
Bab 46
Akhirnya aku lega setelah memasuki sebuah kamar yang terletak di lantai seratus tiga puluh tujuh. Aku yakin biaya menginap selama lima hari di sini sangat Fantastis, sungguh aku tidak enak dengan Kakak ipar ku itu.
Bahkan tadi aku iseng bertanya kepada resepsionis, kamar di atas lantai seratus tiga puluh tujuh sudah penuh. Wow, banyak sekali orang yang chek in hotel termahal di dunia ini.
"Hari ini kita istirahat ya, sayang. Besok pagi baru kita jalan-jalan, kamu bisa rencanain mau kemana saja"
"Makasih ya, mas"
Chaca memelukku, setelah berdebatan panjang. Finally, dia setuju untuk menunda minum obat herbal karena ia ingin jalan-jalan sesuai catatan yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari.
"Mas, foto. Kita kirim ke kak Ridwan biar senang"
"Hemm, sebentar. Mas pakai ini dulu," Aku pun meraih jaket parasit hitam.
Setelah aku gunakan, kami foto bersama di atas kasur yang penuh dengan kelopak bunga. Ada juga handuk yang sudah di hias. Kami juga membuat vidio, dimana vidio tersebut menunjukan jalan ke kamar mandi yang penuh dengan bunga.
Ini hanya untuk di kirim ke Ridwan, Laki-laki seumuran ku yang menghadiahkan semua ini. Aku oke-oke saja, itu tidak masalah. Lagipula tidak ada usur dewasa yang kami perlihatkan, kami hanya foto dan vidio dengan gaya yang formal-formal saja.
"Mas, yuk mandi bareng"
__ADS_1
Aku tersenyum, ini pertama kalinya Chaca mengajakku ke ranah delapan belas plus.
"Gak mau," Tolak ku, tentu aku tidak serius dengan ucapan ku.
"Ya sudah kalau gak mau"
"Ehhh, mau. Yuk," Aku langsung menggandeng tangan nya untuk masuk ke kamar mandi. Ku kira dia nanti akan memaksaku saat aku menolak nya, tapi ternyata salah, wkwkw..
Kami berendam, sangat lama. Hingga waktu sholat asar tiba. Di dalam kamar mandi kami bergurau, dan Chaca juga bercerita banyak hal kepadaku. Dan jujur saja, cerita Chaca ini membuatku semakin mencintai nya.
"Terus ya mas, aku itu heran sama Mas. Cuek banget"
"Tapi ke cuek an mas itu yang bikin aku cinta, heheheh"
Aku tersenyum menatap nya, memang kadang menyebalkan tapi kadang juga bikin gemas gini.
"Kalau mas gimana?"
"Gimana apa nya?"
"Ya ke aku, emang mas cinta nya sama aku kapan?"
__ADS_1
"Udah ah, jangan bahas itu. Sekarang mas cinta banget sama kamu, gak mau jauh, gak mau di tinggalin sama kamu, intinya mau terus sama kamu"
"Gombal," Dia mencubit ku
"Gak gombal sayang, ngapain juga gombal. Ini fakta nya"
"Yasudah, berjanji jangan marah-marah sama aku"
"Gak mau janji, kalau nakal ya mas Marah"
"Katanya sayang, tapi suka marah-marah"
"Kan kamu suka sekali mancing perkara, Cha. Ya mas Marah"
Dia menatapku, lalu tersenyum alias cengengesan. Setelah itu aku langsung mengajak nya untuk segera mandi, sudah sore dan takut waktu asar keburu habis.
Hari ini kami benar-benar ada di kamar, tidak kemana-mana. Bahkan makan pun kita minta di antar ke kamar.
Aku seperti gak enak gitu aja keluar kamar, sedangkan Chaca sudah mengomel kesana kemari. Ia tak sabar ingin jalan-jalan, beberapa nama tempat sering sekali dia sebutin.
Aku tak begitu menanggapi, bukan cuek atau tak mendengar kan nya. Aku cuma malas saja, aku tak capek dan tak biasanya seperti ini. Entahlah...
__ADS_1