Positif

Positif
Bab 14


__ADS_3

14.


Dua jam sudah aku menjalani proses foto praweding.


Tema foto nya cukup menyimpang dari karakter ku, yaitu foto ala-ala mafia. Berpakaian semi formal dengan warna kombinasi hitam, lengkap dengan aksesoris pistol dan lain nya.


Pose ku sangat kaku, dan aku tidak tau bagaimana menampakkan ekspresi yang di minta oleh fotografer.


"Ekpresi marah, gus. Tapi alis nya jangan nyatu, atau menatap orang dengan penuh amarah"


Sejenak aku menatap istri ku yang kini berada di dekatku, setelah aku menatap nya dengan penuh amarah, rizal berteriak "Nah, bagus, begitu ekpresi nya. Silahkan lihat ke sini gus," Dia menuding sebuah arah, dan aku pun mengikuti arah tersebut.


"Tahan ekpresi nya ya, gus"


Cekrek


Cekrek


Cekrek...


Cukup lelah sekali, ku kira menjalani pemotretan seperti ini tidaklah capek. Tapi nyatanya tidak.


Bagai surga dan neraka, tema foto yang ke dua sesuai dengan gaya ku sehari-hari. Memakai Jas dan dia memakai gaun mewah senada dengan ku.


"Gus, aku kasih bonus foto sekali lagi. Buat tema Ramadhan bulan depan"


"Waa, apa mas?" Ucap nya antusias sekali.


"Pakai sarung seperti mau sholat, dan ning Chaca pakai mukena. Mau gak?"


"Mau," Jawab nya sambil menatap ku


"Baiklah, ferli cepat ambilkan"


"Tapi aku pakai sarung sama baju koko ku sendiri saja, tadi aku tak sengaja membeli baru"


"Ohh, boleh sekali Gus"


Sungguh aku tak mau memakai baju orang lain. Untung saja aku tadi membeli sarung dan baju koko, setidak nya bisa ku pakai sekarang.


Setelah ku pakai, kami pun berfoto seolah-olah sedang melaksanakan sholat berjamaah. Setelah itu kami berdoa bersama dan beberapa pose sedikit mesra.


Ya benar-benar foto praweding surga dan Neraka.


"Kita langsung pulang atau mau kemana lagi?" Tanya ku, untuk memastikan nya


"Kita mampir ke minimarket sebentar ya, mas. Nanti ada sahabat-sahabatku nginep di rumah"


Aku menuruti nya saja, terserah apa saja yang mau ia lakukan.


"Jangan Lama-lama, udah jam empat belum sholat"


"Siap, mas"


Dan benar saja, dia sungguh sangat cepat sekali. Tak sampai aku bosan menunggu nya, dia sudah kembali masuk ke dalam mobil dengan membawa dua kantong kresek besar.


Setelah dari minimarket, kami langsung pulang. Di rumah sudah banyak orang kembali, dan yang membuatku kaget di sana sudah ada Kyai Hasyim sekeluarga berkumpul di sana.


"Ini dia yang di tunggu-tunggu," Ucap Kyai Hasyim saat aku mencium punggung tangan nya.


"Saya tinggal sholat ashar dulu, Kyai. Sebentar"


"Baiklah, aku juga baru sampai. Santai saja," Beliau menepuk pundak ku. Aku pun mundur untuk menjauh dari beliau, setelah itu aku bergegas naik ke lantai dua untuk segera bersiap sholat Ashar.


***


Kini aku berdiri di shaf imam, aku di tunjuk menjadi imam sholat maghrib di masjid sekitaran rumah mertua ku.

__ADS_1


Sebenarnya aku sudah biasa, namun kini ada Kyai Hasyim yang juga ikut sholat, dan menjadi makmum.


Setelah ku rampungkan tiga rokaat sholat wajib ini, kami berdzikir dan berdoa bersama. Cukup lama, hingga kini kami duduk bersama dengan takmir masjid sini.


"Suatu kebanggaan bagi kami bisa duduk bersama panjenengan, pak kyai"


"Alhamdulillah, awal nya Gus Yusuf sekarang panjenengan"


"Alhamdulillah, saya juga bisa berjumpa dengan saudara muslim yang taat"


"Aamiin," Jawab beberapa orang.


Obralan kami terus berlanjut, hingga sampai Adzan Isya berkumandang. Kali ini Kyai Hasyim sendiri yang menjadi imam sholat, seperti biasanya, setelah berzikir dan berdoa kami saling bersalaman. Setelah itu kami pulang dengan berjalan kaki.


"Anak-anak ku pasti udah datang sekarang,Mil"


"Engge, Kyai. Mudah-mudahan sudah ada di rumah semua,"


Aku cukup bingung, kenapa juga seluruh keluarga Kyai Hasyim datang. Mungkin saja keluarga mertua ku ini juga dekat dengan keluarga Kyai Hasyim, seperti halnya dengan keluarga ku.


"Adik ipar, Chaca gak ngelawan kan sama kamu?" Tanya Ridwan


"Sejauh ini enggak sih, biasa saja"


Aku terpaksa berbohong, bagaimana pun juga dia istriku dan yang paling penting, aku harus menutupi rapat masalah keluarga ku.


"Dia emang anak nya agak ngeyel, tapi nurut sih. Kalau ngeyel biasanya dia lagi badmood atau lagi marah"


"Tapi dia sering gak nurut kalau dulu masalah main sama temen-temen nya kan, kakak ipar?"


"Kalau masalah itu sih aku tau alasannya, kata dia mau di habiskan masa-masa sekolah dia dengan bersenang-senang. Emang ada perjanjian juga sama Ayah"


"Perjanjian apa?" Tanya ku yang sangat kepo sekali.


"Dia gak mau mondok, mau sekolah SMA Negeri. Ya akhirnya Ayah bilang kalau Chaca gak boleh pacaran dan setelah lulus SMA Nikah sama pilihan Ayah, akhirnya ya gitu dia setuju"


Sudahlah, aku tak mau memikirkan dia. Bisa-bisa aku semakin kurus di buatnya.


Sesampainya di rumah, ruang keluarga yang luas sudah di sulap menjadi tempat makan dengan gaya lesehan. Bahkan hidangan sudah tersaji di sana.


Anak, menantu dan cucu kyai Hasyim, sudah ada di sana semua. Aku merasa bahwa aku berada di dalam keluarga kyai Hasyim, bukan keluarga mertua ku.


"Yusuf, khaifa khaluk?"


"Alhamdulillah, baik mas"


Aku lalu duduk bergabung bersama dua laki-laki yang dulu menjadi kakak kelas ku kuliah. Beliau berdua kembar, anak Kyai Hasyim yang paling bontot.


"Pengantin baru harus nya itu bahagia, ini kok sepertinya tidak bahagia sih?"


"Kecapean, mungkin kecapean hehehe"


Aku pun menunduk, bukan malu tapi aku menyembunyikan ekspresi yang sudah berhasil di baca oleh beliau.


"Chaca, mana jahe anget nya Mas Hasan"


"Mas Hasan ini gak sabaran ya, ini chaca masih jalan"


Mereka begitu sangat dekat, dia memanggil Gus Hasan dengan sebutan 'Mas'. Emang dia gak sopan, ke aku saja langsung memanggil mas tanpa aku suruh. Semua di panggil Mas oleh nya, sungguh terlalu.


"Ini untuk Mas Husen, kopi pait. Sama seperti mas Yusuf"


"Waa, sehari jadi istri sudah tau kesukaan suami ya"


Aku hanya diam saja, memang aku di mana-mana diam. Sebenarnya aku ingin mengobrol banyak tapi rasanya momen nya tidak pass, malam ini semua berbincang masalah keluarga dan yang pasti menggoda ku.


Setelah makan malam dalam diam, tidak ada satu pun yang bicara. Kami para laki-laki duduk di teras, dan bahagia nya aku saat aku bisa berbincang lebih berbobot dengan Gus Hasan dan Husen.

__ADS_1


"Gak mau lanjut ambil gelar doktor?"


"Seperti nya pengen, Gus. Cuma waktu nya belum bisa ku bagi. Masih sibuk sekali jadi Dosen"


"Hebat loh, dua universitas"


"Alhamdulillah, Gus."


"Rezeki menikah itu,"


Ya, mungkin saja rezeki ku karena menikah.


"Rezeki nya Chaca di titip kan ke kamu itu, Suf. Jangan lupa selalu menyenangkan istri. Istri senang, rezeki lancar"


Ya, mungkin benar yang di katakan oleh beliau. Ada rezeki nya dari Allah yang di titipkan kepada ku. Tapi tetap saja, hati ini sulit sekali menerima nya. Apalagi sejak tau dia seorang gadis bebas, bukan hanya cerita saja. Aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku, dia berpelukan dengan laki-laki yang kata nya sahabat nya itu di depan ku.


"Assalamu'alaikum,"


Aku baru saja memikirkan laki-laki itu, dan kini dia datang di hadapan ku. Dia benar-benar menginap di sini? Apa sih yang di pikirkan oleh semua orang, mertua ku juga tidak melarang nya. Bahkan itu Ridwan mengantarkan mereka masuk.


"Chaca memang beda, ada-ada saja kelakuan nya," Gunam Gus Husen


"Tapi aku yakin, setelah menikah ini dia diam kok. Gak akan aneh-aneh lagi," Ucap Gus Hasan, lalu dia menatap ku "bimbing dia, Suf. Aku yakin dia tidak akan macam-macam, jadilah suami nya, imam nya, sahabat nya dan juga teman nya. In sha Allah, chaca akan berubah dan gampang sekali di kendalikan"


"Do'a kan saja, Gus"


Hanya itu saja yang bisa aku katakan, tidak mungkin aku mengatakan hal yang lain nya. Aku tak mau banyak bicara jika itu berhubungan dengan Chaca, aku takut salah bicara. Bibir ku yang sulit sekali untuk berbohong bisa-bisa membuatku dalam masalah.


Cukup lama sekali aku dan beliau berbincang, kini malam semakin larut. Bahkan para wanita sepertinya sudah tidur semua.


Gus Hasan pun berpamitan untuk istirahat, akupun ikut mengekor di belakangnya untuk masuk ke dalam rumah.


Sejenak aku tertarik dengan kamar tamu di bagian paling depan, kamar tempat teman-teman Chaca menginap. Aku berjalan mendekat ke arah pintu yang memang tidak di tutup rapat. Sehingga aku bisa melihat beberapa orang di sana sedang tidur, dan laki-laki itu ada di sana juga. Dia tidur bersama Gadis-gadis, yang paling tidak masuk akal keluarga di sini diam saja, keterlaluan.


Aku pun segera naik ke lantai dua, ku ingin tau apa yang sedang istriku lakukan. Ternyata dia sedang duduk, ku tau dia pasti menungguku.


"Mas, lama sekali sih. Aku nungguin mas dari tadi," Ucap nya sedikit manja, sungguh gadis tak tau malu. Masih kecil sudah se agresif ini.


"Aku dapat hadiah, tapi suruh buka sama Mas Yusuf," Dia mengatakan nya dengan nada bahagia.


"Hadiah dari siapa?" Tanya ku penasaran saat ia meletakan sebuah kotak tidak besar dan juga tidak kecil di atas tempat tidur.


"Ini kata nya spesial, dari Mas Hasan dan Mas Husen"


"Kenapa kamu gak panggil beliau Gus sih?"


"Ya dari dulu suruh panggil Mas," Jawab nya enteng sambil mulai menarik pita berwarna merah


"Ayo mas, cepat. Aku gak sabar ingin tau loo"


Aku pun duduk di tepi kasur "buka saja, aku lihat dari sini"


Dia terus menyobek kertas kado bermotif polkadot pink dan biru. Sampai akhir nya sebuah kemeja berwarna Abu-abu ia keluar kan.


"Alhamdulillah," Ucapku sambil meraih kemeja itu.


"Mas, lihatlah"


Dia mendorong kotak tersebut kepada ku dengan wajah malu-malu.


"Kenapa?"


Tapi saat hendak ku raih, dia malah mengambil nya lagi.


"Sudah, ayo tidur. Aku capek," Dia langsung membawa kotak tersebut, memasukkan nya kedalam lemari.


Aku pun tak mau ambil pusing, aku juga sudah mengantuk sekali rasanya.

__ADS_1


__ADS_2