Positif

Positif
Bab 69


__ADS_3

Bab 69


Sudah satu minggu lama nya Chaca ada di rumah Yusuf, keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja. Sedangkan si perusak rumah tangga kini mulai kebingungan, pasalnya belum juga berhasil memberikan makanan kepada Chaca.


Yusuf dan Chaca beberapa kali sudah bertemu dengan Nabila, namun kekhawatiran Yusuf sudah hilang. Pasalnya tatapan Nabila sudah tidak bisa lagi mengganggu nya.


"Gak boleh makan dari dapur pesantren, untuk sementara kita beli terus di luar"


"Kan boros, mas"


"Soal uang, biar tanggungan aku Cha. Kamu nurut saja!"


Mendengar ucapan tegas sang suami, Chaca tak berani membantah nya lagi. Yusuf selalu membeli makanan tiga kali dalam satu hari, itupun dari resto yang berbeda. Bahkan air minum pun Yusuf beli galon air di minimarket, tak lagi mengambil di koperasi pondok.


Alasan Yusuf melakukan itu adalah agar Nabila tidak bisa memberi sesuatu kepada makanan nya, pasalnya Nabila sering berada di dapur umum pesantren. Keluarga Yusuf juga begitu, sekarang mereka memilih memasak sendiri dirumah masing-masing, untuk masalah Yusuf yang membeli makan di luar, itu tentu saran dari Adam dan dinsetujui oleh anggota keluarga lain nya.


"Mas, nanti aku mau ikut tartil nya mbak Rifa," Ucap Chaca kepada Yusuf sambil memasukkan beberapa kertas kedalam tas kerja Yusuf.


"Oke, nanti biar kamu di antar... "


"Gak usah mas! Lagian hanya di dalam pesantren juga, ngapain pakai di jemput santri segala. Mas gak takut mereka suka sama aku?


Chaca sungguh risih, walaupun dua santri yang di suruh Yusuf itu akan berjalan dua meter di belakang Chaca. Tetap saja Chaca merasa tak bebas, Chaca tak tau dasar apa yang membuat Yusuf seperti itu. Tentu tujuan Yusuf seperti itu agar Nabila tak mendekati Chaca, Yusuf tau benar bagaimana Nabila. Ia tak akan berani mendekati Chaca jika ada yang memantau nya.


"Ya sudah, aku gak kerja. Keluarkan lagi kertas nya"


"Heh, kok gitu"


Chaca menghampiri Yusuf, ia memeluk nya lalu kaki nya menjinjit agar bisa mencium pipi Yusuf.


"Mas gak kerja, soalnya mau antar kamu tartil nanti"


Chaca langsung manyun, memang suami nya ini sering sekali merajuk seperti anak kecil. Bisa sih Chaca ikut merajuk, tapi Chaca tak bisa melakukan itu.


"Ya sudah, nanti suruh jemput aku"


Yusuf tersenyum "nah, gitu dong sayang. Nurut sama mas"


"Mas juga harus nurut sama aku," Balas Chaca

__ADS_1


"Kapan mas gak nurutin kamu?"


Chaca mendongak, menatap suami nya itu dengan seulas senyuman.


"Mas pakai minyak wangi Chaca ya?" Ucap Chaca saat hidung nya menangkap bau yang tak asing.


"Tadi nyoba dikit, gak boleh pelit"


Yusuf melepaskan pelukan nya, lalu ia berjalan menjauh, takut sekali istrinya itu tiba-tiba mencubit nya.


"Aku minta uang nya, mas. Nanti mau beli jajanan abang-abang"


"Kan udah mas kasih uang, dek. Apa habis uang nya?"


"Males ambil di ATM, jauhhhh"


"Yasudah, ini" Yusuf memberikan uang seratus ribu kepada Chaca, kalau di kasih lima puluh ribu pasti nanti dia akan marah dan ngatain pelit.


***


Sore ini Chaca sudah berjalan menuju ke ruangan yang berada di ujung asrama santri putri, sore ini jadwal tartil bersama Rifa. Saat Chaca baru memasuki Asrama perempuan dan dua santri yang tak bisa ikut masuk itu, membuat Nabila hendak menghampiri Chaca. Untung saja, Rifa sudah melihat adik ipar nya itu dan langsung memanggil nya.


"Enggak, kan belum di mulai. Yukk.. "


Chaca langsung melingkar kan tangan nya ke tangan Rifa, dua menantu pesantren ini sedang berjalan beriringan, Sama-sama cantik.


"Zahra sama siapa, mbak?"


"Di rumah Umi, masih tidur"


"Kangen sama Zahra, lama gak ketemu. Kalau main ke rumah Umi, pasti Zahra nya tidur"


"Nanti malam ajak Yusuf ke rumah, Mas Adam mumpung ada di rumah"


Acara tartil sudah selesai, sebelum keluar dari ruangan tersebut, Chaca dan Rifa berbincang bersama. Mereka duduk bersila berdua.


"Pengen hamil lagi, mbak. Tapi mas Yusuf gak mau, setelah selesai nifas aku mau KB untuk sementara"


"Seharusnya, setelah keguguran itu bisa langsung program lagi, cha"

__ADS_1


"Lalu? Yusuf?"


"Gak tau, Mas Yusuf kayak trauma gitu, padahal kan seharusnya aku yang trauma"


"Mbak cuma takut salah kalau terlalu ikut campur, kalau menurut mbak sih gak usah Nunda, lagian kamu juga sudah sehat. Tapi kembali lagi kepada keputusan Yusuf sama kamu gimana"


Mereka asik mengobrol, sedangkan Yusuf di rumah sangat Khawatir sekali. Ini sudah jam lima, seharusnya Chaca sudah selesai dengan tartil nya.


Dengan buru-buru Yusuf menuju ke rumah Umi, takut Chaca mampir ke sana. Namun nihil, Chaca tidak ada. Membuat Umi juga khawatir.


"Kamu ngapain di sini?"


"Nunggu, ning Chaca Gus. Belum keluar, kami mana boleh masuk"


Dengan kesal Yusuf masuk ke area Asrama putri, membuat para santriwati kaget. Mereka langsung menunduk sekaligus takut dan bertanya-tanya, kenapa Gus nya itu masuk ke Asrama putri.


"Huh," Yusuf langsung membuang Nafas lega, saat ia melihat Chaca berjalan bersama Rifa.


"Cha, mas cariin kamu. Astaghfirullah, mas takut sekali"


"Kan Chaca udah bilang mau tartil mas, kok masih nyariin?"


Rifa tersenyum, pasalnya ia mengenal Yusuf dengan karakter cuek, tidak banyak bicara, tegas dan hampir tak pernah tertawa ini tiba-tiba terlihat Bucin sekali terhadap istri nya.


"Ya sudah, aku pulang dulu. Tak tunggu di rumah ya"


"In syaa Allah, mbak"


"Makasih sudah nemenin Chaca, mbak"


"I'ts Okay, aku pulang dulu. Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam"


Yusuf langsung menggenggam tangan Chaca, membawa nya segera pulang. Dua santri yang menunggu Chaca pun kini merasa tugas nya sudah selesai, mereka pun kembali ke kamar mereka untuk bersiap sholat magrib.


"Mas, aku tadi salah sepuluh"


"Gak apa-apa, nanti tartil sama mas saja"

__ADS_1


"Gak mau ah, nanti di cium terus"


__ADS_2