Positif

Positif
Bab 57


__ADS_3

Bab 57


Pov Yusuf


“Mas, aku ingin pulang,”


Aku langsung menatap wjah nya, ini adalah pertama kalinya Chaca minta pulang. Biasanya dia selalu suka tinggal di sini. Aku menjadi heran dengan Chaca.


“Kenapa? Baru tadi pagi kita pulang ke sini”


“aku bosan, Mas. Di sini aku diam saja, gak kemana-mana”


“Bukan nya di rumah ayah kamu juga hanya diam saja di dalam rumah, tadi juga ikut Umi dan Mbak Rifa kegiatan”


Chaca diam, mungkin tak bisa menjawab nya. Lagian dia tadi di luar rumah, dan baru pulang jam empat sore. Bisa-bisa nya bilang bosan karena gak melakukan apa-apa.


“besok buka puasa di rumah ya,” dia menatap ku, tatapan itu memohon sekali. Hingga aku merasa bersalah jika tidak menuruti nya.


“MAkasih ya, mas”


Dia langsung memelukku, tak lupa juga mencium ku. melihat nya Bahagia seperti ini, aku juga merasa sqangat Bahagia. Sesederhana ini ternyata sebuar arti ‘Cinta’


“Tidurlah, sayang. Mas kayak nya mau ke masjid”


“Aku tidur dulu, kalau udah tidur baru tinggal aku”


Aku tersenyum, setelah itu aku langsung membawa nya ke dalam pelukan ku. entah sejak kapan kami selalu tidur seperti ini, nyatanya dengan posisi seperti ini membuat ku ikut mengantuk. Hahahah, gak jadi ke masjid.


Setelah sholat subuh, aku membawa Chaca pergi ke belakang pesantren. Ini pertama kali nya aku membawa Chaca pergi ke sawah.


“kita duduk di rumah itu yuk,” aku menunjuk sebuah rumah bamboo, tempat untuk para petani istirahat.


“Jauh sekali, mas”


“gak jauh, sama kok kalau di ukur sama Mall”


“Selalu saja seperti itu,” kesal nya, wajah nya cemberut. Aku suka sekali, hehehe.


Setelah sampai di gubuk itu, aku langsug tiduran di sana. Angin segar yang sepoi-sepoi membuat mata siapa saja ingin terpejam. Betapa segar nya udara di tengah-tengah sawah ini, udara yang tak tercampur oleh asap kendaraan.


“Sini tidur di lengan Ma, Cha”

__ADS_1


“Nanti di lihat orang gimana, mas?”


“Sawah ini milik pesantren, gak aka nada yang ke sini. Sudah sini tidur”


Tak menjawab lagi, Chaca langsung menurut saja.


“Enak banget ya mas tidur di sini”


“Iya, mau gak bangun rumah d sini?”


“enggak, ahh. Kalau malam pasti gelap, sepi, sunyi. Jadi nya mengerihkan”


“kan enak sepi, jadi gak ada yang dengar”


“dengar apa?” dia melotot kepadaku.


“dengar suara kamu tertawa,” jawab ku datar


“dasar mesum!” dia mencubit ku, sungguh panas cubitan nya.


“mesum apa, sih Cha?” ucapku sambal menggosok dada ku yang baru saja di cubit oleh nya.


“bukan usra tertawa kan, pasti yang Mas maksud itu anu..”


“Apa?”


“Apa?”


“Anu…”


“itu pikiran akamu saja yang mesum, hahaha”


“Mas Yusuf!”


Dia malah naik dan duduk di atas perut ku. sebelum dia menggelitiku, tangan ku lebih dulu memegang ketiak nya. Sehingga dialah yang sekarang tertawa karena kegelian.


“Hahahahaha… Mas…”


“Ampun dulu!”


“Aammmpun mas!”

__ADS_1


Aku pun melepaskan tangan ku, lalu ku pindahkan kepalanya ke lengan ku. kita diam sejenak mengatur nafas karena habis tertawa.


“Mas, ayo pulang”


“Ngapain pulang? Disini saja enak. Sebentar lagi matahari pagi akan bersinar, kita Caring biar sehat, apalagi kamu kemarin habis dari sumah sakit gak kena sinar matahari”


Dia mengangguk, setuju dengan apa yang aku katakan.


Hingga tak terasa kami sama-sama tertidur di dalam gubuk, dan di bangunkan oleh silau matahari yang sudah berada di atas kepala.


Saat ku buka mata ku, aku langsung menoleh ke arah istriku. Saat ini dia tidur dengan menyembunyikan wajah nya di ketiak ku, mungkin saja dia juga kesilauan. Niat hati tak mau ku bangunkan dia, tetapi setelah ku lihat jam yang melingkar di pergelangan tangan ku, membuatku mau tak mau harus ku bangun kan dia.


“Cha, bangun. Sudah jam satu siang”


Gila memang, aku tidur di sini selama enam jam.


“Mas, ngantuk”


“kalau gak bangun, mas gendong lohh”


Seketika dia membuka matanya, wajahnya sebal, cemberut, sangat cantik.


“ayo pulang dulu, nanti lanjut tidur di rumah”


“mas kita tidur disni?” seperti nya dia baru menyadari nya”sekarang jam berapa, Mas?”


“Jam satu”


“Hah?”


Chaca langsung menarik ku, kami pun pulang. Namun saat masuk ke dinding pesantren atau gerbang masuk ke area pesanten, beberapa santri berdiri disana, mereka menunduk sambil tersenyum. Aku jadi curiga, apa mereka melihat ku tidur di sana? Atau mereka mengintip ku? Dan benar saja, aku langsung mendapatkan jawaban nya dari Faisal.


“Udah Bangun ya,Gus? Sampean ini menganggu aktifitas saja.”


“Apa?” bingung dong.


“gara-gara sampean tidur di gubuk, jadi santri tidak bisa ke sawah!”


“Ngapain ke sawah?”


“Tidur juga seperti sampean, udah assalamualaikum, aku mau ke sawah!”

__ADS_1


Faisal terilhat kesal, aku tidak melakukan apa-apa, kenapa dia semarah itu?


__ADS_2