
Bab 56
Pov Yusuf
"Astaghfirullah," Aku langsung terbangun, tubuh ku bercucuran keringat seolah-olah aku benar-benar sedang jatuh dari atas gedung.
"Mas," Aku tersentak kaget saat suara Chaca terdengar memanggilku. "Kenapa?"
"Mimpi buruk, Cha"
"Nakal sih, gak baca do'a dulu"
Aku tersenyum, seketika mimpi buruk itu langsung hilang. Bagaimana tidak teraenyum, istri ku itu mengembalikan sebuah kata-kata yang sering aku ucapkan kepada nya, tak lupa nada nya juga sama dengan nada bicara ku.
"Udah waktu ashar, mas. Mandi dan sholat, sebentar lagi Bunda pasti panggilin kita untuk siap-siap Buka puasa"
"Iya, kamu siapin sajadah dan baju mas ya. Mas pengen sholat di kamar saja"
"Hemm," Ku lihat Chaca mengangguk dan segera berjalan ke arah lemari. Sedangkan aku sendiri mulai melangkahkan kaki pergi ke kamar mandi.
Setelah mandi dan sholat asar, aku berjalan menutuni tangga. Aku langsung menuju ke teras, karena di terasa terdengar gaduh suara Ayah dan Ridwan. Saat sampai di teras, ternyata mereka sedang bermain karambol bersama dua satpam.
"Ikut, suf?" Tanya Ridwan langsung
__ADS_1
Aku langsung menggeleng "aku gak bisa main karambol, tau sendiri"
"Hahah, ya belajar"
Aku menggeleng, tapi aku duduk di dekat Ridwan untuk ikut menyimak permainan yang seperti nya sangat seru untuk di tonton.
Tapi sebuah ke-asyikan yang ada di depan ku ini malah membuat ku tidak suka. Tiba-tiba saja aku ingin pulang, seperti kangen saja gitu. Padahal sejak dulu aku gak pernah kangen rumah, di mana pun aku bisa menyesuaikan diri.
Setelah berbuka puasa dan sholat Maghrib, aku menghampiri Chaca yang sedang duduk sendirian di ruang keluarga. Rasa ingin pulang semakin menjadi, dan aku benar-benar ingin pulang.
"Ya sudah, besok setelah sholat subuh kita pulang"
Jawaban yang membuat ku lega, tapi tetap saja aku masih ingin pulang, sekarang.
***
Sesuai rencana, setelah sholat subuh aku langsung pulang bersama Chaca. Kedua mertua ku juga tidak mempermasalahkan, bahkan Bunda juga sangat pengertian walaupun bisa ku lihat bahwa beliau masih tak ingin kami pergi dari rumah nya.
"Mas, kok seperti nya ada yang di pikirkan?"
"Tidak ada, Cha. Memang Mas sedikit gelisah, tapi gak tau gelisah karena apa"
Ku menoleh ke samping kiri ku, Chaca seperti nya tak berniat untuk menjawab atau berbicara, tapi dia malah menatap ku.
__ADS_1
"Kalau kamu sakit, atau apa. Langsung bilang sama Mas ya"
"Aku baik-baik saja, mas. Istighfar terus, ingin kita sudah pulang, mungkin mas kangen rumah"
Benarkah aku kangen rumah hingga merasa gelisah seperti ini? Tapi aku tak. Pernah se gelisah ini. Bahkan dulu waktu kuliah aku berada jauh di negeri orang, tidak pernah ribut pulang karena rindu.
Tapi setelah sampai rumah, aku benar-benar yakin bahwa aku gelisah karena rindu rumah. Saat di rumah aku merasa sangat nyaman sekali, kegelisahan ku hilang seketika, alhamdulillah..
"Mas, aku mau ikut Umi ya"
"Kemana?" Tanya ku, baru saja sampai. Ada saja kelakuan nya, bukan nya dia harus istirahat.
"Ke kantor, Umi ngajak aku nemuin tamu-tamu dari wali santri"
Aku tak langsung menjawab, memikirkan kembali baik buruk nya.
"Baiklah, tapi kalau capek langsung pulang, jangan terusan duduk di sana"
"Iya, iya. Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
Cepat sekali jika di suruh pergi-pergi, memang gak pernah anteng di dalam rumah. Untuk kali ini aku biarkan saja, karena aku sangat mengantuk. Jika aku melarang nya, sudah dapat di pastikan kalau dia akan terus menggangguku.
__ADS_1