
12.
Siapa dia?
"Al, kamu di sini?"
"Iya, ambil jatah preman, hahah"
"Mas, kenalin ini sahabat ku. Panggil saja Al," Dia mengenalkan laki-laki yang jelas bukan muhrim nya kepada ku.
Aku tersenyum, "Aku buru-buru, kita di tunggu umi"
"Ya sudah sebentar lagi aku nyusul, mas"
Apa dia bilang? Dia masih ingin bersama laki-laki itu?
Kenapa dia tidak bisa menghargai ku, seharusnya ia bisa menjaga sikap dan pergaulan nya setelah menjadi istri seorang Gus.
Hati ku sangat kesal, membuatku semakin tidak menyukai nya saja. Aku kini lebih memilih untuk memilih baju yang akan aku beli, aku tak mau peduli dengan nya.
"Ini saja ya, gus?"
"Iya, itu saja mas."
"Siap, gus. Langsung ke kasir," Ucap nya sambil memeberi ku secarik kertas.
Hingga saat ini dia tidak kunjung menyusul ku, sungguh sangat keterlaluan sekali.
Tetapi saat aku sudah ada di kasir, ku lihat dia berdiri di sana dengan laki-laki itu.
"Mbak, kasih diskon untuk pengantin baru ini"
"Tapi.. "
"Udah, kasih saja"
"Makasih yaa Al, tau gitu aku ambil juga, wkwkwk"
"Kapan-kapan kalau mau ke sini bilang saja, mumpung aku belum balik, heheh"
Aku sungguh tak mengerti dengan apa yang dia lakukan. Secara terang-terangan di depan ku dia bersikap seperti ini dengan laki-laki lain.
__ADS_1
Demi menjaga nama baikku, dan sikap ku di depan banyak orang. Aku harus tersenyum, seolah-olah senang dengan apa yang dia berikan kepada ku saat ini.
"See you, Al. Nanti malam nginep ya di rumah,"
"Agak telat ya, tapi nginep kok"
Apa? Dia mengajak laki-laki itu tidur di rumah nya. Ini bagaimana sih, kenapa dia begitu kurang ajar nya. Astaghfirullah, istri macam apa yang engkau berikan kepada ku yaa Allah.
Seperti biasanya aku hanya diam saja, aku tidak cemburu, tidak. Hanya saja aku kesal dia bersikap seperti itu di depan umum. Seharusnya dia bisa menjaga sikap nya di depan ku, apalagi dia adalah istri seorang Gus, mana bisa bersikap seenak nya seperti itu.
Hingga tiga puluh menit kemudian, kami pun sudah sampai di pesantren. Ku parkir mobil ini bersama dengan mobil yang lain nya, setelah itu aku keluar dari mobil.
Jujur saja aku sangat kesal, tidak suka dengan kelakuan nya tadi di toko.
"Mas, tunggu dong"
Dia meraih tangan ku, karena ini ada di luar. Aku tidak bisa bersikap apapun. Aku harus menjaga sikap, semua santri saat ini sedang berhenti, menunduk kepada ku untuk memberi hormat.
Kami pun bergandengan, baru saja melangkah beberapa kali, kini ku hentikan langkah kaki ku, saat ku lihat gadis manis pujaan hati ku itu ikut menundukmenunduk bersama beberapa santri di depan ku.
Nabila, mungkin kah dia sakit hati melihat ku, aku pasti telah menyakiti nya.
"Ayo, mas"
"Baju ku di mana?" Tanya ku, agar tidak terlihat salah tingkah. Pura-pura saja bertanya seperti itu.
"Ada di mobil, apa harus di bawa?" Dia menatapku
"Gak usah," Jawab ku singkat sambil memalingkan pandangan.
Setelah itu Kami terus saja berjalan bergandengan, melewati Nabila yang masih diam menunduk seperti santri yang lain nya.
Sungguh sakit hatiku, padahal aku yang mungkin menyakiti Nabila, ah sudahlah!
Di saat ku rasa sudah aman, tangan kanan ku hendak menyingkirkan tangan nya dari lengan ku, tapi sesosok wanita yang sangat aku cintai itu berdiri di teras rumah, sambil tersenyum bahagia melihat kami.
"Assalamu'alaikum," Ucap dia dengan ceria, lalu memeluk Umi
"Waalaikumsalam, sayang. Ayo masuk,"
Aku membiarkan nya saja, biarkan saja mereka bermesraan. Suasana hati ku sedang kacau, bukan hanya karena Nabila, kejadian di toko tadi masih cukup menguras emosi ku.
__ADS_1
Sekali lagi aku tidak cemburu, tidak. Jangan salah menanggapi nya. Aku tidak suka dengan kelakuan nya, bagaimana bisa dia bersikap seperti tadi di depan ku apalagi di tempat umum seperti tadi. Aku sungguh merasa tidak di hargai sebagai suami.
"Yusuf," Panggil Umi
"Dalem, umi"
"Chaca mau tak ajak ke Dapur, boleh? Sebentar lagi makan siang"
"Boleh," Jawabku cepat dan singkat
Setelah mendengar itu, Umi langsung mengajak nya pergi keluar. Aku tau, mungkin hendak ke dapur umum pesantren. Umi memang selalu mengawasi dapur setiap hari, kalau tidak pagi ya siang.
Sedangkan aku lebih memilih merebahkan tubuh ku yang lelah ini di kamar. Kegalauan kembali menyerang ku, melihat Nabila tadi membuat hatiku terasa sangat sakit sekali.
Dddrrrttt...
Handphone yang sengaja aku silent ini bergetar, aku pun segera meraih nya. Takut telepon dari orang yang penting.
Faisal
Nama itu tertera di layar ponsel ku, aku pun menerima telepon nya. Aku ingin tau ada keperluan apa dia menelpon ku.
"Assalamu'alaikum, gus"
"Waalaikumsalam, sal. Iya ada apa?"
"Baru saja aku lihat Ning Chaca lewat sama Bu nyai, sampean juga ada di sini kah?"
"Iya, aku lagi istirahat di kamar, capek!" Jawab ku sedikit ketus
"Ohh, capek habis malam pertama ya, Gus. Hehehe," Dia tertawa membuat ku semakin jengkel saja.
"Ngomong apa kamu, tidak!"
"Ehh, maaf Gus. Aku hanya bercanda kok"
Aku merasa bersalah, seharus nya aku bisa memaklumi godaan-godaan seperti ini apalagi dalam suasana pengantin baru.
"Tidak, gak apa-apa. Ya sudah, nanti ketemu jama'ah dhuhur"
"Oke, Gus. Tak tunggu. Assalamu'alaikum"
__ADS_1
"Waalaikumsalam"
Aku meletakkan asal benda canggih ini, lalu aku berguling ke kiri. Lalu ku pejamkan mata ku, aku ingin tidur sebentar saja.