
17.
Kini aku sedang berada di sebuah kamar bersama nya, kamar yang sudah di hias begitu sangat indah sekali. Sungguh sangat romantis, sayang nya aku tidak bisa menikmati semua ini.
Ku lihat dia sejak tadi sering senyum, tertawa dan sikap nya begitu aneh sekali.
"Mas ngapain bawa laptop?" Tanya nya setelah membongkar isi koper.
"Aku ada pekerjaan, tata di meja sana"
"Hmm, okey"
Dia menata beberapa buku dan laptop ku di atas meja, lalu dia juga mengeluarkan semua baju untuk di gantung di lemari. Sedangkan aku sendiri bingung hendak apa, apa yang harus aku kerjakan saat ini.
Karena mati gaya, aku pun masuk ke kamar mandi berniat untuk mandi saja. Di kamar mandi aku bengong, scroll handphone seperti kebiasaan orang-orang luar negeri. Meskipun ini bukan kebiasaan ku, tapi aku ingin berlama-lama di sini karena aku merasa agak gimana gitu.
Setelah cukup lama sekali, aku pun terpaksa keluar. Ku lihat dia sedang tidur di atas kasur, padahal sudah memasuki waktu Ashar. Tinggal menunggu Adzan saja.
Allahuakbar, allahuakbar
Mendengar adzan dari handphone ku, langsung saja ku raih handphone itu dan ku dekatkan ke telinga nya. Tubuh nya pun bereaksi, lalu perlahan membuka mata nya.
"Mas," Ucap nya manja
"Ayo sholat Ashar, cepat. Kita jama'ah"
Dengan malas dia beranjak, dengan langkah lunglai yang pasti jelas terpaksa.
"Aku mandi dulu," Ucap nya sebelum masuk ke kamar mandi
"Hmm"
Aku pun langsung menuju ke meja dimana laptop ku sudah dia tata dengan rapi. Aku mulai membuka nya, tak lupa aku juga duduk di kursi agar lebih nyaman.
Aku tak tau berapa lama dia berada di kamar mandi, aku sendiri terlarut membaca buku. Hingga tak ku sadari dia sudah selesai dan menggelar sajadah untuk kami sholat.
"Mas, ayo" Ajak nya membuyarkan fokus ku.
Aku pun langsung beranjak, dan mengambil posisi imam. ini ke dua kali nya aku menjadi imam sholat nya, sebenarnya aku juga ingin menjadi Kepala keluarga, imam buat istri dan anak-anak ku. Namun entah mengapa aku menjalani bersama nya terasa sangat berat sekali, sungguh berat sekali.
"Aku mau buat soal ujian habis maghrib"
"Makan malam nya gimana?" Tanya nya sambil melipat sajadah.
"Nanti kamu telepon resepsionis, agar makanan nya di bawa di kamar saja"
"Baiklah," Dia mengangguk, setelah itu ku tinggal dzikir petang sambil menghadap ke kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota.
Alhamdulillah, aku sedikit lebih tenang. Memang akhir-akhir ini aku sering galau tak jelas, mungkin karena aku meninggalkan sholawat, dzikir dan mengaji. Pantas saja aku menjadi sedih, gelisah, tertekan akhirnya menjadi sedih tak jelas.
__ADS_1
Allahuakbar, allahuakbar
Alhamdulillah, tak terasa waktu sholat maghrib telah tiba. Aku pun menutup jendela kaca ini dengan gorden putih tembus pandang.
"Ayo, kita... " Kata-kata ku terhenti saat kulihat dia menangis di atas kasur besar tersebut.
"Kenapa?" Tanya ku sambil mendekat ke arah nya, Tiba-tiba saja aku merasa takut melihat nya menangis seperti itu.
"Kenapa?" Ulang ku saat dia tak kunjung menjawab nya.
"Sakit banget, mas"
Ku lihat dia menekan perut bagian bawah nya, kaki nya juga menekuk seolah-olah sedang menahan rasa sakit.
"Kenapa?"
Dia menggeleng, lalu menutupi wajah nya dengan bantal dan menangis kuat.
Aku pun menjadi sangat ketakutan melihat nya, bingung hendak bagaimana.
Kringgg....
Suara telepon membuatku kaget, sehingga jantung ku langsung berdetak kencang. Dengan cepat ku angkat gagang telepon tersebut, lalu ku tempelkan ke telinga ku.
"Maaf mengganggu, pak. Ini ada sebuah kiriman dari apotik, obat atas nama Chaca"
Aku diam, lalu aku bertanya kepada nya untuk memastikan nya.
"Untuk menu saat ini yang sudah tersedia hanya nasi goreng, pak. Karena belum waktu nya makan malam, jadi makanan nya terbatas"
"Baiklah, boleh. Tolong cepat ya mbak"
Setelah mendapatkan jawaban dari resepsionis, aku meletakkan kembali gagang telepon tersebut ke tempat nya.
Setelah itu aku kembali duduk di tepi kasur, melihat dia masih kesakitan membuat ku semakin bingung.
"Apa sebaiknya kita ke dokter saja?"
Dia tidak menjawab, tapi malah menangis.
"Aku akan telepon dokter, biar dokter nya ke sini"
"Tidak," Teriak nya sambil menangis "aku mau minum obat itu saja"
"Itu obat apa, kamu dapat resep dari siapa?"
"Itu obat nyeri, mas. Aku dapat dari dokter bulan lalu," Terang nya dengan terisak
Aku pun diam, menunggu makanan dan obat nya di antar. Sungguh sangat lama, membuatku semakin bingung saja apalagi dia terus menangis. Aku pun berinisiatif untuk turun saja, mengambil sendiri makanan dan obat nya.
__ADS_1
Namun saat aku hendak masuk lift, seorang laki-laki mendorong meja keluar dari lift.
"Maaf, pak jika kami melayani nya lama"
"Tidak apa-apa, biar saya bawa sendiri. Terima kasih"
"Sama-sama, pak"
Aku pun mengambil alih meja yang ada roda nya itu, lalu mendorong nya masuk ke dalam kamar besar nanti mewah ini.
"Ayo makanlah dulu," Ucap ku
"Enggak, mas. Aku mau minum obat saja, sakit sekali, hiks"
"Gak, kalau mau minum obat harus makan dulu"
"Gak bisa duduk, mas. Sakit sekali, hiks"
Dia menangis, jelas real sekali. Dia tidak sedang pura-pura. Benar-benar kesakitan, sungguh tak tega.
Aku pun mengambil piring berwarna putih tersebut, berinisiatif untuk menyuapi nya. Jangan salah paham, sebenarnya aku tak ingin melakukan ini. Namun saat ini dia sedang kesakitan, tak baik aku jika membiarkan nya. Kalau terjadi apa-apa bisa-bisa umi akan memarahi ku habis-habisan.
"Ayo, dua sendok saja," Paksa ku.
Dia menatap ku, aku pun tersenyum agar dia merasa nyaman dengan ku.
"Ayo," Aku mengangkat sendok stanlis yang sudah ku isi dengan sedikit nasi.
"Bismillah," Ucap ku berbarengan dengan dia membuka mulut nya untuk melahap nasi tersebut.
"Udah, mas. Gak kuat, sakit sekali"
"Satu lagi, setelah itu minum obat nya"
Dia menatapku dengan air mata terus menetes. Namun setelah itu dia melahap lagi nasi yang aku sodorkan kepadanya.
Setelah itu aku mengambil obat yang ada tiga macam itu. Lalu ku berikan kepada nya.
"Gak bisa," Ucap nya
"Maksud nya?"
"Harus di hancurkan, mas. Aku gak bisa langsung menelan obat"
Astaghfirullah, sungguh merepotkan. Aku harus menghancurkan obat-obat ini dengan sendok, selayaknya anak kecil.
Sabar, hanya bisa sabar. Aku baru saja luluh kepadanya, namun dia benar-benar memancing emosi ku.
Setelah memberi nya obat, ku membereskan semua piring-piring ini dan ku letakkan di luar kamar. Lalu ku telepon resepsionis untuk membawa nya ke bawah sekalian. Setelah itu aku masuk dan menyapu kelopak bunga mawar yang memenuhi lantai kamar ini. Risih sekali rasa nya.
__ADS_1
Setelah semua bersih, ku lirik dia sudah tertidur. Secepat itu. Tapi tak mengapa, lebih baik tidur dari pada dia menangis. Membuatku bingung dan takut.