
27.
"Bunda kangen banget sama kamu, Cha"
"Chaca juga, Bund"
"Maaf ya, Bund. Yusuf baru bisa main ke sini," Ucapku setelah mencium punggung tangan kedua mertua ku.
"Gak apa-apa"
"Ayo, masuk"
Aku pun berjalan di samping Pak Jamil, mertua ku. Kami pun duduk di ruang keluarga, sedangkan Chaca dan Bu Mila pergi ke lantai dua.
"Gimana lancar ngajar nya?"
"Alhamdulillah, Yah"
"Chaca gak gangguin aktivitas kamu kan, Suf?"
"Mboten, Yah. Alhamdulillah Chaca juga sekarang sibuk, sama Umi di pasrain belanja Dapur"
"Alhamdulillah, Ayah seneng dengar Chaca tak banyak tingkah gini"
"Oh, iya Yah. Untuk masalah Umroh, Yusuf sama Chaca sepakat berangkat bulan Ramadhan saja, namun jika Ayah tidak berkenan maka Yusuf akan tetap berangkat minggu depan sesuai yang Ayah rencanakan"
"Tidak, kalau memang kamu dan Chaca mau nya bulan Ramadhan, maka berangkatlah Bulan Ramadhan"
Alhamdulillah, Pak Jamil menyetujui nya.
"Kamu pilih hari nya, Suf. Biar nanti Ayah bilangin ke Ridwan"
"Ridwan, yah?"
"Iya, Ridwan punya Bisnis Travel Umroh dan Liburan dalam dan luar negeri juga. Udah berjalan lima tahunanlah"
"Yusuf baru dengar, Yah"
"Ya memang dia buka nya di pulau seberang, sengaja gitu karena pasar nya lebih cepat. Kalau di sini kan udah banyak Travel"
"Heheh, iyah sih"
Obrolan kami cukup di sini, karena Chaca tiba-tiba datang membawa obrolan baru.
"Yah, mana kado pernikahan untuk Chaca. Ayah bilang kalau mau kasih kado"
"Cha..," Panggilan ku ini berarti memperingatkan, isyarat mata ku mengartikan bahwa aku ingin dia tak meneruskan kata-katanya.
"Gak apa-apa, Suf. Ayah sudah janji, jadi harus di tepati"
"Chaca minta Rumah, Yah"
"Cha, kita tidak bisa meninggalkan Umi dan Abi sendirian di rumah. Mas Adam sudah punya rumah dan Khalila ikut suami nya, tidak mingkin kan kita juga keluar dari rumah"
"Yang di katakan Yusuf itu benar, Cha. Minta yang lain nya"
Dia nampak berpikir, ku perhatikan terus gerakan badan nya.
"Untuk sementara ini gak ada, Yah. Namun nanti kalau udah kepikiran, Chaca akan ngomong dan Ayah harus menuruti nya"
"Baiklah, terserah kamu mau gimana"
"Kalian mau istirahat atau gimana?"
"Chaca ikut masak untuk makan siang saja, Bund"
"Yusuf di sini saja, Bund. Istirahat nya ba'da dhuhur saja"
"Baiklah, buatkan kopi untuk kita, Cha"
"Oke, siap Yah"
Obrolan ku dan ayah mertua ringan saja, seputar keseharian ku dan juga keseharian ayah mertua. Beliau bercerita, di usia nya yang masih lima puluh tujuh tahun sudah pensiun dari pekerjaan. Semua bisnis di pegang oleh Ridwan, beliau hanya punya saham nya saja.
__ADS_1
Kringgg...
"Ayah terima telepon dulu, kamu bisa nonton televisi, suf"
"Engge, Yah"
Saat ayah pergi ke halaman belakang, aku pun naik ke lantai dua. Kemungkinan di sini aku tak banyak kegiatan, jadi ku putuskan untuk menyiapkan materi untuk mengajar besok.
"Mas, ini tak buatin roti canai"
"Iya, terima kasih."
"Mas ngapain?" Tanya nya sambil melihat layar laptop ku
"Nyiapin materi untuk besok"
"Besok gak libur dulu, mas?"
"Kamu boleh libur, tapi aku tetap ngajar. Nanti setelah ngajar kamu tak jemput"
Ku lirik dia tersenyum, seolah senang karena tidak masuk kuliah.
"Jangan lupa Izin"
"Iya, mas"
Setelah itu dia meninggalkan ku, alhamdulullah dia tidak terus duduk bersama ku. Bisa-bisa aku tak bisa mengerjakan ini jika ada dia.
"Suf, sibuk ya?"
"Tidak, yah. Ada apa?"
"Ayo ikut Ayah, ada salah satu jamaah masjid meninggal dunia"
"Innalillahi, iya yah. Yusuf ganti baju dulu"
"Ayah tunggu di depan"
Dengan segera aku memakai sarung dan Baju koko ku, setelah itu aku sesikit berlari menyusul Ayah mertua ku.
Sesampai nya di sana, Beberapa orang menyambutku dengan sangat ramah sekali. Sehingga aku terpisah dengan Ayah karena sangking banyak nya yang menyalami tangan ku.
"Suf, kamu imami sholat Jenazah ya"
Membuatku kaget, tiba-tiba Ayah ada di belakang ku dan berbisik di telinga ku.
"Engge, Yah. Di sholati di mana?"
"Di Masjid, Suf. Sebentar lagi kamu berangkat dulu sama anak-anak remaja Masjid"
Aku pun mengangguk, setelah itu Ayah pergi meninggalkan ku.
"Monggo, Gus masuk saja dulu"
"Matur nuwun, pak. Saya mau langsung ke masjid"
"Monggo, gus"
Beberapa anak remaja mengajakku untuk segera berangkat ke masjid yang letak nya tak jauh dari sini.
Saat di masjid, aku langsung wudhu. Sedangkan para remaja masjid mempersiapkan semua untuk sholat jenazah yang akan berlangsung sebentar lagi.
"Gus Yusuf," Aku syok melihat seorang yang sangat aku kenali ada di sini.
"Zadid? Kamu di sini?"
"Iya, Gus. Rencana nanti malam mau ke rumah panjenengan, eh ketemu di sini. Jodoh ya"
"Amit-amit"
"Hahaha..."
"Stttt!" Aku langsung menghentikan tertawa nya "Tidak baik tertawa di suasana sedang berduka"
__ADS_1
Dia langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kamu ngapain di sini?"
"Seperti yang kemarin saya cerita kan, Gus. Sebenarnya pagi ini mau ke rumah doi, tapi dapat kabar Bapak kos ku meninggal dunia"
"Ohh, jadi kamu dulu magang di sekitar sini"
"Engge, gus. SD yang ada di depan sana ituloh"
"..."
Aku hendak menyambung pembicaraan, namun rombongan pembawa Jenazah tiba.
Setelah menyolati si Mayyit, Ayah menyuruhku untuk ikut mengubur nya, karena tidak ada yang membacakan doa. Aku pun menuruti nya, hingga satu jam kemudian aku baru sampai rumah dan aku langsung mandi.
"Mas, makan siang dulu. Udah tak masakin"
"Iya, aku sholat dhuhur dulu"
"Ya sudah, tak tunggu di bawah ya"
"Eh, sekalian bawa baju ku. Cuci in ya, kotor soal nya"
"Oke," Dia langsung mengambil baju ku dan membawa nya ke bawah.
Setelah sholat, aku masih menunggu Ayah mertua untuk makan siang. Ku lihat di halaman belakang Chaca sedang menjemur pakaian ku, secepat itu dia mencuci. Apakah bajuku menjadi bersih, ah kenapa aku tak yakin. Bagaimana kalau tidak suci, dia tidak tau cara nya agar pakaian suci. Astaghfirullah, kenapa aku melalaikan hal ini.
"Suf, mau kemana? Ayo makan siang dulu"
Niat ku untuk menghampiri Chaca terurungkan, aku pun memilih untuk pergi ke ruang makan. Untuk masalah mencuci, nanti malam akan aku tanyakan langsung kepada nya.
"Cha, suami mu mau makan ini"
"Iya, Yah"
Plak
Plak
Plak
Suara sendal jepit nya terdengar nyaring saat dia berlari.
"Hati-hati jatuh, Cha"
"Heheh, Iya Bund"
Seperti biasanya, sesi makan selalu hening. Setelah menyelesaikan makan siang, ayah mertua berpamitan untuk istirahat. Sedangkan aku memilih untuk duduk di ruang keluarga melanjutkan pekerjaan ku tadi.
"Mas, tak temani ya"
"Iya"
Walau sebenarnya aku tak ingin, terpaksa aku harus meng-iyahkan nya. Aku tak mau terlihat buruk di mata kedua mertua ku.
"Mas, kok dingin banget ya"
Tuh kan, dia pasti akan menggangguku terus seperti ini.
"Tidak," Jawab ku malas
"Aku kok kedinginan ya,mas"
Aku menoleh, ku tatap dia yang duduk di sofa belakang ku.
"Assalamu'alaikum," seseorang berteriak di luar rumah.
"Waalaikumsalam"
"Mas aku kedinginan"
"Kamu ke kamar saja dulu, aku mau lihat yang datang di luar. Ayah sedang istirahat"
__ADS_1
Bersambung...