
Bab 37
Ku kecup kening nya berkali-kali, ini bukan karena Chaca sudah memberiku sebuah rasa yang sangat luar biasa, bukan pula karena dia sudah membuat ku mabuk kepayang. Tidak.
"Mas," Dia membenamkan wajah malu nya di dadaku, sungguh tindakan nya ini membuat ku gemas sekali.
"Jangan malu"
"Gak mau!"
Chaca semakin memelukku dengan erat, akupun membalas pelukan nya. Beberapa jam yang lalu dia sudah membuatku mengerti akan arti cinta yang sebenarnya dan bagaimana sebuah rasa sayang yang sesungguh nya.
Mungkin ini yang Kyai Hasyim maksud, jika aku sudah menggagahi nya maka aku bisa mengerti tentang satu hubungan.
"Wudhu yuk," Ajak ku
"Aku capek, mas. Aku mau tidur, ini sudah jam dua"
"Kalau gak mau langsung junub, setidak nya wudhu dulu, Cha"
"Mas udah bilang itu berkali-kali kan, tapi bukti nya sampai jam dua"
"Udah, enggak lagi. Wudhu dulu yuk," Aku pun beranjak, meraih sarung ku yang tersonggok di lantai. Padahal aku tadi meletakkan nya di kasur, entah bagaimana cerita nya sarung itu ada di lantai.
"Mas," Panggil Chaca manja, sejak beberapa jam yang lalu aku menyukai kemanjaan nya ini.
"Sakit?"
Dia langsung mengangguk manja.
"Gendong lagi?"
"Enggak ah, nanti kalau tiba-tiba berpapasan dengan kak Ridwan kan jadi malu. Biasanya jam segini dia baru masuk ke kamar nya"
Ya benar, aku pernah berpapasan dengan Ridwan jam-jam segini. Setelah memakai sarung asal, aku menghampiri nya, lalu duduk di sebelah nya.
"Mas Yusuf!"
"Hahaha," Aku suka sekali kalau dia marah begini, menjadi hiburan dan membuatku ingin terus menggoda nya.
"Kenapa malu? Tadi aku juga..." Belum selesai dia langsung membungkam mulut ku dengan tangan kecil nya itu. Dia memang langsung malu saat aku mengatakan hal-hal dewasa, mungkin karena ini masih awal dan dia juga masih kecil.
__ADS_1
"Gantian ke kamar mandi nya, aku sungguh tak percaya dengan mas Yusuf!" Dia melepaskan bungkaman tangannya di bibir ku, setelah itu dia memakai daster polkadot dongker di depan ku dengan cepat dan terburu-buru
"Baiklah," Aku pun merebahkan diri ku di kasur. Ku perhatikan cara jalan nya, ya memang agak berbeda. Mungkin ini yang nama nya pengantin baru, hehehe. Yang berpengalaman pasti akan tau jika melihat jalan chaca yang sedikit mengangkang dan jalannya terkesan kaku seperti sedang menghampit sesuatu di kaki nya.
Setelah gadis kecil itu keluar dari kamar, aku memandang langit-langit kamar dengan kedua tangan ku jadikan bantal.
Sekilas kejadian beberapa jam lalu teringat, dia berubah menjadi wanita pemalu, seperti tipeku, wanita yang slalu aku mimpikan untuk menjadi istriku, bukan nabila ya.
Begitu indah, walaupun awalnya dia mwnyambutku dengan wajah cemberut, diam dan tak berbicara apapun saat ku tanya. Tapi cukup di bilang pasrah saat aku memulai menyentuh nya. Hingga akhirnya bibir yang mengerucut itu hilang. Awalnya bibir itu basah oleh ku, lalu dia mengigit bibir nya karena kesakitan hingga sempat air mata nya jatuh, tapi tak lama dia mengigit bibir nya bukan karena kesakitan, namun karena menahan suara yang ingin keluar dari mulut nya, hingga terakhir nya bibir itu memanggil nama ku dengan suara khas yang berhasil membuat darahku berdesir hebat.
Dia benar-benar masih suci, walaupun aku tidak punya pengalaman apapun dan ini adalah yang pertama juga bagiku. Tapi aku mengerti bagaimana seorang perawan itu. Bukan hanya darah yang menetes saat aku berhasil memasuki nya, jalan nya juga seperti buntu, susah sekali masuk sampai punya ku terasa sakit.
Setelah menyelesaikan yang pertama, kami diam canggung. Aku pandangi wajah nya tapi tak lama dia menyembunyikan wajah nya di dadaku malu-malu. Dari sinilah kami mulai banyak bicara, bercanda, bermanja walaupun sempat dia marah kepadaku karena aku hilang kendali.
Malam ini begitu lucu, indah dan menyenangkan. Dan aku memutuskan untuk meninggalkan Nabila, aku bersumpah akan menjadi suami Chaca. Aku tak mau jauh dari nya, aku ingin selalu bersama nya, aku tak mau kehilangan dirinya.
"Mas Yusuf!"
"Auhhh," Keluh ku sambil mengelus paha ku yang terasa panas. "Sakit, sayang"
Ya, aku memanggil nya sayang. Itu terjadi saat aku dan dia berada di bawah selimut indah.
Aku menarik nya, hingga gadis kecil ini jatuh di atasku.
"Aku memikirkan cewek, yang sejak tadi membuat ku mabuk kepayang"
"Mas yusuf," Dia langsung beranjak, lalu berbalik. Dengan lampu yang terang ini aku bisa melihat jelas wajah nya yang malu.
"Lepasin,Mas!"
"..."
Belum juga aku menjawab dia sudah berbicara lagi "gak boleh nolak suami," Dia berbicara mengikuti nada bicaraku, menyebalkan memang, tapi sangat lucu.
"Hahahah," Aku semakin memeluk nya erat, lalu ku angkat dan ku bawa ke kasur.
"Tidurlah, kalau mas kembali dari kamar mandi belum tidur, kita..."
"Ini aku tidur," Dia langsung menarik selimut nya, lalu memejamkan mata nya sambil cepat membelakangi ku.
"Auhhh," Keluh nya
__ADS_1
"Udah bilang yang anteng, Cha!"
"Mas sih ngancem aku"
"Udah diam, yang anteng jangan banyak gerak!" Aku menatap nya tajam, chaca pun tersingkuk takut
"Udah tidur," Aku mengelus kepala nya "mas ke kamar mandi dulu"
Dia mengangguk manja, akupun langsung mengecup kening nya. Kalau nurut gini aku ingin sekali memeluk nya, haduhhh...
Di kamar mandi aku duduk di closed memikirkan istriku, sungguh aku gemas dengan nya, kadang galak kayak singa, kadang juga lucu, lugu dan kadang juga menyebalkan. Aku saja yang bodoh tidak menyadari nya, bahwa aku mempunyai istri yang begitu menyenangkan.
Setelah wudhu, aku kembali ke kamar. Sebenar nya aku ingin langsung junub, namun waktu subuh masih lama dan jika ingin tahajud pun tidak bisa karena aku belum tidur sejak tadi.
Akhirnya aku memilih untuk ikut tidur, aku sangat lelah sekali, tenaga ku rasa nya habis, hehehe...
Suara Adzan di Handphone ku membuat ku terbangun, aku kesiangan. Dengan segera aku beranjak ke kamar mandi, namun langkahku terurungkan, aku kembali naik ke kasur dan mendekati istriku yang seperti nya masih nyenyak tidur.
"Cha," Bisikku, lalu ku ciumi pipi nya hingga dia terganggu
"Mas Yusuf!"
"Bangun, sudah subuh"
"Biarkan aku tidak sholat subuh, mas. Badanku capek semua, ngantuk juga"
Aku pun membuka selimut nya, lalu aku iseng menyingkap rok nya. Otomatis dia langsung membuka mata nya bahkan melototiku.
"Alhamdulillah, udah bangun. Yuk mandi bareng, sunnah lo junub bareng"
"Mas Yusuf, tau aah, pokok nya aku sebal sama mas Yusuf"
Dia langsung berdiri, berjalan dengan aneh keluar kamar. Akupun mengikuti nya, tapi saat berada di depan pintu kamar mandi, dia mendorong dada ku agar menjauhi nya.
"Mas Yusuf!"
"Jangan teriak, cha. Nanti Bunda dengar!"
Dia langsung menutup mulut nya rapat-rapat, setelah itu aku paksa agar aku juga bisa masuk ke kamar mandi. Cukup lama di kamar mandi dia manyun tidak mau mandi bersama ku, tapi tetap dia tidak bisa menolak ku.
Kini aku sedang duduk di dalam bathup bersama nya, chaca terus mengomel, tapi aku tidak peduli. Aku memeluk nya dari belakang, aku ingin menikmati semua ini. Aku yakin semua ini tidak datang ke dua kalinya, rasa pengantin baru ini tidak akan muncul lagi nanti. Untuk itu aku tak mau melewati ini semua.
__ADS_1