
Chaca Pov
Mata lebam ku menatap laki-laki yang membuat ku menangis semalaman ini, ya walaupun sebenarnya aku rindu dengan nya ingin peluk.
"Assalamu'alaikum," ucap nya tanpa merasa bersalah sedikit pun
"waalaikumsalam," jawab ku ketus lalu aku berlalu melewatinya karena aku hendak keluar untuk ke kamar mandi.
Tapi...
"Mana kunci nya?" Kesal ku, setelah ku tau kunci sudah dia kunci dan kunci nya pun ia cabut. Mas Yusuf pun berbalik, dia menatapku sambil tersenyum.
"Sini peluk dulu, mas kangen banget sama kamu, Cha"
Aku langsung menangis, Bisa-bisa nya mas Yusuf tidak merasa bersalah.
"Ngapain ke sini? Udah sama pulang!"
Di luar dugaan ku, mas Yusuf langsung mengangkat ku dan meletakkan nya di pundak nya. Persis dengan adegan penculik anak-anak di sinetron.
Setelah itu mas Yusuf meletakkan ku di atas kasur sedikit kasar, lalu menindih ku.
"Maaf, maafin mas"
"Enggak"
"Terima kasih sayang, sudah maafin mas"
"Aku gak maafin!"
"Iya, nanti mas belanja in deh. Gak apa-apa"
"LEPASIN! AKU BENCI SAMA KAMU!!!!!!!"
Aku teriak sekuat tenaga ku, aku yakin suara ku ini sampai ke tetangga seberang rumah. Aku tak peduli, biar kan saja.
Ajaib nya, mas Yusuf malah membungkam bibirku dengan ciuman. Biasanya dia akan marah kalau aku meneriaki nya, apalagi sepanjang sejarah ini adalah teriakan ku paling lantang.
Kembali ke ciuman, aku terus memberontak. Berusaha melepaskan ciuman dan kungkungan nya. Namun sial nya tenaga mas Yusuf sangat kuat, semakin aku memberontak semakin sakit tangan ku yang mas Yusuf tekan.
"Hiks, hiks hiks" Aku nyerah aku hanya bisa menangis, perlahan cengkraman mas Yusuf juga merenggang saat aku tak lagi memberontak.
"Sayang, udah jangan marah. Maafin mas ya," Ucap nya setelah melepaskan ciuman nya.
Aku masih diam di bawahnya, aku tidak mampu berkata apapun, hanya menangis yang bisa aku lakukan saat ini.
"Maafin mas, sayang. Mas janji gak akan gini lagi, ini yang pertama dan terakhir"
"Mas bohong, mas ngapain gak kesini? Udah tau aku habis keguguran, butuh mas tapi mas malah pergi!"
"Maafin, mas. Kamu boleh hukum mas apa saja? Kamu minta apa mas turutin, mas janji"
Entah mengapa saat ini rasa rindu ku menjadi pemenang nya, aku sangat rindu dengan mas Yusuf seperti berbulan-bulan tidak bertemu.
Mas Yusuf lalu bangkit dari atas tubuh ku, aku pun juga di bangunkan agar duduk seperti nya. Setelah sama-sama duduk, kami saling menatap, mas Yusuf tersenyum kepadaku, tampan sekali suami ku ini, membuat ku langsung memeluk nya, mas Yusuf juga langsung membalas pelukan ku dan menciumi puncak kepala ku.
"Mas kangen banget sama kamu, Cha. Udah belum nifas nya?"
Aku langsung mendorong nya, setelah itu menatap tajam mas Yusuf "kok ujung-ujungnya itu sih! Mas Yusuf baikin Chaca karena mau itu ya!"
"Enggak sayang," Mas Yusuf menarik ku agar masuk kedalam pelukan nya "Sini udah diam, mas pengen peluk gini saja"
__ADS_1
Dasar laki-laki!
***
Pov Yusuf
Setelah memeluk Chaca hingga Chaca tertidur, aku pun keluar dari kamar dan turun ke lantai dasar.
Di ruang tengah, ku lihat ayah mertua dan Ridwan duduk main game. Aku pun ikut bergabung di sana, sekalian ingin menyampaikan bahwa sudah berhasil.
"Alhamdulillah kalau seperti itu"
"Tapi belum di coba, Yah. Mudah-mudahan Yusuf bisa tidur lagi nanti malam"
"Terus kapan ajak Chaca pulang?"
"Seminggu lagi saja, Yah"
"Kerja kamu gimana?"
"Gak apa-apa, hanya nambah perjalanan tiga puluh menit. Tidak masalah itu"
"Udah di lakukan semua syarat nya?"
"Belum, Chaca masih keadaan Nifas"
"Gak apa-apa, yang penting kamu gak ketemu Nabila dulu sebelum semua syarat nya di lakukan"
Aku menangguk, semoga saja Chaca cepat selesai Nifas nya. Syarat terpenuhi dan rasa rindu ku juga bisa ku salurkan, hehehe..
Setelah berbincang dengan Ayah dan Ridwan, aku kembali ke kamar untuk membangun kan Chaca, pasalnya dia belum juga makan. Bunda sampai khawatir.
"Mandi dulu," Titah ku
"Mandi dulu, mas akan pesan kan lewat ojek online"
"Gak mau," Jawabnya langsung "mau makan di tempat nya"
"Ya sudah, ayo cepat mandi dan siap-siap"
Dengan segera wanita yang membuat ku jatuh cinta ini bangkit dan keluar kamar, tak lama dia kembali. Seperti nya dia tidak mandi, tapi aku tak mau mengkomplain nya, tak apa terserah bagaimana Chaca.
"Mas, mata ku masih bengkak"
"Pakai kacamata," Aku berjalan menghampiri nya, lalu membuka sebuah laci yang ada di dekat siku nya. "Pakai ini," Aku menyodorkan kacamata yang tak terlalu besar kepada nya.
"Kalau pakai ini tetap kelihatan, mas"
"Masa mau pakai kacamata hitam sih, Cha. Nanti dikira nya apaan"
Seperti biasa dia langsung cemberut.
"Gak jadi pergi deh!"
Tuh kan!
"Aku mau makan di dapur saja!"
"Huh," Aku membuang nafasku kasar, entah lah aku tidak tau. Tapi yasudah kalau memang mau makan di dapur, yang terpenting makan, makan apapun tak masalah, hehehe...
Karena tak ada apapun yang aku lakukan, pekerjaan masalah kampus juga sudah tak selesaikan kemarin. Aku memutuskan untuk menyusul Chaca, lega saja saat dia benar-benar makan walaupun saat aku melewati dapur, aku mendapatkan lirikan tajam nya.
__ADS_1
"Suf," Panggil Ayah mertua ku, aku pun segera menghampiri beliau dan mengurungkan niat ku untuk menghampiri Chaca.
"Nanti habis maghrib isi pengajian di masjid ya, kebetulan yang biasa ngisi lagi sakit"
"Yusuf gak bawa kitap Yah, mau ngisi apa nanti" Aku berusaha menolak nya.
"Itu kitap nya ada, sebentar Ayah ambilkan"
Tak lama ayah kembali sambil membawa sebuah kitap, lalu menyerahkan nya kepada ku "Itu lanjutan minggu kemarin, kamu pelajari saja. Kasian kalau libur, yang datang pasti kecewa"
"Iya, suf. Bunda yakin kamu bisa, mustahil kalau Yusuf gak bisa," Ucap Bunda sambil meletakkan kopi di hadapan ku.
"Iya, Bun," Jawab ku yang semakin tidak bisa menolak semua ini.
Dan akhirnya aku jadi tukang ceramah, sama seperti Mas Adam dan Abah. Atau ini karma, karena aku sering mengolok mas Adam sebagai Tukang Ceramah.
"Bunda sama Abah pergi dulu ya, kamu jangan lupa makan suf," Ucap Bunda yang sekarang sudah rapi sambil membawa tas.
"Bunda mau kemana?" Tanya Chaca yang baru datang dari dapur.
"Nanti kan ada pengajian di Masjid, ayah sama bunda mau ambil pesanan kue untuk di bagikan sama jamaah masjid"
"Chaca ikuttt!" Rengek Chaca, aku pun menatap nya. Namun yang ku tatap malah tak menghiraukan ku.
"Issh, ada suami mu kok ikut. Udah ah bunda berangkat dulu, assalamu'alaikum!"
"Waalaikumsalam," Jawab ku.
"Chaaa," Panggil ku saat Chaca berlalu pergi meninggalkan ruang tengah.
"Hemmm," Jawab nya malas.
"Kalau di panggil suami itu harus apa?"
Dengan menghentak langkah nya, Chaca menghampiri ku. Aku pun langsung menarik tangan nya agar duduk di samping ku.
"Jangan manyun, jelek ah"
Bibir itu semakin manyun, sungguh istriku ini sangat menghibur ku.
Cup..
Chaca semakin kesal saat aku mencium pipi nya, tentu itu membuat ku sangat ingin mencium nya lagi. Karena gemas, aku pun menarik nya. Lalu ku tarik dagu nya dan ku lahap saja bibir manyun itu. Chaca tak menolak, ya begitulah wanita dia sebenarnya mau tapi....
"Ekhem, kenapa gak di kamar sih!"
Astaghfirullah, rasanya aku ingin hilang dari bumi ini. Bisa-bisa nya aku lupa kalau masih ada Ridwan di sini, ahhh.. Malu nya aku.
"Ya sudah lanjutkan di mana saja, aku mau pergi dulu. Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
Setelah kepergian Ridwan, jangan tanya lagi. Sekarang Chaca mencubiti ku sambil mengomel.
"Mas Yusuf!"
"Ya gimana, udah terlanjur Cha"
Chaca membenamkan wajah nya ke dadaku, dia masih malu, aku sebenarnya juga malu tapi gak selebay Chaca.
"Udah ah, mas mau baca kitab. Jangan gini Cha"
__ADS_1
"Biarin, biarin mas susah baca kitab nya!"
Sesuai dengan dugaan ku, semakin di larang Chaca akan semakin melakukan nya. Lumayan lah, baca kitab sambil di peluk istri, hehehe... Yang jomblo sabar dulu yeee...