Positif

Positif
Bab 52


__ADS_3

Bab 52


Setelah tarawih, aku akan kembali ke rumah seperti kemarin. Aku akan mengaji di kursi goyang ku, dan Chaca saat ini duduk tak jauh dari ku sambil membaca buku.


setelah satu jam an, aku sudah menyelesaikan bacaan ku. Sedangkan Chaca kini berpindah menatap layar ponsel nya.


"Mas, aku kapan kuliah lagi?"


"Gak usah kuliah, sudah"


"Gak mau, harus sarjana!"


"Jangan aktifitas dulu, Cha" Aku berdiri menghampiri Chaca


"Tapi aku bosan di rumah terus, mas. Kira-kira aku di D.O atau gimana ya? Lama aku gak kuliah"


"Kamu cuti, Cha"


"Cuti satu semester?"


Aku menangguk.


"Gak mau, pokok nya aku mau kuliah. Aku mau lulus barengan sama yang lain, enak saja. Pokok nya gak mau. Aku besok kuliah!"


Sudah ku duga, dia akan bereaksi seperti ini. Melotot, ngotot dan bicara nya lantang sekali.


"Mas yang ajuin cuti?"


"Ayah yang ngajuin"


Dia diam, ku kira dia tidak akan marah lagi jika tau ayah nya yang ngajuin cuti nya. Tapi ternyata tidak, siapapun itu reaksi nya tetap sama. Kini Chaca berjalan ke kamar sambil memegang handphone yang ia tempelkan di telinga nya, ku ikuti untuk mencegah hal-hal yang tak di ingin kan.


"Ayah mungkin masih tarawih, Cha"


"Ayah memang ya, dari dulu gak berubah!" Omel nya


"Udah, jangan ngomel. Sini handphone nya," Sayang nya aku luput mengambil dari tangan nya.


"Gak mau," Dia berlari menjahui ku.


Aku pun punya ide untuk menghentikan nya agar tidak mengomel kepada ayah nya. Ku kejar dia, hingga kami kejar-kejaran di dalam kamar.

__ADS_1


"Mas Yusuf!"


"Jangan telepon ayah, kalau tetap telepon. Mas cium ketiak mu"


Mungkin Chaca sudah membayangkan dulu, hingga kini dia tertawa seperti kegelian. Memang Chaca sensitif dengan area ketiak, jangan kan di pegang, saat sesuatu mendekati ketiak nya pun dia langsung bereaksi walaupun lagi tidur.


"Hahaha, mas Yusuf lepasin!"


Aku berhasil menangkap nya, tapi dia masih enggan memberikan handphone nya kepada ku. Aku pun menenggelamkan wajah ku di lengan tangan nya, sehingga dia sudah tertawa kegelian.


"Mas, Geli hahahaha... "


"Sini, Handphone nya!"


Aku terus berusaha merebut benda canggih itu, setelah ku dapat. Kini Chaca mendorong ku hingga aku terjatuh, untuk ke atas kasur.


"Cha!"


"Ampun dulu," Ancam nya sambil mulai bereaksi menggelitik pinggang ku.


"Cha, hahahaha"


"Chaa, hahah... "


"Ampun dulu"


Akupun menarik tangan nya, ku tindih tubuh nya dengan cepat lalu ku tempelkan wajah ku di pundak nya.


"Mas, hahaha"


"Chaa... Hahahah"


Kami terus tertawa, sampai kami kehausan dan benar-benar lelah.


Huh


Huh


Huh


Nafas kami juga jadi ngos-ngosan, seperti habis berlari mengelilingi lapangan.

__ADS_1


"Udah jangan telepon ayah, besok mas urus kuliah mu"


"Ha, ha, ha.. Kan gituh enakk, ha, ha"


Ku rasa Chaca benar-benar capek, karena dia yang paling lama tertawa.


"Mas ambilin minum. Kamu duduk dan atur nafas biar enak"


"Iya, mas. Aku haus banget"


Aku pun berjalan keluar, tepat nya berjalan menuju ke dapur untuk mengambil minum.


"Umi bahagia sekali, Suf"


Aku kaget, untung tidak ku lepaskan gelas yang sedang ku isi air ini.


"Umi? Udah pulang?"


Bukan nya menjawab, umi malah bilang "Umi bahagia, mendengar suara tawa mu. Suara itu tidak lagi umi dengar sangat lama," Umi tersenyum kepada ku.


Aku sedikit malu, ku kira tadi umi belum pulang. Tapi ternyata umi mendengar nya.


"Iya, Khalila baru pertama kali nya lo dengar suara mas Yusuf tertawa," Tiba-tiba muncul sambil cengengesan "ternyata seperti itu suara tertawa nya"


"Kenapa kamu di sini? Kok gak pulang?"


"Hahahah, untung saja Khalila pulang. Jadi bisa dengar suara tertawa Mas Yusuf, hari ini akan Khalila tandain sebagai hari bersejarah"


"Yusuf permisi dulu, Umi"


Aku lebih baik tidak menanggapi Khalila dan meninggalkan nya, aku yakin ini semua tidak akan berakhir.


"Iya," Jawab umi


"Ehh, kok malah pergi si mas."


"Udah, jangan goda Mas mu terus"


Emang ya Khalila ini, untung saja hanya Umi dan Khalila. Tapi aku yakin, besok mas Adam dan Abah juga akan tau. Bahkan Zahra yang kecil dan tak mengerti apapun itu akan di beri kabar ini.


Tapi tak mengapa, dengan begini Umi tau bahwa pernikahan kami benar-benar sudah baik-baik saja. Alhamdulillah

__ADS_1


__ADS_2