Positif

Positif
Bab 13


__ADS_3

13.


Kini aku sudah berada di dalam masjid, menunggu jamaah santri dan santriwati yang masih bersiap.


"Assalamu'alaikum,"


"Waalaikumsalam," Jawab ku biasa-biasa saja.


"Gimana gimana?" Tanya nya sambil menaik turunkan alis nya menatap ku.


"Gak gimana-gimana," Jawab ku memalingkan pandangan.


"Aah, gak asik. Padahal aku buru-buru ke sini pengen denger cerita malam pertama, heheheh"


"Rahasia," Jawab ku, aku harus tenang menghadapi semua orang. Kemungkinan banyak sekali orang yang akan menggodaku tentang hal ini.


"Baiklah kalau rahasia, tapi berhasil gak nahlukin ning Chaca?"


"Bukan laki-laki kalau gak bisa nahlukin perempuan," Jawab ku tenang


"Hahah.."


Plakkk,


Aku langsung menepuk paha nya dengan sangat keras.


"Ini masjid, kau ini jangan tertawa begitu"


"Maaf, gus. Biasa keceplosan, sangking seneng nya. Akhirnya udah gak prajaka lagi!"


"Sssttt, diam lah!"


"Aku udah denger kok," Seseorang berbicara di belakang ku. Dari suara nya saja aku sudah tau itu siapa.


"Padahal, aku dulu baru berani malam ke tiga. Termasuk mendle juga ya, adik ku ini"


Aku tak mau mendengarkan dua orang yang seperti nya akan terus menggodaku jika aku menanggapi mereka. Biarkan saja mereka terus bicara dan menertawai ku.


"Besok datang ke resepsi ku," Ucapku kepada Faisal


"Yo pasti itu, gus. Kami keluarga besar guru pesantren akan datang secara rombongan, hehehe"


"Apa semua nya di undang?"


Karena semua sudah ku serahkan kepada Faisal, aku tak tau siapa saja yang Faisal undang. Ah, kenapa aku baru menyadari ini.


"Semua nya, gus. Tidak terkecuali," Jawab nya bahagia


Aku langsung kembali Galau, mungkinkan Nabila juga akan datang. Astaghfirullah, kenapa semua ini membuat ku semakin galau saja sih.


Setelah sholat Dhuhur, aku kembali ke rumah untuk segera bersiap balik ke rumah mertua. Sengaja aku melewati dapur agar cepat sampai.


Aku berharap bertemu dengan Nabila, tapi hingga kaki ku menginjak teras rumah ku aku tidak melihat nya.


"Assalamu'alaikum," Ucapku yang sudah terbiasa mengucapkan salam saat masuk rumah.


"Waalaikumsalam," Aku di sambut senyuman nya, lalu dia mendekati ku.


"Mas, makan siang dulu. Aku lupa kalau jam dua kita foto bersama"


"Foto apa?"


"Ini hadiah dari sahabat-sahabat ku, jadi kayak foto prewedding gitu. Kita kan gak punya"


"Aku gak mau, aku gak suka foto"

__ADS_1


"Aku tau, tapi ini hadiah dari sahabat ku. Mas yusuf harus hargain itu dong," Ucap nya sedikit ngotot, tidak Terima


"Enggak, aku gak mau"


Aku meninggalkan nya, dia pun berjalan mengejar ku.


"Kamu jahat banget ya mas, gak bisa hargain orang. Yasudah, terserah!"


Baru sehari menikah saja dia sudah seberani ini kepada ku. Yaa Allah, istri macam apa ini.


Aku tak memperdulikan dia, entah dia kemana. Siang ini aku cukup di buat kesal, galau dan ingin marah. Dan sekarang dia membuat ku semakin kesal dengan berani melawan ku.


"Yusuf!" Umi masuk ke kamar ku, beliau menatapku tajam, Marah. "Kamu apain Chaca sampai menangis seperti itu?"


"Aku gak apa-apain, umi. Malah dia yang melawan kepada Yusuf," Bela ku


"Cepat samperin dia, minta maaf!"


"Tidak umi, dia yang melawan kepada Yusuf. Dia teriak kepada Yusuf, kenapa Yusuf minta maaf?"


"Ya sudah, terserah. Umi gak mau ngomong dengan mu lagi!"


Yaa Allah, Lagi-lagi aku harus mengalah. Aku pun beranjak. Berjalan di belakang wanita yang menjadi surga bagi ku. Demi beliau aku rela melakukan apapun, tak mengapa walau aku sekarang harus menuruti keinginan nya.


Ku lihat dia sedang duduk di kursi halaman belakang rumah, umi pun masih menatapku tajam.


"Samperin Chaca, umi gak mau lihat kalian berantem begini!"


Aku masih diam, seraya tak yakin hendak melakukan nya.


"Sebentar lagi makan siang, dan Abi mu akan datang. Umi yakin kamu akan kena merah jika beliau melihat Chaca menangis seperti ini, pikirkan itu"


Aku diam sejenak, apa yang umi katakan benar. Jika abi tau, pasti beliau akan memarahi ku. Bukan masalah siapa yang salah lagi, Abi pasti memarahi ku karena baru saja menikah sudah buat Chaca menangis.


"Engge, umi"


"Maaf," Ucap ku tertahan "Aku mau foto, ayo makan dulu. Setelah itu kita bersiap"


Mendengar perkataan ku, dia berbalik menatapku dengan mata yang masih mengeluarkan air mata.


"Apa mas tidak menyukai ku? Dari kemarin sikap mas menunjukan bahwa mas tak menginginkan ku?"


Aku harus jawab apa? Jika aku menjawab nya jujur mungkin ini belum terlambat untuk mengakhiri semua nya. Apa ini Jalan yang Allah berikan kepada ku? Benar, Allah mendengarkan semua jeritan hati ku.


Tapi tak sengaja aku menangkap sesosok bayangan yang sembunyi di balik tembok, yang membuat nyali ku seketika menciut.


"Jawab saja, mas. Aku tak mengapa, kita bisa mengakhiri semua nya sebelum kita berjalan terlalu jauh."


Iya, aku ingin mengakhiri nya. Tapi mana mungkin aku mengatakan itu kepada mu, aku tak seberani itu.


"Tidak," Akhirnya satu kata yang artinya berbanding terbalik dengan suara hatiku itu keluar "aku tidak biasa dekat dengan wanita. Tidak seperti mas Adam, aku perlu waktu untuk ini. Apalagi kita tidak pernah dekat sebelum nya."


"Lalu kenapa mas tadi marah kepada ku dan tidak mau foto?"


"Aku tidak suka foto, maaf jika aku marah kepada mu. Tadi aku kebawa emosi saja, maaf"


Setelah mengatakan itu, dia tersenyum dan langsung memelukku.


Sungguh aku ingin sekali langsung mendorong nya, tapi ku lirik Umi sedang tersenyum menatap kami di balik tembok.


"Ayo makan," Aku pun dengan pelan melepaskan pelukan nya.


"Maaf kan aku juga ya mas, tadi aku sedikit berteriak"


"Iya, lupakan saja"

__ADS_1


"Baiklah, aku ngerti kok. Kita juga gak perlu terburu-buru, nikmatin saja dulu."


"Maksud nya?" Aku tak mengerti apa yang ia katakan.


"Kata mas tadi kan gak biasa dekat dengan wanita, apalagi kita gak pernah kenal. Baiklah, kita gak perlu buru-buru untuk itu, yang penting kita berusaha, Lama-lama juga akan biasa sendiri," Dia tersenyum menatapku, sangat cantik sekali. Tapi heran nya tidak memancing kelelakian ku.


Aku langsung beranjak, dia pun ikut berjalan menbuntut di belakang ku. Sebelum pergi ke ruang makan, aku mengajak nya masuk ke kamar.


"Cuci muka, biar gak kelihatan kalau habis menangis"


"Kalau di suruh cuci muka, kenapa aku di ajak masuk kamar?" Jawab nya sambil terkekeh.


"Yasudah, cepat. Nanti ke buru Abi datang"


"Iya, iyaaaaa"


Di ruang makan, aba sudah duduk di sana. Umi juga ikut menyiapkan makanan untuk aba.


"Chaca kenapa? Kok seperti nya habis menangis?" Tanya aba kepada nya


"Enggak kok, ba. Tadi kelilipan, tapi udah di kasih obat tetes"


Pandai sekali kalau berbohong, tapi aku sedikit lega dia tidak mengatakan yang sebenarnya. Bisa-bisa Abah juga akan memarahi ku habis-habisan.


Setelah makan siang, kami pun langsung pergi. Tujuan kami saat ini adalah studio foto yang katanya tempat kami foto prewedding.


Sekitar dua puluh lima menitan, kami sampai. Gedung berlantai dua dengan gaya minimalis modern, ku bisa menilai biaya yang di keluar kan untuk foto di sini cukup fantastis.


Aku memilih berjalan di belakang nya, aku tidak mengerti tentang hal ini. Aku hanya bisa pasrah, andai tadi Umi tak menyuruhku, aku tidak akan mau berfoto di sini.


"Atas Nama Chaca dan Yusuf, mbak"


"Oh silahkan, langsung saja naik ke lantai dua, ning Chaca"


Dia membalas senyuman dari resepsionis, begitupun dengan ku.


"Berapa lama kita foto?" Tanya ku saat kami berada di tangga


"Dua jam an gitu lah mas, cuma dua baju saja kok"


"Baju apa?"


"Gak tau, ini kan hadiah dari sahabat-sahabat ku"


Aku tak lagi bicara, aku sungguh bosan dan ingin sekali berlari dari tempat ini. Sesampai kami di lantai dua, tiga orang menyambut kami dengan baik dan sopan. Lalu seorang wanita membawa nya duduk untuk segera di rias.


"Sebuah kebanggaan bagi saya bisa foto panjenengan, gus"


Aku tersenyum, kemudian laki-laki yang seperti nya fotografer itu mengulurkan tangan nya.


"Aku Rizal, gus"


"Yusuf," Jawabku spontan yang kemudian membuat nya tertawa


"Sudah tau, gus. Seorang gus milenial dambahan ukhti-ukhti, heheh"


"Biasa saja, jangan terlalu berlebihan memuji ku. Takutnya saya menjadi sombong"


"Heheh, maaf gus."


Di sela-sela perbincangan kami yang tidak bermutu, seorang wanita datang menghampiri kami.


"Pak rizal, ini baju untuk Gus Yusuf"


Aku melihat baju yang masih di bungkus plastik itu di serahkan kepada Rizal

__ADS_1


"Silahkan, gus. Bisa ganti baju nya," Dua tumpukan baju itu di berikan kepada ku, aku pun menerima nya. "Pakai saja baju nya saja, gus. Nanti aksesoris nya biar saya bantu"


Aku pun mengangguk, lalu berjalan ke sudut ruangan. Ku masuk ke dalam balik tirai hitam itu, agar tidak ada yang melihat ku saat berganti baju.


__ADS_2