
19.
"Assalamu'alaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Ekspresi yang aku tangkap dari semua orang adalah kaget, entah kenapa.
"Kok pulang?" Tanya umi di saat kami masih mencium punggung tangan nya. "Bukan nya nanti sore? Ini aja rumah belum di bersihkan" Sambung nya
"Gak apa-apa, umi. Pengen cepat pulang saja," Jawabku singkat "Yusuf mau langsung ke kamar, mau bersiap ke yayasan"
"Ngapain?"
"Kerja, umi. Banyak sekali kerjaan yang Korat karit"
Umi seperti nya tidak suka dengan apa yang aku lakukan saat ini, yaa Allah ampuni aku jika ini menyakiti hati nya.
"Cha, kok seperti nya pucet?"
Aku langsung menoleh melihat nya, saat mbak Rifa mengatakan bahwa dia pucat.
"Sakit?" Tanya ku langsung, dan dia langsung mengangguk. Namun entah mengapa tiba-tiba saja suasana seperti canggung, dan beberapa detik kemudian aku menyadari sesuatu. Apalagi Umi dan Mbak Rifa saling menatap dan tersenyum, aku tau apa yang beliau pikiran.
"Ayo istirahat saja, sayang. Yusuf temani Chaca dulu"
Aku pun membawa nya masuk ke kamar ku, lalu aku membuka tas nya untuk mencari obat nya.
"Lisa, tolong hancurkan obat ini. Sama tolong ambilkan air putih dan air hangat ya"
"Engge, gus"
Aku kembali masuk ke kamar, aku mengeluarkan semua baju-baju kotor. Aku tak mau kamar ku berantakan, untuk saat ini aku tidak bisa mengandalkan nya.
Tok
Tok
Tok
Aku segera membuka pintu, itu pasti Lisa. Dia yang selalu membantu umi di rumah.
"Terima kasih," Ucap ku setelah mengambil alih nampan nya dari tangan nya.
"Engge, gus. Sama-sama"
Aku lalu menutup kembali pintu kamar ku, setelah itu aku segera menyiapkan obat nya di atas sendok untuk segera bisa dia minum.
"Ke dokter saja, bagaimana?"
"Gak usah, mas. Biasanya juga tiga hari an seperti ini, nanti sembuh"
Aku pun tak keluar dari kamar, walaupun sebenarnya aku ingin sekali pergi dari sini. Namun aku menunggu nya tertidur, agar aku juga tenang saat pergi ke yayasan.
Aku tidak tau apa yang terjadi kepada ku, memang terkadang aku jengkel kepadanya, bahkan benci. Tapi bagaimana pun aku tetap harus bertanggung jawab, sebisa mungkin menjalani peran suami yang baik untuk nya, walaupun aku belum bisa memberikan Nafkah batin kepada nya.
Aku tak bisa mengandalkan siapapun untuk urusan ini, aku tak mau semua orang mengetahui suasana rumah tangga ku. Untuk itu aku harus merawat nya, jika aku acuh. Umi akan mengetahui semua nya, aku gak mau umi tau. Aku takut mengecewakan nya, karena dia adalah pilihan umi untuk ku.
"Umi, nitip Chaca. Yusuf mau ke yayasan, kemungkinan baru selesai sore hari"
__ADS_1
"Gak akan hilang Chaca nya, Suf" Goda mbak Rifa.
Aku tersenyum menanggapi nya.
"Yasudah, nanti ba'da Asar usahakan ada di rumah ya. Mertua mu akan datang ke sini," Ucap umi
"Engge, umi"
Aku pun mencium punggung tangan nya, lalu aku langsung pergi dari rumah ini. Di halaman rumah, Faisal sudah menunggu. Memang dia si paling gercep kalau di suruh jemput aku.
"Langsung atau kita beli es degan dulu, gus?"
"Boleh beli es degan dulu"
"Berangkat," Ucap nya dengan nada yang sama persis dengan tukan ojek yang ada di sinetron.
Setelah membeli dua bungkus es degan, kami menuju ke kantor yayasan. Kebetulan sekali aku menjadi ketua Yayasan bagian pendidikan, sedangkan mas Adam akan menggantikan abah memimpin pesantren ini.
"Gus, ini beberapa ada data santri dan santriwati yang berprestasi"
"Sudah di bedakan mana yang dari keluarga mampu sama yang tidak mampu?"
"Sudah, Gus."
Aku pun membuka map plastik berwarna merah tersebut, lalu mulai ku baca satu-persatu nama-nama nya.
"Gus, di mana ning Chaca?"
"Ada di rumah, tidur"
"Kok tidur? Kenapa?"
"Sakit," Jawabku ketus dengan mata terus fokus menatap lembaran yang ada di tangan ku.
Plak!
Aku langsung mengibaskan map yang aku pegang ke lengan nya, sehingga otomatis bibir nya langsung bungkam.
"Maaf, gus. Hehehe... "
"Kebiasaan selalu tertawa keras!"
"Ya gimana lagi, gus. Anu sih," Jawab nya masih cengengesan.
Aku langsung terdiam, aku tau Faisal menertawakan sesuatu. Ku ingat-ingat lagi percakapan ku sebelum nya, dan...
"Eh jangan mikir aneh-aneh, dia sakit perut!"
"Iya, gus. Emang sampean pikir aku ngira nya sakit apa?"
Sungguh aku selalu mati gaya jika dalam masalah ini.
"Aku mau print soal tes nya," Aku langsung pergi, benar-benar pusing aku jika terus bersama Faisal.
"Sini tak print kan, gus. Pasti sampean juga capek kan?"
Aku langsung menatap nya tajam.
"Kan bener toh, gus. Panjenengan niki capek gara-gara semalaman bikin soal tes"
__ADS_1
Faisal lalu mengambil sebuah flashdisk di tangan ku, tak lupa bibir nya terus tersenyum seraya mengejekku. Untung saja Mas Adam tidak ada di sini, kalau ada bisa-bisa aku akan di goda habis-habisan oleh mereka.
Setelah sholat dhuhur, aku pun kembali pulang. Ku lihat dia masih tertidur, aku pun membiarkan nya dan melarang umi untuk membangunkan nya. Entah dia sakit apa, daripada dia terbangun nanti sakit nya kambuh, aku jadi tidak bisa kemana-mana.
Kini aku memilih untuk berjalan ke kantor Yayasan, saat melewati sekolah tsanawiyah, Aku berharap bertemu dengan Nabila. Tetapi sayang nya aku tak bertemu dengan nya, bahkan sampai aku selesai rapat aku tetap tidak bertemu dengan nya. Hingga akhirnya aku menemukan jawaban nya.
"Kenapa Zahra menangis, umi?"
"Nyariin ibu nya, tadi di tinggal waktu dia tidur"
"Mamang nya kemana Mbak Rifa?"
"Lagi jenguk Nabila, dari kemarin opname"
Deg
Deg
Deg
Jantung ku langsung berpacu mendengar kabar ini.
"Oh, iya. Chaca udah bangun, ajak dia makan dulu, Suf. Sekalian bersiap, bunda sama ayah nya mau ke sini"
"Engge, umi. Apa Chaca gak keluar kamar sama sekali?"
"Baru saja selesai mandi sama sholat kayak nya, umi suruh istirahat tadi. Katanya sakit kan?" Umi menekan kata-kata terakhir nya sambil menatap ku tak biasanya, aku pun sudah tau apa sebenarnya maksud umi.
"Ya sudah, Yusuf ke kamar dulu"
Beberapa detik tadi aku sempat tercengang, karena mati gaya dan kata. Aku pun langsung saja berpamitan, walaupun umi pasti tau kalau aku sedang salah tingkah.
"Astaghfirullah," Aku langsung keluar dari kamar ku, ku tutup lagi pintu itu, lalu ku pegang dada ku yang kembali berdebar. Kali ini aku berdebar seolah kaget saat melihat nya sedang berganti baju.
Tak lama dia membuka pintu sambil berseru "Mas ngagetin saja!"
"Lain kali di kunci kamar nya"
"Lah kenapa di kunci mas, kalaupun lihat juga gak dosa kan?"
Deg, lalu aku sekarang harus menjawab apa? Aku pun berlalu, mendekat ke arah lemari untuk berpura-pura mencari sesuatu.
"Mas? Kok gak di jawab?" Desak nya yang membuatku semakin bingung saja.
"Aku masih belum biasa, maaf"
Entah belajar dari siapa, kini aku pandai sekali berbohong. Bukan hanya pandai, aku juga sangat enteng sekali saat berbohong, seperti tidak sedang melakukan dosa.
"Iya, aku ngerti kok." Dia tersenyum menatap ku.
"Kamu udah gak sakit?" Tanya ku mengalihkan pembicaraan
"Enggak, mas"
Dia masih saja tersenyum di hadapan ku, aku pun kini tak tau lagi harus bagaimana. Apa lagi yang harus aku tanyakan kepada nya agar suasana ini berubah.
"Mas," Dia membuncang tubuh ku "kok bengong sih? Kenapa?"
Aku pun yang tersadar langsung menjawab "gak apa-apa, kamu udah di tunggu umi. Bantuin Umi siapin hidangan untuk Ayah dan Bunda"
__ADS_1
Dia lalu mengangguk, tak lupa ia memberikan senyuman nya kepada ku sebelum pergi dari kamar.
"Yaa Allah," Aku terasa lemah duduk di tepi kasur, entah kenapa setelah dia pergi aku menjadi lega, seperti meletakkan kembali beban yang aku bawa.