
21.
Pov Chaca
Kini aku duduk di kursi paling depan, ya memang aku menyukai duduk di bagian depan agar aku bisa mendengar jelas penjelasan dosen, maklum saja kuping ku rada budek, hahaha...
Untuk pertama kali nya aku merasa tidak pede dengan penampilan ku. Padahal aku sudah memakai outfit paling sederhana di sepanjang sejarah hidup ku. Rok plisket hitam, jaket jeans oversize dengan jilbab hitam menutupi dada, dan sepatu Converse tinggi semata kaki.
Ah, mungkin saja anak-anak di sini saja gak modis. Aku berusaha mengembalikan kepercayaan diriku.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh"
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh"
"Alhamdulillah, hari ini kita semua kedatangan mahasiswi baru. Beliau adalah istri dari Pak Yusuf atau Gus Yusuf"
Ah, aku tidak enak sekali di perlakukan seperti ini. Aku pun tersenyum sambil memandangi seorang dosen wanita tersebut.
"Silahkan, Ning Chaca. Perkenalkan diri"
Aku pun berdiri, berjalan dan berdiri di samping bu dosen.
"Assalamu'alaikum, saya Siti Aisyah. Sejak kecil aku di panggil Chaca. Semoga kita bisa menjadi teman yang baik," Aku tersenyum dan semua teman-teman baru ku ini juga tersenyum. Se-ramah ini kah mereka? Tidak seperti di kampus ku sebelum nya, semua orang merasa tersaingi dan berlomba-lomba menjadi anak ter-hits.
Drrrrttt...
My Hubby : Jaga sikap, yang anteng. Jangan pecicilan!
Aku baru saja tersenyum saat lihat notif chat dari nya, tapi melihat isi nya aku menjadi kesal. Dia selalu saja membuat ku jengkel, Kata-kata nya selalu tajam setajam paku di kepala sundel bolong!
Chaca : Iya, mas. Jam mata kuliah terakhir baru saja selesai.
Chaca : Mas dimana? Aku benar-benar sendirian.
Chaca : aku mau ke kantin, mas.
Tidak ada teman di sini, jika sebelum nya aku selalu bersama dengan Mega, Vera dan Al. Tapi di sini aku sendirian, tidak punya teman. Mau kenalan juga rasanya agak gimana gitu, mahasiswi di sini juga seperti nya enggan dengan ku. Mereka memang selalu tersenyum seolah-olah menyapaku, namun tidak ada yang mau menemaniku atau mengulurkan tangan nya untuk berkenalan.
Chaca : Mas, tidak ada yang bisa ku ajak berteman. Seperti ada pembatas di antara aku dan teman-teman baru ku.
Chaca : Mas sibuk ya, aku di kantin sendirian. Duduk sendiri seperti orang hilang.
Aku hendak mengirimkan pesan lagi kepada Mas Yusuf, tapi aku urungkan saat ada yang datang.
"Ada lagi yang ingin di pesan, ning?" Tanya seorang wanita yang menyajikan makanan untukku.
"Tidak, bu. Matur nuwun"
Setelah tersenyum, ibu tersebut meninggalkan ku. Aku pun mentap menu yang aku pesan, Indomie goreng spesial dengan telur ceplok. Tak lupa es Juice mangga menjadi pelengkapnya.
__ADS_1
"Bismillah," Aku melahap Mie indomie goreng yang rasanya semakin enak jika di masakin orang. Hemmm.. Yummy..
Namun, di tengah-tengah aktifitas makan ku yang sangat nikmat ini tiba-tiba terhenti saat aku merasakan ada seseorang yang duduk di depan ku.
"Mas yusuf?"
"Hemm"
Aku kembali memakan mie ku, saat ku lihat mas Yusuf hanya duduk sambil membaca buku nya.
"Mas gak makan juga?" Tanya ku setelah menghabiskan sepiring mie.
"Enggak," Jawab nya singkat tanpa melihat ku.
Aku pun diam karena mas Yusuf juga diam.
"Besok aku ngajar di malang, bisa kan sendiri?"
Aku memasang wajah sedih, dan mas Yusuf melihat nya. "Aku gak punya teman, agak gimana gitu, mas. Berdiri di tengah-tengah keramaian orang asing."
"Nanti pulang kuliah tak kenalin seseorang, jadi kamu ada teman nya"
Memang mas Yusuf ini galak, tapi aku yakin dia sangat baik sekali. Di dalam sikap diam nya itu ada rasa peduli yang tinggi. Memang kadang dia jahat banget, tapi sekarang dia bersikap sangat baik sekali. Aku di kenal kankan dengan seorang gadis yang seperti nya seumuran dengan ku, nama nya Reni.
"Ren, kamu kan juga sekelas sama istriku. Temani dia, ya"
"Cha, setiap pergi ke kampus kamu sama Reni saja ya. Pakai saja mobil kamu, mas kan jadwal ngajar nya gak tentu"
"Iya, mas."
Sebenarnya aku gak mau muluk-muluk, begini saja aku bahagia. Aku tau suamiku ini super sibuk, tapi kini aku lega. Mas Yusuf peduli kepada ku, dia mencarikan teman untukku.
Sekarang aku pulang ke rumah, ternyata enak juga kuliah di sini. Memang sih satu minggu full, tapi masuk jam delapan pulang jam dua belas.
"Aku tinggal jama'ah di masjid," Ucap mas Yusuf
"Iya, mas."
"Bawa tas ku masuk, taruh di mejaku."
Aku pun mengangguk, setelah itu aku membawa tas dan beberapa map nya masuk ke dalam.
Di rumah ini sangat sepi, umi memang sering ada kegiatan di luar. Di undang ceramah di acara lamaran, pengantin, kalau tidak, beliau ya berkegiatan di pesantren.
Aku segera mandi dan sholat, ku kira rumah ini benar-benar tidak ada orang. Tetapi nyata nya di belakang ada beberapa mbak mbak dan ibu ibu bersantai sambil berbincang.
Karena tak melewati mereka, akupun nyelonong saja menuju kamar mandi. Aku ingin segera menyegarkan tubuh ku, sholat dan langsung tidur siang.
Tetapi rencana tinggal rencana, saat aku selesai sholat dhuhur. Mas Yusuf datang dan mengajakku pergi ke rumah Gus Adam yang terletak tak jauh dari sini. Ternyata di rumah Gus Adam juga ada Umi, semua berkumpul di sini karena Zahra tiba-tiba demam.
__ADS_1
"Gak tega lihat nya, mbak"
Mbak Rifa mengangguk, sejak tadi beliau menangis terus melihat Zahra tidur di depan nya, wajah nya pucat sekali.
"Gimana kata dokter, mbak?"
"Gak apa-apa, katanya sih karena mau pergantian musim"
"Rifa, kamu tidur saja. Istirahat, nanti kalau Zahra bangun kamu gak terlalu capek"
"Iya, mbak. Aku tinggal ya, sampean tidur saja"
Aku dan Umi pun keluar dari kamar Zahra, tetapi kami tidak pulang. Melainkan duduk di ruang keluarga.
"Umi tadi ngapain di kantor asrama? "
"Tadi ada tamu wali santri yang bermasalah, putri nya nangis terus minta pulang"
"Ohhh, terus gimana?"
"Ya gak gimana, akhirnya ibu nya ikut nginep di sini beberapa hari"
Aku mengangguk-angguk kan kepalaku, tanda mengerti.
"Cha, Nanti jamaah di mushollah ya"
"Iya, umi."
Ku lihat umi mengambil sesuatu dari dalam tas nya "Ini adalah lembaran bacaan yang biasa di baca setelah sholat maghrib. Kamu hafalin ya sayang, bagaimana pun nanti kamu akan menjadi Imam sholat di mushollah"
"Iya, umi"
Aku melihat lembaran itu, lalu ku simpan di saku gamis ku.
"Yusuf kemana?"
"Kata nya mau keluar sebentar sama Gus Adam, umi."
"Oh, iya. Kalian dari mana? Tadi umi lihat kok keluar dari Asrama putri"
"Mas Yusuf mengenalkan ku dengan Reni, umi. Dia yang akan menemaniku ketika kuliah nanti"
Umi tersenyum kepada ku, lalu mengelus kepalaku.
"Sabar ya sayang, Yusuf memang seperti itu. Agak galak, tapi percayalah dia itu sebenarnya baik dan peduli."
Aku tersenyum lalu mengangguk.
"Makasih ya, umi" Aku memeluk umi, sungguh sangat beruntung sekali memiliki ibu mertua seperti nya. Umi seperti Bunda, sangat sabar sekali.
__ADS_1