya?" Tanya ku sekali lagi


"Tidak, gus. Mungkin ini akan berpengaruh dengan stamina saja, harus banyak istirahat saja, gak boleh kecapekan dan stres"


Aku pun menganggukkan kepala, setelah itu dokter pun berpamitan kepadaku.


"Mass," Aku langsung menoleh, Chaca memanggilku dan dia berusaha bangun


"Jangan bangun!"


Chaca pun meletakkan kembali kepala nya.


"Ada yang sakit?"


Chaca menggeleng cepat,


"Itu nya sakit?"


"Apanya?"


"Itu nya?"


"Apanya sih mas!"


Aku pun mendekatkan bibir ku ke telinga nya "sakit gak varji nya?"


Dia langsung menatapku tajam.


"Ya gak dek, kan Mas takut yang kemarin malam"


Chaca melepaskan tatapan tajam nya, lalu menggeleng lemas. Huh, untung gak marah...


******


Selama dua hari di rawat, akhirnya Chaca kembali ke rumah. Kali ini aku membawa Chaca pulang ke rumah ku, ya rumah ku dan Chaca.


Bahagia sekali rasanya aku bisa membawa pulang istri ku lagi, seperti janjiku sebelum nya. Aku akan merawat nya sebaik mungkin.


"Mas kerja aja, aku di sini sendiri gak apa-apa"


"Kamu pulang ke rumah Umi saja ya," Bujuk ku


"Enggak, mau di sini saja. Aku cuma mau rebahan dan malas-malasan"


"Kan di rumah Umi bisa rebahan nya, Cha. Yuk tak antar dulu"


"Gak mau, gak enak kalau di rumah Umi rebahan saja"


Mungkin Chaca memang tak nyaman, ya walaupun Umi tidak akan masalah jika Chaca hanya bermalas-malasan di rumah, apalagi keadaan Chaca seperti ini.


"Nanti mas pulang cepat, kamu mau sarapan apa? Mas belikan dulu seperti nya gak masalah" Aku melihat pergelangan tangan ku, untuk mengecek jam.

__ADS_1


"Aku pesan online saja, mas. Nanti mas bilang sama santri yang jaga ya, biar makanan nya nanti langsung di antar. Soal nya biasanya santri yang jaga itu banyak syarat nya, minta telepon dulu, minta ini itu, aku sering jengkel"


"Iya, nanti mas pesenin ke mereka. Mas sekalian nanti panggil dua santri untuk menemani mu ya"


"Enggak!" Dia menyatukan alis nya "Chaca mau sendiri, mas. Mas kok gak ngerti sih!"


"Ya sudah, maaf"


Chaca memeluk ku, lalu Bergelayut manja kepadaku. Aku pun menciumi pipi nya, sebelum aku benar-benar pergi untuk meninggalkan nya bekerja.


"Jangan lupa, kalau nanti ambil pesanan makanan pakai baju yang lengkap. Jangan giji!"


"Posesif!"


"Gak posesif, cha. Kan dosa terlihat aurat nya sama... "


"Iya, iya. Tukang ceramah!" Ejek nya kepada ku


"Enak saja, mas Adam yang tukang ceramah"


"Mas Juga," Chaca menjulurkan lidah nya


"Udah, ah. Mas pergi dulu, gak ada habis nya kalau bercanda sama kamu"


Chaca pun mengangguk, lalu mencium punggung tangan ku.


"Assalamu'alaikum," Ucap ku


"Waalaikumsalam"


Setelah menutup pintu rumah, aku menghampiri dua santri yang sudah aku panggil sejak tadi subuh.


"Jaga rumah, kalau ada siapapun yang mau ke rumah yang mau bertemu atau ada keperluan apapun itu dengan ning Chaca harus melewati mu terlebih dahulu, tanya apa keperluan nya, lalu telepon saya, setelah saya izin kan baru kamu antar yang mau bertemu ke rumah, mengerti?"


"Satu lagi, kalau Istriku keluar rumah. Kalian harus membuntuti nya, tapi jangan sampai ketahuan. Kalian kan punya akses masuk kemana saja, kalau dia pergi ke asrama putri. Suruh santri putri yang piket untuk membuntuti nya"


"Engge, Gus. Siap"


"Ya sudah, ini buat jajan," Aku memberikan dua lembar uang pecahan lima puluh ribu kepada mereka.


"Matur nuwun, gus"


Kini aku bisa bekerja dengan tenang.


****


Author POV


Chaca kini sedang jengkel sekali, pasal nya di aplikasi makanan yang Chaca pesan sudah diterima, namun hingga dua puluh menit berlalu makanan itu belum sampai di Chaca.


Chaca tak mengerti, bahwa perizinan yang akan bertemu dengan nya itu sangat susah dan harus melewati beberapa tahapan, hehehe..


Di luar rumah, dua santri sedang menunggu izin dari Yusuf. Sedangkan Yusuf sudah di telepon belum juga di angkat, hingga ketiga kali nya suara Yusuf terdengar di sana.


"Sini biar saya yang antar kan, kamu bisa kembali"


"Engge, mas"


Dua santri yang sudah di tugas kan khusus oleh Yusuf pun kini mengantarkan makanan yang di pesan oleh Chaca.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


"Assalamu'alaikum, ning"


"Waalaikumsalam," Chaca langsung membuka pintu rumah nya.


"Kok lama banget sih!" Kesal Chaca "ini sudah dua puluh menit yang lalu datang nya"


"Maaf, ning"


"Ya sudah Terima kasih ya"


Kedua santri itu pun takut, mereka memilih tidak banyak bicara daripada harus kena semprot Chaca.


"Mudah-mudahan ning Chaca gak ngadu sama Gus Yusuf ya, rik"


"Walaupun ngadu, Gus Yusuf gak akan marah. Kan beliau sendiri yang menyuruh kita untuk menunggu izin nya"


"Iya sih"


Di sisi lain, Nabila sedang frustasi sendiri. Kenyataan nya semua yang ia rencana kan gagal.


"Gak bisa, Yah. Gimana dong!"


"Kamu harus memberi istri nya Gus Yusuf itu makanan, karena saat ini sulit sekali mencari keberadaan Gus Yusuf. Sepertinya dia sudah mengetahui kalau di guna-guna"


Nabila memikirkan bagaimana cara nya memberi makanan kepada Chaca, pagi tadi ia sudah mengincar Chaca. Namun saat tau rumah nya di jaga dua santri, nyalinya menciut.


Kini ia menunggu Chaca keluar rumah, menunggu Chaca beraktifitas. Atau mungkin saat ia ketemu di dapur pesantren seperti sebelum nya. Itu akan menjadi kesempatan yang sangat baik bagi Nabila.


"Mas Yusuf gak bilang sama santri yang jaga ya, kok tadi ngantar makanan nya lama banget!"


"Udah, Cha" Jawab Yusuf tanpa menoleh ke Chaca, ia masih sibuk membereskan meja kerja nya.


"Kok tadi lama banget ya mas, dua puluh menit baru di antar ke rumah. Aku sebel banget, padahal aku tadi lapar sekali"


Yusuf masih diam.


"Aku yakin mereka gak langsung antarkan, benar-benar bikin kesal"


Yusuf tak berniat menanggapi nya, takut salah bicara dan ujung-ujungnya akan ketahuan. Kalau sampai Chaca tau bahwa satri-santri itu telat mengantarkan karena nunggu izin dari nya, maka jelas Chaca akan marah. Dia pasti akan beranggapan kalau Yusuf mengurung nya dan tak percaya dengan nya.


"Mas, tidur yuk"


"Belum makan malam dek," Jawab Yusuf sambil menghampiri Chaca yang sejak tadi duduk di atas kasur.


"Chaca ngantuk, kelonin dulu dong"


"Mas tadi bilang sama Umi kalau mau ajak Kamu ke rumah Umi, mas telepon Umi dulu kalau gak jadi kesana ya"


"Iya, Chaca ngantuk banget mas. Besok pagi saja kesana, lagian besok pagi kan mas jadwal nya ngajar di pondok gak ke kampus"


"Ya sudah, tak kelonin"


Yusuf ikut naik ke kasur, dia memasukkan diri nya ke dalam selimut.


"Mas, mas sayang gak sama aku?"


"Sayang banget, Cha. Mas takut kehilangan kamu"


Chaca tak menjawab lagi, dia malah memeluk Yusuf. Setelah itu ia tenggelam kan wajah nya di dada Yusuf, hingga akhirnya tertidur.


Saat Yusuf merasakan hembusan nafas Chaca yang teratur, ia memindahkan kepala Chaca ke atas bantal. Perut nya sejak tadi sudah keroncongan, ia ingin segera makan dan lanjut bekerja, karena banyak sekali pekerjaan nya sekarang

__ADS_1


__ADS_2