Positif

Positif
Bab 44


__ADS_3

Bab 44


Rencana aku akan umrah sendiri bersama Chaca, namun Chaca tidak mau. Ia ingin umrah bersama-sama dengan Jama'ah lain nya, dan aku oke-oke saja. Toh tidak ada salah nya juga.


Kami sudah berada di Mekkah, dan hari ini kita akan tawaf. Aku berjalan di belakang Chaca, ini ku lakukan untuk menghindari dorongan dari belakang.


Oh iya, ini adalah bulan puasa kami. Umrah ini menjadi lebih spesial karena kami melakukan nya dalam keadaan sedang berpuasa, maa syaa Allah.


Setelah tawaf, kami menuju ke bukit marwah. Kami melakukan sa'i.


"Mas aku haus sekali,"


"Cha, gak boleh gitu kalau sedang puasa"


"Panas sekali, mas"


"Di tahan ya, sayang. In syaa Allah pahalanya jadi berlipat"


Chaca mengangguk, aku terus menyemangati nya. Sebenarnya rencana awal Chaca tidak berpuasa karena ia sudah mengonsumsi obat herbal. Dengan obat herbal tersebut itu, chaca tidak boleh banyak aktifitas dan sering mungkin minum air putih.


Namun, aku menawarkan kepada Chaca untuk tetap berpuasa. Karena tidak ada sejarah karena puasa orang menjadi sakit, bahkan puasa bisa menyembuhkan beberapa jenis penyakit.


Chaca langsung menyetujui nya, walaupun beberapa menit kemudian aku meminta nya untuk tidak berpuasa.


"Setelah cukur rambut, kita istirahat ya. Gak usah ikut jama'ah"


"Iya, mas"

__ADS_1


Aku tidak tega melihat nya seperti ini, bibir nya pucat sekali. Mungkin karena efek puasa dan cuaca hari ini memang lebih panas dari sebelumnya.


Setelah melakukan rukun Umrah, aku memilih untuk stay di Hotel. Chaca muntah-muntah, aku sungguh khawatir dengan keadaan nya.


"Tidak, apa-apa Gus. Itu mungkin efek puasa, kalau memang mau puasa, stop dulu obat herbal nya"


"Chaca mau minum obat herbal dan puasa, bagaimana? Apa akan terus aman?"


"Aman saja, Gus. Asalkan tidak banyak aktifitas"


"Baikan, dok. Terima kasih"


"Sama-sama," Setelah mengatakan itu, aku menutup sambungan telepon. Dokter kandungan Chaca itu non muslim, jadi aku tidak mengucapkan salam kepadanya.


"Gimana, Cha? Mas khawatir banget sama kamu, sayang"


Aku tak membalas senyuman nya, kali ini aku ingin menanggapi semua ini dengan serius. Karena sejak kemarin Chaca susah sekali di ajak berunding dan keras kepala.


"Mas, kita jalan-jalan ke dubai yuk. Besok kan sudah waktu nya Chek in di hotel burj khalifah"


"Iya, tapi janji dulu jalan-jalan nya sore hari sampai waktu buka puasa. Pagi nya full istirahat"


"Tapi, mas. Ini sudah aku liat tempat-tempat yang akan aku kunjungi. Dan beberapa barang-barang untuk oleh-oleh, sia-sia kalau gitu aku nulis segini banyak"


Dia mulai lagi, memang aku memanjakan nya. Tapi sekarang dia malah semakin manja tak mau mendengar kan ucapan ku.


"Yasudah, tapi obat ini gak usah di minum"

__ADS_1


"Mas, kok gitu sih. Mas gak mau aku sembuh, iya?"


Susah sekali berbicara dengan nya akhir-akhir ini, aku pun memilih untuk pergi meninggalkan nya. Percuma saja dia tidak mau mengerti bahwa aku sangat mengkhawatirkan nya, aku tak mau dia kenapa-kenapa.


"Mas mau kemana?"


"Beli makanan, kamu tidur saja"


Setelah mengatakan itu aku benar-benar meninggalkan nya di kamar sendirian. Aku sangat kesal kepada Chaca, dia mulai tidak nurut lagi!


Sebenarnya aku tak tega, ingin sekali menjelaskan banyak hal kepadanya. Tapi aku malas berbicara banyak kepadanya, aku juga sangat capek sekali, di tambah dia susah sekali di atur. Kepalaku rasanya berdenyut, pusing sekali memikirkan Chaca.


"Gus, mau kemana?"


Aku menghentikan langkah kaki ku, ku lihat beberapa santri yang seperti nya juga baru balik ke hotel bersama jama'ah.


"Mau beli kebab, baru pulang?" Tanya ku


"Sudah tiga puluh menitan, Gus. Besok kami mau berziarah ke makam para sahabat, sekalian berbelanja"


"Besok aku harus pergi ke dubai," Jawab ku sambil tersenyum


"Ohh, jadi mulai besok sudah pisah. Enam hari memang singkat ya Gus kalau di buat ibadah"


"Kita ngobrol sambil makan kebab, yuk. Mana tiga teman mu? Ajak mereka, aku tunggu sini"


"Siap, Gus. Sebentar"

__ADS_1


Pemuda itu berlari menuju ke kamar teman-teman nya. Lebih baik aku saat ini mencari kesibukan, walaupun hanya mengobrol dengan mereka. Setidak nya malam ini mereka mengisi waktu ku, menemaniku agar rasa kesal ku kepada Chaca berkurang, untung-untung jika bisa hilang.


__ADS_2