
16.
Chaca Pov
Hari ini aku sangat Bahagia sekali, menjadi seorang pengantin wanita. Berjalan beriringan bagaikan seorang tuan Puteri yang di persunting oleh Pangeran.
Dia memang tidak setampan Gus Adam, tapi aku sangat menyukai nya. Mempunyai kharisma kuat, pesona yang begitu menakjubkan, pokok nya dia berwibawa sekali.
Lihatlah, kulit nya yang berwarna kuning langsat. Memiliki netra mata berwarna coklat, bibir nya berisi berwarna merah muda, hidung mancung, rambut hitam yang selalu rapi. Sudah cukup tampan menurutku, apalagi dia tinggi. Lumayan lah memperbaiki keturunan, hehehe..
Kali ini aku bisa melihat nya senyum cukup lama sekali, biasanya mas Yusuf slalu berada di zona muka datar, senyum nya sedikit saja. Kalau begini suami ku ini lebih terlihat ramah, muka-muka galak nya tidak ada.
Tamu undangan sangat banyak sekali, entah siapa saja yang ayah undang. Tapi rupa nya bukan Tetangga, teman, kolega ayah dan teman-teman ku. Teman-teman Mas Yusuf, ustadz, kyai juga banyak yang datang. Bahagia sekali rasanya hatiku.
Aku tak menyangka bisa menjadi istri seorang Gus, semoga saja kehormatan ini menjadikan ku lebih baik, aamiin...
Lebih tiga jam acara berlangsung, kini para tamu undangan sudah banyak yang pulang. Aku juga sudah sangat capek sekali, huh.
"Kami pamit ya Cha, happy wedding. Selamat bersenang-senang"
"Terima kasih sudah mau bantu dan menemani tamu-tamu," Ucapku sambil cipika-cipiki dengan sahabat-sahabatku yang sudah membantu ku di acara wedding ku ini.
"Sama-sama,"
"Makasih ya, al"
"Sama-sama, Cha. Bahagia selalu," Setelah itu Al memeluk ku.
"Kapan kamu balik?"
"Masih lama, minggu depan kita kumpul lagi ya guys"
"Siap"
"Aku selalu siap,"
Kami ber empat kemudian berpelukan, aku memeluk mereka sangat erat. Aku tau, setelah ini semua nya tidak akan sebebas dulu. Waktu ku bersama mereka akan berkurang, sikapku juga harus ku jaga. Tidak mungkin Bar-bar seperti sebelumnya, aku harus menjaga sebuah panggilan baruku.
Setelah sahabat-sahabat ku sudah berpamitan untuk pulang, aku pun segera mengganti pakaian yang begitu sangat berat ini. Aku berjalan ke sebuah ruangan yang ada di aula ini, aku ingin segera berganti baju. Sungguh berat sekali, apalagi muka aku yang full make up. Rasanya tebal dan berat sekali muka ku ini.
"Akhirnya lega juga" Gunam ku saat keluar dari ruangan ganti.
Kita balik ke rumah ku gimana?"
Tiba-tiba saja mas Yusuf mengajak ku pulang ke rumah nya, seharusnya kan kita menginap di sini semalam.
Aku pun memandang nya sambil berjalan mendekat, lalu duduk di kursi yang tak jauh dari nya.
"Kenapa, mas?"
"Hmm, gimana ya"
__ADS_1
Ku lihat Mas Yusuf seperti bingung hendak menjelaskan, aku pun mengerti mungkin saja..
"Mas, kan aku sudah bilang. Kita pelan-pelan saja, gak harus sekarang juga. Bukan hanya mas Yusuf yang butuh waktu, aku juga."
Ekpresi Mas Yusuf tiba-tiba saja berubah, apa dia mikir yang macem-macem ya. Atau aku salah bicara.
"Mas jangan salah paham, bukan nya aku gak siap atau apa. Jika mas sudah.... "
"Iya," Mas Yusuf tiba-tiba saja memotong nya "Terima kasih sudah mengerti, kita baru saja kenal, kita butuh waktu untuk saling mengenal. Biar gini dulu saja, ya. Kamu gak apa-apa kah?"
"Iya, mas." Aku tersenyum, beberapa detik kami saling memandang. Lalu dia berbalik seperti salah tingkah. Ah, gemes nya aku.
"Kamu diam di sini, aku akan ambil makanan," Ucap nya kemudian dia buru-buru keluar dari ruangan ini.
"Mas," Panggil ku, sehingga mas Yusuf berhenti dan berbalik.
"Ada apa?"
Kembali lagi, Lagi-lagi dia menundukkan pandangan nya, Laki-laki sholeh.
"Gak ganti baju dulu? Mau pakai jas itu terus?"
"Aku ambil makanan dulu, setelah itu ganti baju," Mas Yusuf sangat terburu-buru. mungkin saja dia sangat lapar, ah biarkan saja. Hari ini aku bahagia sekali, apalagi saat ini mas Yusuf mengambil kan ku makanan. Ya walaupun kami belum dekat dan masih canggung.
Aku tak masalah untuk hal itu, lagipula aku juga belum siap untuk semua nya. Dalam hal ini, aku masih ingin menyesuaikan waktu ku. Yang mungkin saat ini kegiatan semakin banyak, dan aku juga ingin membiasakan diriku dengan kegiatan pesantren. Sedikit banyak aku juga harus menjalankan tugas layak nya istri seorang Gus.
Tak lama Mas Yusuf datang dengan dua orang pegawai hotel, dua pegawai itu mendorong sebuah meja yang penuh makanan.
"Maaf lama, tadi sebenarnya makanan sudah siap di kamar. Cuma aku ingin makan di sini, aku juga belum ganti baju"
"Iya, mas. Makan di mana pun tak masalah," Jawab ku.
Kami pun makan bersama dalam diam, aku juga tidak biasa berbicara saat makan. Sesekali ku lihat Mas Yusuf makan dengan lahap, maklum saja. Jam makan siang sudah terlewat satu jam yang lalu.
Setelah makan, kami masih diam di sini. Mas Yusuf juga sudah mengganti pakaian nya.
Tok
Tok
Tok
Ketukan pintu membuat ku mengurungkan niat untuk membuka obrolan, padahal aku ingin berbincang dengan nya.
"Ayo keluar, keluarga kita mau pamit"
Aku pun dengan segera bersiap membenarkan jilbab ku. Setelah menghadap kaca sebentar, aku pun segera menyusul mas Yusuf yang sudah keluar terlebih dahulu.
Di sana semua orang berkumpul, ku lihat Mas Yusuf berbincang dengan Mas Hasan dan Husen.
"Bunda pamit dulu, kunci mobil kamu ada di resepsionis ya."
__ADS_1
"Iya bunda, koper Ku dimana?"
"Baru saja udah di bawah ke atas, kemungkinan besok siang kamu langsung ke rumah nya Yusuf."
"Iya, Bun."
Aku tersenyum menatap wanita yang sudah mendoakan ku sehingga aku bisa berada di sini. Aku yakin karena do'a beliau lah aku sampai di titik ini.
Setelah mencium punggung tangan semua, kami pun mengantarkan keluarga besar ku ini hingga ke depan gedung. Sampai semua orang masuk ke mobil dan mobil itu pergi meninggalkan halaman Hotel.
Kini, kami berdua masih berdiri. Aku pun menatap Mas Yusuf, setelah itu mas Yusuf menatap ku datar sejenak, setelah itu suami ku ini pergi meninggalkan ku. Ah, salah tingkah lagi. Lucu sih, hehehehe...
Aku menutup mulutku, saat tak sengaja suara tawa ku mungkin terdengar oleh mas Yusuf. Beliau sampai berhenti, berbalik menatapku.
"Mas," Ucapku sambil menunduk lalu berjalan menyusul nya.
Klingg...
Kami pun masuk ke dalam lift, namun beberapa detik kami saling menatap. Aku tak mengerti kenapa mas Yusuf menatap ku.
"Kamar kita berada di lantai berapa?"
"Gak tau," Jawab ku enteng.
Mas Yusuf seperti nya kesal, lift sudah terlanjur tertutup dan kami berada di lantai tujuh. Tentu tiga orang di depan kami lah yang mengarahkan ke lantai tujuh.
Aku hanya diam, sedikit ada rasa takut saja saat melihat nya seperti itu. Tatapan nya berubah menjadi tajam, bagaikan buaya. Diam, tenang namun terlihat menakutkan.
Setelah tiga orang itu keluar, mas Yusuf memencet tombol agar kami kembali ke lantai dasar. Aku hanya diam, mengikuti nya di belakang saja. Membuntuti langkah nya.
"Maaf, mbak. Kamar atas Nama Yusuf dan Siti Aisyah"
"Sebentar ya, pak. Saya cek dulu"
Mas Yusuf kembali menatap ku, tatapan nya masih sama. Tapi aku berusaha untuk biasa-biasa saja, seolah-olah tidak peduli.
"Apakah bapak yang baru saja menikah di.. "
"Iya," Potong mas Yusuf cepat.
"Baik, pak. Kamar bapak berada di lantai paling atas. Silahkan ikuti saya, pak"
Salah satu wanita yang menjadi resepsionis itu berjalan, kami pun mengikuti nya di belakang.
"Pakai lift ini, pak. Lift khusus ke lantai paling atas. Silahkan masuk"
"Kamar nya nomor berapa mbak?"
"Hanya ada satu kamar di sana, pak."
Aku kok jadi deg deg an ya, bukan karena takut. Bersama Mas Yusuf di kamar yang sudah di hias indah, kamar penuh bunga di mana-mana. Canggung sekali rasanya...
__ADS_1
Bersambung...