Positif

Positif
Bab 51


__ADS_3

Bab 51


Setelah sholat subuh di masjid, aku dan Faisal memilih untuk berbincang di teras masjid. Karena hari ini hari minggu, suasana menjadi sepi. Mungkin para santri dan santriwati memilih untuk berdiam di dalam kamar mereka, mengingat hari ini tak ada kegiatan apapun di tambah bulan puasa.


Aku mengobrol ringan dahulu dengan Faisal, menanyakan kabar nya dan beberapa kesibukan Faisal saat aku tinggal Umrah.


"Sepertinya aku harus menikah, Gus. Aku luntang-luntung lo kalau gak ada njenengan, aku juga merasa seperti orang pengangguran kalau gak di suruh njenengan"


"Dulu waktu aku kuliah di luar negeri, kamu gak gitu, Sal? Jangan-jangan kamu gombal ini kepadaku, lebay"


"Ya kan dulu aku juga kuliah, waktu senggang ku habis sama belajar, ngerjain tugas dan ngajar. Sekarang cuma ngajar tok loh, Gus. Bosan lama-lama"


"Ya sudah, nanti tak carikan ukhti nya"


"Gak boleh ya, Gus. Pilih sendiri? Ada di asrama Aisyah, santri yang aku incer"


"Gak ada!" Aku menatap nya tajam, tapi tak membuat yang ku tatap ini takut "karna kamu udah tak anggap adikku, jadi nanti aku bicarakan hal ini dengan Abah"


"Di lihat dulu lah, Gus. Siapa tau cocok gitu, Gus"


"Enggak!"


"Ya sudahlah, manut"


Aku tersenyum "siapa nama nya?"


"Heheheh, sudah ku duga. Mana mungkin njenengan setega itu sama aku"


"Siapa nama nya? Sebelum aku berubah pikiran?"


"Nama nya Erlis, Gus"


"Elis?" Ulang ku untuk memastikan


"ERRRRRRRR LISSSS"


"Oh, Erlis?"


"Engge, Gus"


"Nanti tak cari tau dulu, kalau bisa sebelum kamu jatuh cinta kepada seseorang, pastikan dulu dia dari keluarga baik-baik, sal"

__ADS_1


"Tumben? Dulu...."


"Dulu apa?"


"Enggak, Gus, heheheh"


"Apa kamu tau juga aku dekat sama Nabila?"


"Ya taulah, Gus. Walaupun njenengan gak pernah cerita, tapi aku tau banget"


"Apa kamu tau kalau keluarga Nabila itu.."


"Ya taulah, Gus. Dulu dia adik kelas aku kan? Pernah kejadian ada salah satu santri yang bertengkar dengan Nabila, karena jengkel santri itu nyebarin berita kalau ortu Nabila itu dukun, kalau gak percaya tanya sama Ning Khalila, dia kan teman sekelas nya Nabila dulu"


"Kok kamu gak cerita sama aku sih?"


"Mana mungkin aku melakukan itu, Gus. Nge langkahi iku jenenge. Sampean saja gak pernah cerita, dari dulu aku nungguin njenengan cerita dulu, baru aku rencana mau kasih tau"


"Kan setidaknya kamu kode-kode gitu ke aku, Sal"


"Gak mungkin, Gus. Saru dadine nek aku langsung ngomong"


Aku harus menerima alasan Faisal, memang aku berteman dekat dengan nya. Tapi dia masih sangat menghormati ku, aku sendiri juga selama ini selalu membatasi sikap ku kepada siapapun, termasuk orang tua dan saudara-saudaraku.


"Terus piye, Gus?" Tanya Faisal setelah ku ceritakan semua nya kepadanya.


"Aku gak tau, Sal. Pusing sekali"


"Aku kok jadi takut ya, Gus"


"Takut apa?"


"Takut Ning Chaca tau, kasian nanti.. "


"Makanya itu, aku harus selesaikan baik-baik. Aku mau datang ke rumah nya"


"Jangan! Jangan ke sana, udah tunggu di sini saja Nabila nya. Nanti aku akan bantu ngomong ke dia"


"Yasudah, itu kita bahas nanti setelah dia kembali ke sini lagi saja"


"Iya, Gus. Aku akan do'a kan agar semua ini cepat selesai"

__ADS_1


"Aamiin, makasih ya Sal"


"Anu, Gus. Aku nikah nya nanti saja, misi ini harus kita selesai kan dulu"


"Kenapa? Menikah gak boleh di tunda"


"Lagian dia masih sekolah, kelas tiga Aliyah. Udah nanti sajalah"


Aku tak menjawab nya lagi, kini aku dan Faisal sama-sama diam. Entah apa yang membuat Faisal diam juga, seperti nya dia sedang memikirkan sesuatu. Aku jadi tidak enak sudah merepotkan nya, tapi hanya Faisal yang bisa ku ajak bicara saat ini. Kalau aku bicara dengan Mas Adam, umi atau pun Abah. Sudah pasti riwayat ku akan tamat, umi akan mengutukku, Abah akan mengusir ku, Mas Adam tak akan peduli dengan ku, dan yang pasti Chaca akan meninggalkan ku. TIDAK!!!!


***


Sore hari, aku mengajak Chaca yang masih betah cemberut ini pergi 'ngabuburit' kalau kata si Khalila. Walaupun masih dalam keadaan manyun, dia tetap bersiap dengan baju rapi dan masuk mobil dengan cepat.


Setelah lima belas menit, aku memberhentikan mobil ku di samping mobil-mobil yang sepertinya sejak tadi sudah terparkir di sana. Aku tak mengajak nya ke Mall, namun aku mengajak nya ke pasar takjil yang selalu di selenggarakan setiap tahun nya.


Tahun lalu aku selalu mengantar Khalila ke sini, karena itulah aku jadi tau dan tak perlu bingung mengajak istri menyebalkan ku ini ngabuburit.


"Mau beli jajanan apa? Kata Umi kamu gak makan, cuma minum sama makan roti saja"


"Iya," Jawaban nya singkat sejak tadi pagi.


"Sayang, kok marah terus sih?"


"Mas sih, aku gak di bolehin turun kemarin"


"Ya sudah, sekarang boleh turun, boleh jalan-jalan dan boleh beli makanan apapun"


Dia menatapku "okey, makasih. Tapi aku masih marah sedikit"


"Baiklah, tapi jangan cemberut. Nanti orang-orang ngira nya kamu gak suka sama Mas, terus Mas mu yang ganteng ini di lirik cewek lain gimana hayoo?"


Dia diam tak bereaksi, apakah gombalan ku ini garing? Ahh, malu sekali aku rasanya. Mungkin saja wajah ku sekarang memerah.


Tarik nafas, buang perlahan.


Tarik nafas, buang perlahan.


Tarik nafas, buang perlahan.


Aku tak peduli, ngapain juga malu. Toh tidak ada yang mendengar nya kecuali aku dan Chaca. Setelah agak tenang, aku keluar dari mobil. Segera ku genggam tangan Chaca yang seperti nya sudah sebal menungguku mengatur nafas di dalam mobil tadi, hehehe.

__ADS_1


"Senyum dong,"


Akhirnya bibir itu tersenyum setelah drama panjang yang bikin kepikiran sejak kemarin malam.


__ADS_2