
9.
Setelah mengobrol dengan Ridwan cukup lama, kini aku terpaksa harus pergi ke kamar nya. Malam ini benar-benar membuatku takut, bagaikan malam pertama di alam kubur.
Ceklekk..
Lampu kamar masih menyala terang, dan bisa kulihat jelas dia sedang duduk di depan kaca.
"Mas, lama sekali?" Tanya nya langsung sambil berdiri.
Dia masih kecil, kenapa seberani itu. Padahal kami belum dekat. Seharusnya dia malu dong kepada ku.
"Hmm, iya.."
"Umi telepon dari tadi," Dia berjalan semakin mendekati ku, membuatku perlahan mundur.
"Ini telepon balik umi," Dia memberikan handphone nya kepada ku.
"Handphone ku habis batre," Ucapku
"Iya aku tau, telepon saja umi. Takut ada yang penting," Setelah mengatakan itu, dia meninggalkan ku keluar kamar. Entah dia mau kemana.
Ku tatap layar handphone tersebut, di wallpaper handphone nya ada foto nye bersama dua perempuan dan satu laki-laki. Entah siapa laki-laki tersebut yang pasti mereka berdekatan bahkan laki-laki itu merangkul pundak nya.
Tak mau berlama-lama memandangi foto tersebut, aku pun segera menelpon Umi.
📞 Assalamu'alaikum, Umi
📞 Waalaikumsalam, kamu kemana saja, suf?"
📞 Maaf, umi. Handphone Yusuf habis batre, dan tadi Yusuf berbincang sama Ridwan.
📞 Kamu itu pengantin baru kok di luar terus sih, mbok yo diam di kamar berbincang dengan istri
📞 Iya, umi.
📞 Yasudah, tadi Umi mau kirim baju kamu. Besok pagi umi siapkan.
📞 Gak usah, umi.
Aku seketika panik.
__ADS_1
📞 Di sini sudah ada, lagian senin juga pulang. Sudah gak usah di kirim baju Yusuf.
📞 Beneran? Soal nya umi tau, kamu itu suka ganti sarung, takut kamu nya kurang
📞 Gak usah, umi. Di sini ada kok, gak usah di kirim
📞 Beneran?
📞 Iya, Umi.
📞 Yasudah, sekarang Umi mau istirahat. Gak mau ganggu kamu, hehehe
📞 Assalamualaikum
📞 Waalaikumsalam
"Huh," Aku bernafas lega, aku sempat kepikiran untuk minta di kirim baju. Namun mengingat isi lemari ku, aku tak mau siapapun mengetahui rahasia di dalam nya.
"Kenapa, mas? Kok seperti nya .."
"Gak apa-apa," Potong ku cepat.
"Ini baju tidur nya," Dia memberikan ku setelan piyama berwarna abu-abu.
"Ini baru kok, kemarin Mas Ridwan beli tapi belum di pakai. Lihat masih ada Tag nya"
"Aku bisa pakai ini kalau tidur," Tolak ku
"Baju ini biar buat besok pagi lagi, mas kan gak bawa baju. Biar gak kusut," Rayu nya
Benar juga yang di katakan nya, aku besok harus pakai ini. Apalagi besok aku rencana mau keluar beli baju dan sarung baru, lebih baik begitu dari pada harus minta di kirimin baju.
Akhirnya aku pun meraih baju tersebut, lalu membawa nya ke kamar mandi. Setelah gosok gigi dan cuci muka, ku pakai celana panjang dan baju lengan pendek itu.
Sekarang langkah kaki ku sedikit berat, aku harap dia sudah berbaring atau tidur sekalian. Tapi kenyataan membuatku kecewa, aku melihat nya masih terjaga. Dia duduk di meja belajar memandangi layar laptop.
"Mas kalau mau tidur, tidur duluan saja. Aku masih harus ngerjain tugas kuliah,"
"Kata nya kamu pindah kuliah di... "
"Iya," Potong nya "Karena aku gak mau ngulang semester pertama, jadi langsung masuk semester dua"
__ADS_1
"Kok bisa? Kenapa seperti itu?"
"Ya bisa, mas. Aku kemarin ujian, lalu aku juga menjalani beberapa Tes. Dan hasil nya aku lulus dan bisa langsung masuk semester tiga," Jelas nya sambil menatapku
Aku syok dengan apa yang di katakan nya, aku dosen di sana dan aku tidak pernah menemui hal semacam ini sebelum nya.
Kok bisa? Kenapa jalur nya seperti itu. Atau mungkin ayah mertua ku menyogok, ahh sudahlah. Aku tak mau memusingkan hal tersebut, biarkan saja dari pada aku berprasangka buruk kepada banyak orang.
Tapi baik nya aku sekarang bisa langsung tidur, ku biarkan dia mengerjakan tugas nya. Dengan begitu aku terhindar dari canggung, sudah ku bayangkan sebelumnya.
Kami di tempat tidur berdua, saling menatap dan tidak tau apa yang harus aku lakukan dan aku katakan. Ah, untung saja tidak terjadi.
***
Seperti biasa, aku selalu terbangun jam tiga dini hari. Tanpa menunggu apapun, aku langsung membuka mata ku dan membaca doa bangun tidur.
"Sudah bangun?" Aku tak menyangka dia juga sudah tidak ada di sampingku. Tapi ketika aku bangun dan duduk di tepi ranjang, aku baru menyadari bahwa dia tidur di meja belajar.
Terus aku bagaimana? Membangunkan nya atau gimana? Dan pada akhirnya aku membiarkan nya, biarkan saja.
Sesampainya di kamar mandi, ku pejamkan mataku saat ada sebuah rasa yang membuatku kesal, menyesal, marah, dan benci.
Entah kenapa Nabila tiba-tiba ada di mataku, aku pasti telah menyakiti nya, pasti!
Aku menyesal menyetujui pernikahan ini, namun aku benar-benar tidak berdaya. Sebuah permintaan dari orang tua ku adalah perintah bagiku, tapi hatiku? Hatiku adalah korban nya.
Setelah mandi, aku pun keluar dan saat aku keluar, tak sengaja berpapasan dengan Ridwan yang hendak menuruni tangga sambil membawa tas.
"Tenang Adik ipar, aku tidur nya di bawah kok. Ini baru naik karena mau ambil laptop," Ujar nya cengengesan menatap rambut basah ku. "Kalau mandi pelan-pelan, air nya sampai keluar semua, yang penting do'a mandi wajib nya" Goda nya di akhiri dengan kekehan.
Aku langsung menatap pintu kamar mandi, dan benar saja air nya banyak yang keluar. Aku mandi dengan meluapkan semua amarah ku, dan kekesalan ku agar hawa panas di tubuhku hilang. Tapi tanpa aku sadari aku mandi begitu keras, sehingga membuat Ridwan salah mengira.
Saat ku kembali ke kamar, ku lihat sebuah sajadah sudah di gelar. Dia juga sudah berpindah tempat tidur di atas kasur.
"Kalau udah subuh bangunin aku ya, mas. Aku masih ngantuk banget"
Aku tak menjawab nya, males saja. Aku ingin segera sholat, memohon ampunan dengan apa yang sudah aku lakukan.
Yaa Allah, ampunilah hamba mu ini jika ada hati yang tersakiti karena hamba. Engkau tau bagaimana keadaanku, dan ini semua yang terjadi adalah kehendakMu.
Yaa Allah, engakau yang paling kuasa. Kuasa atas segala-galanya yang terjadi pada setiap hamba mu. Hanya kau yang bisa membolak-balikkan hatiku, merubah semua perasaanku.
__ADS_1
Ampuni aku yaa Allah, ampuni aku..
Aku menangis dalam sujud ku, yang ada di pikiranku saat ini hanya Nabila saja. Iya, hanya dia.