Positif

Positif
Bab 62


__ADS_3

Drama tempat tinggal terus berlanjut hingga satu bulan


kemudian, aku sudah ,muak dengan kelakuan Chaca. Aku sudah menuruti semua


keinginan nya, memberikan semua apa yang dia minta, cinta, perhatian, kasih


sayang, dan masih banyak lagi yang sudah aku berikan kepadanya. Tapi Chaca tak


mau mendengarkan aku,Egois!


Yang membuatku semakin marah kepadanya adalah tangisan Umi. Wanita


yang m,enjadi surg aku itu menangisi Chaca, ia menganggap bahwa Chaca tak mau


tinggal bersama nya. Umi juga merasa tak enak dengan sahabatnya, Bu Mila.


Umi takut Bu Mila berpikiran Bhwa dia tak memperlakukan Chaca


dengan baik, Padahal Umi sudah menganggap Chaca sebagai Anak nya, dan aku yang


anak nya sering di marahi karena Chaca.


“Sungguh Mila, aku tak pernah menyuruh Chaca mengerrjakan


pekrjaan rumah. Kecuali kamar nya sendiri, itu pun karena sejak dulu Yusuf gak


mau siapapun masuk ke kamar nya. Kalau memang karena itu, nanti biar Yusuf tak


nasehati biar bersihkan kamar nya sendiri”


Dengar kan? Tentu aku yang akan di salahkan, begitu besar


cinta umi kepada Chaca. Chaca saja tak bersyukur mempunyai ibu mertua sebaik


Umi ku.


Setiap hari Umi mennagis, dan kata-kata itu yang selalu di utarakan


kepada bu Mila melalui telepon.


“Kamu ngalah saja, Suf! Udah nanti Ba’da maghrib kamu pulang


ke Chaca”


Setiap hari umi mengatakan hal itu kepada ku. tapi sampai


satu minggu aku tak mengiyahkan nya. Aku semakin sebal, pulang kerja dengan


tubuh sangat Lelah, bukan layanan seorang istri atau setidaknya senyuman


seorang istri yang menyambut, tapi omelan umi.


Hingga akhirnya mala mini Pak Jamil datang ke rumah bersama


Bu Mila dan tentu nya Ridwan juga. Tapi Chaca tak ikut, membuatku deg-degan


saja.


Tidak ada solusi untuk hal ini, kami hanya membicarakan


tentang usur maslaah saja. Baik Abah ataupun Pak Jamil membiarkan situasi ini,

__ADS_1


kami hanya berbincang agar tidak ada yang salah paham dengan keadaan ini.


Kringgggg!


Hingga suara telepon Ridwan berbunyi, kami semua yang tenang


langsung memperhatikan Ridwan.


“Maaf,” Ridwan langsung mematikan telepon nya.


Cukup lama kami meneruskan perbincangan, kini berganti


handphone ku yang terus bergetar. Astaghfirullah!


“Khalilah! Dia memang sering mengganggu,” batin ku


Aku tak menghiraukan telepon Khalilah, biar saja. Pasti dia


mendengar kabar Drama ku ini, dan sudah bisa di tebak, dia pasti akan mengomeli


ku. Cukup lama kami terus berbincang, pembahasan mulai agak serius, karena Abah


menjelaskan permintaan ku. Untung saja kemarin Ba’da Isya’ aku menceritakan


keluh kesahku.


Tetapi tiba-tiba saja Mbak Rifa datang, wajah nya terlihat


khawatir. Kami pu panik, dan tiba-tiba menjadi takut.


“Kenapa Dek?” tanya Mas adam sa,mbil langsung menghampiri


istrinya itu.


Chaca pendarahan banyak sekali”


“Hah?” semua kaget, begitu jugqa dengan ku.


“Sekarang mereka ada dimana?”


“Khalilah sudah membawanya ke rumah Sakit biasanya”


Tanpa berkata apapun, aku masuk kamar. Mengambil task u dan


langsung keluar rumah menuju ke mobil ku. tanpa ku sadari, tanpa berpamitan


bahkan tanpa bekata satu kata pun aku langsung pergi. Yang ada di pikiran ku


saat ini hanya Chaca, aku ingin segera menemui nya dan ingin tau bagaimana


keadaan nya.


Tidak peduli berapa kecepatan ku dalam berkendara, aku ingin


sesgera sampai di rumah sakit. Aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika


sampai Chaca kenapa-kenapa. Aku tau kami sedang bermasalah, tapi aku khawatir


kepadanya.


Kini aku sudah berjalan di Lorong rumah sakit menuju ke kamar

__ADS_1


Chaca, karena resepsionis bilang Chaca baru saja di pindahkan.


“Cha,” aku langsung berlari mengampiri Chaca yang terbaring


pucat di atas tempat tidur. Aku langsung memeluk nya, lalu menciumi pipi dan


tangan lemah nya yang terpasang jarum infus


“Kenapa ini?” Aku menatap KHalila, berharap mendapatkan


sedikit informasi.


“Aku gak tau, mas. Tadi aku ke rumah nya, Chaca udah di


bopong pak satpam


Pandangan ku lalu berpaling ke dua orang berlkulit coklat


yang berdiri dekat pintu.


“Saya juga tidak tau, Gus. Tadi Bibi langsung memanggil kami


dan kami langsung membawa nya kesini”


Ternyata tidak ada yang tau sebab Chaca seperti ini, ingin


sekali teriak, marah. Tapi mau marah kepada siapa? Jika aku ada di dekat nya,


maka aku akan tau apa yang terjadi.


Tak lama, keluarga Pak Jamil datang bersama dokter. Dokter


tak berjilbab yang aku lupa nama nya itu tersenyum kepadaku.


“Bagaimana kabar nya, Gus?


“Baik,dok. Gimana keadaan Chaca?”


“Saya mempunyai dua kabar. Satu kabar Baik dan KAbar Buruk”


Wajah semua orang langsung berubah, Bu Mila malah semakin


menangis di pelukan pak Jamil.


“Kabar baik nya, semua Miom yang ada di dalam tubuh Chaca


sudah keluar”


Aku Bahagia, tetapi….


“Ternyata Chaca Hamil sudah Tiga minggu, Tapi bayi tersebut


ikut keluar bersama Miom”


Badan ku langsung lemas,ini semua salahku. Aku kehilangan


anakku, walaupun aku bisa bernafas lega akhirnya Miom Chaca sudah hilang.


Allahuakbar.. ALlahuakbar


“Ayo kita Sholat dulu,” Ajak Abah

__ADS_1


“Ayo,Suf. Sholat dulu, kita doakan Chaca cepat siuman”


__ADS_2