
Drama tempat tinggal terus berlanjut hingga satu bulan
kemudian, aku sudah ,muak dengan kelakuan Chaca. Aku sudah menuruti semua
keinginan nya, memberikan semua apa yang dia minta, cinta, perhatian, kasih
sayang, dan masih banyak lagi yang sudah aku berikan kepadanya. Tapi Chaca tak
mau mendengarkan aku,Egois!
Yang membuatku semakin marah kepadanya adalah tangisan Umi. Wanita
yang m,enjadi surg aku itu menangisi Chaca, ia menganggap bahwa Chaca tak mau
tinggal bersama nya. Umi juga merasa tak enak dengan sahabatnya, Bu Mila.
Umi takut Bu Mila berpikiran Bhwa dia tak memperlakukan Chaca
dengan baik, Padahal Umi sudah menganggap Chaca sebagai Anak nya, dan aku yang
anak nya sering di marahi karena Chaca.
“Sungguh Mila, aku tak pernah menyuruh Chaca mengerrjakan
pekrjaan rumah. Kecuali kamar nya sendiri, itu pun karena sejak dulu Yusuf gak
mau siapapun masuk ke kamar nya. Kalau memang karena itu, nanti biar Yusuf tak
nasehati biar bersihkan kamar nya sendiri”
Dengar kan? Tentu aku yang akan di salahkan, begitu besar
cinta umi kepada Chaca. Chaca saja tak bersyukur mempunyai ibu mertua sebaik
Umi ku.
Setiap hari Umi mennagis, dan kata-kata itu yang selalu di utarakan
kepada bu Mila melalui telepon.
“Kamu ngalah saja, Suf! Udah nanti Ba’da maghrib kamu pulang
ke Chaca”
Setiap hari umi mengatakan hal itu kepada ku. tapi sampai
satu minggu aku tak mengiyahkan nya. Aku semakin sebal, pulang kerja dengan
tubuh sangat Lelah, bukan layanan seorang istri atau setidaknya senyuman
seorang istri yang menyambut, tapi omelan umi.
Hingga akhirnya mala mini Pak Jamil datang ke rumah bersama
Bu Mila dan tentu nya Ridwan juga. Tapi Chaca tak ikut, membuatku deg-degan
saja.
Tidak ada solusi untuk hal ini, kami hanya membicarakan
tentang usur maslaah saja. Baik Abah ataupun Pak Jamil membiarkan situasi ini,
__ADS_1
kami hanya berbincang agar tidak ada yang salah paham dengan keadaan ini.
Kringgggg!
Hingga suara telepon Ridwan berbunyi, kami semua yang tenang
langsung memperhatikan Ridwan.
“Maaf,” Ridwan langsung mematikan telepon nya.
Cukup lama kami meneruskan perbincangan, kini berganti
handphone ku yang terus bergetar. Astaghfirullah!
“Khalilah! Dia memang sering mengganggu,” batin ku
Aku tak menghiraukan telepon Khalilah, biar saja. Pasti dia
mendengar kabar Drama ku ini, dan sudah bisa di tebak, dia pasti akan mengomeli
ku. Cukup lama kami terus berbincang, pembahasan mulai agak serius, karena Abah
menjelaskan permintaan ku. Untung saja kemarin Ba’da Isya’ aku menceritakan
keluh kesahku.
Tetapi tiba-tiba saja Mbak Rifa datang, wajah nya terlihat
khawatir. Kami pu panik, dan tiba-tiba menjadi takut.
“Kenapa Dek?” tanya Mas adam sa,mbil langsung menghampiri
istrinya itu.
Chaca pendarahan banyak sekali”
“Hah?” semua kaget, begitu jugqa dengan ku.
“Sekarang mereka ada dimana?”
“Khalilah sudah membawanya ke rumah Sakit biasanya”
Tanpa berkata apapun, aku masuk kamar. Mengambil task u dan
langsung keluar rumah menuju ke mobil ku. tanpa ku sadari, tanpa berpamitan
bahkan tanpa bekata satu kata pun aku langsung pergi. Yang ada di pikiran ku
saat ini hanya Chaca, aku ingin segera menemui nya dan ingin tau bagaimana
keadaan nya.
Tidak peduli berapa kecepatan ku dalam berkendara, aku ingin
sesgera sampai di rumah sakit. Aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika
sampai Chaca kenapa-kenapa. Aku tau kami sedang bermasalah, tapi aku khawatir
kepadanya.
Kini aku sudah berjalan di Lorong rumah sakit menuju ke kamar
__ADS_1
Chaca, karena resepsionis bilang Chaca baru saja di pindahkan.
“Cha,” aku langsung berlari mengampiri Chaca yang terbaring
pucat di atas tempat tidur. Aku langsung memeluk nya, lalu menciumi pipi dan
tangan lemah nya yang terpasang jarum infus
“Kenapa ini?” Aku menatap KHalila, berharap mendapatkan
sedikit informasi.
“Aku gak tau, mas. Tadi aku ke rumah nya, Chaca udah di
bopong pak satpam
Pandangan ku lalu berpaling ke dua orang berlkulit coklat
yang berdiri dekat pintu.
“Saya juga tidak tau, Gus. Tadi Bibi langsung memanggil kami
dan kami langsung membawa nya kesini”
Ternyata tidak ada yang tau sebab Chaca seperti ini, ingin
sekali teriak, marah. Tapi mau marah kepada siapa? Jika aku ada di dekat nya,
maka aku akan tau apa yang terjadi.
Tak lama, keluarga Pak Jamil datang bersama dokter. Dokter
tak berjilbab yang aku lupa nama nya itu tersenyum kepadaku.
“Bagaimana kabar nya, Gus?
“Baik,dok. Gimana keadaan Chaca?”
“Saya mempunyai dua kabar. Satu kabar Baik dan KAbar Buruk”
Wajah semua orang langsung berubah, Bu Mila malah semakin
menangis di pelukan pak Jamil.
“Kabar baik nya, semua Miom yang ada di dalam tubuh Chaca
sudah keluar”
Aku Bahagia, tetapi….
“Ternyata Chaca Hamil sudah Tiga minggu, Tapi bayi tersebut
ikut keluar bersama Miom”
Badan ku langsung lemas,ini semua salahku. Aku kehilangan
anakku, walaupun aku bisa bernafas lega akhirnya Miom Chaca sudah hilang.
Allahuakbar.. ALlahuakbar
“Ayo kita Sholat dulu,” Ajak Abah
__ADS_1
“Ayo,Suf. Sholat dulu, kita doakan Chaca cepat siuman”