
Bab 45
Kini aku sudah duduk di sebuah kedai kecil menjual kebab dan beberapa jenis makanan dan minuman timur tengah.
"Pesan saja, nanti aku yang bayar"
Terlihat mereka senang mendengar nya, aku pun ikut senang bisa berbagi dan memberikan hal kecil yang bisa membuat mereka senang.
"Kalian lulus tahun berapa?"
"Saya satu tahun di bawah njenengan, Gus. Kalau yang lain nya satu angkatan sama Ning Khalila"
"Ohh, jadi kalian ber tiga teman nya Khalila?"
"Engge, Gus. Baru lulus kuliah"
"Kalian semua kuliah?"
"Engge, Gus"
"Sebentar, kamu nada bicara nya agak berbeda. Rumah mu di mana?"
"Di kota B, Gus"
"Sama seperti Ustadzah Nabila?"
Aku menyesali pertanyaan ku.
"Iya, Gus. Nabila tetangga saya"
Namun jawaban ini membawaku kesebuah kenyataan, yang membuat ku sangat terkejut.
"Kenal sama Nabila?"
"Siapa yang gak kenal sama dia, Gus. Bapak nya Dukun"
"Ibu nya juga tukang Guna-guna"
"Kakak perempuan nya yang pertama menikah dengan DPR, yang kedua menikah dengan polisi, entah siapa lagi yang menjadi korban Guna-guna ibu nya"
"Maksud nya gimana?"
"Huss, jangan bicara sembarangan. Nanti jatuh nya Fitnah"
"Gak, gak apa-apa cerita"
Kini pemuda itu terlihat takut setelah mendapat tatapan tajam teman nya.
"Cerita saja, aku ingin tahu"
"Ya gitu, Gus. Awalnya DPR itu calon suami sepupu saya, tapi di rebut sama kakak nya Nabila. Dpr itu sempat dibuat gila, nangis-nangis di depan rumah Nabila. Itu kena Guna-guna ibu nya. Yang kedua juga gitu, ngerebut calon anak nya pak RT"
Deg
__ADS_1
Deg
Deg
"Nabila itu jelek, Gus. Hanya mata wanita yang bisa melihat jelas bagaimana wajah Nabila"
Seketika, Kata-kata Zahra terniang-niang di telinga ku. Pemuda itu menjelaskan semua latar belakang keluarga Nabila, bahkan sepupu nya pernah di buat sakit hingga kurus kering. Untung nya sembuh ketika calon suami nya itu sudah menikah dengan kakak Nabila.
Aku memang tidak mempercayai semua itu, tapi mendengar cerita yang begitu jelas ini aku menjadi agak percaya sedikit. Bukan Percaya sih, tapi antara percaya dan enggak.
"Aku sangat mencintai istriku, dia segalanya bagi ku. Kalau kalian pernah mendengar bahwa aku dekat dengan Nabila memang iya, tapi kini aku dan dia sudah tidak ada apapun"
Aku sengaja mengatakan hal ini, karena aku yakin salah satu dari pemuda ini mengetahui kedekatan ku dengan Nabila.
"Saya minta hati-hati, Gus. Jaga sholat sama amalin doa penolak sihir buat jaga-jaga"
"Tapi kalau panjenengan sih seperti nya gak mungkin di santet, Nabila gak akan izinin itu bapak nya nyantet njenengan, Gus. Ning Chaca mungkin yang harus jaga-jaga"
"Kok kamu seyakin itu," Tanya ku sambil menatap nya penuh selidik
"Ehh, anu.. "
Aku tau dia keceplosan.
"Gak apa-apa, katakan saja"
"Aduh, gimana ya. Malu, Gus"
"Gak apa-apa, lagian kan kalian bukan santri lagi, gak akan ku hukum, hehehe"
"Kalau panjenengan lihat Nabila Cantik, Gus. Mungkin panjenengan kena Guna-guna juga."
"Husss"
"Gak apa-apa, santai saja"
Aku tersenyum kepada mereka semua, benarkah aku kena Guna-guna Nabila. Tidak mungkin, aku mengagumi nya krena dia pintar. Aku yakin aku tidak kena Guna-guna sehingga aku hanya melihat Nabila, meskipun banyak sekali wanita cantik di sekitarku.
Astaghfirullah, benar. Aku tidak pernah bisa melihat wanita selain Nabila.
Setelah menyelesaikan makan dan berbincang sebentar sambil menghabiskan minuman, aku pun mengajak semua kembali ke hotel. Tak lupa aku membawakan Chaca kebab, kalau tidak bisa-bisa dia marah.
Tapi sepanjang jalan, aku terus saja kepikiran. Aku takut sekali jika Nabila menyakiti Chaca, yaa Allah..
"Assalamu'alaikum," Aku membuka pintu kamar, ku lihat Chaca sedang duduk menghadap jendela sambil memainkan ponsel nya.
"Waalaikumsalam," Jawaban singkat padat dan jelas.
"Mas beliin kamu kebab, ini makan sayang"
"Kenyang, mas"
Aku menghela nafasku, sudah bisa ku tebak dia sedang marajuk kepadaku.
__ADS_1
"Yuk tidur, sudah malam"
"Tega banget ninggalin istri sendirian di sini"
"Maaf, sayang. Mas cuma menghindari pertengkaran, mas gak mau marah kepadamu. Makanya mas keluar"
Menangis, tuh kan masalah nya jadi tambah runyam.
"Maaf, sayang"
Aku memeluk nya, lalu ku angkat tubuh nya dan ku pindahkan ke kasur.
"Jangan nangis, mas tadi kesal sama kamu karena kamu gak nurut sama Mas, kamu melawan terus sama Mas"
"Kan kita ke sini mau liburan mas, kenapa mas jadi batasin waktu jalan-jalan"
"Posisi nya kan beda sayang, mas udah kasih pilihan. Tapi kamu terus keras kepala"
Tangisan nya tambah kencang, sungguh aku harus bisa extra sabar menghadapi bocil seperti nya.
"Oke jalan-jalan, tapi obat herbal nya di minum kalau udah di Indonesia saja ya."
Dia diam, tapi tetap menangis.
"Kalau masih ingin minum obat herbal nya, jalan-jalan nya di batasi"
"Tapi kan sayang, udah sampai dubai gak jalan-jalan"
Bingung sekali hendak ku jawab apa, menghadapi bocah seperti ini memang susah sekali. Astaghfirullah....
"Ya sudah, jalan-jalan nya di batasi. Tapi nanti kalau sudah hamil, baby moon nya kesini lagi"
Aku harus berpikir, gak boleh asal menjawab saja. Jika aku iya kan, aku takut kedepan nya tidak ada waktu, karena aku sibuk bekerja. Kalau aku menolak nya, terus bagaimana cerita nya ini.
"In syaa Allah, mas gak bisa janji sayang"
Dia langsung melepaskan diri dari pelukan ku, lalu Chaca dengan kasar tidur membelakangi ku.
Aku menghela nafasku perlahan, aku harus sabar. Jangan kepancing emosi dengan tingkah kekanakan nya.
"Istrinya ngambek, bukan nya di rayu, minta maaf, atau di peluk. Ini malah di cuekin"
Astaghfirullah, sejak tadi aku minta maaf walaupun aku gak salah. Aku juga sudah merayu nya, memeluk nya sejak tadi. Sekarang dia malah bilang seperti itu. Begini ya rasanya punya istri anak-anak, jadi merasa lagi ngemong Zahra.
"Maaf, sayang. Yasudah tidur yuk," Aku pun memeluk nya dari belakang, selama dia hanya diam saja berarti aman.
Sudah satu jam mata ini tidak mau terpejam, jujur saja aku kepikiran dengan cerita tentang Nabila tadi.
Sebelum beranjak, aku pastikan istri ku yang menyebalkan ini sudah tidur. Lalu ku gantikan peran ku kepada guling, ku letakkan benda empuk itu di belakang punggung nya. Setelah itu aku berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Setelah wudhu, aku memilih duduk di sofa. Sofa ini menghadap ke jendela, dan dari jendela ini aku bisa melihat langsung kakbah. Maa syaa Allah.
Bukan hanya duduk saja, tapi sambil membaca Al-Quran agar tenang, mau sholat tahajjud lun tidak bisa karena aku belum tidur. Setelah cukup membaca Al-Quran, aku mengambil tasbih ku. Lalu bibir ini terus berdzikir untuk meminta perlindungan kepada Allah.
__ADS_1
Hingga tak terasa aku ketiduran di sofa.