Positif

Positif
Bab 41


__ADS_3

Bab 41


Kini aku dan Chaca sudah duduk di depan seorang dokter wanita tak berjilbab ini. Dia menjelaskan tentang Penyakit yang sedang di derita oleh istriku. Dia menjelaskan semua nya dengan sangat detail, membuatku merasa sangat bersalah dengan kejadian kemarin.


"Kita pilih herbal dulu saja, sesuai anjuran" Ucap Chaca langsung


"Reaksi herbal biasanya paling cepat sepuluh hari, paling lama satu bulan"


"Kita mau umrah lima belas hari, dok. Gimana?" Tanyaku, aku khawatir menganggu ibadah kami di sana.


"Setiap orang beda-beda reaksi nya, ada pasien saya yang tidak begitu parah dari Chaca. Reaksi nya dua puluh hari"


Aku memandang Chaca seolah sedang musyawarah untuk menentukan jawaban nya.


"Miom Chaca ini bisa hancur, karena sudah satu tahunan ini Chaca konsumsi detox rahim. Untuk itu saya lebih saran kan pakai Herbal dulu, biar nanti keluar bersamaan dengan darah Haid. Tapi nanti darah nya akan banyak dan kemungkinan akan mengalami sakit"


"Iya deh, Mas. Herbal dulu saja," Chaca menyakinkan ku dengan tatapan mata yang menunjukkan bahwa dia benar-benar sanggup menanggung semua kesakitan nya.


"Mas gak tega, Cha"


Chaca menatapku dengan senyuman, tapi aku masih belum bisa membalas senyuman nya. Aku sungguh ketakutan, kasian kepada Chaca, gak tega.


"Ya sudah, di diskusikan dulu saja. Nanti kalau sudah ada keputusan bisa datang lagi ke sini"


"Tidak," Jawab Chaca cepat lalu mengakhiri pandangan nya dari ku. "Aku ingin segera sembuh dan ingin juga menjadi Ibu"


Aku diam sejenak, masih berat ingin mengatakan 'Iya'. Jika saja aku tau begini cerita nya, mungkin kemarin malam aku tidak membicarakan tentang anak. Aku tidak terburu-buru untuk itu, tidak. Hanya saja aku kemarin menjelaskan beberapa ilmu kitab qurotul ayun dan fathul Izan. Dan akhirnya dari pembicaraan itu, Chaca ingin segera Hamil.


Tapi aku tak mungkin aku menunda semua ini, Chaca sudah menunda nya selama dua tahunan. Jika terus tidak di obati takut penyakit ini berubah menjadi ganas.


Aku terpaksa memilih herbal dulu, karena jika operasi memakan biaya banyak. Memang aku ada tabungan, cuma sebentar lagi aku mau pergi Umrah selama lima belas hari. Dengan begitu, biaya hidup di sana pasti butuh banyak uang. Belum lagi oleh-oleh nya.


Tapi alasan yang paling utama bukan karena biaya, melainkan bahaya nya operasi ini. Chaca ini masih terbilang masih muda, terlebih belum pernah hamil dan punya anak. Menurut penuturan dokter, itu beresiko lebih besar terhadap kesuburan Chaca, bahkan dampak negatif nya bisa mandul. Karena akan menyobek beberapa jaringan.


"Chaca... "

__ADS_1


Aku menoleh, ternyata tiga gadis seumuran dengan Chaca berlari sambil merentangkan tangan nya. Begitu dengan Chaca yang langsung tersenyum dan menyambut pelukan dari sahabat-sahabat nya itu.


"Kangen," Ucap manja teman Chaca.


"Nanti jadi ke rumah kan?"


"Jadi, dong. Cuma gak sabar nunggu nanti mau ketemu"


Aku merasa canggung dengan teman-teman Chaca ini. Aku juga seperti malu, apalagi sudah menuduh gadis yang berpakaian seperti laki-laki ini.


"Assalamualaikum, gus" Ucap semua teman-teman Chaca


"Waalaikumsalam," Aku tersenyum kepada mereka, aku harus membalas keramahtamahan teman-teman Chaca ini.


"Ayo pulang, jangan ribut di Klinik. Banyak orang sakit"


Aku pun mengekor di belakang empat gadis ini, jika sebelumnya aku tak suka jika Chaca bersama teman-teman nya. Kini rasa itu berubah, aku ikut bahagia, ikut tersenyum saat Chaca juga tersenyum. Nampak dia begitu sangat bahagia bisa bercengkrama dan bercanda dengan teman-teman nya. Dia memang suka sekali bercanda, memang menyenangkan. Entah terakhir kapan aku bercanda seperti anak kecil, tapi yang pasti kemarin aku kembali bercanda, tertawa lepas dengan nya.


Sesampainya di rumah mertua ku, aku langsung mandi, sholat, setelah itu aku duduk bersama Abah dan mas Adam. Kyai Hasyim juga masih ada, beberapa tetangga dan jamaah masjid depan perumahan itu datang. Tasyakuran sebelum aku pergi Umrah sudah di mulai.


"Doakan ya, mas"


"Akan selalu aku Do'akan, ini hanya cobaan rumah tangga, semoga selalu kuat dan bisa melewati semua cobaan nya"


"Aamiin," Jawab ku sambil mengusapkan telapak tanganku ke wajah ku, tentu doa baik harus aku aamiin-kan.


Dua jam kemudian, acara selesai. Tapi kami para laki-laki masih berbincang di ruang tamu. Teman-teman Chaca juga mulai pamit pulang, karena besok mereka mungkin harus kuliah. Dan setahu ku, Teman-teman Chaca ini kuliah di Luar kota. Kecuali Gadis berpakaian laki-laki itu, dia kuliah di luar Negeri. Namun saat ini sedang libur semester.


Karena waktu maghrib sudah tiba, kami pun segera bersiap pergi ke masjid. Saat aku hendak mengambil surban, Chaca terlihat sibuk mengemasi baju-baju. Tak lupa aku mengecup kening nya sebelum aku pergi ke masjid.


"Mas," Panggil Chaca, aku pun menutup kembali pintu kamar dan menghampiri Chaca yang sedang duduk di tepi kasur.


"Hemm?" Tanya ku sambil menatap nya.


"Nanti saja deh, mas pergi saja ke mesjid dulu"

__ADS_1


"Jangan buat mas gak fokus sholat, Cha!" Aku harus tegas, sungguh aku penasaran dengan apa yang hendak dia katakan


"Ihh, kok marah"


Dia malah manyun, ini kenapa seperti ini sih.


"Gak marah, sayang. Mas penasaran, kalau gak ngomong sekarang, mas takut kepikiran terus dan gak fokus sholat"


"Mas, aku minta uang nya"


Aku menatap Chaca, merasa tak yakin kalau itu yang benar-benar ingin dia katakan.


"Ambil di dompet Mas ya, kalau kurang ambil di ATM. Pin nya tanggal bulan dan tahun lahir mas, kamu bisa lihat di KTP mas"


"Okey," Jawab Chaca biasa-biasa saja.


Aku sungguh penasaran sekali, apa yang sebenarnya yang akan Chaca katakan. Aku tau, Chaca itu banyak uang nya. Dia memiliki 15 persen saham sebuah mini market. Aku tau hal tersebut satu bulan yang lalu, aku tak sengaja membaca struk belanjaan Chaca. Dan yang tertera di sana Nama nya, bukan nama Pak Jamil ataupun Ridwan.


Baru kali ini aku tidak tenang dan ingin segera pulang ketika ada di masjid, aku ingin menanyai nya, atau mungkin Chaca akan mengatakan hal sebenarnya. Jika biasanya waktu maghrib ke isya itu sangat singkat, namun sekarang waktu ini berjalan sangat lambat sekali, astaghfirullah.


"Suf, kenapa? Kok seperti nya gelisah"


"Tidak, Yah. Aku kepikiran saja, karena Chaca sudah mulai konsumsi obat herbal nya"


Memang tak pandai aku berbohong, aku yang saat ini malas bicara karena terus kepikiran Chaca. Tapi kini aku harus menjelaskan secara detail penjelasan dokter tadi siang.


"Reaksi nya masih lama, kenapa Khawatir sekarang?"


"Takut saja, Yah. Gak tega," Jawab ku


Tanpa ku sadari aku menunjukkan bahwa aku sedang khawatir tanpa alasan. Ya memang ini koyol, aku juga sedang tidak khawatir dengan hal tersebut, hanya kepikiran apa yang akan Chaca katakan sebenarnya.


Sudahlah, tau ah. Bingung!


UPDATE SATU BAB DULU, SEBENARNYA UDAH NULIS 3 BAB. CUMA YANG DUA TAK REVISI, ADA BEBERAPA YANG HARUS DI GANTI ALUR NYA. BIAR GAK KONFLIK MELULU 🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2