Positif

Positif
Bab 52


__ADS_3

Bab 52


Hari terus saja berlalu, Hari-hari ku bersama Chaca sungguh indah. Aku berhasil menjadi suami yang siap siaga dalam keadaan Chaca yang sering sekali sakit, aku akan khawatir jika aku berada di luar rumah terlalu lama.


Sudah dua hari aku sahur dan buka puasa di rumah sakit. Iya, Chaca di rawat sejak kemarin lusa karena keadaan nya semakin lemah. Pendarahan terus terjadi, badan Chaca lemas dan harus tranfusi darah. Untung Darah Chaca dan Ridwan sama, akhirnya darah Ridwan yang terus masuk ke tubuh Chaca.


"Mas, aku pengen tidur di kelonin"


"Gimana ngelonin nya, Cha. Sabar ya, nanti di rumah saja"


Dia tidak menjawab lagi, tapi malah menggeser tubuh nya ke. Setelah itu dia berkata "Cukup untuk kita berdua mas"


Aku menatap tempat tidur milik rumah sakit ini, memang Chaca berada di kamar VIP, jadi ranjang dan kasur nya sedikit lebih lebar dari biasanya.


"Ayolah, mas. Aku gak betah di sini, apalagi sejak kemarin gak deket sama mas"

__ADS_1


Beberapa hari yang lalu, Dokter mengatakan bahwa kondisi hormon Chaca akan cepat berubah. Mungkin bisa libido nya meningkat, atau bisa tumbuh jerawat, kulit menghitam atau rambut rontok. Itu semua tidak bahaya, hanya karena hormon saja.


Aku pun naik perlahan ke atas ranjang, lalu letakkan kepala ku di atas bantal yang sama, bantal yang di pakai oleh Chaca juga.


"Ayo tidur, sudah malam"


Aku melingkarkan tangan ku di atas perut Chaca, lalu ku pejamkan mataku agar Chaca juga mengikuti nya. Aku tak peduli lagi dengan malam lailatul qadar yang jatuh di antara sepuluh malam ganjil di akhir bulan Ramadhan ini, niat awal aku ingin mengejar nya. Namun melihat kondisi Chaca aku lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan nya, Mudah-mudahan tahun depan aku dan Chaca bisa berburu malam Lailatul qodar bersama, aamiin.


Setelah ku rasa Chaca sudah tidur, aku perlahan melepaskan pelukan ku. Bukan aku tak ingin tidur dekat dengan nya, tidak. Ini adalah posisi berbahaya, di samping itu aku juga tak ingin Chaca jatuh dari ranjang. Aku tau benar bagaimana tingkah Chaca saat tidur.


Setelah aku turun, tak lupa aku membenarkan posisi Chaca tidur agar lebih ke tengah. Gadis yang menyebalkan ini memang sudah merubah ku, aku menjadi se cinta ini kepadanya. Luar biasa.


Ku buka pintu yang sengaja ku kunci, aku heran jam segini siapa yang datang. Dokter? Tak mungkin, karena terakhir dokter Chek keadaan Chaca jam sembilan malam.


"Bunda?"

__ADS_1


"Hiks, hiks hiks, Chaca mana Suf?"


"Chaca tidur, bun. Baru saja"


"Jangan rame-rame, bun. Nanti dia bangun"


Ibu mertua ku ini baru saja menemui kami, beliau sejak kemarin sibuk di pesantren milik Kyai Hasyim. Memang sengaja Pak Jamil dan Ridwan tidak memberitahu Bu Mila, itu di karenakan di pesantren masih ada acara penting.


"Bunda sudah lihat chaca kan? Dan Chaca sudah baik-baik saja. Jadi kita pulang saja, besok pagi kita datang ke sini bawa sarapan buat Chaca. Sekalian nanti buka puasa di sini"


"Bunda mau tidur di sini, Yah"


"Bun, gak enak sama Yusuf. Biar Yusuf yang jagain, Ridwan saja tidur nya di hotel karena gak enak sama Yusuf. Masa kita tidur di sini juga sih"


Bu Mila tak henti-henti nya menangis, beliau memang sama seperti Umi. Umi saja saat melihat Darah Chaca yang banyak sekali kemarin menangis histeris karena Khawatir dan takut. Bahkan aku waktu pertama kali lihat juga takut, tapi sekarang aku sudah mulai biasa. Apalagi sejak kemarin selalu menemani Chaca saat bersihkan pembalut, aku tidak jijik sama sekali. Mungkin aku sudah benar-benar menyatu dengan Chaca, apapun yang ada di Chaca bukanlah hal buruk bagiku. Mungkin begitu juga sebaliknya. Mudah-mudahan saja.

__ADS_1


UDAH SEGINI DULU YA, NEXT AKAN ADA BAB TENTANG NABILA. STAYTUNE YAAA 😆😆😁


__ADS_2